Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 14)

IN
Oleh inilahcom
Rabu 26 Agustus 2020
share
 

EMPAT tahun tak terasa berlalu begitu cepat, seperti roller coaster. Bagi sepasang pemulung yang merawat, mengasuh, dan membesarkan Elang Saja, waktu tersebut mengalir apa adanya. Dari hitungan detik, menit, jam, bulan, bahkan tahun, Rojali dan Rohana menumpahkan kasih sayang kepada Elang Saja.

Mereka mendidik Elang Saja sejak usia dini di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di kantor RW secara gratis. Pulang dari PAUD, siang harinya Rohana mengajarkan mengaji dan sholat.

Bahkan setiap sore, ketika Rojali kembali dari mencari barang bekas, mengajari Elang Saja ilmu bela diri, silat, yang dimiliki dan terus diasah hingga sampai sekarang. Untungnya Elang Saja senang mengikuti pendidikan yang diberikan Rojali dan Rohana. Allah SWT memberikan kecerdasan kepada Elang Saja yang melebihi dari anak seusianya.

Elang Saja dengan mudah menyerap pelajaran yang diberikan suami-istri tersebut. Begitu pula para pengajar di PAUD menilai, Elang Saja memiliki kepandaian dengan IQ (Intelligence Quotient) di atas rata-rata. Elang Saja tumbuh menjadi anak yang tegar, bertanggung jawab, rasa sosial yang tinggi, dan berkepribadian menarik. Para pengajar di PAUD dapat menilai, melihat karakter, dan ciri-ciri tersebut dimiliki Elang Saja sejak masuk dan diberi pelajaran mendasar bagi anak seusianya.

"Bu Rohana, anak ibu ini sangat cerdas, baik prilakunya, dan selalu mengayomi juga membantu, dan menengahi kalo ada kawan-kawannya yang suka berantem. Maklumlah anak-anak usia dini sering berebut mainan. Berbahagialah ibu memiliki anak seperti Elang Saja," tutur Bu Farida Toha, salah satu pengajar PAUD, ketika Rohana menjemput Elang Saja usai sekolah PAUD.

"Makasi, ye, Bu Ida. Maapin kalo Elang bandel, ye," ujar Rohana menahan rasa haru mendalam. Rasa bahagia mengendap di bilik hatinya. "Makasi juga,ye, Allah yang udeh percayain aye dan suami ngurus bocah ini," batin Rohana dalam diam dan tak terasa setetes air mata jatuh di pipinya.

"Lho, kok, Bu Rohana malah menangis," kata Bu Farida Toha seraya memegang tangan Rohana.

"Ah, Bu Ida, aye jadi malu.Gak ape-ape, cuma haru aje dengerin omongan ibu soal anak aye, Elang," kilah Rohana. Batinnya membayangkan seandainya Bu Farida Toha serta pengajar lain mengetahui bahwa Elang Saja bukan anaknya, dan ditemukan di pinggir jalan pada malam penuh hujan lebat, barangkali semakin sayang kepada Elang Saja.

Waktu terus bergulir. Rojali dan Rohana senang dengan pertumbuhan Elang Saja semakin berkembang. Kini sembilan tahun sudah Elang Saja berada dalam belaian kasih sayang Rojali dan Rohana.

Sementara itu, bagi Ustadz Sahid dan istrinya, waktu sembilan tahun merupakan ujian berat yang mesti dijalani. Ustadz Sahid sejak ditabrak oleh Yan Ganda dan kawan-kawan atas perintah Wacana Pradipta, menjadi tidak bisa apa-apa. Kedua paha kakinya diamputasi karena kondisi luka terbuka dengan patah tulang tiga bagian. Tim medis tidak dapat memulihkannya. Ironisnya, pelaku yang menabrak Ustadz Sahid belum diketahui, akhirnya kasus ini dianggap sebagai kecelakaan tunggal di jalan.

Praktis kehidupan Ustadz Sahid semakin memprihatinkan. Penghasilan berkurang, bahkan nyaris tidak ada sama sekali. Ia tidak bisa lagi memberikan tausiyah di majelis taklim, menjadi khotib setiap sholat Jumat di masjid-masjid, juga mengajar mengaji tidak seperti dulu. Hanya sekali dalam seminggu memberikan pelajaran mengaji kepada anak-anak SD di rumahnya yang tidak memadai tempat belajarnya.

Hal ini diperparah dengan kehilangan Elang Saja. Lengkap sudah cobaan hidup mewarnai Ustadz Sahid dan istri. Namun, kondisi ini tidak menggoyahkan keimanannya. Baginya situasi dan kondisi ini merupakan peningkatan untuk "naik kelas" keimanannya bersama istri.

Sore menjelang sholat Maghrib, Ustadz Sahid selesai berdzikir, tiba-tiba teringat Elang Saja yang seolah-olah berkelebat di depan matanya. Ia ingat uang hasil honor ceramahnya dibelikan cincin. Walaupun hanya emas 22 karat dengan berat tidak sampai 1 gram, Ustadz Sahid puas bisa menghadiahkan cincin bertuliskaan nama Elang Saja.

Ustadz Sahid kangen berat dengan Elang Saja yang menggelayut di nurani. Di sudut kedua matanya ada setitik air. Ia menahan agar tidak jatuh menjadi tangisan kepiluan yang teramat dalam.

"Ya, Allah, kalau Elang masih hidup usianya sudah sembilan tahun saat ini. Ya, Allah, lindungilah Elang. Berilah dia kesehatan, ketabahan, ketegaran, dan yang utama ketakwaan kepada-Mu, ya, Allah. Jadikan Elang anak yang soleh, tabah, dan kuat menjalani kehidupan ini," ungkap Ustadz Sahid dalam diam. Tak lama suara adzan sholat Magrib berkumandang. Ustadz Sahid dibantu istrinya bersiap-siap untuk mendrikan sholat.

Namun bagi Gomma, rentang kehidupan yang dijalani bersama istrinya Sherly dan anaknya bernama Widya Shema, biasa-biasa saja, penuh gelimang harta dan pesta-pora. Widya Shema, yang lahir di kota Los Angelos ini, sangat disayang oleh Wacana Pradipta dan Melati Warni. Maklum cucu pertama mereka itu berparas cantik.

Wacana Pradipta juga memilki anak dengan usia yang sama dengan cucunya, Widya Shema. Anaknya bernama Gerry hasil pernikahan sirinya dengan Maya yang juga tumbuh sehat dan ganteng. Adik tiri Gomma itu lahir di kota Kembang, Bandung. Kini Maya merasa lega, selain memiliki anak yang dapat mengikat secara kuat dengan batin Wacana Pradipta, juga sudah berstatus istri sah. Melati Warni merelakan Wacana Pradipta resmi beristri dua, dirinya serta Maya. Tetapi Gomma sampai saat ini belum diberitahu bahwa dirinya sekarang memiliki saudara kandung, kendati Gerry berstatus adik tiri.

Sementara Melati Warni masih berpetualang dengan kehausan birahinya yang dijalani bergonta-ganti bersama para anak muda gagah perkasa. Bahkan, ada satu anak muda yang dipilih menjadi teman kencan tetapnya, yang siap kapan waktu bila diperlukan menemani Melati Warni.

Sang waktu juga terus menggelinding ke depan. Siapa yang tidak mampu mengikuti arus waktu, akan tergilas dan terpinggirkan tanpa kompromi. Kini Elang saja menginjak usia sembilan tahun yang tumbuh sehat. Begitu pula anak Gomma, Widya Shema, kini berumur delapan tahun, dan anaknya Wacana Pradipta, Gerry, dengan usia yang sama dengan Widya Shema.

Namun, roda kehidupan Elang Saja berbeda dengan Widya Shema dan Gerry. Elang Saja berada di titik nadir, sejak Rojali yang membesarkan Elang Saja, meninggal dunia akibat demam berdarah. Praktis hanya Rohana saat ini yang banting-tulang mencari kardus dan bahan plastik dari satu tempat sampah ke tempat sampah lain di belantara beton Jakarta.

Hari ini Elang Saja baru pulang sekolah yang tidak jauh dari rumahnya, gubuk RoRo. Sendirian di rumah, ia tidak betah berlama-lama yang selalu menunggu ibunya pulang setelah mengais rejeki sebagai pemulung.

"Gue harus bantuin ibu,nih. Kasihan ibu udeh tua, masih nyari barang bekas," ujar Elang Saja setelah selesai sholat Dzuhur di masjid sekitar gubuknya. Lagi enak-enak berpikir apa yang harus dilakukannya untuk membantu ibunya, bahu Elang Saja ditepuk dari belakang.

"Ngelamun jorok lu, ye," kata seorang lelaki dengan gaya preman yang juga selesai mendirikan sholat Dzuhur.

"Enak aje, siape yang ngelamun, Om," jawab Elang Saja dengan tatapan tajam.

"Ye, gitu aje lu melotot. Sabar bro kecil. Eh, jangan panggil gue om. Panggil aje Bang Kemat," katanya sambil mengelus-elus rambut ikal Elang Saja yang agak gondrong karena belum dicukur. Bang Kemat agak shock, gelagapan, ketika membalas tatapan mata Elang Saja yang menghunjam seperti menusuk relung kalbunya. Hati Bang Kemat bergetar, perasaannya tak karuan. Entah apa yang dirasakan Bang Kemat setelah mata Elang Saja menatap mata preman tersebut.

"Wuiiidih ini anak matanye tajem kayak piso belati," batin Bang Kemat. "Sekarang ikut gue aje makan, ye.Lu belom makan siang kan. Ayo, Tong," ajak Bang Kemat. Elang Saja mengangguk dan tersenyum.

"Makasi, ye, Bang. Tapi jangan panggil saya, Tong. Saya punya nama, Bang," protes Elang Saja. "Panggil saya Elang."

"Elang?" dahi Bang Kemat mengernyit.

"Iye, Elang. Lengkapnye Elang Saja. Itu nama saya, Bang," kata Elang Saja sambil berdiri dan berjalan berdampingan dengan Bang Kemat menuju rumah makan Padang.

"Siap bro kecil, eh, Elang Saja. Aneh,ye, nama lu, pake Saja di belakangnye. Kalo nama Elang, keren,tuh, kayak burung elang yang gagah berani dengan mata tajemnye. Mata lu juga tajem, Lang. Sama-sama burung Elang," tutur Bang Kemat tertawa. Elang Saja pun tertawa. Mereka tertawa. Elang Saja senang, apalagi ditraktir makan gratis di rumah makan Padang.

Elang Saja melahap masakan Padang sampai berkeringat. Hari ini makan besar bagi Elang Saja. Soalnya, baru kali ini bisa makan enak di restoran. Bang Kemat memandangi anak kecil ini. Ada yang aneh menyelinap di bilik pikirannya. Melihat Elang Saja seperti melihat auraleadership (kepemimpinan) yang kuat keluar dari bocah ini.

"Jadilu mau kerja cari duit habis pulang sekolah. Gitu?" tanya Bang Kemat sambil menyeruput jus alpokat, usai makan.

Elang Saja mengangguk. Senyumnya mengembang.

"Bapak ame ibu lu emang nggak kerja?"

"Bapak udeh meninggal. Ibu sekarang yang cari barang bekas. Kasihan ibu udeh tua," ungkap Elang Saja. Wajahnya memandangi tukang parkir di depan restoran yang sedang memberi aba-aba kepada pemilik mobil yang mau makan.

"Lu mau jadi pemulung juga, bantuin ibu, lu?"

"Iye, Bang."

"Nggak usah.Entar gue kenalin sama tukang rujak. Lu nanti bantuin tukang rujak aje. Tugas lu nganterin rujak yang dipesan pembeli. Gampang kan. Entar lu dikasi upah,deh. Mau nggak?

"Mau, Bang," jawab Elang Saja senang. "Alhamdulillah. Makasi, ya, Allah baek banget," gumam Elang Saja dalam hati.

"Habis makan langsung kite ke tukang rujak, temen gue. Entar lu langsung bantuin die," kata Bang Kemat. "Yuk,kite berangkat sekarang," tambahnya setelah membayar ke kasir restoran.

Bang Kemat membocengi Elang Saja menuju gedung bioskop Metropole di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Benar saja begitu Bang Kemat memarkir motor, Elang Saja dibawa ke tempat tukang rujak yang mangkal di sudut Metropole, gedung bioskop bersejarah tersebut.

Gedung bioskop yang dibangun tahun 1932, itu bernama Bioscoop Metropool sesuai ejaan bahasa Belanda pada waktu itu. Kemudian sejak tahun 1993, Metropole dimasukkan sebagai cagar budaya oleh gubernur DKI Jakarta. Pernah juga menggunakan nama Megaria yang akhirnya hingga kini kembali lagi menjadi Metopole. Bioskop yang kini dikelola oleh 21 Cineplex Group, itu pas berada diantara Jalan Diponegoro dengan Jalan Pegangsaan, Jakarta Pusat.

"Kang ini ponakan gue mau bantuin lu. Namanya Elang Saja. Gue titip, ye, tolongin anak yatim. Kan, lu, dapat pahala," jelas Bang Kemat kepada sahabatnya itu.

"Siap, Bang Kemat. Elang nanti bantu bawa-bawa rujak ini kepada orang yang beli," kata Bang Kemat kepada Elang Saja yang masih melongo melihat banyak mobil bagus parkir di areal yang lumayan luas.

"Iye, Pak Jak," jawab Elang Saja.

"Pak Jak?"

"Iye, Pak Jak itu singkatan dari Bapak Rujak," tawa lepas Elang Saja membuat Bang Kemat terbahak-bahak.

"Panggil aja Kang Syam," ujar tukang rujak disertai derai tawanya tanpa basa-basi.

Siang itu Elang Saja mulai bekerja membantu Kang Syam. Rujak Kang Syam memang banyak digemari pembeli yang ingin menonton film. Jualan rujak sudah lama dilakoni lelaki ini. Tak heran pelanggan juga banyak, karena bumbu rujak Kang Syam enak benar dengan harga relatiif terjangkau.

"Kalo gitu gue cabut dulu, deh. Kang Syam makasi, ye, udeh nolongin Elang. Lang kerja yang rajin,ye," kata Bang Kemat sembari menatap mata Elang Saja. Kembali perasaan Bang Kemat bergetar setiap menatap Elang Saja. "Gile, nih, mata si anak, tajem banget. Aneh sorot matanya si Elang, kayak ada energi yang kuat. Hmm" ujarnya dalam hati. Ia kembali memuji tatapan mata Elang Saja seperti mengandung magnit.

Elang Saja tidak menemui kendala pada hari pertama membantu Kang Syam. Arahan Kang Syam membuat kerjaan Elang Saja lancar. Kang Syam menilai Elang Saja sangat cerdas, sekali diberitahu langsung dilaksanakan dengan baik dan benar. Ketika Elang Saja mau pulang, Kang Syam memberi uang 10 ribu rupiah. Elang Saja bahagia menerima rejeki dari Allah SWT. "Makasi, ya, Allah. Makasi banget. Uang ini buat ibu," batinnya bergumam.

Tak terasa sudah hampir seminggu Elang Saja membantu Kang Syam. Setelah pulang sekolah, usai sholat Dzuhur, Elang Saja menuju tempat jualan rujak Kang Syam. Kecuali hari Minggu, Elang Saja pukul 10 pagi sudah berada di sudut pelataran parkir gedung bioskop Metropole.

Gubuk RoRo tempat Rohana dan Elang Saja tinggal memang tidak jauh dari gedung bioskop tersebut. Hanya berjalan kaki selama 15 menit, Elang Saja sampai di tempat tugasnya mencari rejeki yang halal.

"Bu, Elang mau kerja, ye," kata Elang kepada Rohana yang sedang sakit. Hari minggu masih pagi ditingkahi udara cerah dan ceria. Namun, di gubuk RoRo mendung penderitaan menggelantung di wajah Elang Saja ketika melihat Rohana semakin lemah tubuhnya.

Elang Saja urung melangkahkan kaki ke tempat jualan rujak Kang Syam. Ia membawa ibunya ke Puskesmas terdekat. Berbekal uang 50 ribu rupiah, Elang Saja mantap mengajak ibunya ke dokter Puskesmas.

Setelah menunggu giliran, Rohana dipanggil petugas loket pendaftaran, Elang bergegas menghampiri.

"Dik, punya kartu BPJS?" tanya petugas Puskesmas, matanya menyapu penampilan Elang Saja dan Rohana yang berbusana lusuh.

Elang Saja terdiam dan menggelengkan kepala. Bingung ditanya kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

"Wah, nggak bisa berobat ibu kamu, ya, nggak ikut BPJS," kata petugas Puskesmas itu lagi seraya mengagumi wajah Elang Saja yang ganteng, gagah, dan mempesona. Seperti ada daya magnit yang menyedot mata jika memandangi Elang Saja.

"Iye, Mba. Tapi saya bawa uang 50 ribu buat bayar," jelas Elang Saja sambil menatap petugas Puskesmas yang langsung gelagapan melihat sorot tajam tersebut. Elang Saja terus menatap agar petugas tersebut mengiyakan keinginannya.

"Ya, sudah," ujar petugas Puskesmas seperti orang terkena hipnotis. "Keren banget ini anak kecil. Kalo sudah remaja pasti banyak cewek yang kagumi," ujarnya kali ini ngomongnya dalam hati

"Alhamdulillah," sambut Elang Saja sambil memberikan uang 50 puluh ribu rupiah.

"Nggak usah, simpan saja uang kamu itu, Dik. Ini saya bantu aja, tapi kalo ke sini lagi, harus bawa kartu BPJS, ya. Kalo belum ada, bilang sama ibumu buat kartu BPJS Kesehatan untuk berobat secara gratis di Puskesmas," tutur petugas Puskesmas. Dirinya masih menahan gemetar di tubuhnya ketika bertatapan dengan mata Elang Saja. "Aneh sorot mata anak ini. Tajam tapi menyejukkan," ujarnya dalam diam.

Elang Saja kembali mendekati ibunya yang duduk di kursi tunggu. Badan ibunya masih menggigil, kedinginan. Elang Saja mendekap ibunya dengan penuh kasih sayang. Bagi Elang Saja, Rohana adalah ibu yang sangat baik, penuh cinta dan kasih sayang dalam membesarkan dirinya.

Elang Saja tidak mengetahui sampai saat ini bahwa Rohana adalah bukan ibu kandungnya. Rohana meneteskan air mata merasakan hangat dekapan Elang Saja. Rohana teramat sayang kepada Elang Saja, seperti anak kandung. Ia berjanji suatu saat akan memberitahu siapa dirinya sebenarnya kepada Elang Saja.

Elang Saja menguap. Rasa kantuknya menjadi-jadi, namun diupayakan tidak tertidur karena sedang menunggu panggilan dokter untuk memeriksa ibunya. Bagimana tidak mengantuk jam-jam seperti saat ini, mengingat setiap malam Elang Saja bangun pukul 03.00 pagi mendirikan sholat Tahajjud.

Waktu di sepertiga malam itu sudah terbiasa dijalani Elang Saja. Inilah hasil gemblengan, bimbingan, dan didikan Rojali dan Rohana, sejak Elang Saja berusia lima tahun. Setelah itu berdoa dan mengaji hingga adzan sholat Subuh memanggil untuk berjamaah di masjid terdekat gubuk RoRo. Kembali ke rumah, Elang Saja sudah harus siap ke sekolah. Elang Saja juga sudah diajarkan untuk menjalani sholat sunnah Dhuha, dan puasa sunnah setiap hari Senin serta hari Kamis (puasa Senin-Kamis).

Meski Rojali dan Rohana berprofesi pemulung, namun cara membesarkan Elang Saja sungguh menakjubkan. Bahkan, Rohana meminta izin kepada guru di sekolah, agar jam istirahat pertama, Elang Saja agar diperbolehkan untuk mendirikan sholat sunnah Dhuha di musolah.

Pulang sekolah otomatis Elang Saja mendirikan sholat Dhuzur berjamaah di masjid dekat gubuk RoRo, begitu pula sholat Ashar, Magbrib, juga Isya. Tapi setelah Elang Saja membantu Kang Syam berjualan rujak, ia mendirikan sholat Ashar dan Magrib di musolah gedung bisokop Metropole. Rohana memang mengizinkan Elang Saja mencari uang, untuk menambah penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal saat ini.

Elang Saja walaupun masih sangat muda, ia berupaya keras menerima realitas hidup yang serba keterbatasan ekonominya. Ia bersama ibunya tetap senyum, bahagia, ikhlas menerima apa adanya. Mereka juga selalu bersyukur masih diberi kesempatan beribadah dengan menjalani perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya.

Hal tersebut jauh berbeda dengan gaya hidup hedonis Wacana Pradipta bersama istrinya, Gomma bersama istri dan anaknya, serta Maya, istri kedua Wcana Pradipta bersama anaknya Gerry. Mereka berenang di lautan kemewahan dan glamour-nya masyarakatthe have. Itulah para sosialita yang menikmati hiruk-pikuknya gemerlap duniawi yang penuh sensasi, di tengah ketidakberdayaan masyarakat marjinal yang makin tersudut di ruang keprihatinan. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA