Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 16)

IN
Oleh inilahcom
Jumat 28 Agustus 2020
share
 

ROHANA akhirnya meninggal dunia. Elang Saja dirundung kesedihan yang teramat dalam dan masih membelit perasaannya. Ia merasa kehilangan seorang ibu sejati yang begitu sayang dan peduli terhadap dirinya. Seminggu tak terasa berlalu, Elang Saja tinggal sendirian di gubuk RoRo. Ia tidak meneruskan pekerjaan ibunya sebagai pemulung. Ia tetap membantu Kang Syam berjualan rujak, setelah pulang sekolah.

Seperti biasanya Elang Saja sudah sibuk mengantar piring berisi rujak kepada pembeli yang mengorder. Saat hari terik memang pas jika menu makan siang didampingi oleh rujak sebagai "pencuci mulut".

"Lang, anter rujak ini ke meja makan bapak itu di tempat Bakso Cak Min, ya," perintah Kang Syam. Elang Saja mengangguk dan membawa piring rujak ke meja pemesan yang sedang duduk tercenung sendirian di rumah makan yang menjual bakso.

"Om ini rujaknye. Eh, ketemu lagi, ye, Om," kata Elang Saja sambil melepas senyuman.

Elang Saja kembali membantu Kang Syam, setelah menyodorkan pesanan kepada Gomma. Kemudian Gomma menyantap rujak, namun pikirannya tetap ke Elang Saja. Sulit bayang-bayang itu menghilang. Gomma juga bingung sampai kembali lagi ke tempat ini hanya untuk makan rujak di siang bolong. Atau tak bisa membohongi hati kecilnya yang berbicara kejujuran, cuma ingin melihat Elang Saja. Bahkan, dirinya tak menyangka bisa pergi sendiri tanpa keluarga dan ajudan, menyetir mobil sendiri tanpa sopir pribadi. Gomma pun rela menyamar menjadi masyarakat biasa, tidak menggunakan atribut seorang konglomerat.

Gomma sesekali memandangi keluar untuk bisa melihat Elang Saja yang sibuk membantu Kang Syam. Setelah menaruh uang seratus ribu rupiah di bawah piring rujak, Gomma bergegas terburu-buru ingat janji dengan pengusaha Dubai yang mau kerja sama di bidang energi.

"Pak uang rujaknya saya letakkan di bawah piringnya, ya. Kembaliannya untuk anak itu saja yang bantu bapak," kata Gomma sambil berlalu cepat ketika melewati tempat jualan rujak Kang Syam.

"Iya, Pak, terimakasih," jawab Kang Syam. Sedangkan Elang Saja melihat Gomma melemparkan senyum ketika menuju parkiran mobil.

Namun dari arah belakang, secara cepat seorang laki-laki bertopi hitam menabrak punggung Gomma. Hanya hitungan detik, HP mahal yang digenggam Gomma berpindah ke lelaki misterius tersebut.

"Jambret, jambret, jambret,!" teriak Gomma seketika dengan wajah kaget. Ia mengejar penjambret itu, tapi tidak berhasil.

Elang Saja yang memang terus memandangi Gomma sejak tadi, tanpa buang waktu berlari sangat cepat. Kebiasaan berlari cepat ini sudah diajarkan Rojali, ayah angkatnya, sejak Elang Saja berusia lima tahun. Tapi Elang Saja merasa tidak bisa mengejar si penjambret, lantas mengambil batu kecil dan melempar sekuat tenaga ke arah si penjambret.

"Bismillahirrohmanirrohim. Kena, lo!" teriak Elang Saja.

Kepala si penjambret benar-benar kena lemparan batu Elang Saja. Si penjambret jatuh terkapar, tapi masih kuat menggenggam HP milik Gomma. Darah keluar dari belakang kepala si penjambret yang langsung dikemuni orang-orang di sekitarnya. Elang Saja langsung mengambil HP dari tangan si penjambret dan memberikan kepada Gomma yang menyusul dari belakang. Si penjambret langsung dibawa oleh beberapa orang ke pos polisi terdekat.

"Terimakasih, Nak," kata Gomma bergetar ketika bibirnya mengucapkan kata "Nak" kepada Elang Saja. Gomma buru-buru mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembaran uang ratusan ribu untuk Elang Saja.

"Ini ambil saja, Nak," paksa Gomma. Elang Saja tetap menggelengkan kepalanya. "Ini tanda saya berterima kasih. Ayo ambil saja. Apa kurang?" kata Gomma dan mengeluarkan uang lagi dari dompetnya.

"Gak usah, Om. Yang penting HP, Om, gak ilang," jawab Elang Saja sambil berlari ke tempat tugasnya.

Gomma terpukul mendengar ucapan yang polos tersebut. Sikap Elang Saja itu menambah galau perasaannya, menambah sulit mengatasi pikirannnya untuk bisa secepatnya menghapus bayang-bayang Elang Saja.

Bahkan, anak kecil yang pernah dihina dengan sebutan gembel itu, kini menolong dirinya dengan tulus tanpa embel-embel di belakangnya. Gomma menarik nafas ketika berada di dalam mobil.

Uang ternyata memang bukan segala-segalanya. Namun, realitas kehidupan saat ini masih ada yang seperti Elang Saja. Meski berada dalam lingkaran keterbasan ekonomi, Elang Saja yang masih sangat muda, mampu menolong orang dengan ikhlas. Ya, ikhlas merupakan salah satu kunci diterimanya suatu amalan.

"Ah, sombong itu anak. Sudah miskin, sombong. Mau dikasi uang, malah nolak. Dasar gembel!" gerutu Gomma dan menancap gas mobil kencang melaju di jalur jalan utama Jakarta.

Kembali ke Kang Syam yang terus sibuk membuat rujak dan Elang Saja yang juga mondar-mandir mengantar pesanan ke pembeli. Elang Saja minta izin ketika adzan mengumandang untuk sholat Ashar. Sebelum Kang Syam menganggukkan kepalanya, ia melirik Elang Saja yang sejak tadi menekan-nekan perutnya.

"Perut, lo, kenapa?"

"Gak ape-ape, Kang," jawab Elang Saja datar, tapi mukanya menahan rasa perih.

"Udah jangan bohong. Sakit perut atau belom makan, heh," selidik Kang Syam sambil terus mengulek bumbu kacang untuk kuah rujak.

"Iye bener. Perut cuma masuk angin kali, Kang," Elang Saja mencerahkan wajahnya dan ingin segera ke musolah.

"Ya, udah cepat sholat. Entar terlambat nggak bisa berjamaah," ujar Kang Syam senyum.

"Makasi, Kang," Elang Saja menuju musholah dengan langkah cepat.

Elang saja tidak ingin merepotkan Kang Syam karena sudah banyak membantu. Ia sebenarnya menahan lapar karena memang belum makan siang. Sejak pulang sekolah, terus sholat Dzuhur lebih dulu sebelum ke tempat jualan rujak Kang Syam. Soal urusan makan, dirinya memang terpaksa harus menahan lapar, mengingat uang yang diperoleh dari membantu Kang Syam, pas-pasan untuk biaya makan sarapan pagi dan malam hari. Sehingga untuk biaya makan siang tidak ada budget-nya lagi. Bahkan, setiap hari Senin dan Kamis, Elang Saja melaksanakan puasa sunnah. Selain bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada yang maha pencipta, Allah SWT, Elang Saja menjadi lebih leluasa dalam mengatur keuangannya.

Keesokan paginya, seperti biasa Elang Saja sudah siap berangkat ke sekolah. Ketika ia keluar dari gubuk RoRo, ada perempuan cantik menyambut dengan senyuman teramat manis.

"Halo, pagi. Perkenalkan saya Wina, lengkapnya Wina Faiz," sapanya.

"Elang," jawab Elang Saja dan menyalami bidadari yang ada di depannya.

"Nama kamu Elang?"

"Iye, Elang, lengkapnye Elang Saja, Kak."

"Nama kamu aneh, tapi gampang diingat. Sebentar saya mau bicara dengan kamu sebelum pergi ke sekolah," kata Wina Faiz, mahasiswi semester akhir Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Wina Faiz mengakui Elang Saja bakal menjadi idola baru para remaja seandainya bermain film atau sinetron. Kegantengan dan kewibawaan Elang Saja tak bisa dipungkiri yang terpancar begitu saja, dan mampu menyelinap di benak yang memandangnya. Bahkan, aura leadership Elang Saja teramat kuat keluar dari wajah, postur badan, dan bahasa tubuhnya.

"Jangan lama-lama, ye, Kak," Elang Saja mengangguk.

Wina Faiz tergagap, lamunannya buyar ketika Elang Saja setuju untuk memberi waktu. Ia mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan kehidupan Elang Saja sebagai obyek dari penelitian dan skripsinya.

"Kita mulai besok pagi saja, ya, ngobrol-ngobrol-nya. Saya akan mengikuti aktivitas kamu, mulai berangkat sekolah sampai besok paginya lagi. Oke, Lang?" kata Wina Faiz senyum.

"Siap, Kak."

"Sekarang saya anter ke sekolah karena sudah menyita waktu kamu. Jangan sampai kamu terlambat, nanti saya merasa bersalah," ajak Wina Faiz sambil menuju mobil. Elang Saja menangguk dan mengikuti dari belakang.

"Saya sebenarnya sudah memperhatikan dan mengikuti secara diam-diam selama dua minggu. Terakhir peristiwa yang kamu hentikan kaburnya seorang penjambret HP di Metropole. Hebat kamu, Lang," tutur Wina Faiz di dalam mobil.

Elang Saja tersenyum. Wina Faiz tersenyum. Sopir pribadi Wina ikut senyum juga.

"Kita sebenarnya bertetangga, Lang. Rumah saya nggak jauh, dekat dengan Masjid Sunda Kelapa," ungkap Wina Faiz.

Rumah Wina Faiz memang hanya sekitar 100 meter dari masjid tersebut dan berdampingan dengan rumah dinas Wakil Presiden di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Wina Faiz selain aktivis kampus, juga selalu berada di garda paling depan dalam memperjuangkan hak-hak kaum marjinal. Anak tunggal dari seorang Jenderal ini, sangat rendah hati dan berpenampilan sederhana.

Cuma Wina Faiz tidak mampu menolak keinginan ayah dan bundannya yang berkeras untuk menggunakan mobil mewah serta sopir pribadi, bahkan sesekali dikawal oleh saudara sepupunya yang jago dan memiliki ilmu bela diri. Hal ini dimaksudkan kedua orangtuanya dalam rangka mendukung dan menunjang kegiatan kuliah dan aktivitas sosial anak semata wayangnya.

Elang Saja mengangguk dan membenarkan ucapan Wina Faiz bahwa pada dasarnya mereka saling bertetangga. Gubuk RoRo yang ditempatinya tidak jauh dari Masjid Sunda Kelapa yang berada di Jalan Taman Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Apapun dan bagaimanapun gubuk RoRo menjadi penggalan sejarah hidup Elang Saja, mengingat itu adalah peninggalan dari orangtua angkatnya, Rojali dan Rohana, yang letaknya di dekat tanggul kali Ciliwung di Manggarai.

Namun, terlepas dari semua itu, hari ini memang ceria dan nuansa bahagia melingkari Wina Faiz dan Elang Saja. Soalnya, Wina Faiz berhasil meminta Elang Saja untuk menjadi bahan penelitian dan skripsinya. Bagi Elang Saja, rejeki tak terduga datang karena sudah menikmati empuknya kursi mobil mewah, yang dalam mimpinya belum tentu ditemukan.

Bukan saja perasaan Elang Saja yang gembira. Kawan-kawan Elang Saja di sekolah juga melongo melihat dirinya turun dari mobil Wina Faiz. Sekurti sekolah bengong melihat Elang Saja yang bisasanya sampai di pintu gerbang sekolah, sudah bercucuran keringat karena berjalan kaki.

Pada waktu bersamaan, tapi di sekolah dasar yang berbeda, Widya Shema, anak Gomma, turun dari mobil mewah berwarna hitam metalik. Bodyguard yang disewa Gomma, merapat kepada Widya Shema, khawatir terjadi sesuatu. Maklum anak konglomerat. Tak berapa lama, mobil mewah lain dari belakang juga masuk ke areal parkir sekolah internasional yang luas itu.

"Wid, Widya!" panggil Reva Izni, sahabat Widya Shema.

"Hai," jawab Widya Shema tersenyum, langkahnya terhenti.

Mereka berjalan menuju kelas dengan ceria. Dua gadis kecil yang kini tumbuh cantik itu memang bersahabat sejak sekolah di-play group. Hingga saat ini mereka duduk di kelas tiga. Willy Heikal, ayah Reva, selain menjadi mitra bisnis juga bersahabat dengan Gomma. Meski belum terlalu lama berinvestasi di industri film dan recording, namun chemistry mereka sudah terjalin begitu kuat. Jadi tak heran muncul kecocokan dan kenyamanan dalam mengelola bisnis tersebut.

Para pengawal kembali ke mobil setelah mengantar Widya Shema dan Reva Izni yang mulai belajar di kelas. Persahabatan Widya Shema dan Reva Izni terbatas hanya dalam pergaulan. Masalahnya di bidang pelajaran, mereka saling bersaing keras untuk menjadi paling terbaik di SD internasional ini, yang notabene para murid dari golongan sangat mampu. Orangtua para murid selain pebisnis, pejabat, artis terkenal, juga pekerja asing dan staf kedutaan dari mancanegara.

Sementara itu keesokan hari, seperti kesepakatan Wina Faiz dan Elang Saja, mulai interview-nya untuk penelitian dan materi skripsi Wina Faiz. Pukul tiga pagi Wina Faiz ditemani sopir pribadinya, sudah ada di gubuk RoRo melihat Elang Saja sedang mendirikan sholat Tahajjud.

Di sepertiga akhir malam, Elang Saja sejak kelas 1 SD sudah diajarkan oleh Rojali dan Rohana melaksanakan sholat Tahajjud. Usai sholat langsung berdoa, wirid, dan tadarusan membaca Al Quran hingga menjelang sholat Subuh. Kemudian Elang Saja menggantung baju koko, kain sarung, dan peci hitam yang semuanya sudah lusuh, tapi bersih karena selalu dicuci. Ia mengganti dengan yang agak lebih baik, khusus untuk sholat di musolah di dekat gubuk RoRo.

Wina Faiz tekun memperhatikan, mencatat, dan membuat video dan foto-foto untuk dokumentasi dari kebiasaan yang dilakukan Elang Saja. Wina Faiz tersenyum dan kagum melihat Elang Saja karena tetap keluar aura ganteng, gagah, keren, dan kharismatiknya, meski memakai peci, kain sarung, dan baju koko yang tidak bagus lagi. Wina Faiz berjanji dalam hati akan membeli dan membawakan perangkat sholat yang baru untuk Elang Saja.

"Jadi bapak dan ibu kamu yang mengajarkan setiap malam untuk sholat Tahajjud, berdoa dan baca Al Quran terus ke musolah sholat Subuh," kata Wina Faiz ketika mengiringi Elang Saja menuju musolah.

"Iye, Kak. Belajar ngaji juga sama bapak," ungkap Elang Saja.

Elang Saja masuk musholah, sedangkan Wina Faiz mengambil air wudhu untuk sholat Subuh berjamaah. Pengurus musolah memberikan mukena kepada Wina Faiz.

Kembali ke gubuk RoRo, Elang Saja mencuci beberapa potong pakaian sebelum berangkat ke sekolah. Waktu terus berjalan. Elang Saja sedikit menyeruput air putih dan makan hanya setengah dari roti coklat untuk "mengganjal" perutnya yang kosong. Sisa potongan roti dan botol mineral dimasukkan ke dalam tas sekolah. Sambil melirik Wina Faiz, ia memberi isyarat untuk segera meninggalkan gubuk RoRo.

"Kok, kamu makan roti cuma setengah. Nanti kamu nggak konsen belajarnya," ujar Wina Faiz di dalam mobil menuju sekolah Elang Saja.

"Setengah lagi buat entar siang," jawab Elang Saja tanpa ekspresi. Matanya mengarah ke depan. Mendengar itu, Wina Faiz menarik nafas. Ada seonggok haru bersarang di dadanya. Ia terus mencatat dan merekam setiap ucapan Elang Saja.

"Maksud kamu sisa roti itu untuk makan siang? Begitu, Lang?"

"He, he, he,iye, Kak."

"Nggak laper?"

"Alhamdulillah sayaudeh biasa puasa sunnah Senin dan Kamis, Kak."

"Hebat kamu, Lang. Sejak kapan puasa Senin Kamis?"

"Seinget saya umur lima taon."

"O, begitu," Wina Faiz berdecak. Kagum. "Terus, maaf, kalo kamu lagi nggak punya uang, bagaimana?"

"Puasa lagi. Jadi udeh biasalah buat nahan laper. Duit dari bantuin Kang Syam jualan rujak, saya tabungin sedikit. Jadi saya gak semuanya pake," tutur Elang Saja yang kali ini agak panjang jawabannya. Ya, Elang Saja bisa bicara panjang jika sudah merasakan kedekatan dengan lawan bicaranya. Elang Saja merasakan ada sesuatu kasih sayang dan kepedulian tulus dari Wina Faiz.

"Mau tanya lagi, ya. Setelah ibu kamu meninggal, kamu sampai sekarang masih tinggal di situ? Di gubuk itu?"

Elang Saja menangguk.

"Nggak mau pindah? selidik Wina Faiz.

"Mau,sih, pindah. Tapi gak punya duit buat sewa."

"Kalo ada penertiban dari petugas Satpol PP, bagaimana?

"Paling tinggal di musolah. Pak Ustadz Junaedi, ketuanye,udeh nawarin saya," ungkap Elang Saja dan turun dari mobil Wina Faiz ketika tiba di depan pintu gerbang sekolahnya.

"Saya di depan menunggu kamu, ya, Lang."

"Siap, makasi, Kak," Elang Saja menuju ruang kelasnya.

Wina Faiz minta kepada sopir pribadinya untuk menunggu Elang Saja sampai pulang sekolah. Ia sendiri sibuk di dalam mobil mencatat di laptop sambil mendengarkan rekaman wawancara dengan Elang Saja. Sesekali ia melihat hasil rekaman video dan mencatat juga momen-momen terpenting dan paling bagus untuk disimpan di file khsusus.

Pas pukul satu siang, bel di sekolah Elang Saja berbunyi. Para murid SDN 20 berhamburan keluar ingin cepat sampai di rumah. Elang Saja menoleh ke kanan ke kiri setelah berada di luar pintu gerbang, mencari Wina Faiz. Sopir pribadi Wina Faiz langsung menjemput Elang Saja begitu melihatnya. Wina Faiz membuka pintu belakang. Elang Saja masuk duduk di samping Wina Faiz.

"Udah sholat Dzuhur, Lang?"

"Iye, Kak. Di musolah sekolah berjamaah. Pak Guru Agama jadi imamnye," jelas Elang Saja.

"Jadi setiap hari sholat Dzuhur di musolah sekolah, berjamaah?"

"Iye, Kak. Kepala sekolah buat peraturan seperti itu, buat yang beragama Islam."

"Hebat kepala sekolah kamu, Lang," Wina Faiz memberikan jempol.

"Saya mau ganti baju dulu, ye, Kak. Terus ke tempat jualan rujak Kang Syam. Kakak masih mau ikutin saya?"

"Iyalah. Tapi sebelum sampai di tempat kamu, bagaimana kita makan siang dulu. Kebetulan nasi liwet dan sayur gudegnya Mbok Minah di Tebet enak, tuh. Oke, Lang?"

"Siap, Kak. Tapi jangan lama-lama, nanti gak enak sama Kang Syam, kalo saya telat datengnye, Kak."

Elang Saja tersenyum. Wina Faiz tersenyum. Siang yang panas pun tersenyum melihat persahabatan mereka. Pak sopir mengarahkan kemudinya menuju kawasan Tebet, Jakarta Selatan, yang tidak begitu jauh dari sekolah Elang Saja.

Elang Saja, Wina Faiz, dan sopir pribadinya menikmati lezatnya masakan khas Yogyakarta buatan mbok Minah. Hanya butuh setengah jam, mereka selesai makan siangnya. Wina Faiz dan sopir pribadinya, sholat Dzuhur di musolah yang disediakan restoran ini. Elang Saja menunggu sambil berdoa kepada Allah SWT karena memperoleh rejeki. "Ya, Allah, makasi, ye, udeh kasi rejeki makan siang," batinnya.

Dalam perjalanan menuju rumah Elang Saja, di dalam mobil, pertanyaan macam-macam meluncur dari Wina Faiz. Elang Saja menjawab dengan jujur, apa adanya. Anak kelas lima SD ini, begitu banyak menerima cobaan hidup dari Allah SWT. Namun, Allah SWT memberikan ujian kepada mahluk ciptaannya sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Allah SWT tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Kini Elang Saja menjalani hidup sendiri dengan ikhlas, tulus, dan selalu bersyukur kepada Allah SWT.

Situasi dan kondisi memang menjadikan Elang Saja semakin tegar. Apalagi Rojali dan Rohana selalu berpesan agar dirinya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kedua orang itu sangat berperan bagi kehidupan Elang Saja. Ia merasakan bapak dan ibunya itu sebagai orangtua yang sangat baik. Gubuk RoRo, bagi Elang Saja merupakan suatu warisan dari Rojali dan Rohana yang sangat berharga.

Tak heran kalau Elang Saja enggan meninggalkan gubuk tersebut. Banyak kenangan teramat indah yang dilalui besama bapak dan ibunya. Musim hujan dan panas dinikmati bersama. Perut dalam keadaan kenyang dan lapar pun mereka nikmati dengan rasa syukur. Senang dan sedih juga dirasakan bersama. Itu sebabnya, apapun risikonya, Elang Saja tetap bertahan di gubuk RoRo.

Elang Saja mengganti seragam sekolah dengan kaos oblong yang sudah lusuh. Warna merahnya sudah luntur, sedangkan celana pendeknya juga sudah ada yang robek di belakang. Masuk ke mobil, Wina Faiz sudah menyambut dengan tawa kecil melihat busana Elang Saja. Mobil meluncur ke tempat jualan rujak Kang Syam di kawasan gedung bioskop Metropole.

"Saya dengar dari wali kelas kamu, semua pelajaran kamu nilainya bagus-bagus. Kamu selalu juara satu, Lang," ungkap Wina Faiz. Elang Saja tersenyum. Meski keterbatasan ekonomi dan waktu belajar, Elang Saja mampu mengatasinya. Hal ini membalikkan realita bahwa hidup penuh harta dan banyak waktu untuk belajar, belum tentu mampu meraih sukses.

"Oke, kita sudah sampai," ujar Wina Faiz sambil membuka pintu mobil.

Elang Saja langsung turun dan menuju tempat jualan rujak Kang Syam. Wina Faiz mengikuti dari belakang sambil membuat foto-foto dan video setiap gerak dan langkah Elang Saja. Kang Syam memang sedang menunggu kehadiran Elang Saja. Waktu makan siang, memang banyak yang memesan rujak sebagai "pencuci mulut".

Wina Faiz terus mencatat sambil foto-foto dan membuat video semua yang dikerjakan Elang Saja. Perintah Kang Syam untuk mengantar pesanan pembeli dengan cekatan dikerjakan Elang Saja. Pembeli yang rata-rata kaum hawa itu, ya, yang karyawati, mahasiswi, dan pelajar putri, setelah menerima antaran piring berisi rujak dari Elang Saja, langsung terkesima. Mereka berdecak kagum melihat ketampanan wajah Elang Saja.

Elang Saja sadar banyak yang mengagumi dirinya. Namun, ia selalu bersahaja, tetap tenang, menunduk, dan sopan santun dijaga ketika mengantar pesanan rujak kepada pembeli.

"Dik, kembaliannya ambil aja buat kamu," kata karyawati hitam manis menyodorkan uang 100 ribu rupiah untuk membayar ketika Elang Saja mengambil dua piring rujak yang kosong.

"Gak usah, Mba," tolak Elang Saja.

"Ambil aja. Nggak usah malu. Kalo kamu nggak mau, nanti saya nggak beli rujak dari kamu lagi," ujarnya sembari senyum-senyum melirik ke kawannya.

Elang Saja berpikir juga dengan "ancaman" karyawati itu. Akhirnya ia terima pemberian tersebut. Elang Saja seperti biasanya selalu memberikan uang tersebut kepada Kang Syam. Ia tak ingin setiap pemberian dari pembeli dikantonginya. Ia ingin Kang Syam juga mengetahui ada saja pembeli yang seperti itu. Untuk hal ini, Kang Syam hanya mengatakan,"Ambil aja uangnya, itu rejeki dari Allah."

Sementara itu, Wina Faiz sambil mesem-mesem terus membuat video dan foto, juga mencatat setiap kejadian yang dialami Elang Saja. Pembeli lain banyak melihat kesibukan Wina Faiz tersebut. Ada pula yang bertanya kepada Wina Faiz untuk apa melakukan kegiatan itu. Padahal Elang Saja hanya seorang pembantu tukang rujak dengan pakaian lusuhnya.

"Oh, bukan untuk apa-apa. Saya lagi belajar membuat video, juga belajar ngefotoin orang. Kebutulan Elang Saja yang sekarang mau jadi model saya," jelas Wina Faiz serius.

"Jadi itu anak namanya Elang. Apa tadi, Elang Saja?" tanya gadis cantik berstatus pelajar SMP yang sejak tadi memang memperhatikan Elang Saja.

Wina Faiz mengangguk.

Sejak kehadiran Elang Saja membantu Kang Syam jualan rujak, sungguh tak bisa dipungkiri semakin banyak pembeli, terutama para wanita. Kang Syam mampu meraih keuntungan berlipat dari sebelumnya. Kang Syam diam-diam juga sangat bahagia dengan bantuan Elang Saja. Kang Syam juga teringat jasa sahabatnya, Bang Kemat, yang preman baik itu, membawa Elang Saja kepada dirinya.

Seperti saudara kembar, begitu Kang Syam teringat Bang Kemat, tidak ada angin dan tak ada hujan, Bang Kemat tiba-tiba berada di depan tempat jualan rujak. Tawa derai yang terbahak-bahak sebagai ciri khas Bang Kemat, memecah kesibukan Kang Syam.

"Ape kabarnye, Bro Syam?

"Eh, Bang Kemat, baru nongol. Kemana aja?

"Gue dari Singapur, diajak bos deler motor, jalan-jalan," jawab Bang Kemat girang sambil menoleh kanan kiri seperti mencari seseorang.

"Nyari Elang, Bang?" sergah Kang Syam. "Dia lagi di musolah, sholat Ashar."

"Alhamdulillah, rajin juga die sholatnye," baru saja Bang Kemat selesai bicara, Elang Saja sudah kembali diikuti Wina Faiz yang berjalan santai.

"Hai, Bro. Kemane aje, Bang," sapa Elang Saja sambil mencium tangan kanan Bang Kemat dan memeluk erat-erat. Ada rasa kangen di dada Elang Saja. Begitu pula dengan Bang Kemat. Seperti seorang ayah baru bertemu lagi dengan anaknya. Wina Faiz yang melihatnya sungguh terharu. Namun, Wina Faiz bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan lelaki tersebut. Momen ini tak disia-siakan oleh Wina Faiz untuk mengambil gambar video dan foto-foto.

"Kak, ini Bang Kemat. Jangan takut, mukanye emang galak dan serem, tapi die baek," jelas Elang Saja memperkenalkan. "Bang Kemat yang menolong saya untuk kerja bantuin Kang Syam," tambahnya.

Bang Kemat menyodorkan tangannya dan Wina Faiz menyambut dengan senyuman bersahabat. "Kemat. Saya abangnye Elang. Eh, abang angkatnye, he, he, he," canda Bang Kemat matanya melirik Elang Saja yang tertawa kecil. Wina Faiz dan Kang Syam pun ikutan tertawa. Sore menjelang malam di kawasan gedung bioskop Metropole menjadi semarak, penuh canda dan tawa. Sementara orang-orang yang ingin menonton film silih berganti keluar-masuk.

"Lang ini hadiah buat, lu," tiba-tiba Bang Kemat mengeluarkan kotak kecil dari saku celana jeans-nya. "Oleh-oleh dari Singapur, nih, Lang. Entar kalo gue udeh jadi orang kaya, gue ajak deh lu ke sono," tambahnya sambil melepas tawanya yang ngakak.

"Jam tangan mahal.Kayaknya gak pantes kalo saya yang pake, Bang," ujar Elang Saja, matanya terbelalak melihat benda tersebut yang baru dilihat dan dianggap harganya mahal.

"Udeh, lu, ambil aje. Jangan nolak hadiah darigue. Ini halal, Lang. Jangan mentang-mentang gue preman, lu anggap semua duit yang gue dapet nggak halal," Bang Kemat tertawa lagi. Elang Saja, Wina Faiz, dan Kang Syam kembali terbahak.

"Ye, udeh, saya terima, Bang. Makasi, ye," Elang Saja mengambil kotak kecil berisi jam tangan. Ia langsung membuka dan memakainya di tangan kanan.

"Waduh, Elang tambah keren pake jam tangan dari Singapur. Kayak anak pejabat, ya," Wina Faiz mencandainya. Namun, ia memang melihat realitanya, Elang Saja makin keluar auranya sebagai masyarakat mampu yang "berkelas".

Dan adzan Magrib pun memanggil. Elang Saja, Bang Kemat, Wina Faiz, dan Kang Syam menghentikan jualannya bersiap menuju musolah. Tempat dagangannya dibiarkan begitu saja. Kang Syam hanya mengambil uang di dalam kotak.

Selesai sholat Magrib berjamaah, Bang Kemat pamit lebih dulu. Kemudian Elang Saja juga pamit dengan Kang Syam untuk pulang. Wina Faiz juga demikian dan menuju mobilnya bersama Elang Saja.

Rasa puas melingkupi hati Wina Faiz karena sudah banyak memperoleh data juga bahan sebagai dasar pembuatan skripsi dan penelitiannya di bidang psikologi serta sosial. Wina Faiz mengajak Elang Saja di salah satu restoran di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk makan malam lebih dulu sebelum mengantar ke gubuk RoRo.

Resto yang terkenal dan bergensi ini, banyak dikunjungi para artis beken, terlihat sudah ramai oleh pengunjung untuk makan malam. Elang Saja planga-plongo ketika masuk memandangi suasana resto. Wina Faiz mencari tempat duduk diikuti Elang Saja dari belakang.

Nah, benerankan mata empat artis remaja yang saat ini membintangi sinteron striping dan tayang di stasiun televisi swasta , "melumat" habis wajah Elang Saja. Gadis-gadis cantik itu dari tempat duduknya mengakui kegantengan Elang Saja. Mereka berdecak kagum dan akhirnya saling melirik, kemudian tersenyum, lalu menatap Elang Saja lagi, sampai Elang Saja duduk bersama Wina Faiz.

"Heh, kita kenalan, yuk," ide artis berambut pendek sambil menyenggol lengan kawannya.

Mereka tidak peduli melihat kaos yang dipakai Elang sudah lusuh.

"Ayuk," sambut artis berambut panjang sebahu.

"Ih, gengsi, ah. Kita artis top. Kok, minta kenalan duluan," sergah artis berambut keriting sebahu dan dicat pirang sembari tertawa terbahak.

"Jaman Now nggak ada seperti itulah. Lo, kayak emak-emak yang gede digengsi," ujar artis yang punya ide kenalan dengan Elang Saja. Dia mengajak kawannya yang setuju. Langkah mereka akhirnya diikuti dua artis remaja lainnya, yang rata-rata duduk di kelas satu SMP.

"Hai, saya Carla, mau kenalan sama kamu," ucapnya ketika sampai di meja Elang Saja.

Wina Faiz yang sedang mencatat pesanan makanan dan minuman, duduk di kiri Elang Saja, kontan tersentak. Kaget sungguh. Serius terkejut banget. Bukan apa-apa. Masalahnya Wina Faiz sadar dan mengetahui yang mengucapkan ingin kenalan dengan Elang Saja, adalah para artis remaja yang lagi top-topnya. Ia mengikuti sinetron "Cinta Anak-anak Konglomerat" di salah satu TV swasta yang dibintangi empat artis rejama itu, kini ada di hadapannya. Sinetron "Cinta Anak-anak Konglomerat" saat ini menduduki rangking teratas, dengan pemasang iklan terbanyak.

Wina Faiz segera mengambil kamera dan membuat foto-foto serta video, langsung posisi On merekam momen tersebut. Wajah Elang Saja yang kebingungan di-close up, begitu pula muka keempat artis remaja itu.

Elang Saja memang tercenung, bingung, kaget, terkejut dengan kejadian semua ini. Soalnya, dirinya tidak mengetahui secara detail profil wajah para pemain sinetron tersebut.Padahal sinetron itu sudah tayang selama dua tahun lebih, dan menjadi "buah bibir" anak-anak rejama sebaya Elang Saja. Dirinya hanya mengetahuisecuil tentang para pemain sinetron tersebut dari teman-teman di sekolah yang juga membicarakannya.

"Nama saya, Elang," jawabnya sambil berdiri menyalami Carla.

"Elang? Ha, ha, ha. Pendek amat. Si amat aja, nggak pendek-pendek amat," kelakar Carla disambut kawan-kawannya. Wina Faiz juga tertawa sambil terus merekam dengan kameranya.

"Namanya kayak burung Elang," timpal Vivi. Derai tawa kembali mewarnai resto ini. Pengunjung yang berdekatan dengan meja Elang Saja hanya melihat suasana ramai dan ceria.

"Iye, nama saya Elang. Lengkapnye Elang Saja," ujarnya. Ia tertawa juga dengan situasi bersahabat penuh canda. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Carla, berpindah ke Vivi, kemudian ke Bella, dan Marsya.

"Heeh, aneh, ya, namanya Elang Saja," sela Bella.

"Maksudnya Saja itu bersahaja. Jadi Elang yang bersahaja," tambah Marsya. Tawa pecah lagi.

Elang Saja tersenyum. Ia setuju dengan candaan para artis remaja ngetop itu. Tak buang waktu, keempat artis remaja langsung selfi bersama Elang Saja. Sesi foto-foto selfi selesai.

"Betewe (by the way),lo sekolah di SMP mana," selidik Carla.

"Saya masih kelas lima SD."

"Hah, masih kelas lima SD? Nggak salah,tuh," kata Vivi karena melihat Elang Saja bertubuh tinggi seperti anak kelas tiga SMP. Perawakan Elang saja memang tinggi besar melampaui usia yang sebayanya.

"Nggak apa-apa, ya, Lang. Kita kan mau jadi sahabat," ujar Bella.

"Kalo gitu nomor hape, lo, berapa, Lang," tambah Marsya.

"Gak punya hape."

"Nomor hape saya aja kalo adik-adik mau berhubungan sama Elang. Saya kakaknya Elang," Wina Faiz tiba-tiba menyeruak di tengah mereka.

"O, kakaknya. Ya,udah nomorhape kakak berapa," Marsya mencatat di ponselnya.

"Lang, mau ikut kesting nggak. Atau gini aja, lo, nanti ikut kita kalo lagi syuting, ya. Di sana kita kenalkan sama sutradara. Mau nggak? Siapatau, lo, diajak main sinetron. Jadi figuran aja dulu," tutur Carla.

"Iya, Lang. Mau, ya, kamu nanti ikutan ke lokasi syuting," timpal Marsya, Vivi, dan Bella serentak. Elang Saja terdiam mendengarnya. Wina Faiz cepat menanggapi tawaran empat artis rejama itu. Ia berjanji akan mengajak Elang Saja ke lokasi syuting.

"Thanks, Kak. Eh, makanan mereka sudah datang, tuh. Maaf, ya, Kak. Maaf, ya, Lang, kita sudah ganggu, nih," kata Vivi.

"Iya. Yuk, kita cabut," ujar Bella. "Thanks, Lang. Kita duluan, ya."

"Bayar dulu ke kasir sana. Kan giliran, lo, Bel, yang traktir," Carla mengingatkan.

"Siap, bos."

Kehebohan empat artis remaja itu usai, ketika mereka keluar dari resto dan menuju mobil masing-masing.

Wina Faiz dan Elang Saja mulai menyantap kelezatan menu unggulan dari resto. Semakin malam, pengunjung bertambah jumlahnya. Para juru masak dan pramusaji sibuk melayani pengunjung yang rata-rata memesan menu makanan dan minuman dengan harga mahal.

Elang Saja kembali berdoa kepada Allah SWT, karena malam ini dapat menikmati makan besar sekaligus baru pertamakali berkunjung ke resto berkelas dan bergengsi ini.

"Alhamdulillah," ujarnya dalam hati.

Wina Faiz mengajak Elang Saja untuk meninggalkan resto setelah membayar di kasir. Ia merasa bahagia sudah mentraktir Elang Saja sebagai tanda terimakasih atas kesediaan anak SD yang polos ini, untuk djadikan materi skripsinya.

"Gimana sudah kenyang, Lang?" tanya Wina Faiz di dalam mobil menuju gubuk RoRo, tempat tinggal Elang Saja.

"Alhamdulillah, kenyang. Makasi, Kak."

Mereka tidak membutuhkan waktu lama. Mereka tiba di gubuk RoRo. Elang Saja turun lebih dulu, diikuti Wina Faiz sambil masuk ke tempat tinggal yang sangat sederhana sekali. Tak berapa lama adzan untuk sholat Isya berkumandang dari musolah. Elang Saja langsung mengambil kain sarung, baju koko, juga peci hitam dan melangkah menuju musolah. Ia sudah biasa untuk berwudhu di musolah. Wina Faiz terus mengikuti tanpa lelah ke mana aktivitas Elang Saja. Ia mengambil air wudhu juga dan ikut sholat berjamaah.

Waktu terus berpacu. Menggelinding tanpa permisi. Elang Saja dan Wina Faiz sudah selesai sholat Isya. Tiba di gubuk RoRo, Elang Saja merapihkan tempat tidur berupa bale-bale dari kayu yang sudah mengelupas.

"Kamu mau tidur?" Wina Faiz melirik Elang Saja yang kelihatan sudah lelah.

"Belom, Kak. Cuma siap-siap aje. Biasa tidur jam sembilanan gitu, deh."

"Terus kamu nggak belajar. Ya, belajar pelajaran sekolah kapan. Kamu kan seharian sibuk. Kayak pak Presiden aja banyak yang diurus. Ha, ha, ha," canda Wina Faiz. Elang Saja senyum sambil meneguk dan menghabiskan sisa air mineral dari Kang Syam tadi sore.

"Entar, Kak. Saya biasa belajar jam dua malam sampe jam tiga, langsung sholat Tahajjud, terus berdoa, wirid, kayak yang Kakak udeh liat kemarin pagi," tutur Elang Saja.

Wina Faiz manggut-manggut. Kagum dengan perjuangan hidup anak SD ini. Apalagi sekarang sudah yatim-piatu. Sekolah dan kerja untuk membiayai hidup, untuk menyongsong masa depan kelak. Sementara anak-anak kebanyakan yang seumuran Elang Saja, malam seperti ini masih sibuk dengan ponsel dan gadget-nya. Berhaha-hihi, ngerumpi, dan heboh merencanakan buat konten di-channel YouTube, vlog atau instagram besama kawan-kawan satu gengnya di sekolah.

Wina Faiz baru pamitan dengan Elang Saja pas pukul sembilan malam. Elang Saja kembali mengucapkan terimakasih atas kebaikan Wina Faiz. Ia menolak secara halus ketika Wina Faiz ingin memberikan uang untuk jajan di sekolah. Alasannya, tadi siang di tempat jualan rujak Kang Syam sudah mendapatkan rejeki dari pembeli yang memberikan uang kembalian kepada dirinya.

Sang malam mulai larut. Di sekitar gubuk RoRo mulai sepi. Hanya desah aliran kali Ciliwung terdengar yang setia setiap malam menemani Elang Saja. Layap-layap mata Elang Saja meredup. Bibirnya bergerak membaca doa tidur dan terus berdzikir sampai dirinya tertidur lelap. Bersyukurlah bisa tidur pulas, karena di luar sana masih banyak orang yang tidak dapat tiidur malam dengan nyenyak. Ternyata hidup ini terasa sangat indah ketika dijalani dengan selalu bersyukur kepada Allah SWT. Sungguh Allah SWT sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA