Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 19)

IN
Oleh inilahcom
Rabu 02 September 2020
share
 

"Kak, maapin saya, ye," kata Elang Saja sambil merapihkan ruangan kecil sekolah yang dijadikan kamar tidurnya.

"Ada apa, Lang," jawab Wina Faiz yang meletakkan bungkus kotak berisi HP dan beberapa potong baju seragam serta kaos serba baru untuk Elang Saja. "Itu semua untuk kamu."

"Makasi banyak, ye, Kak," Elang Saja mencium tangan kanan Wina Faiz.

Suasana sekolah hari ini sepi karena hari libur, Minggu. Hanya dua orang sekuriti bertugas.

"Saya sudah mantep mau pindah sekolah ke pesantren Pak Kiayi. Ustadz Sahid juga setuju. Kepala sekolah juga setuju. Tinggal Kak Wina yang baru saya kasi tau nih," Elang Saja menatap sendu ke Wina Faiz. "Kakak juga setuju, kan," tambahnya.

Wina Faiz menunduk. Diam. Pandangannya dialihkan ke sudut ruang. Ia sengaja ber-acting dengan wajah tidak setuju. Wina Faiz memilin-milin jari-jemarinya dengan mulut dibuat jutek dan julit.

"Kakak gak suka saya pindah sekolah di pesantren?" suara Elang Saja lebih keras.

Wina kembali bungkam seribu bahasa. Ia tidak mau menatap Elang Saja. Wajahnya lagi-lagi dibuat seperti marah kepada sahabat kecilnya ini.

"Kalo gak setuju, ye, udeh, deh, saya tetep sekolah dan tinggal di sini," Elang Saja menghempaskan dirinya. Mukanya muram. Dirinya ingin dimanja memang oleh Wina Faiz yang sudah benar-benar dianggap sebagai kakak.

"Saya setuuuuuuujuuuuuu!" teriak Wina Faiz sambil memeluk erat Elang Saja. "Hahaha kena prank kamu, Lang. Kakak sangat, sangat, sangat setuju kamu menuntut ilmu di pesantren Pak Kiayi. Kalo kakak kangen, pasti main-main ke pesantren. Kalo kakak lagi sibuk, tapi kangen, kita bisa video call. Kamu sekarang punya HP. Makanya, ambil dan liat itu HP," kata Wina Faiz.

Elang Saja sambil mengelap air matanya, langsung bangun dan memeluk Wina Faiz. "Makasi, ye, Kak," ujarnya seraya menahan tawa karena berhasil kena prank. Ia mengambil kotak dan mengeluarkan HP warna hitam sambil memperhatikan ponsel itu.

"Pasti harganye mahal," selidik Elang Saja.

"Udah pokoknya kamu pake aja. Soal harga bisa tanya di toko sebelah," Wina Faiz melepaskan tawa bahagianya karena berhasil lagi membuat Elang Saja mesem-mesem.

"Besok pagi, saya udeh ke pesantren Pak Kiayi. Entar siang, saya juga mau pamit sama Kang Syam. Jadi siang ini terakhir saya bantu Kang Syam. Sama kakak juga," tercekat suara Elang Saja. Wina Faiz merasakan suasana yang kurang nyaman, karena besok sudah berpisah.

"Sabar, Lang. Ini kunci sukses kebahagiaan dan menuju ketenangan hidup. Semoga kamu sukses, apa yang kamu cita-citakan setinggi langit tercapai. Terpenting pegang teguh prinsip hidup dengan nilai-nilai kejujuran, dan yang pasti harus selalu dekat dengan Allah," tutur Wina Faiz.

"Makasi, Kak."

"Sekarang kamu saya antar ke tempat Kang Syam untuk pamitan seperti tadi kamu bilang. Ayo, tunggu apa lagi," ajak Wina Faiz.

Di tempat jualan rujak Kang Syam suasana juga sama, ketika Elang Saja pamitan. Kang Syam hanya memandangi Elang Saja lama sekali. Tak terasa tetes air matanya jatuh saat memeluk erat tubuh Elang Saja. Begitu pula Elang Saja, sama, menangis.

"Makasi banget sama Kang Syam udeh ngebantu saya," lirih suara Elang Saja.

"Sama-sama, Lang, udah bantu juga."

"Salam buat Bang Kemat kalo die ke sini, Kang. Bang Kemat juga banyak jasanya udeh ngajak saya kerja sama Kang Syam."

"Iya, Lang nanti disampaikan salamnya. Preman yang baik itu jarang ke sini, ya, Lang," ujar Kang Syam. "Kalo udah jadi orang, eh, maksudnya udah lulus sekolah dan sukses dalam kerjaan, jangan lupa sama Kang Syam dan Bang Kemat," pesan Kang Syam tertawa terbahak.

Wina Faiz yang sejak tadi membuat dokumentasi dengan merekam momen berharga dan mengharukan ini, ikut tertawa terpingkal-pingkal. Video ini untuk content di kanal medsosnya.

Pagi harinya, seperti biasa setiap hari Senin di sekolah mengadakan upacara. Namun, hari ini merupakan Senin yang istimewa, karena sebentar lagi kepala sekolah mengadakan perpisahan sehubungan kepindahan Elang Saja ke Banten untuk nyantri di salah satu pesantren.

Pagi dengan udara yang agak mendung ini mamayungi suasana haru di sekolah Elang Saja. Langit pagi seolah mengerti beratnya perpisahan yang harus mereka jalani.

Kepala sekolah dan para guru sudah berdiri berjejer usai upacara, sementara kawan-kawan Elang Saja khususnya di kelas lima, juga berdiri di belakangnya. Elang Saja kemudian menghampiri mereka dan menyalami satu per satu.

"Selamat, ya, Lang, semoga kamu sukses," kata kepala sekolah setelah Elang Saja mencium tangan.

"Makasi, Pak."

Para guru dan kawan-kawan yang lain mengucapkan hal yang sama. Elang Saja berterimakasih kepada semua pihak selama sekolah di sini. Elang Saja melangkah santai meninggalkan mereka dengan sejuta kenangan terindah.

Di luar gerbang sekolah, Ustadz Sahid dan Wina Faiz sudah menunggu di mobil. Elang Saja masuk dan menutup pintu belakang mobil. Kendaraan mewah jenis Jeep ini melaju menuju Pondok Pesantren Al Arif, Banten.

"Elang, ini Ustadzah Indri dan Ustadz Somadikun yang menolong kamu waktu masih bayi membawa ke rumah Haji Tohir, ketika pesantren dibakar oleh kelompok bertopeng. Mereka menyelamatkan kamu lewat jalan khusus yang sulit diketahui orang, kecuali pengurus pesantren," kata KH Muhammad Ali Zulkarnaen di ruang tamu pesantren, saat Elang Saja, Ustadz Sahid, dan Wina Faiz baru tiba.

KH Muhammad Ali Zulkarnaen didampingi pengurus pesantren lain, para ustadz dan ustadzah, juga beberapa santriwan serta santriwati. Ruang tamu pesantren ramai dengan suasana suka-cita. Ada kebahagiaan melingkupi mereka.

"Makasi, ye, bu ustadzah dan pak ustadz," ujar Elang Saja kemudian menyalami dan mencium tangan Ustadzah Indri serta Ustadz Somadikun.

"Lang, saya tidak mengira sekarang sudah jadi ABG yang gagah dan ganteng," sapa Ustadz Somadikun sambil mengusap kepala Elang Saja.

"Kalo saya sudah menduga kamu bakal jadi anak lelaki yang kuat, gagah, dan tentunya tampan. Keren. Hati-hati nanti banyak santriwati naksir sama kamu," timpal Ustadzah Indri. "Waktu masih bayi sudah kelihatan tanda-tanda kamu bakal menjadi lelaki perkasa dan ganteng," tambahnya disambut tepuk tangan yang hadir di ruang tamu.

"Iya, Lang, Ustadzah Indri itu benar. Ibu juga memperkirakan seperti apa yang dikatakan Ustadzah Indri. Sekarang saja sudah menjadi orang tekenal karena video kamu viral. Bisa saja nanti kamu menjadi Presiden," tutur Ustadzah Salamah, istri KH Muhammad Ali Zulkarnaen.

Tawa bahagia pun pecah lagi.

"Iya, Lang, istri saya sudah menganggap kamu sebagai anak. Dialah yang selalu bangun dari tidurnya untuk menggantikan popok baru, ketika kamu pipis dan membuat susu saat haus," ungkap KH Muhammad Ali Zulkarnaen.

"Makasi bu Ustadzah yang juga sudah ngerawat saya," kata Elang Saja sembari mencium tangan dan memeluknya.

"Terimakasih Pak Kiayi dan semua pengurus di sini. Saya titip Elang lagi untuk belajar di pesantren ini," kata Ustadz Sahid yang sejak tadi hanya diam dan selalu bersyukur kepada Allah SWT.

"Sama-sama Pak Ustadz," jawab KH Muhammad Ali Zulkarnaen yang diamini para pengurus dan staf pesantren.

"Buat Elang, tekadkan niat yang kuat agar cita-cita kamu tercapai. Berdoa terus kepada Allah agar dimudahkan segala urusan kamu," pesan Ustadz Sahid.

Elang Saja menganggukkan kepala.

Setelah dijamu makan siang, Elang Saja diantar Ustadz Somadikun ke kamar asrama santriwan. Elang Saja mengamati kemegahan pesantren ini ketika menuju asrama tersebut.

Ustadz Sahid dan Wina Faiz kembali ke Jakarta setelah sholat Ashar berjamaah di Masjid Al Arif yang berada di tengah-tengah pondok pesantren. Sebelumnya, Ustadz Sahid, Wina Faiz, dan Elang Saja ziarah ke makam Pelangi, ibu kandung Elang Saja, dengan ditemani KH Muhammad Ali Zulkarnaen serta pengurus pesantren. Makam Pelangi di belakang pesantren nampak terurus. Bersih, rapih, dengan batu nisan putih.

Mereka berdoa agar arwah almarhumah Pelangi diterima disisi Allah SWT, dilapangkan kuburnya, dan dihapuskan dosanya. Elang Saja mengusap batu nisan yang tertulis nama Pelangi. Ia khusus berdoa dengan khusyuk disertai titik air mata.

"Ibu sekarang Elang ade di sini, nemenin ibu, bisa ketemu tiap hari, kapan waktu, selama Elangade di pesantren ini," kata Elang dalam hati dan berjanji akan melihat dan membersihkan makam ibunya setiap hari.

Elang Saja beristirahat di kamar asramanya. Setiap kamar dihuni dua orang. Elang Saja bersama Attar Ahmad yang berasal dari Bandung. Ia berupaya menyesuaikan pergaulannya dengan para santriwan dan santriwati. Selain itu, menyesuaikan dengan tata cara dan peraturan yang belaku di pesentren Al Arif yang sejuk karena banyak ditumbuhi pepohonan rindang.

Malam pertama di pesantren, Elang Saja sudah akrab dengan kawan sekamarnya. Attar Ahmad yang selalu jenaka, pandai bicara, dan cerdas. Sebelum tidur, Elang Saja sudah menjadi kebiasaan mendirikan sholat sunnah wudhu dan sholat sunnah witir. Kemudian ia membuat berita tentang peristiwa yang dialami sejak pagi hingga malam ini. Ia kirim dengan ponsel melalui WhatsApp (WA) kepada Wina Faiz.

Setelah mengedit, Wina Faiz memposting berita tersebut melalui winafaiz official ke berbagai saluran medsosnya. Ia juga menampilkan pasfoto wajah Elang Saja di setiap berita yang dikirim sahabatnya itu. Bahkan, di akhir berita, selalu Wina Faiz mencantumkan nama "elangsaja", yang menjadi karakter kanal medsosnya.

Elang Saja terlelap tidur dan siap bangun di sepertiga akhir malam untuk mendirikan sholat sunnah Tahajjud.

Namun, di Jakarta, Wina Faiz masih memikirkan siapa kelompok bertopeng yang ingin mencelakakan Elang Saja. Bahkan, peristiwa pembakaran pesantren sampai kecelakaan yang dialami Ustad Sahid di jalan raya juga dilakukan oleh kelompok bertopeng.

Semua kejadian itu melingkari pikirannya. Wina Faiz tertidur sejenak. Setelah terbangun, ia mendirikan sholat Tahajjud juga di sepertiga akhir malam. Hingga adzan Subuh berkumandang, Wina Faiz belum juga bisa tidur. Ia akan diskusi dengan ayahnya mengenai keanehan dari rentetan peristiwa yang dilakukan kelompok kriminal dengan menggunakan topeng.

Wina Faiz memang sudah tidak sabar. Ketika ayahnya baru pulang sholat Subuh dari masjid Sunda Kelapa, tidak jauh dari rumahnya, ia mengajak ke ruang keluarga yang berhadapan dengan kolam renang.

"Ayah, saya mau tanya. Apa ada kelompok kriminal yang setiap aksinya menggunakan topeng," Wina Faiz langsung bertanya ke inti permasalahan.

"Ya, ada saja yang seperti itu untuk menghindari kamera CCTV, baik di jalan maupun di rumah atau kantor yang jadi target mereka," jawab ayahnya.

Wina Faiz kemudian menceritakan mulai dari awal hingga akhir secara detail kejahatan yang dilakukan terhadap siapa pun yang melindungi Elang Saja. Ayahnya tercenung.

"Kalau begitu nanti ayah infokan ke kawan ayah yang paling berkompeten di bidangnya. Memang domain dia. Ayah minta kasus ini terus diusut sampai tuntas. Biasanya kalau ada kasus seperti ini, kemungkinan besar ada aktor intelektualnya," jelasnya.

"Thanks ayah."

"Tapi kamu harus lebih hati-hati kalau mau ikut membantu sahabatmu itu. Siapa namanya, Elang?"

"Iya, Ayah."

Tanpa sepengetahuan Wina Faiz, ayahnya akan meningkatkan pengawalan kepada anaknya yang aktivitis sosial ini. Ia tahu persis karakter Wina Faiz jika diberitahu soal penambahan pengawalan, pasti anaknya tidak setuju.

Tiba-tiba ponsel Wina Faiz berbunyi.

"Maaf, ya, ayah, saya mau terima telepon dari Elang," kata Wina Faiz.

"Kak,maapin, ye, pagi-pagiudah nelepon."

"Nggak apa-apa. Kamu baru aja kakak omongin sama ayah soal kelompok bertopeng itu, Lang. Ada apa, Lang?" ujar Wina Faiz.

"Gak ade ape-ape, Kak. Cuma mau ingetin aje, hari ini kakak hati-hati kalo lagi di luar rumah. Saya punya perasaan yang gak enak soalnya, Kak. Gak tau hari ini kepikiran sama kakak aje," ungkap Elang Saja.

"Terimakasih perhatiannya, Lang. Hari ini memang banyak jadwal di luar rumah, setelah dari kampus. Ya, saya akan hati-hati," jawab Wina Faiz.

Pagi ini masih seperti biasa, jika jam-jam sibuk, jalan menjadi macet karena orang yang mau beraktivitas berangkat secara bersamaan. Wina Faiz sudah di jalan bersama sopir pribadinya menuju kampus di kawasan Depok, Jawa Barat. Pagi ini hanya konsultasi dengan dosen pembimbing sekripsinya. Hanya setengah jam berada di kampus.

Wina Faiz kemudian menuju Balai Kartini di Jalan Gatot Subroto, kawasan segitiga emas, di jantung kota Jakarta untuk menghadiri diskusi yang mengangkat tema "Nasib Anak Jalanan yang Semakin Terpinggirkan". Ia sebagai pembicara bersama seorang tokoh masyarakat, seorang profesor yang juga pengamat sosial, dan seorang menteri terkait.

"Neng Wina, ada yang ikuti kita," kata sopir pribadinya.

"Ya, Allah. Siapa, ya," Wina Faiz menoleh ke kanan dan kiri juga ke belakang. Dua sepeda motor masing-masing berboncengan, berada di belakang mobil Wina Faiz.

"Iya, itu di belakang kita, Pak."

"Tenang aja, Neng. Kita doa aja dan terus waspada," ujarnya kalem karena mengetahui mulai hari ini ada satu mobil lagi yang mengawal ke manapun Wina Faiz pergi.

Ketika melintasi jalan di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang sepi dari lalu-lintas kendaraan, dua pengendara motor misterius itumemepet mobil Wina Faiz. Sopir pribadi Wina Faiz mengarahkan mobil ke kiri. Namun, belum sampai dua pengendara motor itu beraksi, sebuah jeep hitam sengaja ingin menabrak. Dua pengendara motor kaget dan limbung, kemudian segera cabut, kabur.

"Hahaha" sopir pribadi Wina Faiz tertawa ngakak melihat kejadian itu. Wina Faiz yang sejak tadi merekam ulah dua pengendara motor itu, juga ikut tertawa. Namun, ia tidak dapat mengetahui wajah pengendara motor karena memakai helm warna hitam pekat.

"Ya, Allah, terimakasih masih melindungi kami. Feeling Elang terbukti. Ada yang mau mencelakakan saya," kata Wina Faiz dalam hati. Ia langsung mengirim hasil rekaman ini melalui WA ke ponsel Elang Saja.

Isi WA Wina Faiz: Apa ada kaitan dengan kelompok beropeng itu, ya, Lang?

WA Elang Saja: Bisa aje, Kak. Tetep waspada, Kak.

WA Wina Faiz: Iya, terimakasih, Lang. Kamu lagi belajar? Maaf ganggu.

WA ELang Saja: Lagi istirahat, Kak.

Wina Faiz menutup ponselnya, ketika mobil sudah berada di lobi gedung Balai Kartini. Ia langsung masuk ke ruangan diskusi. Sopir pribadinya memarkir mobil, kemudian keluar dan menyalami empat orang pengawal tambahan yang juga memarkir jeep.

Pulang ke rumah, Wina Faiz bertemu dengan ayahnya dan melaporkan kejadian tadi siang.

"Mereka gagal memepet mobil, karena ada yang menolong dari pengemudi mobil jeep yang ingin menabrak dua pengendara motor itu, Yah. Akhirnya, pengendara motor itu kabur," cerita Wina Faiz.

"Alhamdulillah. Allah melindungi kamu," kata ayahnya. "Informasi kamu yang kemarin itu juga sudah ayah sampaikan ke kawan ayah yang berhak menangani kasus seperti itu. Sabar, nanti akan terungkap pelaku dan orang di balik aksi-aksi tersebut. Bisa saja kelompok bertopeng itu hanya beraksi terhadap sahabat kamu saja, si Elang itu. Karenanya jejak kriminalnya tidak terdeteksi," tutur ayah Wina Faiz.

"Hmh, benar juga analisa ayah. Terimakasih, ayah," Wina Faiz mencium tangan dan kening ayahnya. Wina Faiz tetap menyimpan aksi kelompok bertopeng dalam file benaknya. Bahkan, menjadi PR (pekerjaan rumah) yang harus diungkap secara tuntas aksi kriminal mereka.

Kelompok bertopeng yang misterius itu juga membuat catatan tersendiri di kalbu Elang Saja. Ia bertekad dengan segala daya dan upaya akan mengungkap pula keberadaan kelompok bertopeng. Setiap sholat Tahajjud di sepertiga akhir malam, merupakan sarana doa bagi Elang Saja agar mendapat petunjuk dari Allah SWT.

Hobi menulis dan naluri jurnalistik Elang Saja semakin berkembang. Tulisannya yang selalu dikirim dan diedit oleh Wina Faiz menjadi berita atau artikel yang kian matang dan bernas. Apapun yang ia alami di pondok pesantren atau ada kegiatan ekstrakulikuler (eskul) selalu dibuat berita juga merekam dengan video ponselnya, kemudian dikirim ke Wina Faiz untuk diposting ke medsos melalui winafaiz official. Kanal yang diasuh Wina Faiz ini makin bertambah banyak follower-nya.

Tulisan dan hasil laporan dari video ponsel Elang Saja banyak yang viral, terutama ketika terkait dengan lika-liku kehidupannya. Mulai tulisannya yang menelusuri kisah sedih dan penuh penderitan ibu kandungnya, Pelangi, hingga peristiwa aktual lainnya. Elang Saja makin banyak mengetahui kejadian yang dialami ibu kandungnya, setelah mendengar keterangan Ustadz Sahid. Selain itu, Ustadz Sahid menceritakan pula mengenai sosok Bang Ucin yang ikhlas menolong Pelangi.

Elang Saja merasa berhutang budi dengan pertolongan yang dilakukan oleh Bang Ucin, mantan preman yang akhirnya dibunuh oleh beberapa orang karena menolong dan melindungi Pelangi. Semua kejadian itu ditulisnya yang dibantu dengan editan "tangan dingin" Wina Faiz, menjadikan tulisan tersebut mudah dibaca, kemudian viral.

Sementara itu sejak belajar di pesantren, Elang Saja merasakan ada sesuatu yang aneh setiap selesai mendirikan sholat Tahajjud di sepertiga akhir malam. Ketika ia berdoa dan melanjutkan wirid sampai menjelang sholat Subuh, selalu melintas bayangan-bayangan semacam siluet yang belum dipahami secara utuh.

Siluet adalah gambar manusia, binatang, pemandangan atau benda lain dalam bentuk padat dan biasanya hanya terdiri dari satu warna, yakni hitam. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Elang Saja yang ingin menyatukan potongan-potongan siluet tersebut menjadi suatu realitas dalam kehidupan.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA