Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 17)

IN
Oleh inilahcom
Senin 31 Agustus 2020
share
 

Viral!

Yups,Elang Saja mendadak menjadi viral. Postingan Wina Faiz di-channel You Tube-nya, Winafaiz official, yang mengekspos sosok Elang Saja dengan kehidupan serba kekurangan, yang kini yatim-piatu, tinggal di sebuah gubuk dekat tanggul Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta Selatan. Semuanya dilakoni oleh anak kelas lima SD ini secara ikhlas, tulus dengan kepolosan, dan penuh kesabaran.

Ujian dalam kehidupan merupakan wujud kasih sayang Allah SWT. Dan Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya sedikit pun, Jadi teruslah berdoa, karena Allah SWT telah merencanakan sesuatu yang indah untuk hamba-Nya.

Meski begitu, Elang Saja tetap harus kerja sekuat tenaga untuk membiayai dirinya di tengah kerasnya kehidupan. Hidup di kota besar seperti Jakarta memang membutuhkan keberanian ekstra. Apalagi suatu keberhasilan hanya untuk mereka yang mau bersusah-payah dan bernyali menghadapi realitas kehidupan.

Wina Faiz selesai sholat Subuh segera menuju gubuk RoRo. Jalan Imam Bonjol masih lengang ketika mobil keluar dari halaman rumahnya. Sopir pribadinya diminta mempercepat laju kendaraan. Wina Faiz khawatir Elang Saja sudah pergi ke sekolah.

Sopir pribadinya memarkir mobil di seberang jalan. Wina Faiz bergegas ke gubuk RoRo. Elang Saja memang sedang mengikat tali sepatu kets sambil mulutnya mengunyah sepotong roti seharga seribu rupiah. Murah. Terjangkau dengan kantong Elang Saja yang hidup pas-pasan.

"Assalamualaikum. Hai, Lang. Udah siap-siap mau berangkat, ya," sapa Wina Faiz dengan senyum paling manisnya. "Saya anter lagi, ya."

"Waalaikumussalam. Alhamdulillah kalo dianter lagi. Makasi, ye, Kak," Elang Saja senang melihat Wina Faiz.

Di perjalanan, Wina Faiz menceritakan rasa senang dan bahagianya dengan hasil postingan mengenai sisi kehidupan Elang Saja di You Tube menjadi viral. Elang Saja kaget juga mendengar hal ini, karena tidak menyangka Wina Faiz membuat kisah hidupnya.

"Kamu jadi orang terkenal sekarang, Lang. Se-Indonesia, bahkan saat ini sudah jadi perhatian netizen dari kawasan Asia Tenggara. Para netizen terharu dan salut dengan perjuangan kamu, Lang," ungkap Wina Faiz.

Elang Saja menarik nafas. Masih diam. Ia berterimakasih kepada Allah SWT atas semua peristiwa belakangan ini yang sangat berarti dalam kehidupannya. Kehadiran sosok Wina Faiz yang ngemong dan peduli terhadap dirinya, sungguh amat berarti. Elang Saja semakin menggebu dan mantap menatap masa depan. Baginya, pertolongan Allah SWT benar-benar sangat dekat. Dibalik kesulitan ada kemudahan.

"Lang, kamu nggak suka dengan postingan saya?" selidik Wina Faiz karena melihat Elang Saja masih diam.

"Alhamdulillah, saya seneng banget, Kak."

"Tapi dari tadi kamu diam aja."

"Saya inget bapak ibu. Lagi kangen kali. Kalo bapak ibu tau, saya sekarang jadi viral di You Tube, pasti seneng juga. Saya malahan makasi banget sama Kakak," ungkap Elang Saja tersenyum.

Wina Faiz lega. Rasa sesak di dada karena khawatir Elang Saja kecewa, kini sirna menjadi suka-cita. Mereka saling senyum. Sopir prbadinya di depan kemudi juga senyum. Hari ini ceria kembali melingkari mereka. Kebahagiaan itu ternyata sederhana dan gampang. Adanya di hati masing-masing. Mau bahagia, senang atau sebaliknya, semua itu bagaimana situasi dan kondisi hati. Ruang hati selalu setia membuka dan menerima apapun masalahnya.

"Oke, Lang, sampai ketemu lagi, ya," kata Wina Faiz setelah Elang Saja turun dari mobil dan masuk ke halaman sekolah.

"Makasi, ye, Kak," Elang Saja senyum dan melambaikan tangan kepada sopir pribadi Wina Faiz yang belum menjalankan mobil.

Begitu Elang Saja masuk kelasnya, kebetulan bel sekolah belum berbunyi, semua kawannya menghampiri. Mereka memberikan selamat atas perjuangan hidup yang dijalani selama ini. Mereka baru mengetahui siapa sebenarnya Elang Saja, setelah melihat di kanal You Tube yang viral. Perjuangan hidup Elang Saja menjadi inspirasi dan penyemangat kawan-kawannya.

"Lang, kamu superhero," ujar Ulfa, wakil ketua kelas. Ketua kelasnya kebetulan dipercayakan kepada Elang Saja.

Superhero (pahlawan super) adalah karakter fiksi yang memiliki kekuatan luar biasa untuk melakukan tindakan hebat demi kepentingan umum. Superhero memiliki kemampuan atau kesaktian di atas rata-rata manusia. Berdedikasi untuk melindungi masyarakat. Jawara adidaya ini adalah sebagai pembasmi kejahatan.

"Lang, kamu hebat," timpal Joni, murid yang suka usil kepada teman perempuan.

Di dalam kelas ramai. Berisik sudah pasti, sehingga mengundang sekuriti sekolah dan guru piket yang bertugas. Bel sekolah juga berbunyi pertanda pelajaran dimulai. Semua pelajar diam ketika guru piket dan sekuriti masuk ke dalam kelas Elang Saja.

"Ada apa ini, ramai, mengganggu kelas lain. Guru kalian belum datang, ya," kata guru piket.

"Belum, Pak. Ini pak, kelas jadi rame karena Elang sekarang jadi terkenal. Viral di You Tube," jelas Ulfa.

"O iya, saya juga lihat. Selamat, ya, Lang," ujar guru piket menyalami tangan Elang Saja. "Jam istirahat nanti kamu memang diminta sama kepala sekolah untuk ke ruangannya," tambahnya.

"Ade ape, Pak. Saya nggak buat salah, kan?" Elang Saja heran.

"Saya nggak tau, Lang. Itu pesannya sebelum saya ke kelas kamu ini," ujarnya. Jangan-jangan kamu mau dihukum, Lang," guraunya.

Elang Saja diam dan menunduk. Kawan-kawan sekelasnya menjadi bingung. Kelas kembali sepi. Tak lama, guru kelas baru datang dan masuk untuk memberi pelajaran. Ibu Tuti secara mendadak memberitahukan bahwa hari ini ada ulangan Bahasa Indonesia.

"Sebelum ulangan, ibu mengucapkan selamat dulu kepada ketua kelas Elang Saja, yang lagi viral kisah harunya di You Tube. Alhamdulillah, hebat kamu Lang. Ibu baru tau ternyata kamu sebagai anak yatim-piatu, tapi mampu hidup tegar. Hal ini bisa jadi contoh kepada yang lain," tutur Ibu Tuti.

"Makasi, Bu Guru," jawab Elang Saja.

"Kita juga baru tau bu gruru, Elang itu anak pemulung!" teriak Ramson, sejak lama memang tidak suka melihat prestasi yang selalu diraih Elang Saja.

"Heh, Son, walaupun begitu, Elang anak cerdas dan selalu juara kelas dalam pelajaran dan lainnya. Nggak kayak kamu!" Ulfa dengan nada tinggi membela Elang Saja.

"Saya emang anak pemulung. Saya bangga dengan bapak dan ibu jadi pemulung. Itu kan kerjaan halal," jawab Elang Saja kalem.

"Sudah-sudah, ayo kita mulai ulangan. Keluarkan buku khusus kalian. Harap tenang, ya," sergah ibu guru.

Ramson mencibir ke arah Elang Saja. Kawan-kawan lain memelototi Ramson. Ada yang mengepalkan tinju, ada pula yang menunjukkan jari kelingking kepada Ramson sekedar mengingatkan agar jangan sombong dan ceriwis seperti emak-emak yang sering ngrumpi.

Kelas kini sepi. Ulangan dimulai. Ibu Guru Tuti mengawasi anak didiknya agar tidak saling menyontek.

Ketika bel jam istirahat pertama berbunyi, Elang Saja memenuhi panggilan kepala sekolah. Ia mengetuk pintu ruangan kepala sekolah dengan hati-hati.

"Assalamualaikum," kata Elang Saja.

"Waalaikumussalam. Masuk," jawab Pak Hariyanto.

Elang Saja masuk sambil memberi salam dan mencium tangan kepala sekolah.

"Duduk, Lang," ujar Pak Hariyanto.

Elang Saja duduk berhadapan dengan Pak Hariyanto.

"Kamu pasti bingung kenapa saya panggil, ya."

Elang Saja mengangguk dan menatap wajah Pak Hariyanto yang mulai ada kerutan di matanya. Pak Hariyanto agak gelagapan begitu membalas tatapan mata Elang Saja. Ada sesuatu yang aneh menyentuh perasaannya. Pak Hariyanto akhirnya menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bicara.

"Saya dan seluruh guru di sini, baru tahu kalau kamu tinggal sendiri di tempat sederhana dekat tanggul kali. Kamu sudah tidak punya bapak dan ibu, ya," ungkap kepala sekolah.

Elang Saja mengangguk dan menunduk. Rasa sedih merangkul jiwanya.

"Kamu tidak perlu sedih, Lang. Setelah bapak tahu dari You Tube mengenai kamu, bapak menyarankan kamu tinggal di sekolah saja. Di sebelah ruang BP (Bimbingan dan Penyuluhan), itu ada ruangan kecil. Kalau kamu bersedia, nanti dibersihkan, dicat tembok lagi dan dirapihkan. Itu keputusan rapat kilat bapak tadi pagi dengan para guru," tutur kepala sekolah.

Elang Saja masih menunduk. Diam. Tak mampu bicara. Ada tetes air mata di sudut kelopak matanya. Mendung menggantung di wajahnya. Haru, sedih, senang, bahagia, gembira, dan kaget bercampur, mengaduk-aduk perasaannya.

"Bagaimana, Lang. Pertimbangan lain, kamu pelajar terbaik di sekolah ini. Untuk biaya hidup kamu seperti makan, pakaian, ditanggung sama para guru yang menyisihkan dana dari gajinya," tambah kepala sekolah.

Elang Saja semakin tertunduk. Isak tangisnya pecah. Kepala sekolah langsung merangkul dan memeluk Elang Saja yang sulit mengendalikan derai air matanya.

"Iye, pak, saya mau tinggal di sekolah. Makasih, ye, Pak Hariyanto dan Pak guru lainnye," jawab Elang Saja. "Kapan pak, saya tinggal di sekolah. Saya bisa siap-siap ngepak buku dan pakaian seragam sekolah dan pakaian lain."

"Minggu depan saja. Selama seminggu ini, bapak mau panggil tukang untuk merapihkan ruangan itu sekaligus mencat dinding temboknya," kepala sekolah lega karena Elang Saja menerima untuk tinggal di sekolah.

Sementara itu, di sekolah internasional, tempat Widya Shema menimba ilmu, putri dari Gomma dan Sherly, tak luput dari kehebohan perjuangan hidup Elang Saja yang viral.

"Gue pernah ketemu sama si Elang di restoran, waktu gue sama mami dan papi mau nonton film. Nggak sangka, ya, dia anak pemulung yang yatim-piatu, tapi wajahnya keren, ganteng. Lebih cakep kalo liat aslinya, Rev," kata Widya Shema kepada Reva Izni di kantin sekolah ketika jam istirahat.

"Gitu, ya. Wah, gue jadi mau ketemu juga sama si Elang," ujar Reva Izni sambil melihat kembali kisah pilu Elang Saja di You Tube.

"Gimana kalo kita ke tempat dia aja. Selain gue mau kenal, juga mau dengar cerita langsung suka dan dukanya," Widya Shema.

Mereka setuju. Widya Shema dan Reva Izni tertawa terbahak. Pelajar lain yang ada di kantin sekolah juga sedang membahas sosok Elang Saja yang viral. Saat ini, viral Elang Saja menduduki rangking teratas mengalahkan tembang dari salah satu band yang sedang naik daun. Apalagi kalau dibandingkan dengan postingan dari setingan artis yang "pansos" (panjat sosial) dan "cari panggung" demi mencapai popularitas ketimbag prestasi.

Di tempat berbeda, di kantor Wacana Pradipta, juga heboh dengan viralnya kisah pilu seorang anak kelas lima SD yang tangguh mengarungi kehidupan sendirian. Banyak karyawan, terutama para karyawati membahas hal tersebut. Mereka kagum, meski yatim piatu, hidup di sebuah gubuk, dan dililit kekurangan ekonomi, mampu berprestasi dalam hal pelajaran.

"Namanya Elang Saja," ujar karyawati cantik.

"Ya, namanya juga sudah mencerminkan ketegaran, ketabahan, kesabaran, dan tangguh seperti burung Elang," timpal karyawan yang duduk berseberangan.

Kisah sedih itu juga dirasakan sekretaris pribadi Wacana Pradipta. Ia sudah tiga kali melihat video viral tersebut. Di ruang kerja, ternyata Wacana Pradipta juga sedang menonton kisah ketegaran Elang Saja.

"Heh jangan ngelamun! Ada tamu nggak di ruangan bapak!" suara keras menyadarkan sekretrasi pribadi Wacana Pradipta.

"Udah janji apa belum, Bang," ujarnya.

"Bilang aja ada Pak Yan Ganda.Gue nggak perlu pake janji. Cepat kasi tau bos, lo!" hardik Yan Ganda yang datang bersama tiga anak buahnya. Yan Ganda masih setia kepada Wacana Pradipta sebagai orang bayaran.

"Iya, Bang, silakan masuk," kata sekretaris pribadi Wacana Pradipta.

Wacana Pradipta terus konsentrasi mengelola sejumlah perusahaan miliknya. Namun, ia hanya mengawasi kinerja para direksi yang direktur utamanya dipercayakan kepada Gomma. Wacana Pradipta menjadi komisaris utama dari beberapa perusahaannya. Ia bersama sejumlah investor asing juga mengembangkan sayap bisnisnya di bidang industri pariwisata bertaraf internasional di beberapa daerah Nusantara.

"Maaf pak mengganggu kesibukan hari ini," Yan Ganda membuka pembicaraan setelah dipersilakan duduk di ruang tamu.

"Ya, ada apa lagi yang kalian mau laporkan," ujar Wacana Pradipta santai.

"Ini Pak, ada anak kelas lima SD yang lagi viral. Namanya Elang Saja," jelasnya.

"Ya, memangnya kenapa? Apa kaitannya dengan saya?"

"Itu Pak, anak itu saya kira yang selama ini kita cari," jelas Yan Ganda.

"Hah, darimana kalian tau?"

"Dari namanya Elang Saja. Coba ceritakan Gun," Yan Ganda memberi isyarat dengan mata kepada kawannya, Guntur.

Guntur menceritakan ketika menculik seorang bayi dari rumah Ustadz Sahid. Ketika ia menggendong dan membawa bayi itu, sempat melihat ada tulisan nama Elang Saja di cincin jemari manis. Malam itu lampu di rumah Ustadz Sahid cukup terang.

"Seperti itu Pak kejadiannya. Saya baca jelas sekali nama tersebut. Karena saya ada niat mau ambil cincin yang di jari manis bayi itu," ungkap Gunur polos. "Tapi niat saya nggak jadi karena dilarang sama Bobby," tambahnya sambil melihat Bobby yang duduk di sebelahnya.

"Iya Pak, saya larang Guntur ambil cincin itu. Saya juga sempat liat nama Elang Saja, tapi hanya sekilas, Jadi nggak begitu jelas," timpal Bobby.

Wacana Pradipta menarik nafas panjang. Ia diam sejenak. Memperhatikan satu per satu wajah orang-orang bayarannya. Giginya menggemeretak, menahan emosi yang menggelegak.

"Begini. Kalian cari anak itu, culik lagi, dan habisi. Jangan sampai itu anak hidup berkepanjangan. Paham?" perintah Wacana Pradipta. Ia berpindah ke meja kerja dan mengambil buku cek dalam laci meja. Ia menuliskan sejumlah angka di cek yang dapat dicairkan secaracash.

"Ini untuk kalian. Kalau berhasil, saya tambah," Wacana Pradipta memberikan selembar cek kepada Yan Ganda.

"Siap Pak, terimakasih," kata Yan Ganda.

"Yang saya liat di You Tube, anak itu tinggal di gubuk dekat tanggul kali Ciliwung, di Manggarai, Pak," tambah Guntur.

"Iya Pak, sekarang kami bergerak ke sana," ujar Yan Ganda.

"Oke, lebih cepat lebih baik. Jangan buang-buang waktu. Ingat perjanjian kita, kalau kalian tertangkap, jangan coba-coba kaitkan dengan saya," tegas Wacana Pradipta.

"Siap, Pak," serempak mereka berjanji.

Yan Ganda bersama anak buahnya sangat semangat dan antusias keluar dari kantor Wacana Pradipta untuk menjalankan misinya.

Wacana Pradipta masih termenung di ruang kerjanya. Wajahnya mengguratkan perasaan kesal mendalam. Ia mengambil HP dan mencari nomor yang mau dihubungi.

"Gomma, kamu di mana. Kalau nggak sibuk, cepat ke kantor Papi," ujarnya.

Gomma yang berada di kamar hotel bintang lima dengan seorang wanita cantik, seksi, bahenol, danbohay itu, tergpoh-gopoh mengambil ponselnya. Ia hafal betul itu panggilan khusus dari Papinya. Makanya, mau tak mau, ia cepat merespon untuk menjawab.

"Oke, Pi, aku segera ke sana," ujarnya.

Gomma cepat-cepat memakai celana panjang dan kemeja. Merapihkan dan menyisir rambut sebentar, lalu mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah beberapa gepok, yang bernilai puluhan juta,memberikan kepada wanita yang masih terbaring di tempat tidur.

"Terimakasih, Mas," wanita itu senyum genit. Matanya mengerdip membuat kaum pria hidung belang yang melihat bisa tergoda.

Gomma menelpon sopir pribadinnya yang sedang santai bersama para pengawalnya di kafe lobi hotel. Mereka menganggap bosnya itu sedang meeting degan relasi bisnis di siang bolong ini.

"Pak ke kantor Papi. Cepat, ya," perintah Gomma kepada sopirnya. Sementara para pengawal di mobil lain sudah siap mengikuti dari belakang. Mobil pun meluncur membelah jalan protokol Jakarta.

Begitu sampai di kantor Wacana Pradipta, dengan langkah cepat Gomma menuju ruang Papinya.

"Ada apa, Pi. Apa ada proyek lain yang aku harus handle?" tanya Gomma.

"Bukan. Ini ada masalah krusial yang harus kamu tahu. Sangat penting dan kamu memang harus mengetahuinya."

"Oke, Pi," Gomma memajukan kursi agar lebih mendekat ke Papinya.

"Info dari Yan Ganda, anaknya si Pelangi, pembantu yang selalu merayu kamu itu dulu, masih hidup dan saat ini sudah besar. Laki-laki lagi," ungkap Wacana serius. Matanya menatap tajam ke anaknya. Gomma tentu saja kaget. Aliran darahnya naik bergerak cepat. Emosi marahnya mulai liar, sulit dikendalikan. Muka Gomma memerah menahan gejolak rasa kesal dan benci.

Gomma juga menelan ludah ketika Papinya menyebut bahwa Pelangi selalu merayu. Padahal faktanya, Gomma yang seminggu dua kali masuk ke kamar asisten rumah tangga itu untuk memaksa melayani hawa nafsu bejatnya. Gomma memperkosa Pelangi. Malam-malam berikutnya, Gomma yang selalu mengancam Pelangi harus memenuhi hasrat seksnya. Akhirnya Pelangi hamil.

Bayang peristiwa dan perbuatannya itu sering berkelabat di benak dan menggangu pikiran Gomma. Kelakuan binatangnya itu, hingga kini masih tersimpan di laci hati dan memori dirinya dengan apik, yang setiap saat dengan mudah dapat dibuka.

"Itu anak kamu, Gomma," kata papinya pelan. "Tapi papi, mami, dan kamu kan nggak mau dengan kehadiran anak sial itu. Kita nggak mau punya keturunan dari seorang pembantu dan yang nggak jelas asal-usulnya."

Gomma diam. Wajah Pelangi langsung membuka memori Gomma. Ia hanya mengakui pelampiasan nafsu syahwatnya kepada asisten rumah tangganya, ketika itu karena tergiur dengan kecantkan Pelangi, gadis desa yang polos. Pelangi membantu ibunya mengadu nasib di kota besar Jakarta, menjadi asisten rumah tangga di rumahnya.

"Siapa namanya dan sekarang ada di mana anak itu, Pi," desak Gomma. "Itu anak juga belum tentu anak aku, Pi. Dari mana papi yakin itu anak aku. Harus tes DNA dulu," kilahnya.

"Namanya Elang. Anak itu sekarang lagi viral dan banyak masyarakat respek kepada dia," Wacana Pradipta meneguk susu cokelat dari cangkir mewahnya yang ada di depannya. Gomma semakin kaget. Reaksi emosinya makin menjadi-jadi. Keinginan menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri makin membludak. Lenyapkan! Arogansi keluarga Wacana Pradipta sudah dibatas kewajaran.

"Jangan panik. Papi sudah minta Yan Ganda dan kawan-kawannya untuk menculik dan menghabisi anak itu. Mereka sekarang sudah bergerak. Kita tinggal menunggu laporan saja," jelas Wacana Pradipta.

"Setuju, Pi," jawab Gomma cepat. Namun, wajah Elang Saja muncul melingkari pikirannya. Elang Saja dengan kepolosannya telah membantu menyelamatkan HP mahalnya dari penjambret di areal parkir gedung bioskop. Gomma segera menepis kejadian itu. Ia pinggirkan pertolongan Elang Saja bagaikan sampah yang tidak berguna. Gomma tidak menceritakan kepada Papinya mengenai pertolongan yang pernah dilakukan Elang Saja.

"Ya, sudah itu saja yang Papi ingin sampaikan. Kamu fokus saja dengan pekerjaan untuk mengelola bisnis yang sudah Papi percayakan. Kamu jangan buat rencana lain soal anak tersebut. Semua itu jadi urusan Papi dan Mami," kata Wacana Pradipta.

"Oke, Pi. Kalo begitu, aku pamit dulu. Maumeeting dengan Pak Willy. Kita ada rencana buat film baru dan konser beberapa artis Korea yang lagi top saat ini," ujar Gomma singkat dan melangkah keluar menuju lobi kantor.

"Yap! Silakan, Gomma. Semoga sukses," Wacana Pradipta tersenyum lebar dan bangga melihat anaknya penuh semangat, makin percaya diri dan matang dalam mengembangkan bisnis.

Wacana Pradipta juga senang melihat anak laki-lakinya, Gerry, dari istri keduanya, Maya. Gerry tumbuh sehat sebagai anak lelaki harapannya, selain Gomma. Gerry yang seusia dengan cucunya, Widya Shema, kini dibesarkan di Bandung. Lamunan Wacana Pradipta terhenti setelah sekretarisnya mengetuk pintu karena ada tamu yang sudah janji mau bertemu.

Sementara itu, setelah Gomma keluar dari kantor Wacana Pradipta, dirinya menerima telepon dari Widya Shema sebelum sampai di tempat pertemuan dengan mitra bisnisnya. Mobil yang ditumpanginya masih terkena macet, dampak dari pengalihan arus lalu-lintas akibat ada demonstrasi besar-besar oleh para mahasiswa, para pelajar, dan masyarakat yang memprotes kebijakan pemerintah.

"Ada apa, Nak," kata Gomma yang sangat menyayangi anak tunggalnya itu.

"Aku ada ide untuk proyek film baru yang Papa mau buat dengan Papanya Reva, Om Willy. Bagaimana kalo anak laki yang pernah kita ketemu di resto ayam bakar, aja sebagai pemeran utamanya. Dia cocok, tema filmnya kan remaja. Ganteng, wajahnya polos, baik, tinggi lagi badannya. Pas dengan film baru Papa itu. Nanti bakal banyak yang nonton,deh, Pa," tutur Widya Shema.

"Anak laki yang mana? Kawan sekolah kamu? Gomma berlagak tidak mengetahui. Padahal, detak jantungnya mau copot mendengar saran tersebut.

"Itu, Pa, yang kita ketemu dia di resto ayam bakar Metropole. Mama udah setuju, tuh, dengan saran aku," jelas Wiidya Shema.

"O, Mama kamu memang masih ingat dengan anak itu," jantung Gomma bukan mau copot lagi, tapi rasanya mau berhenti.

"Masihlah, Pa. Mama bilang anak laki itu juga keren, tampan, dan pas banget dengan proyek film Papa yang baru. Kalo anak itu ikut kesting, pasti sutradaranya juga pilih dia, Pa. Apalagi kalo anak laki itu sudah di-make up, terus pake busana mahal, wah, tambah cakep," Widya Shema mendetail mempromosikan. Inilah cara Widya Shema jika sedang "merayu" Papanya, agar keinginnya dikabulkan.

"Nanti Papa pertimbangkan sama Om Willy. Dia kan harus tau dan setuju juga. Termasuk sutradaranya apa mau nggak."

"Satu lagi, Pa. Anak laki itu sekarang lagi viral. Jadi namanya sudah terkenal di seluruh remaja. Itu kan nambah nilai dia, ya, Pa, kalo memang harus dikesting," ujar Widya Shema. Kembali Widya Shema mendesak Papanya agar Elang Saja bisa mengikuti casting dalam proyek film terbaru yang akan diproduksi oleh perusahaan film milik Papanya dan Om Willy.

"Iya, iya, sudah dulu teleponnya, Sayang. Papa udah maumeeting sama Om Willy," kata Gomma sambil menarik nafas yang terasa sesak di dada.

"Iya, Pa, Thanks, Pa," Widya Shema menutup ponselnya. Wajahnya cerah. Ia puas banget sudah mengungkapkan saran dan perasaannya kepada Papanya.

Reva Izni, sahabat Wdiya Shema, juga lega dan tertawa lepas setelah mendengar pembicaraan Widya Shema dengan Papanya. Reva Izni juga akan mengatakan hal serupa kepada ayahnya, Willy Heikal, yang menjadi mitra bisnis Papanya Widya Shema.

Gomma semakin pening kepalanya akibat saran anak dan istrinya itu. Ia berupaya keras agar kepusingannya ini tidak terbawa dalam pertemuan dengan kolega bisnisnya.

"Sore, Pak Gomma," sapa Willy Heikal ketika Gomma masuk ke ruang pertemuan. "Ini calon sutradara film kita yang baru," ia memperkenalkan sambil mempersilakan Gomma duduk.

Gomma mengangguk dan tersenyum. Calon sutradara itu menyalami Gomma, produser dan pemilik PT Duta Bumi Film yang sahamnya juga dipunyai oleh Willy Heikal. Mereka langsung membahas proyek film baru sekaligus menetapkan calon pemeran utama, peran pembantu, dan lainnya.

Proyek film bertema remaja ini diambil dari novel best seller yang ditulis novelis senior Is Roesli. Proyek film "Falling in Love" ini akan menelan dana sebesar Rp 25 miliar, yang diperkirakan para pengamat film mampu menyedot perhatian seluruh remaja di Tanah Air, bahkan para ABG (Anak Baru Gede) di kawasan ASEAN. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA