Akhir Kisah Hidup yang Menyedihkan

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Minggu 23 Agustus 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

COBALAH sempatkan Anda melakukan survey kecil-kecilan tentang kisah kehidupan anak manusia. Buatlah kesimpulan manusia yang seperti apakah yang awet bahagia, mulia dan menjadi teladan. Sebaliknya, manusia seperti apakah yang awalnya menjadi bintang lalu redup dan menderita di masa tuanya. Kalau sudah kita dapatkan kesimpulannya, ikuti gaya hidup kelompok pertama dan hindari gaya hidup kelompok yang kedua.

Saya, secara pribadi, adalah memandang orang-orang taat beragama dan hidup untuk kemaslahatan umum adalah menjadi orang mulia bahagia dalam makna yang sesungguhnya. Sebut saja sebagai contoh adalah KH. R As'ad Syamsul Arifin Situbondo, KH. Maimoen Zubair Sarang, KH. Musthofa Bisri Rembang, Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, KH. Ahmad Basyir Guluk-guluk dan yang sejalan hidup dengan beliau. Sejuk hati ini memandang wajah beliau dan senang mendengar kisah-kisahnya.

Masalahnya sekarang adalah sebanyak berapakah para pemuda yang ingin mengikuti jalan hidup beliau-beliau itu? Bukankah yang menjadi trend kali ini adalah ingin terkenal dan kaya raya seperti si A dan si B yang selalu muncul dalam berita? Terkenal dan kaya raya bukanlah sebuah kesalahan. Namun, mengejar keterkenalan dan kekayaan dengan meminggirkan kaidah agama adalah sebuah kepalsuan yang menipu. Di akhir hidupnya, biasanya ngenes dan menderita. Bacalah sejarah yang telah tersebar. Mudah sekali menemukan nama sebagai contoh.

Tadi sore, sepasang suami isteri datang bersama dua anaknya ke pondok kita. Kedua anaknya diharuskan menghafal al-Qur'an. Alhamdulillah puterinya sudah hafal 30 juz. Saya sampaikan kepada mereka bahwa al-Qur'an sudah cukup untuk mengantarkan putera puterinya bahagia. Mari kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga al-Qur'an. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA