Bahagia dalam Kesederhanaan

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Jumat 17 Juli 2020
share
(Foto: Istimewa)

SEMALAM saya hadir di wilayah pegunungan di Sumenep yang kehidupan masyarakatnya masih sangat sederhana dan alami. Senyum sapanya masih alami, tanpa motif politik atau ekonomi, cara berpakaian dan berbicaranya juga alami, bukan dengan gaya akting demi pencitraan.

Dibutuhkan waktu satu jam dari jalan raya menuju pelosok ini. Melintasi persawahan yang sedang ditanami tembakau dan menaiki beberapa bukit dengan jalan yang sangat sempit. Teman saya dari Surabaya yang ikut perjalanan ini berkomentar: "Masih ada ya jalan seperti ini disini." Saya diam saja walau agak tersindir juga walau saya bukan bupatinya. Kami melihat suami istri sedang menyiram tembakaunya dengan penerangan terbatas. Mereka sambil bercanda bahagia penuh harap akan hasil pertaniannya. Teman saya berkata lagi: "Bahagia-bahagia ya orang desa. Tidak galau dengan corona dan lainnya." Saya berkomentar ringan: "Bahagia di sini murah harganya."

Kami lalu melewati perkampungan di mana orang-orang sehalaman panjang duduk bersama menonton TV, sebagian bermain kartu, dan sebagian ibu-ibu bergantian mencari kutu rambut. Mereka kelihatan menikmati sekali suasana malam dengan segala kesederhanaan dan keterbatannnya. Saya berkata lirih: "Bahagia itu tak mahal. Bahagia itu ada pada hati yang menerima hidup apa adanya." Ini kemudian menjadi tema pengajian saya semalam.

Jarak dari satu rumah ke rumah lainnya sangat jauh. Khas pegunungan. Supir dan semua yang ikut serta dalam mobil saya sepakat menduga bahwa pengajian malam ini akan sepi, tak banyak yang hadir. Betapa kagetnya kami ketika sampai di tempat acara ternyata penuh dengan manusia. Sound systemnya besar dan nyaring sekali, untuk menakut-nakuti virus corona katanya. Saya bertanya kepada pengasuh lembaga yang mengundang saya tentang orang-orang yang hadir itu. Beliau berkata bahwa mereka adalah tetangga-tetangga yang merasa bahagia saat ada kajian dan pengajian serta merasa ada yang kurang bahkan hilang saat tak ada pengajian. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak pinggiran sawah menuju lokasi pengajian ini.

Tak terasa air mata haru menetes di pipi saya. Mereka adalah pekerja keras di siang hari, pencari ridla Tuhan yang tak pernah henti di malam hari. Iya, mereka merasa bahagia dengan adanya pengajian. Saya senang dan bahagia melihat wjah sumeringah mereka dalam kesederhanaannya. Saya pamit dan mereka semua bersalaman. Tangannya betul-betul kasar, hatinya betul-betul lembut. Bagaimana dengan tangan dan hati kita? Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA