Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 15)

IN
Oleh inilahcom
Kamis 27 Agustus 2020
share
 

PAS dua bulan Elang Saja bekerja dengan Kang Syam, di pihak lain, Gomma pun resmi menjadi direktur keuangan termuda di salah satu perusahaan Papinya, sedangkan Wacana Pradipta tetap menjabat sebagai direktur utama di perusahaan induknya (holding company) yang mengelola sejumlah perusahaan.

Gomma selain menjabat direktur keuangan tersebut, juga melaksanakan tugas dari Wacana Pradipta untuk mengelola bisnis ekspor-impor, perkebunan sawit, properti, otomotif, pabrik baja, serta jasa keuangan dengan jaringan kerja internasional. Bahkan diberi kepercayaan pula oleh Papinya untuk mengawasi perusahaan yang dibangun di Amerika Serikat, Paris, Inggris, dan Jerman. Bisnis yang menggurita memang.

Wacana Pradipta yakin anaknya itu mampu mengelola sejumlah perusahaan tersebut, mengingat IQ Gomma memang cerdas. Lulus dari fakultas ekonomi di universitas ternama di AS, membuat kepribadiannya dan feeling bisnisnya semakin terasah.

Namun, setelah Gomma membuktikan dan mampu mengembangkan sayap bisnis Papinya itu, kebiasaannya berjudi (gambling) di tempat-tempat kondang di mancanegara, juga semakin liar.

Ia semakin ketagihan untuk menghabiskan uang ratusan juta rupiah setiap malam. Lebih parah lagi, ia tak kuasa mengendalikan pelampiasan seksnya. Gomma kian piawai bergonta-ganti wanita cantik dan seksi, baik dari lokal maupun luar negeri.

Untuk menutupi aibnya, Gomma ketika berada di tengah-tengah keluarga, selalu menunjukkan rasa kasih sayang. Ia menebar pesona dengan kehangatan cinta kepada istrinya, Sherly, dan anaknya, Widya Shema. Seperti pada hari minggu ceria ini, Gomma mengajak istri dan anaknya menonton film komedi di gedung bioskop Metropole.

Bagi Gomma dan Sherly, gedung bioskop ini tidak asing. Setiap pulang sekolah, ketika masih SMA, Gomma bersama "gengnya" dengan pacar masing-masing mangkal di Metropole. Apakah hanya untuk kongkow dan makan-minum, nonton film, atau tempat janjian dengan kelompok otomotifnya. Geng mobil sport mewah yang diketuainya, saat itu beranggotakan anak pejabat, anak pengusaha, anak artis beken, dan anak politisi kondang.

Dua mobil dengan beberapa orang bodyguard mengawal mobil yang ditumpangi Gomma dan keluarga kecilnya. Sebuah Jeep berada di depan mobil Gomma yang mewah, dan satu Jeep lagi mengawal dari belakang.

Siang yang gerah menyambut Gomma dan keluarganya ketika tiba di Metropole. Para ajudan dan sopir pribadi sibuk membentengi bosnya itu. Gomma bersama istri dan anaknya masuk ke salah satu restoran untuk makan siang sebelum menonton.

"Pa, aku mau pesan rujak juga, ya," kata Sherly.

"O, iya, langganan kita dulu kayaknya masih jualan.," jawab Gomma. Ia memanggil ajudannya untuk memesan rujak dua porsi.

Sambil berbincang dan bercanda dengan Widya Shema, gadis kecil yang tumbuh sehat dan cantik, itu Gomma meletakkan HP-nya di atas meja sambil menunggu pesanan makan siang dan rujak. Sherly yang memperhatikan ulah suami dan anaknya itu hanya senyum manis manja. Di meja lain yang tak jauh dari meja Gomma dan keluarga, nampak empat pengawal terus mengawasi "tuannya" itu.

"Om ini pesenan rujaknye," tiba-tiba suara Elang Saja menyeruak disela canda ayah dan anak itu.

"Terimakasih," ujar Gomma tanpa melihat Elang Saja. Gomma meneruskan canda-ria bersama Widya Shema, hingga tanpa diketahui HP-nya terpental dan menyelip di sudut ruang.

Elang Saja kembali ke tempat jualannya setelah meletakkan dua porsi rujak tersebut. Sherly langsung saja mencicipi rujak buatan Kang Syam, sebelum menu makanan dari restoran yang dipesan datang.

"Ma, HP aku mana, ya," Gomma panik. Ia baru sadar setelah bercanda dengan anaknya. Dicari ke sana ke mari, HP belum ketemu juga. Sherly, Widya Shema, juga para ajudannya ikut mencari HP Gomma.

"Jangan-jangan anak yang mengantar rujak yang mengambil HP aku, Ma," belum Gomma menyelesaikan ucapannya, dua ajudannya sudah bergerak ke tukang rujak mencari Elang Saja.

"Pak mana anak kecil yang nganter rujak ke bos saya tadi!" bentak ajudan Gomma kepada Kang Syam.

"Ada apa, ya, Pak. Anak itu lagi anter rujak ke restoran sebelah sana," jawab Kang Syam tanpa melihat ajudan Gomma.

"Restoran ayam bakar itu, ya," kata ajudan Gomma. Baru saja ia ingin melangkah, Elang Saja sudah kembali.

"Ini dia. Heh, kamu nyolong HP, ya!" tuding ajudan Gomma.

"HP? HP siape, Om? Saya gak tau," jawab Elang Saja sedikit mundur.

"Hah, Lang, lu ambil HP, ya. Astagfirullah," Kang Syam memerah mukanya menahan marah kepada Elang Saja.

"Gak, Kang. Saya gak tau. Habis saya nganterin rujak ke tempat Om itu, terus balik ke sini. Kang Syam nyuruh saya nganterin rujak lagi ke pembeli di sono, noh," jelas Elang Saja. Ia sedih dituduh mengambil HP orang lain, yang bukan miliknya. Elang Saja selalu ingat pesan orangtuanya yang wanti-wanti jangan mengambil barang apa saja yang bukan haknya. "Lebih baik kita lapar daripada nyolong barang orang lain," begitu pesan Rojali yang masih terngiang di telinganya. Ia selalu merekam semua nasihat orangtuanya di lubuk hati terdalam.

"Lo jangan ngelak, deh," kata ajudan Gomma sambil menarik kaos lusuh Elang Saja danlangsung dibawa kehadapan Gomma.

"Ini Pak, maling HP-nya. Masih kecil udah berani nyolong. Diajarin sama bapak ibu, lo, ya!" bentak ajudan.

Elang Saja dihadapkan kepada Gomma. Ia menunduk, diam, dan sesekali menarik nafas. Ia terus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan solusi terbaik dari tuduhan ini.

"Mana HP saya!" hardik Gomma.

Elang Saja diam.

"Heh, mana HP saya yang kamu ambil!" nada Gomma makin tinggi.

Elang Saja tetap diam. Malahan kepalanya lebih ditundukkan lagi.

"Kalo kamu nggak mau jawab, saya lebih marah lagi tau! Itu HP berisi banyak dokumen penting. Kalo kamu mau makan, minta saja, jangan pake mencuri. Ayo ngomong di mana HP saya!" Gomma marah dan lebih mendekat ke Elang Saja.

Gomma sangat khawatir karena isi HP itu banyak berisi foto-foto wanita simpanannya dan video lain dari rahasia bisnisnya. Istrinya dan anaknya memandangi Elang Saja. Ada perasaan kesal, tapi juga menyelinap rasa sedih terhadap Elang Saja. Sementara Elang Saja masih diam.

Tiba-tiba Kang Syam menyeruak masuk dan memeluk Elang Saja. Kang Syam nekad menatap tajam Gomma tanda tidak setuju dengan tuduhan yang ditujukan kepada Elang Saja.

Ajudan Gomma langsung mengapit Kang Syam dan menarik agak menjauh dari posisi Gomma yang masih berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Elang Saja.

"Maaf, Pak, saya yakin anak ini tidak mengambil HP bapak. Anak ini jujur dan masih polos, Pak," Kang Syam memohon kepada Gomma.

"Bagaimana jujur. Buktinya HP saya hilang," Gomma menahan kebenciannya kepada Kang Syam.

"Kalo memang bapak yakin anak ini mengambil HP, ya, saya ganti saja. Bagaimana, Pak," ujar Kang Syam dengan aksen sundanya yang kental.

"Heh, Pak, nggak bakal sanggup mengganti HP saya. Itu mahal. Bapak pikir berapa harganya. Hasil jualan rujak bapak selama 10 tahun belum tentu bisa membeli HP seperti HP saya,tau! Dasar sudah miskin kalian sombong!" umpat Gomma. Ajudannya langsung menjepit Kang Syam dan berbisik,"Sebaiknya Anda pergi. Jangan sampe bos gue menampar muka, lo. Biarin anak kecil ini di sini. Sana pergi cepat!"

Kang Syam melepas pelukannya dari Elang Saja. Ini demi Elang Saja. Ia yakin bahwa Allah SWT melindungi Elang Saja, sehingga dirinya menuruti keinginan ajudan Gomma.

Elang Saja mengangguk dan membiarkan Kang Syam berlalu kembali ke tempat jualannya. Elang Saja berdoa dalam hati, "Ya, Allah tolonglah saya ini yang gak tau ape-ape soal HP si Om. Saya gak ngambil, nggak nyolong, ya, Allah." Mata Elang saja masih terpejam. Ia fokus memohon bantuan kepada Allah SWT yang menciptakan langit juga bumi dan seisinya.

Pertolongan Allah SWT memang dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi mahluk ciptaannya yang berdoa. Elang Saja mendadak mendapat gambaran proses hilangnya HP Gomma. Elang Saja seperti menonton televisi, bagaimana proses hilangnya HP Gomma. Mulai dari Gomma bercanda dengan anaknya, hingga HP itu terpental dari meja makan dan menyelip di sudut ruang.

"Heh, anak gembel, buka mata kamu!" akhirnya ucapan Gomma yang tidak pantas itu meluncur tanpa rem, karena emosinya tidak dapat dikendalikan lagi. Gomma memberi kode kepada ajudannya untuk menarik kedua tangan Elang Saja ke belakang badannya.

Elang Saja tersentak, menahan marah pula, karena disebut gembel. Tapi emosinya cepat menurun, mengingat Elang Saja sadar bahwa dirinya memang anak gembel, yang tidak memiliki apa-apa. Namun, ia bangga dirinya dan ibunya masih mempunyai iman dan takwa kepada Allah SWT.

Manajer dan karyawan restoran akhirnya mendekati Gomma dan Elang Saja. Begitu pula pengunjung lain mulai memperhatikan dan menyimak peristiwa tersebut. Manajer berupaya menengahi, tapi dengan cepat ajudan Gomma menghalanginya. "Mas jangan ikut campur urusan bos saya ini, ya," ujarnya.

"Coba Om liat di pojokan itu, tuh. HP Om ada di situ kali," suara Elang Saja menggetarkan batin Gomma. Mata Elang Saja terus menatap Gomma. Tak ayal ketika Gomma berupaya melawan sorot mata Elang Saja, tak kuasa menahan perasaannya. Gomma pun tidak mengetahui harus berbuat apa.

Gomma baru menyadari wajah anak ini seperti yang pernah dikenalnya. Ya, wajah Pelangi, mantan asisten rumah tangganya, yang ia perkosa hingga hamil. Gomma cepat membuang jauh-jauh pikirannya, karena itu hanyalah sejarah masa lalu.

"Coba,deh, Om, liat HP Om dipojokan entu, tuh," ujar Elang Saja sekali lagi, sambil telunjuknya mengarah ke sudut ruangan dekat meja makan yang ditempati Gomma dan keluarganya.

Gomma melirik ajudannya untuk mencari HP seperti yang disarankan Elang Saja. Hanya perlu beberapa detik saja, ajudan Gomma sudah mendapatkan HP tersebut, karena memang tidak jauh dari meja makan Gomma.

Petir menyambar pucuk pohon kelapa langsung terbakar, seperti itu wajah Gomma dan keluarganya yang memerah menahan malu. Para ajudan Gomma, manajer dan staf restoran serta para pengunjung melongo melihat kenyataan ini. Semua takjub dengan Elang Saja. Kondisi ini mematahkan tuduhan Gomma terhadap Elang Saja. Gomma cepat mengambil HP-nya dan menggenggamnya.

Bahkan, diam-diam Widya Shema sejak tadi terus memandangi wajah Elang Saja yang ganteng dan memiliki daya tarik bagi dirinya. Sherly mengelus wajah putrinya yang diketahui seperti mengagumi Elang Saja. Batin Sherly sebagai ibu dan seorang wanita juga mengakui kegagahan dan ketampanan Elang Saja.

Sherly membayangkan kelak anak ini remaja, layak menjadi aktor film. Wajahnya enak dilihat dan komersial. Bahkan, saat ini jika ada talent scouting (pencari bakat) yang melihat anak itu, Sherly yakin akan diajak untuk main film memerankan sosok anak kecil usia delapan atau sembilan tahunan sebagai anak orang kaya.

Wajah Elang Saja memang cocok menjadi anak seorang konglomerat yang bisnisnya menggurita ke mana-mana, kaya raya. Sherly pun membayangkan seandainya Elang Saja menggunakan busana mahal yang representatif, pas banget menjadi anak pejabat publik.

"Kita ke restoran lain saja, Ma. Ayo Widya cepat kita pindah ke Mal saja yang lebih baik lagi dan nonton film yang sama," ajak Gomma kepada isteri dan anaknya. Ajudan juga cepat bergegas menyiapkan mobil dan segala sesuatunya demi keamanan Gomma bersama keluarga.

Ketika Gomma menuju mobilnya. kebetulan melewati tempat jualan rujak Kang Syam. Gomma sempat melirik Elang Saja yang masih penasaran dan kagum dengan indra keenam yang dimiliki anak lelaki kecil itu. Elang Saja juga sempat melirik sorotan mata Gomma. Berdua sebenarnya saling bergetar perasaannya. Relung batin mereka yang terdalam saling berbisik. Hanya mereka dan Allah SWT yang mengetahui.

Sore menyentuh udara di sekitar Jalan Diponegoro ini. Suara adzan untuk sholat Ashar sayup-sayup berkumandang dari arah masjid sebelah timur gedung bioskop ini. Elang Saja seperti biasa meminta izin kepada Kang Syam untuk sholat di musolah yang disediakan manajemen Metropole.

Sementara di tengah perjalan, di dalam mobil, Gomma menyesal tidak bertanya kepada anak itu siapa namanya. Pikirannya masih tertuju kepada Elang Saja. Wajah Elang Saja terus menempel di benaknya, bahkan menyeruak ke dinding hatinya. Gomma gelisah memang.

Setelah jalan-jalan bersama istri dan anaknya, sebelum masuk ke dalam rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Gomma membisikkan sesuatu kepada satu ajudannya. Lantas ajudan itu mengganggukkan kepala.

"Siap, Pak," ujarnya.

Gomma menyusul istri dan anaknya yang lebih dulu masuk rumah mewah dan sangat besar itu. Sedangkan tiga ajudannya dengan menggunakan Jeep, kembali menuju gedung bioskop Metropole. Ajudan lain bersama lima satpam stand by di rumah Gomma yang berarsitektur modern dan klasik.

"Mana anak kecil itu, Pak," kata ajudan Gomma ketika sampai di tempat jualan rujak Kang Syam.

Kang Syam tentu saja kaget dan mengernyitkan dahinya.

"Pulang, habis sholat Ashar dia balik ke rumahnya. Izin karena ibunya sakit lagi," jawab Kang Syam. Ajudan Gomma tidak percaya begitu saja. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke Kang Syam. Dua ajudan lain hanya memperhatikan situasi di sekitarnya.

"Jangan bohong, ya, Pak. Entar gue patahin leher, lo, kalo bohongin gue," gertak ajudan Gomma.

"Benar, sayanggak bohong, Pak," suara Kang Syam lirih ketakutan.

"Nama anak itu siapa dan di mana rumahnya. Jawab jujur!"

"Elang namanya. Elang Saja. Rumahnya saya nggak tau persis. Tapi katanya di dekat tanggul kali di daerah Manggarai," ungkap Kang Syam.

"Kalo lo bohongin gue, awas bakal tau akibatnya," tegas ajudan Gomma sambil mengajak dua kawannya kembali ke mobil dan akan melaporkan hasil informasi dari tukang rujak itu kepada Gomma.

Gomma tersenyum mendengar informasi dari ajudannya mengenai nama Elang Saja. Menurutnya, tidak penting mengetahui lebih lanjut siapa Elang Saja. Hanya bayangan anak lelaki itu yang terus menempel di benaknya, dipikirannya, di hatinya. Gomma berupaya keras melupakan Elang Saja. Namun semakin berusaha menghapus wajah Elang Saja, justru kian lengket melingkari benaknya. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA