Menikmati Matahari Pagi di Persawahan Desa

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Sabtu 15 Agustus 2020
share
 

SALAH satu nikmat Allah yang luar biasa dan sering kita lalai mensyukurinya adalah matahari pagi yang memancarkan vitamin kesehatan bagi manusia.

Di kota, sinar matahari sudah banyak terhalang untuk menyapa kita karena banguanan-bangunan tinggi dan karena kebiasaan kita bergerak dari ruang menuju ruang tanpa mau disapa sinar matahari. Bahkan tak jarang kita menganggap sinar matahari mengganggu tampilan kulit kita. Sungguh ini prasangka deskriminatif pada matahari.

Di pondok Surabaya, saya terbiasa duduk pagi berjemur sambil menikmati kicau burung yang merdu saling bersahutan. Kini, saya ada di desa, di kampung halaman tempat masa kecil saya tumbuh berkembang. Pagi ini saya duduk sendirian di pinggr sungai tempat dulusaya sering memancing ikan. Sungai ini diapit dua persawahan. Rumput masih basah pagi ini karena semalam hujan menyapa bumi sebegitu deras. Ya, menikmati indahnya pagi di persawahan sambil memandang para petani padi menjaga padinya dari burung-burung yang ramai berkunjung.

Saya lepas sandal saya karena teringat pesan tetua bahwa kita ini dari tanah, jangan melupakan tanah kalau masih ingin sehat. Keringat sudah mulai bercucuran. Sayang pagi ini tak ada pancing dan sungainya pun tak ber-ikan karena ketamakan manusia menangkapnya memakai setrum aki. Sesekali beberapa orang lewat di depan saya dan kaget katena melihat saya santai di pinggir sungai. Sebagian lain, beberapa orang lewat dengan menunjukkan jati diri kedesaannya telah hilang, yakni tak mau menyapa dan tak uluk salam sebagaimana lumrahnya masyarakat desa kami.

Bunyi burung saling bersahutan di sawah itu asyik sekali terdengar. Sesekali terdengar pemilik tanaman padi berteriak sambil menabuh kentongan mengusir burung itu. Seorang kakek menghampiri saya dan duduk di sebelah saya sambil berbisik: "Beginilah cara petani mencari kehidupan, menyatu dengan alam. Walau tak sekaya orang kota, kami gak segalau mereka. Ingin tahu sebabnya?" Lalu beliau dipanggil istrinya, sang nenek, yang baru datang dari rumahnya mengantarkan setalam makanan, yang isinya ternyata adalah ubi dan sambel khas Madura, kolaborasi antara garam dan cabe. Pamit sebentar ya. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA