Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 1)

IN
Oleh inilahcom
Kamis 13 Agustus 2020
share
 

MULAI hari ini, pembaca INILAHCOM, dapat mengikuti cerita novel religi berjudul "Di 1/3 Akhir Malam" karya Isfendi Zulkarnaen, seorang wartawan yang kini lebih banyak berkecimpung di bidang sosial dan keagamaan.

Sebuah kisah perjalanan hidup tokoh bernama Elang Saja, yang berprofesi sebagai reporter, yang sarat dengan perjuangan, tragedi, termasuk aksi sosialnya membantu korban virus Covid-19, dan tentu saja dibumbui cerita romantis percintaan.

Jika ada nama tokoh, orang, profesi, jalan, tempat kejadian, dan lainnya di dalam cerita ini hanya suatu kebetulan saja. Kisah dalam novel ini semata-mata fiksi belaka.

SINOPSIS

"Nama kamu Elang?"

"Iye, Elang, lengkapnye Elang Saja."

"Nama kamu aneh, tapi gampang diingat."

Sejak dalam kandungan, Elang Saja sudah menjalani ujian berat. Ibu kandungnya, Pelangi, diperkosa oleh Gomma, anak seorang pengusaha yang memiliki bisnis menggurita (konglomerasi) di dalam dan luar negeri. Parahnya lagi, Wacana Pradipta, ayahnya Gomma, sebelumnya sudah melakukan hal serupa terhadap Pelangi.

Wacana Pradipta, orang penting dan ngetop itu, tidak ingin aibnya terungkap, karena bisa meluluh-lantakkan martabat keluarga terhormat dan terpandang ini. Mereka sepakat melenyapkan Pelangi yang selama ini menjadi asisten rumah tangganya. Hanya demi sebuah gengsi, mereka menyewa pembunuh bayaran. Harta, tahta, dan wanita membelenggu kehidupan keluarga terkenal ini.

Pihak yang menolong Pelangi pun tak luput dari aksi teror sekaligus ingin dihabisi. Pelangi potret kaum marjinal yang selalu berada diposisi lemah tak berdaya-guna. Kehidupan hedonis dari masyarakat mampu dan mapan, menggerus dan menepikannya. Dalam perjalanan hidupnya, Pelangi meninggal setelah melahirkan Elang Saja. Target pembunuhan pun beralih kepada bayi laki-laki berwajah tampan, ganteng, dan berkulit putih; Elang Saja.

Elang Saja adalah ikon dari korban kesombongan dari satu keluarga berlimpah materi. Rencana penculikan dan pembunuhan kepada bayi ini selalu tidak berhasil. Bayi ini terus tumbuh dan berkembang. Elang Saja hidup bersama orangtua angkatnya yang berprofesi pemulung dan tinggal di sebuah gubuk. Namun, Elang Saja sangat beruntung hidup dalam lingkungan Islami. Ia menjadi mandiri, tegar, ikhlas, dan pasrah menerima ujian dari Allah SWT.

Di tengah keprihatinan hidup, Elang Saja tekun menjalani sholat fardhu, sholat sunnah Tahajjud,sholat sunnah Dhuha, dan puasa sunnah Senin dan Kamis. Ia pun menjadi anak cerdas dan idola kaum perempuan, khususnya remaja putri.

Di sepertiga akhir malam, Elang Saja selalu "curhat" kepada Allah SWT. Ia selalu ingat pesan orangtua angkatnya bahwa detik-detik yang bergulir di sepertiga akhir malam, merupakan waktu yang sangat mahal. Melewati begitu saja adalah suatu kerugian yang sangat besar, karena saat itulah ada penantian Allah SWT kepada hamba-Nya.

Elang Saja berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Ia mewujudkan mimpinya menjadi ustadz, yang memang cita-cita tertingginya. Para jamaah memanggil dengan sebutan Ustadz Ganteng, seiring namanya yang semakin meroket di "panggung" dakwah.

Kebiasaan Elang Saja sejak kelas 5 SD hingga menyelesaikan kuliah, menulis kejadian sehari-hari yang dialaminya dan diposting di media sosial oleh sahabatnya, Wina Faiz, yang ternyata membuahkan hasil. Setelah sukses berdakwah sebagai ustadz, dirinya ditawari menjadi wartawan dari media berpengaruh.

Elang Saja bersama beberapa reporter yang tergabung dalam tim investigasi, mendapat tugas dari big boss-nya untuk membongkar kasus mega korupsi. Ironisnya, target liputan tersebut mengarah kepada sepak terjang Wacana Pradipta, Melati Warni (istri Wacana Pradipta), dan Gomma, yang telah memporak-porandakan kehidupan keluarga Elang Saja.

Sementara itu, Widya Shema, seorang jurnalis TV, putri dari Gomma, diam-diam mencintai Elang Saja. Gayung pun bersambut. Elang Saja dan Widya Shemma semakin dalam cintanya, apalagi sering bertemu "di lapangan" ketika meliput suatu peristiwa. Namun, Wacana Pradipta, Melati Warni, apalagi Gomma, sangat tidak menyetujui hubungan asmara Elang Saja dan Widya Shema.

Elang Saja terus berupaya konsisten menjalani tugas sebagai pendakwah dan wartawan. Bahkan, kini mengabdikan dirinya karena Allah SWT untuk bergabung menjadi relawan membantu para medis mengatasi dan menyembuhkan masyarakat yang terpapar virus Corona. Ia juga bersedia dan siap menjadi relawan dalam hal uji klinis vaksin Covid-19.

Mampukah Elang Saja mengungkap kasus mega korupsi yang merugikan uang negara triliunan rupiah? Sanggupkah Elang Saja meredam cintanya kepada Widya Shema? Ditengah ketidaksetujuan keluarga besar Widya Shema, dan ketidaktahuan asal-usul dari satu pertalian darah yang kuat. Apakah Elang Saja anak kandung dari Wacana Pradipta atau Gomma? Bagaimana pula dengan semakin panasnya perebutan harta-benda (harta gono-gini) Wacana Pradipta dan Gomma oleh para istri sah serta beberapa istri sirinya? [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA