Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 6)

IN
Oleh inilahcom
Selasa 18 Agustus 2020
share
 

BERITA dua wanita korban tabrak lari di Jalan Cikini Raya sudah beredar luas, terutama melalui media sosial (WA Grup, berita portal/online, facebook, twiter, instagram para seleb juga masyarakat biasa, dan lainnya). Bahkan, media mainstream seperti televisi nasional dan regional, jaringan radio swasta, serta media cetak juga memuat berita tersebut sebagai berita yang cukup menyedot perhatian masyarakat.

"Hah, hanya satu orang yang tewas. Satu lagi yang selamat malahan wanita muda," gerutu Wacana Pradipta tanpa sadar begitu masuk di dalam mobil menuju kantornya. Dirinya cemas. Pandangannya nanar menerawang ke luar dari kaca mobil. Hanya hitungan menit, ia sudah sampai di kantornya yang tidak jauh memang dari rumahnya.

Wacana Pradipta hanya satu jam di kantornya. Sesaat ia sibuk menelpon seseorang untuk bertemu di suatu tempat. Namun, ia hanya dengan sopirnya tanpa didampingi ajudan dan mobil pengamanan yang biasanya mengawal dari belakang ketika meluncur di jalanan.

Di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, mobil yang ditumpangi Wacana Pradipta berhenti di perumahan mewah. Tiga satpam serempak memberi hormat. Sementara di lobi rumah, Wacana Pradipta disambut oleh dua laki-laki berperawakan tegap, berambut gondrong sebahu, dibalut celana jeans dan kaos berlogo dilengkapi dengan aksesoris anting dan kalung menggantung di leher.

"Mereka sudah ada di dalam, Bang," ujar Komo dengan wajah tegang.

Wacana Pradipta disapa dengan sebutan "Bang" yang menunjukkan kedekatannya dengan dua lelaki tersebut.

"Oke," jawab Wacana Pradipta singkat dan bergegas masuk ruangan khusus.

Disinari lampu temaram, di dalam ruang khusus ini sudah ada lima lelaki kekar berambut gondrong juga. Rambutnya ada yang dikuncir. Mereka saling diam dan menundukkan kepala. Ketika Wacana Pradipta masuk, mereka berdiri dan mengucapkan selamat siang tanpa menengadahkan kepala. Wacana Pradipta langsung duduk berhadapan dengan para lelaki berambut panjang sebahu tersebut.

"Kalian ini bagaimana, kenapa hanya satu yang tewas. Kerja kalian tidak profesional. Percuma saja saya berikan honor dengan jumlah besar," tanpa nada tinggi Wacana Pradipta mulai bicara. Hanya saja intonasinya datar dan dingin menusuk batin para lelaki yang menjadi "orang bayaran" untuk menabrak dua wanita di Jalan Cikini Raya itu. Mereka diam. Tak berani mengangkat wajah, apalagi menatap Wacana Pradipta.

"Sekarang kalian cari info perempuan yang selamat itu ada di mana. Saya tunggu secepatnya," tegas Wacana Pradipta sambil menahan emosinya, khawatir penyakit jantungnya kumat.

Wacana Pradipta bangkit dan keluar dari ruang khusus itu menuju depan rumah untuk memasuki mobilnya. Sopirnya sudah siap membuka pintu kanan belakang mobil. Hanya butuh 10 menit, Wacana Pradipta sudah melaju di jalan tol menuju kantornya di jantung kota Jakarta.

Di tengah perjalanan, Wacana Pradipta menelpon istrinya. "Mi, sudahberes. Papi sudah instruksikan mereka untuk mencaritau di mana keberadaan si Pelangi yang selamat itu," jelasnya.

"O iya, Pi. Papi sekarang di mana," jawab Melati Warni sambil tangannya merapihkan busana yang masih terbuka. Cepat-cepat ia bangkit dari duduknya, sambil melepaskan tangan anak muda yang melingkari tubuhnya, di sebuah kamar hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan.

"Mami ada di mana," lanjut Wacana Pradipta.

"Ini mami lagimeeting dengan beberapa pengusaha untuk mematangkan rencana pameran di Dubai itu, lho, Pi. Ibu-ibu pengusaha kuliner dan kerajinan, handycraft, yang mau ikut pameran," lancar juga bohong yang dibuat Melati Warni. Padahal dirinya sedang asyik-masyuk besama lelaki usia muda yang memang ganteng. Pemuda berusia 23 tahun itu hanya mesam-mesem saja mendengarnya.

"Oke, Mi, kalo meeting-nya sudah selesai cepat ke kantor Papi. Ada yang mau Papi jelaskan," ujarnya.

"Iya, Pi. Meeting-nya juga sudah mau selesai," jawab Melati Warni dan memasukkan HP-nya ke tas tangannya yang branded. Ia mengambil segepok uang pecahan seratus ribu rupiah nilainya Rp 10 juta dan diberikan kepada anak muda yang masih istirahat di tempat tidur. Anak muda itu langsung menerimanya dan mencium uang tersebut sambil tersenyum genit.

"Terimakasih, ya, Sayang," bisik anak muda itu ke telinga Melati Warni dan mengecup ringan bibir wanita paruh baya ini.

Melati Warni keluar dari kamar hotel dan bergegas menuju kantor Wacana Pradipta. Cuaca panas tidak menghalangi dirinya yang menyetir sendiri mobil mewah. Mobil hitam tersebut melesat dan membelah jalan protol Jakarta. Musik romantis di dalam mobil, membuat pikiran Melati Warni ke sejumlah anak muda yang telah menemani kencannya. Ia tersenyum sendiri melepaskan rasa puasnya di tengah gelimangan harta dan kedudukan duniawi yang direngkuhnya saat ini. Suami pengusaha terkenal dan kaya-raya. Baginya, apa pun keinginan dirinya sangat mudah mewujudkannya.

Sementara anak "semata wayang"-nya, Gomma, usai pulang sekolah, siang ini bersama pacarnya berada di villa di kawasan Lido, Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Angin berhembus membelai rasa cinta anak muda "jaman now" ini. Gomma menyewa satu kamar di villa tersebut.

"Sherly, kita sudah berdua di sini. Nggak ada siapa-siapa. Kamu mau bicara apa," pelan suara Gomma di dalam kamar villa. Tangan Gomma membelai rambut kekasihnya. Matanya menatap mata Sherly, dan memperhatikan seluruh tubuh kawan SMA-nya ini.

Mereka memang satu sekolah, hanya beda jurusan. Baru tiga bulan mereka "jadian" untuk pacaran. Namun, kedua remaja ini seperti sudah lama berhubungannya. Sangat akrab, satu sama lain seolah tidak bisa terpisahkan. Sherly masih diam, namun matanya mulai berkaca-cama. Mau menangis, tapi ditahannya. Ia hanya menggenggam erat kedua tangan Gomma. Lantas memeluk Gomma dengan penuh cinta membara.

"Gom, aku hamil," hanya itu terucap dari bibir Sherly yang seksi. Getaran hatinya membuat dirinya meneteskan air mata dan merebahkan kepalanya di bahu Gomma.

Wajah Gomma berubah pucat. Kaget. Jantungnya berdegub kencang. Pancaran matanya menatap lelangit kamar. Ia tidak membayangkan hal ini terjadi. Perbuatan asusila bersama Sherly berbuah kehamilan. Dirinya belum siap menerima realita ini. Gomma menarik nafas dalam sekali. Tak dapat membayangkan bagaimana nanti kemarahan Papi dan Maminya. Belum lagi rencana masa depan untuk kuliah di Amerika Serikat. Belum lagi jika kedua orangtua Sherly yang juga seorang konglomerat beken di Indonesia, bahkan tingkat regional dengan jaringan bisnisnya merambah dunia, mengetahui hal ini. Ah, pusing tujuh keliling. Gomma tidak dapat berpikir lagi untuk mencari solusi terbaik.

"Gugurkan saja!" tegas Gomma dengan enteng tanpa perasaan.

"Aku nggak mau, Gomma," jawab Sherly dengan air mata semakin banyak jatuh di kedua pipinya.

"Jadi, mau kamu gimana? Kita nikah, begitu? Aku belum siap. Gugurkan saja!" sekali lagi Gomma mengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab.

Sherly melepaskan kepalanya dari bahu Gomma. Ia turun dari ranjang dan berdiri sambil menunjuk-nunjuk Gomma dengan emosi tinggi. Wajahnya memerah. Rasa sesal menyesakkan dadanya. Namun, cinta membara tetap ada di relung hatinya. Sherly teramat mencintai Gomma.

"Kamu ternyata hanya laki-laki yang mau enaknya saja. Nggak mau tanggung jawab. Pengecut. Lebih baik aku bunuh diri daripada menggugurkan kandungan. Dosa kita semakin bertambah. Aku nggak mau liat kamu, Gomma!" Sherly mengambil tas kecilnya, bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Gomma.

Gomma hanya diam melihat sikap Sherly. Dinginnya AC di kamar dan udara pegunungan di luar, tak membuat lumer perasaan dan hati Gomma. Hanya ketakukan membelit seluruh tubuhnya. Namun, keputusannya tak akan diubahnya. Gomma sudah nekad untuk tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya kepada Sherly.

Di lobi villa, Sherly menghubungi taksi online sambil menghapus air mata. Hembusan angin pegunungan yang dingin menyelinap di tubuhnya. Pandangannya ke arah depan menanti driver yang menjemputnya.

Satu jam setelah Sherly meninggalkan villa, Gomma masih di vila merenung untuk mencari solusi masalah yang dihadapinya. Dipikirannya tetap Sherly harus melakukan aborsi. Gomma akan mengupayakannya dengan sekuat tenaga untuk menutupi aib agar kedua orangtuanya tidak mengetahui hal ini. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA