Mengapa Kita Harus Memilih Pemimpin yang Baik?

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Jumat 03 Juli 2020
share
 

ISLAM mengatur segala hal demi terciptanya kebaikan dalam segala hal. Sayangnya, kebanyakan umat Islam mengira bahwa Islam itu hanya mengatur masalah shalat, haji dan pernikahan. Prasangka ini mirip dengan apa yang digaungkan oleh orang Belanda saat menjajah Indonesia, khususnya Snouck Hurgronje. Masih sering kia dengar jargon pisahkan politik dari agama. Lalu disimpulkan bahwa politik itu tak diatur oleh agama. Tentu ini adalah kesimpulan yang salah.

Memilih pemimpin dan menjadi rakyat itu dibahas lengkap dalam agama, baik tentang hak ataupun kewajibannya. Seimbangnya hak dan kewajiban pada pemimpin dan rakyat sungguh akan mengantarkan pada terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Pertanyaannya adalah manakah yang lebih berpengaruh untuk terciptanya kemaslahatan bersama? Mari kita belajar dari kisah berikut ini

Saat Khalifah Umar bin Khattab merasa bangga dan memuji rakyatnya yang tunduk, patuh dan amanah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata: "Karena Anda itu bersih dan berbudi luhur, maka rakyat Anda juga bersih berbudi luhur. Jika Anda berfoya-foya/hura-hura, maka rakyat Anda akan berfoya-foya pula."

Pendek komentar Sayyidina Ali yang berjulukkan pintu ilmu ini. Namun begitu dalam maknanya. Betapa akhlak atau budi pekerti pemimpin itu menentukan sekali akan keadaan rakyatnya. Karena itu, istikharahlah dalam memilih pemimpin dan istisyarahlah. Bertanyalah kepada Allah dan bermusyawarahlah dengan orang-orang bijak.

Kalau mau diperluas makna komentar Sayyidina Ali itu, pemimpin sangat menentukan nasib rakyat. Ini berlaku tidak hanya pada lingkup pemimpin negara, melainkan juga pemimpin propinsi, kabupaten kota hingga pemimpin keluarga. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA