Beginilah Akhlak Manusia Berhati Mulia

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Selasa 30 Juni 2020
share
 

ABDULLAH, putera Imam Ahmad bin Hambal, bercerita tentang ayahnya saat merasa terganggu dengan banyaknya semut di rumah beliau. Imam Ahmad bin Hambal berkata pada semut-semut itu: "Aku sungguh tak suka untuk membunuh kalian. Tapi engkau tak mau keluar dari rumahku, terpaksa aku akan menyakitimu." Tiba-tiba semut-semut itu pergi keluar rumah, di akhiri keluarnya semut hitam yang besar sekali yang Abdullah tak pernah melihat ada semut sebesar iu sebelum dan sesudahnya.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah tersebut di atas? Pertama, jauhkan diri dari sesuatu atau seseorang yang selalu menyakiti kita. Hidup ini singkat. Terlalu rugi kalau kita isi dengan sesuatu yang merusak rasa bahagia kita. Bukankah tidak selalu yang dekat yang membahagiakan? Kadang, jauh itu lebih bermanfaat dan membahagiakan ketimbang dekat. "Bertahan dalam duka, sementara ada jalan terbuka untuk suka serta bahagia, tidak selalu menjadi contoh bentuk kesabaran. Bahkan bisa jadi itu contoh kebebalan diri."

Kedua, menjauhkan seseorang atau sesuatu dari kita itu harus dengan etika. Sebisa mungkin, janganlah menyakiti atau menggunakan cara yang "membunuh". Semut saja bisa diajak komunikasi, bagaimana dengan manusia. Semut saja bisa paham rasa dan kemauan manusia, lalu bagaimana dengan manusia. Jikapun mereka yang kita hadapi adalah bebal dan dungu, yakinlah ada Allah yang akan membalas baiknya etika kita dengan membantu kita terjauhkan dari sesuatu yang menyakiti kita.

Ketiga, semut hitam terbesar dalam kisah itu mungkin saja sang pemimpin semut, sang pembesar. Pembesar semut itu memberikan pelajaran berharga kepada para manusia yang berketulan menjadi pemimpin bahwa "pemimpin yang baik adalah yang mengutamakan keselamatan dan kenyamanan rakyatnya sebelum keselamatan dan kenyamanan dirinya." Luar biasa, bukan? Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA