Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 18)

IN
Oleh inilahcom
Selasa 01 September 2020
share
 

SENJA temaram ketika Wina Faiz berlari kecil menemui Elang Saja di tempat jualan rujak Kang Syam. Elang Saja menyambut dengan senyum terbaiknnya. Kang Syam sibuk mengulek bumbu kacang rujak, sehingga tidak memperhatikan pertemuan hangat dua sahabat ini.

"Lang selamat, ya, kamu banyak tawaran dari berbagai kalangan setelah viral," kata Wina Faiz.

Ia menjelaskan tawaran datang mulai dari pihak agency untuk dijadikan artis, model. Kemudian dari agency produk sebagai bintang iklan, dari produser musik untuk diajak rekaman, serta dari produser film sebagai pemeran utama. Elang Saja juga mendapat undangan untuk mengisi acara talk show di TV swasta dan pemerintah. Hingga masyarakat dari kalangan sosialita sampai orang biasa juga menginginkan Elang Saja untuk dijadikan anak angkat. Bahkan, banyak ibu-ibu mau menjodohkan anaknya dengan Elang Saja jika sudah dewasa.

Elang Saja melongo mendengar info tersebut. Ia tidak mengira media sosial seperti kanal You Tube mampu melambungkan namanya. "Semua ini karena Allah Subhanahu wata ala," ujar Elang Saja dalam hati.

"Lang, kamu mau menerima tawaran yang mana?" pancing Wina Faiz.

Elang Saja diam. Menunduk. Tercenung. Mendung menggulung wajahnya. Ia jadi kangen dengan sosok orangtuanya, Rojali dan Rohana, yang tulus membesarkan dirinya. Setetes air mata tak mampu dibendung di sudut matanya.

"Gimana, Lang. Heh, kamu jangan sedih. Ini kan berita gembira buat kamu," kata Wina Faiz lirih.

"Alhamdulillah. Makasi, ye, Kak. Tapi saya seperti ini aje, belom mau nerima tawaran semua itu. Apalagi saya udeh dikasi ruangan sama kepala sekolah buat tinggal di sekolah. Biaya untuk sehari-hari juga mau dibantu dari guru-guru di sekolah, Jadi, kayaknya cukup buat biaya sehari-hari" jelas Elang Saja.

"Oke kalo begitu. Nanti saya yang jawab semua pertanyaan dan permintaan masyarakat yang masuk ke akun medsos saya," kata Wina Faiz.

Elang Saja memeluk Wina Faiz dengan hati yang tulus. Ia sudah menganggap Wina Faiz sebagai kakak. Begitu pula sebaliknya, Wiina Faiz telah menjadikan Elang Saja menjadi adiknya.

"Tapi kalo untuk acara di TV mau kan, Lang."

Elang Saja mengangguk. Setuju. Mereka tersenyum bahagia. Senja pun tenggelam. Suara adzan yang dibawa angin dari masjid sudah memanggil kaum muslimin dan muslimat untuk mendirikan sholat Maghrib berjamaah. Elang Saja dan Wina Faiz segera menuju mushola yang disediakan manajemen gedung bioskop Mertropole ini.

Ketika malam melingkupi gubuk Roro, suasananya tidak seperti biasa. Selain suhu udara panas dan makin pengap, Elang Saja sulit untuk tidur. Untuk itu ia mengambil kitab suci Al Quran dan membacanya. Elang Saja menatap jam dinding yang tidak bagus lagi, menunjukkan pukul 02.00 dini hari menjelang sepertiga akhir malam. Waktu yang sangat dianjurkan untuk mendirikan sholat Tahajjud hingga tiba waktu sholat Subuh.

"Perasaan nggak enak banget, nih," kata Elang Saja dalam hati. Gelisah dan tidak tenang makin menjadi-jadi. Elang Saja ingin keluar dari gubuk RoRo. Entah apa yang mendorong untuk segera meninggalkan tempat tinggalnya itu. Ia sendiri merasa aneh dan tak karu-karuan jadinya.

Elang Saja segera mengakhiri tadarusannya dan menyimpan kitab suci Al Quran di tempat khusus agar tidak terkena debu atau kotoran cicak. Ia mengambil kain sarung, peci, dan cepat langkahnya menuju mushola untuk sholat Tahajjud.

Saat Elang Saja melewati gardu listrik yang ditumbuhi pepohonan, dirinya melihat beberapa orang bertopeng mengendap-endap. Ia penasaran dan nalurinya memberi isyarat akan ada sesuatu yang terjadi di sekitar sini. Ia terus menguntit, dan kaget ketika sejumlah orang bertopeng itumalah berhenti di depan gubuk Roro.

Elang Saja berdiri di balik pohon besar agar tidak terlhat dengan degup jantung kian cepat. Ia melihat jelas sekali lima orang bertopeng membawa dua dirijen dan berdiri di depan tempat tinggalnnya. Suasa saat ini memang senyap. Gubuk RoRo letaknya agak jauh dari penduduk sekitar.

"Lo masuk dan bawa anak itu, cepat!"

"Siap, Bang," dua orang masuk ke gubuk RoRo.

"Eh, kalo gue udah temuin itu anak, lo tinggal nunggu perintah selanjutnya dari Bang Yan," ujar kawanya sebelum melangkah masuk.

Yan Ganda bersama anak buahnya beroperasi malam ini untuk memenuhi permintaan Wacana Pradipta. Culik dan lenyapkan Elang Saja. Sepandai dan serapih-rapihnya manusia berencana, tapi Allah SWT yang paling menentukan.

"Bang anak itu nggak ada," lapor anak buah Yan Ganda. Kemudian Yan Ganda menyuruh anak buahnya menyiram bensin yang dibawa dalam dirijen. Bau bensin terendus oleh Elang Saja di samping pohon besar. Elang Saja pasrah, apapun kejadian ini pasti ada hikmah dibaliknya.

"Bakar!" teriak Yan Ganda.

Mereka kabur setelah yakin tempat tinggal Elang Saja terbakar dengan sempurna. Namun, Yan Ganda merasa misinya gagal total karena tidak berhasil menemui dan membawa Elang Saja.

Elang Saja di balik pohon menangis terisak. Setelah si jago merrah melalap gubuk RoRo yang ludes tanpa meninggalkan sisa, hanya barang-barang yang tak mudah terbakar masih agak terlihat wujudnya, beberapa orang menghampirinya. Elang Saja juga baru keluar dari sembunyinya di balik pohon, setelah melihat situasi aman.

"Sabar, Lang. Musibah ini pasti ada hikmahnya," kata orang itu.

"Iye, Pak," kata Elang Saja. Ia menangis lagi karena baju seragam dan buku pelajaran sekolah menjadi abu. Namun, bersyukur Allah SWT masih menyelamatkan dirinya dari amukan sekelompok orang bertopeng. Elang Saja meninggalkan gubuk RoRo yang penuh kenangan suka dan duka. Langkahnya lunglai menuju mushola untuk sholat Tahajjud, karena masih ada waktu sebelum adzan Subuh berkumandang. Sepertiga akhir malam memang masih menggantung dan memayungi kawasan ini.

Sementara orang-orang sekitar gubuk RoRo, terutama para sekuriti RT mengamankan situasi. Asap masih mengepul. Untungnya di lokasi ini hanya ada gubuk RoRo. Sehingga tidak mengganggu perumahan lain dan arus lalu-lintas. Tanpa kehadiran petugas pemadam kebakaran, api yang melumat tempat tinggal Elang Saja sudah padam dengan sendirinya.

Pagi harinya, Elang Saja tetap ke sekolah dengan baju seadanya. Ia berniat untuk melapor kejadian semalam kepada kepala sekolah dan ingin memohon izin untuk segera menempati ruangan di sekolahnya.

"Silakan Elang, mulai hari ini juga boleh. Nanti bapak lengkapi kasur saja dulu, ya, karena ruang itu baru selesai dibersihkan," jelas kepala sekolah. Elang Saja mengangguk dan mencium tangan kepala sekolah tanda terimakasih sambil meneteskan air mata.

"Sekarang kamu ke ibu Sri minta baju seragam sekolah. Setelah itu kamu belajar seperti biasa, ya," ujar kepala sekolah.

"Iye, Pak."

Elang Saja keluar dari ruangan kepala sekolah dengan ceria. Ia tidak ingin berlama-lama bersedih. Ia menjalani hari ini seperti biasa. Di luar sana, orang lain juga sedang menjalani rutinas masing-masing.

Bagi Wina Faiz, hari ini merupakan hari yang menyenangkan. Ia mau menepati janji untuk memberikan baju koko, kain sarung, dan peci hitam untuk Elang Saja. Namun, betapa kaget ketika ia tiba di gubuk RoRo sudah rata dengan tanah. Hanya sisa puing, barang-barang bekas kebakaran, dan sedikit asap masih mengepul yang menyengat bau hangus.

Wina Faiz pucat melihat kenyataan itu karena khawatir Elang Saja menjadi korban kebakaran. Tanpa buang waktu lagi, ia meminta sopir pribadinya mengantar ke sekolah Elang Saja untuk mencari informasi. Barangkali pihak sekolah mengetahui keberadaan Elang Saja. Rasa was-was semakin memuncak, mengingat sudah seminggu dirinya tidak bertemu dengan Elang Saja.

"Pak saya mau tanya, apa Elang masuk sekolah hari ini," Wina Faiz berdiri di depan pintu gerbang sekolah.

"Elang masuk sekolah, Mba. Ada apa, ya?" sekuriti mengernyitkan dahi.

"Alhamdulillah," Wina Faiz menarik nafas lega. Ia menunggu di dalam mobil sampai pelajaran sekolah selesai. "Terimakasih infonya, Pak," ujarnya sambil melirik jam tangan, sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi. Wina masuk ke mobil, menunggu Elang Saja sambil membuka catatan kecil di ponsel.

Suara riuh pelajar dan bel sekolah yang berbunyi hampir bersamaan terdengar dari luar sekolah. Wina Faiz segera keluar dari mobil dengan menenteng tas plastik, dan masuk ke dalam halaman sekolah.

"Lang!" teriak Wina Faiz begitu sampai di depan kelas Elang Saja. Senyuman seorang sahabat meluncur dengan polos. Elang Saja mengahampiri Wina Faiz. Namun, Wina Faiz tidak melihat sedikit pun kesedihan Elang Saja.

"Kamu ada apa, Lang. Apa yang terjadi dengan tempat tinggal kamu. Alhamdulilllah, kamu sehat dan nggak kenapa-kenapa, kan?" kata Wina Faiz yang menceritakan baru saja melihat rumah sahabatnya itu ludes terbakar.

"Alhamdulillah, saya sehat. Semalem orang-orang bertopeng membakar rumah saya," jelas Elang Saja. "Saya juga nggak tau, apa salah saya sampe mereka ngebakar," tambahnya.

Elang Saja kemudian mengungkapkan awal kejadian hingga sekarang tinggal di sekolah. Wina Faiz merasakan betapa sedih dan beratnya penderitaan Elang Saja.

"Sayanyoba-nyoba nulis kejadian semalam, siapa tau Kak Wina mau bacanye," Elang Saja memberikan selembar kertas yang ditulisnya tadi pagi sebelum pelajaran dimulai.

"Lengkap banget tulisan kamu. Wuidiiiih kamu bisa jadi wartawan ini. Ada bakat nulis jadi jurnalis," puji Wina Faiz. "Nanti saya posting di You Tube, tweeter, instagram, dan facebook saya," ujarnya.

Elang Saja tertawa kecil mendengar pujian dari Wina Faiz.

"Saya juga mau kasi HP buat kamu, nanti saya beli. Ini untuk memperlancar komunikasi kita. Contoh kejadian semalam, kalo kamu punya HP kan bisa langsung hubungi saya. Untuk sekarang saya mau lunasi janji saya dulu. Saya bawa kain sarung, baju koko, dan peci. Ini ambil," Wina Faiz menyodorkan tas plastik yang sejak tadi ditentengnya.

"Makasi, ye, Kak."

"Ini ambil saja, uangnggak banyak buat kamu makan dan beli keperluan lain," Wina Faiz memberikan 300 ribu rupiah kepada Elang Saja. "Nanti saya akan beli baju seragam sekolah, dan kaos untuk kamu kerja bantuin Kang Syam jualan rujak," tuturnya.

"Makasi lagi, ye. Kak Wina baek banget. Mudah-mudahan rejekinya ditambahin lagi sama Allah," kata Elang Saja.

"Sekarang kita makan siang. Itu warteg depan sekolah kamu kayaknya masakannya enak," Wina Faiz menarik tangan Elang Saja menuju warteg tersebut. Begitu sederhana dan apa adanya sisi lain kehidupan Wina Faiz, anak seorang jenderal, mau makan di warung tegal pinggir jalan. Allah SWT mempertemukan dan menyatukan mereka ke nuansa berbeda dari kebanyakan orang mapan yang mengedepankan kehidupan duniawi.

"Besok sore ada undangan untuk kamu mengikuti acara di TV. Saya sudah bilang kepada produser acaranya, bahwa kamu siap untuk hadir," kata Wina Faiz saat makan di warteg.

"Iye, Kak."

"Besok pulang sekolah saya jemput dan kita langsung ke studio TV swasta itu. Siang ini ngomog sama Kang Syam besok nggak bisa bantu jualan rujaknya," saran Wina Faiz.

"Iye, Kak. Sekalian mau kasih tau juga rumah saya dibakar orang," ujar Elang Saja.

Wina Faiz sambil menyelia tulisan Elang Saja mengenai pembakaran rumah oleh sekolompok orang bertopeng, sudah rampung. Ia telah mengedit tulisan Elang Saja. Lima menit kemudian, Wina Faiz memposting tulisan Elang Saja yang sudah menjadi berita melalui winafaiz official di jejaring media sosial, ya, di kanal You Tube, tweeter, instagram, serta facebook.

Wina Faiz terbelalak matanya, ketika mengecek postingan berita rumah Elang Saja dibakar oleh selompok orang bertopeng, ternyata sudah banyak yang melhat dan membaca. Komentar dari para netizen hampir semua menyatakan terharu dan turut prihatin. Banyak yang mau membantu berupa sumbangan dana maupun barang-barang yang dibutuhkan Elang Saja. Para netizen juga minta aparat berwajib segera turun tangan mengejar pelaku kriminal tersebut.

FeelingWina Faiz tidak meleset, berita disertai pasfoto wajah Elang Saja, viral dalam waktu singkat. Foto wajah Elang Saja itu juga yang mampu menyedot perhatian para netizen, khsususnya kaum perempuan, terutama remaja. Mereka rata-rata terus memuji ketampanan Elang Saja.

"Lang, ada juga surat dari dua ustadz yang ditujukan ke saya setelah melihat video kamu di You Tube. Saya jawab agar mereka nanti hadir di acara TV itu. Saya juga belum tau kenapa dua ustadz itungotot ingin ketemu kamu," tutur Wina Faiz.

"Ye, gak masalah, Kak."

"Alhamdulillah kalo kamu bersedia bertemu dua ustadz tersebut. Produser acara TV juga sudah mengizinkan ustadz itu bertemu kamu," ujar Wina Faiz.

Sang waktu harus diakui tak henti-hentinya berlari dengan cepat meninggalkan segalanya. Keesokan harinya, seperti sudah dijadwalkan, Elang Saja dan Wina Faiz dua jam sebelumnya sudah berada di stasiun TV swasta. Elang Saja dan Wina Faiz mendirikan sholat Ashar lebih dulu sebelum acara mulai.

"Mba Wina dan Elang apa sudah siap?" tanya produser ketika mereka selesai di-make up wajahnya agar tidak pucat saat kamera TV meng-close up.

"Siap, Mas," jawab Wina Faiz yang sudah terbiasa behadapan dengan kamera para wartawan ketika diwawancara, mengingat dirinya pegiat sosial yang aktif di berbagai event. Berbeda dengan Elang Saja, detak jantungnya berdegub agak cepat. Ia gugup melihat ruang studio TV, suasananya, dan dingin AC yang sangat menggigit kulit.

"Kalo saya hitung mundur sampai angka nol, zero, kalian masuk, ya, ke set panggung acara," kata produser acara.

Wina Faiz mengangguk. Elang Saja mengikuti Wina Faiz mengangguk.

"Tiga, dua, satu, zero!" teriak produser itu.

"Bismillahhiromannirohim," serempak Wina Faiz dan Elang Saja berucap dan melangkah masuk ke set panggung acara. Suara gemuruh dan tepuk tangan penonton di studio menyambut kehadiran Wina Faiz dan Elang Saja yang sedang viral.

Acara talk show itu pun berjalan sudah 15 menit. Banyak penonton di studio yang haru, bahkan menangis mendengar dan menyaksikan secara langsung penuturan Elang Saja. Wina Faiz lantas menceritakan awal pekenalannya dengan Elang Saja sampai saat ini. Host terkenal yang memandu acara ini pun meneteskan air mata. Apalagi berita terakhir yang juga viral, dimana tempat tinggal Elang Saja (gubuk RoRo) dibakar oleh orang tak dikenal dengan memakai topeng.

Dipertengahan acara, host memanggil dua ustadz untuk tampil karena ingin bertemu dengan Elang Saja. Ustadz bertubuh agak tinggi muncul sambil membawa kawannya yang duduk di kursi roda. Kameramen meng-close up wajah kedua ustadz tersebut yang sangat kentara sedang meneteskan air mata.

Elang Saja dan Wina Faiz merasa aneh kenapa dua ustadz itu masuk ke set panggung acara langsung menangis terisak. Dua ustadz terus mendekati Elang Saja yang masih keheranan dengan situasi ini. Host acara sedikit-sedikit memberi ilustrasi siapa sebenarnya dua ustadz yang sangat ingin bertemu Elang Saja. Hingga host itu menjelaskan nama dan identitas dua ustadz yang kini merangkul Elang Saja.

"Ustadz yang ini bernama Kiayi Haji Muhammad Ali Zulkarnaen, Pimpinan Pondok Pesantren Al Arif. Ustadz yang duduk di kursi roda adalah Ustadz Sahid, ayah angkat Elang Saja," tutur host.

Elang Saja dan Wina Faiz terbelalak, kaget bukan kepalang, mendengarinfo tersebut. Studio TV menjadi sepi, hening, dan terharu melihat pertemuan ini. Kemudian KH Muhammad Ali Zulkarnaen mengungkapkan, mulai dari Ustad Sahid membawa Pelangi, ibu kandung Elang Saja yang kala itu masih dalam keadaan hamil tua untuk dititipkan di pesantrennya. Kemudian Pelangi meninggal dunia akibat kondisi tubuhnya terus menurun setelah melahirkan Elang Saja. Hingga kejadian besar menimpa pesantren yang dipimpinnya, ketika sekelompok orang bertopeng membakar seluruh gedung pesantren.

"Malam itu, dalam suasana yang kacau, saya meminta tolong Ustadz Somadikun dan santriwati Indri segera mengamankan bayi yang bernama Elang Saja ke rumah kawan yang lebih aman," jelas KH Muhammad Ali Zulkarnaen. Ia melanjutkan bicaranya, setelah pesantren ludes terbakar, pada pagi harinya Ustadz Sahid membawa Elang Saja ke rumahnya.

KH Muhammad Ali Zulkarnaen menunjukkan foto-foto Elang Saja masih bayi yang tersimpan di HP seorang santriwatinya. Elang Saja dengan spontan, tanpa diminta oleh host, mendekati HP untuk melihat dari dekat yang disebut dirinya ketika masih bayi. Kameramen kembali meng-close up foto-foto tersebut agar masyarakat yang menonton acara ini melihat secara jelas. Wina Faiz masih belum yakin dengan kenyataan ini.

"Setelah kamu,bapak bawa ke rumah, sehari-harinya ibu kamu yang mengurusnya. Bapak juga masih simpan foto-foto kamu waktu masih bayi. Ibu kamu yang simpan di HP-nya. Kalo ibu kamu lagi kangen, ia hanya melihat dan menciumi foto-foto kamu," timpal Ustadz Sahid yang memberikan kepada Elang Saja, baik foto yang ada di HP maupun yang sudah dicetak.

Ustadz Sahid meneruskan penjelasannya. "Pada malam naas itu, ada sekelompok orang bertopeng berhasil merampas, menculik, dan membawa kabur kamu. Di rumah hanya ada ibumu dan kamu. Karena malam itu bapak sedang ceramah di Tanjung Priok. Pulang dari ceramah, bapak ditabrak sama beberapa orang bertopeng juga, sampai bapak terpental dan jatuh. Akibatnya, kedua paha bapak ini harus diamputasi karena remuk," dengan air mata berlinang Ustadz Sahid berupaya lebih mendekat lagi ke Elang Saja.

"Lalu kenapa Pak Ustadz yakin Elang ini anak angkat bapak?" sela Wina Faiz yang sejak tadi menahan pertanyaan ini, karena memberi waktu kepada dua ustadz untuk berbicara.

"Saya yakin seyakin-yakinnya. Ini adalah petunjuk Allah yang maha kuasa untuk mempertemukan kami," ujar Ustadz Sahid.

"Pertanyaan saya belum dijawab pak ustadz. Kenapa pak ustadz yakin bahwa Elang ini anak angkat bapak?"

"Iya pak ustadz, tolong dijelaskan biar kami lebih yakin bahwa Elang Saja adalah anak angkat bapak," tambah host.

Ustadz Sahid menelan ludah dan menarik nafas panjang. Ia melirik KH Muhammad Ali Zulkarnaen yang memberi isyarat untuk mengungkapkan saja fakta-fakta yang ada. Penonton di studio juga terbius oleh suasana dramatis ini.

"Nama Elang Saja sengaja saya tulis di cincin, yang saya dan istri sengaja masukkan di jari tengah kanan Elang. Saya juga nggak tahu sampai sekarang nama itu digunakan oleh Elang Saja. Barangkali si penculik bayi mengetahui ada nama tertulis di cincin jemari tangan Elang. Hingga kamu dipanggil Elang Saja," tutur Ustadz Sahid.

Kemudian ia melanjutkan, "Sejak kejadian penculikan itu, bapak dan ibu sama sekali tidak mengetahui keberadaan kamu, Lang. Hingga akhirnya bapak dan ibu diberitahu sama Pak Kiayi bahwa ada nama Elang Saja yang lagi viral dengan video kehidupan kamu itu."

"Nama Elang Saja itu bapak yang beri nama. Ketika itu di pesantren, bapak sedang memikirkan nama apa yang cocok diberikan kepada bayi yang baru saja bapak dan Pak Kiayi bawa dari rumah sakit. Akhirnya malam hari, waktu bapak buka jendela kamar pesantren, ada burung Elang sedang hinggap di dahan pohon Randu. Nah, nama burung itulah bapak yakin cocok untuk kamu. Elang. Tapi bapak berpikir harus ada nama dibelakangnya. Akhirnya terpilih nama "Saja", dan bapak sandingkan dengan nama Elang di depannya. Jadi nama bayi itu Elang Saja," ungkap Ustadz Sahid sambil melap air matanya dengan kertas tisu yang disediakan kru acara talkshow ini.

Ustadz Sahid mengeluarkan secarik kertas dari map hijau yang dibawanya. "Ini surat keterangan lahir kamu yang dibuat pihak rumah sakit tempat kamu dilahirkan. Di situ juga tertulis nama bapak dan ibu sebagai orangtua kamu," ungkap Ustadz Sahid.

Elang Saja menunduk. Ia yakin dengan penjelasan KH Muhammad Ali Zulkarnaen dan Ustadz Sahid. Namun, Wina Faiz masih ingin meyakinkan dirinya bahwa Elang Saja adalah anak angkat Ustadz Sahid. Lantas siapa ayah dan ibu kandung Elang Saja? Pertanyaan ini bersembunyi di bilik nurani dan di benaknya.

"Nama Elang seperti burung Elang memiliki karakter kuat yang mencerminkan sikap yang tangguh, bertanggung jawab, kuat, cepat, dan hebat. Itu inti arti filosofi dari nama Elang," tambah Ustadz Sahid.

Wina Faiz mengakui filosofi dari nama burung Elang seperti keterangan Ustadz Sahid, yang kini sama dimiliki oleh Elang Saja. Wina Faiz mulai melunak pikirannya dan menyadari betapa besar perjuangan Ustadz Sahid bersama istrinya, juga KH Muhammad Ali Zulkarnaen yang mau menampung bayi Elang Saja.

"Hemh, ada benang merahnya dari satu peristiwa dengan kejadian kedua, dan terakhir tempat tinggal Elang Saja dibakar oleh sekelompok orang bertopeng. Ya, benang merahnya itu adalah sekelompok orang bertopeng yang menjadikan Elang Saja sebagai target utama," kata Wina Faiz dalam hati.

Wina Fiaz terus berpikir keras mengenai siapa dan apa latar belakang dari kelompok bertopeng ingin menghancurkan Elang Saja. Dan siapa pula orang di balik layar, siapa dalang sebenarnya, siapa aktor intelektualnya dari semua rencana keji ini.

"Jadi siape ibu dan bapak saya pak ustadz," tiba-tiba Elang Saja merangkul dan memeluk Ustadz Sahid yang duduk di kursi roda. Dekapan hangat ini begitu mengalir ke tubuh Ustadz Sahid, sehingga ia lebih erat memeluk Elang Saja. Selain rasa kangen yang teramat sangat, Ustadz Sahid juga meluapkan kegembiraannya saat ini karena dipertemukan dengan Elang Saja oleh Allah SWT.

"Bapak sendiri belum mengetahui banyak mengenai ibu kandung kamu, Lang. Hanya namanya Pelangi. Ibu kamu dititipkan oleh kawan bapak, lalu bapak minta tolong sama pak Kiayi untuk tinggal di pesantrennya demi keamanan. Karena ibu kandung kamu juga selalu dikejar-kejar oleh sekelompok orang tak dikenal. Akhirnya ibu kandung kamu meninggal dunia, setelah melahirkan kamu, Lang. Bapak dan Pak Kiayi sepakat memakamkan ibu kandung kamu di belakang pesantren Pak Kiayi di Banten. Kalo kamu mau ziarah, nanti bapak anter," kata Ustadz Sahid lagi.

"Makasi Pak Ustadz. Saya sekarang punya bapak angkat, Pak Ustadz," ujar Elang Saja sambil terus menangis. Acara TV Swasta ini semakin mengharu-biru dan menjadi saksi sejarah pertemuan Elang Saja dengan ayah angkatnya, Ustadz Sahid. Selapis demi selapis, Elang Saja mulai mengetahui siapa sebenarnya jati dirinya.

Elang Saja kemudian teringat dengan wajah Rojali dan Rohana yang selama ini dianggapnya sebagai bapak dan ibu kandungnya. Bagi Elang Saja, sosok Rojali dan Rohana menjadi orangtua terbaik yang telah membesarkan dirinya. Tetes air mata Elang Saja lagi-lagi tak mampu ditahan, meleleh di kedua pipinya.

Elang Saja juga menghampiri dan mencium tangan kanan KH Muhammad Ali Zulkarnaen. Tangisnya juga pecah, tatkala Pak Kiayi memeluk erat Elang Saja. Host acara ini membebaskan mereka saling menumpahkan rasa kangen. Bahkan produsernya pun membiarkan acara ini berlangsung terus tanpa jeda iklan yang seharusnya tayang.

"Kamu memang gagah, kuat, mandiri, tampan, ganteng, dan berwibawa, Lang. Pak Kiayi nggak menyangka kamu seperti ini sekarang, ngetop lagi. Jangan-jangan banyak yang naksir kamu," gurau Pak Kiyai menyegarkan suasana agar tidak terbawa aura kesedihan berlama-lama. Elang Saja diam, dan terus memeluk Pak Kiayi. Ia merasa nyaman didekap oleh Pak Kiayi juga dengan Ustadz Sahid.

"Kamu ikut lagi sama Pak Kiayi, ya, ke pesantren. Di sana kamu bisa menimba ilmu dengan tenang, nyaman, dan aman dari orang-orang yang tidak suka sama kamu. Pesantren sekarang tambah bagus. Setelah dibakar kelompok bertopeng itu, ada donatur yang membangunnya sehingga pesantren kini menjadi megah," bisik Pak Kiayi.

Elang Saja belum menjawab, tapi jauh di lubuk hatinya ada getaran setuju untuk pindah sekolah ke pesantren Pak Kiayi. Ia ingin menjadi tahfidz (penghafal Al Quran), selain juga belajar mata pelajaran seperti di sekolah umum. Bahkan, Elang Saja bertekad ingin belajar, selain bahasa Indonesia juga belajar berbagai bahasa asing, agar mampu berkeliling untuk dalam berdakwah. "Syiar Islam harus mendunia," ujarnya dalam hati.

Produser acara sudah memberi isyarat kepada host untuk closing, menutup acara yang sudah berjalan satu jam penuh. Lagu "Ibu" yang dipopulerkan penyanyi senior, Iwan Fals, dan tembang "Ayah" yang juga diciptakan oleh musisi senior, Rinto Harahap, menjadi menutup acara talkshow ini dengan sukses.

Setelah pulang dari studio TV swasta itu, Ustadz Sahid sebagai ayah angkat Elang Saja membawa pulang ke rumahnya. Elang Saja senang dengan keputusan ayah angkatnya. Sedangkan KH Muhammad Ali Zulkarnaen dan Wina Faiz tersenyum tanda setuju. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA