Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 4)

IN
Oleh inilahcom
Minggu 16 Agustus 2020
share
 

MINGGU pagi. Udara cerah ditingkahi semilir angin yang bertiup lembut. Di sebuah ruangan keluarga, Wacana Pradipta, Melati Warni istrinya, dan anaknya Gomma sedang serius berbincang. Tak seperti hari-hari biasanya, Wacana Pradipta selalu disibuki pekerjaan bisnisnya, yang hari-harinya dilalui di luar rumah. Otomatis Wacana Pradipta sedikit sekali waktunya untuk berkumpul dengan keluarga.

"Jadi, Mami sudah pulangkan kedua pembantu itu ke kampungnya? tanya Wacana Pradipta kepada istrinya setelah mendengar penjelasan mengenai dipulangkan kedua pembantunya.

Istrinya hanya mengangguk, sedangkan Gomma terdiam sambil memainkan jari telunjuk dan jempol kanannya berulang-ulang. Perasaan gelisah dan tak menentu menari-nari di benak Gomma. Khawatir Papinya marah dengan peristiwa yang dilakukannya. Detak jantung Gomma berdegub kencang. Gomma sudah siap menerima hukuman dari Papi dan Maminya akibat kelakuan yang dibuat terhadap Pelangi.

Wanaca Prapta menatap Gomma tajam. Ia menahan marah yang sangat berat, tapi secepatnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tak ingin penyakit jantungnya kumat dan tidak mau stroke menyerang dirinya lagi. Bahaya! Wacana Pradipta segera menetralisir kondisi ini dan berupaya tenang.

"Gomma, Papi tidak mau marah-marah, ya. Kamu tau kan, Papi disarankan dokter tidak boleh stres. Jadi, semua ini Papi serahkan kepada Mami dan kamu. Atasi masalah ini secepatnya. Mami sudah bagus dengan memulangkan anak dan ibu itu. Selanjutnya tetap harus dipantau, apakah mereka sudah sampai di kampung halamannya dan bagaimana perkembangan selanjutnya. Papi tidak mau nantinya jadi "bom waktu" sehingga bisa menghancurkan keluarga kita. Apalagi pekerjaan dan karir Papi dipantau terus oleh wartawan," kata Wacana Pradipta santai, tapi mengandung ketegasan.

Gomma dan Maminya mengangguk. Gomma menahan dan melepaskan nafasnya. Lega, karena Papi dan Maminya tidak marah seperti yang dibayangkan sebelumnya.

"Papi minta jangan pernah kamu lakukan lagi dengan perempuan lain, ya. Gomma, jaga nama baik Papi," lirih ucapan Wacana Pradipta.

"Iya. Pi. Aku janji nggak akan ulangi lagi," jawab Gomma sambil menunduk, entah apa yang dipikirkannya. Gomma tidak mampu mengangkat kepalanya. Rasa sesal? Hanya Gomma yang mengetahuinya.

Maminya mendekati Gomma dan merangkul dengan kasih sayang. Gomma pun memeluk maminya. Gomma mengetahui benar bagaimana kedua orangtuanya sangat menyayangi dan memanjakan dirinya.

"Sudahlah. Lupakan peristiwa itu Gomma," ujar Maminya. "Setelah kamu lulus SMA nanti, Papi dan Mami minta kamu kuliah di Amerika saja, ya. Papi, Mami berharap kamu dapat melupakan masalah itu dan tugas kamu hanya belajar di sana. Kamu boleh tinggal di apartemen Papi atau di rumah Om Wowok dan Tante Wiwik," tuturnya.

Keluarga Wacana Pradipta, orang kaya yang dengan segala rencananya bisa saja mewujudkannya. Apapun bisa direalisasikan demi menggapai keinginan duniawi yang serba gemerlap dan penuh persaingan. Mengejar dunia seperti menangkap matahari di tengah bayang-bayang diri.

Wacana Pradipta dan istrinya juga Gomma saling diam. Hanya semilir angin menembus dedaunan dari pohon-pohon berharga mahal, mengelilingi kolam renang yang berhadapan dengan ruang keluarga.

"Oke, Papi rasa sudah selesai diskusi ini. Papi sekarang mau istirahat dulu karena malam nanti ada pertemuan bisnis dengan investor dari Amerika. Ya, biasalah Mi, kita mau lebih mempererat tali persahabatan dan menambah jaringan bisnis kita. Agar apa yang kita targetkan lebih cepat terwujud," ungkap Wacana Pradipta.

Ruang keluarga sepi. Wacana Pradipta dan istrinya masuk kamar. Gomma berjalan santai ke ruang ganti pakaian untuk segera berenang. Sementara beberapa asisten rumah tangga ada yang masih menjalankan tugasnya. Di luar, para sekuriti juga tetap semangat menjaga kediaman pribadi keluarga penting ini.

Baru saja lima menit Gomma renang, asisten rumah tangganya memanggilnya, "Bos hape bunyi itu."

Gomma menepi dan mengambil HP-nya.

"Ya, halo. Eh, elo. Lagi di mana, Bro. Oke, oke, gue segera ke TKP," ujar Gomma sambil mengelap badannya dengan handuk yang dibawakan oleh asisten rumah tangganya. TKP yang dimaksud bukan tempat kejadian perkara, tapi ke tempat janjian kawannya Gomma yang telpon tadi.

Tanpa membuang waktu, Gomma bergegas keluar dari area kolam renang. Masuk kamarnya, mandi, berhias, mengenakan celana jeans impornya, berkemeja branded, sepatu kets jaman now, kemudian meluncur dengan mobil sport merahnya. Menembus kota Jakarta yang makin panas, melewati jalur jalan utama.

Gomma dengan tujuh kawannya, tiga diantaranya masih gadis belia, sudah bergabung. Mereka saling sapa ala anak muda kekinian di cafe berkelas, di sebuah hotel bintang lima, di kawasan jantung ibukota. Siang makin garang dan perlahan tapi pasti bergulir ke senja. Gomma bersama kawan-kawannya masiih betah berlama-lama di cafe tersebut.

Malam pun turun.

Di waktu yang sama. Wacana Pradipta bersama sopir pribadinya meninggalkan rumahnya. Minggu malam memang Jakarta agak lengang. Mobil Wacana Pradipta menjadi bebas berlari kencang di jalan tol Jagorawi. Hawa dingin mulai terasa, ketika sampai di sebuah Villa Putih di Puncak Pass. Senyum sumringah disertai candaan manja menyambut Wacana Pradipta.

"Masuk, Mas. Nggak kena macet, ya," lembut suara wanita berusia 25 tahunan ini sambil menggandeng pinggang Wacana Pradipta. Senyum don juan ini pun mengembang.

"Bagaimana proyek Spa kamu di Bandung, apa sudah selesai tempatnya. Kapan mau grand opening, May," tanya Wacana Pradipta ketika merebahkan badannya di ranjang mewah, di sebuah kamar yang artistik, bersinar lampu temaram. Romantis.

"Cuma sarana dan prasarana untuk melengkapi Spa saja yang belum. Peralatannya juga naik harganya. Jadi, kalo dihitung-hitung, sih, dananya masih kurang tiga ratus juta, Mas," ungkap Maya dengan tatapan manja ke Wacana Pradipta.

"Oke besok saya transfer saja kekurangan dana itu," enteng saja Wacana Pradipta menanggapinya.

Di luar, gelap kian pekat. Hujan turun. Dingin mendekap malam. Di dalam kamar, Wacana Pradipta dan Maya juga tidak lagi bercakap-cakap. Operasi senyap. Hening. Hanya nafas mereka seperti berlomba dengan debur ombak.

Sekilas info. Maya merupakan istri siri Wacana Pradipta yang sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Ketemuannya, sih, simple, sederhana, bisa dikategorikan tidak disengaja. Ketika Wacana Pradipta menghadiri undangan relasinya, pengusaha konglomerat, di Bandung, yang meresmikan pembukaan pabrik onderdil motor dan mobil. Wacana Pradipta ketika itu mendapat kalungan bunga yang disematkan oleh gadis cantik, Maya. Mata mereka ternyata saling berbicara cinta. Tanpa ribet, mereka melanjutkan hubungan hingga Wacana Pradipta menyunting Maya menjadi istri sirinya.

Hm.., di waktu yang sama pula, namun berbeda lokasi, Melati Warni, istri pertama Wacana Pradipta, sedang bercengkrama dengan kawan-kawan sosialitanya. Para wanita dengan beragam profesi ini, sedang menghabiskan malam dengan canda tawa. Di samping kanan-kirinya nampak anak-anak muda berwajah ganteng, gagah, maco gitu deh, saling bersulang minuman beralkohol. Hadeeuuh..! [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA