Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 20)

IN
Oleh inilahcom
Kamis 03 September 2020
share
 

KEHIDUPAN terus bergulir. Tak terasa Elang Saja berhasil menamatkan pelajaran di Aliyah dengan nilai tertinggi. Selama enam tahun ia menyelesaikan pelajarannya di pesentren Al Arif. Ia lulus dari Ibtidaiyah, kemudian Tsanawiyah melalui program akselerasi, dan dengan mudah pula menamatkan pelajarannya di Aliyah. Bahkan, Elang Saja memiliki modal terbesar dengan hafal Al Quran (hafidz). Ia juga menguasai Bahasa Arab dan Inggris secara fasih dan benar.

KH Muhammad Ali Zulkarnaen melihat kemampuan dan kecerdasan Elang Saja. Ia sangat mendukung anak didiknya ini melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Meski usia Elang Saja kini mencapai 17 tahun, KH Muhammad Ali Zulkarnaen tidak ragu melepaskannya untuk mencari ilmu di negeri jauh. Ia yakin dan optimis Elang Saja mampu mengatasi masalah yang akan dihadapinya kelak.

Ustadz Sahid juga senang dan sangat bahagia mendengar langsung keinginan sahabatnya, KH Muhammad Ali Zulkarnaen, tersebut. Bahkan, Ustadz Sahid juga gembira saran dan pandangan KH Muhhamd Ali Zulkarnaen diterima Elang Saja.

Ustadz Sahid yang menjadi ayah angkatnya dan KH Muhammad Ali Zulkarnaen sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Arif, yang juga sebagai ayah angkatnya, bertekad akan membiayai seluruh kebutuhan Elang Saja selama kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir. Pihak lain juga banyak yang ingin memberikan bea siswa kepada Elang Saja, karena melihat kecerdasan dan keseriusannya untuk belajar, belajar, dan belajar.

"Lang persiapan sudah beres semuanya. Besok siang kamu sudah harus chek in jam 11 siang," kata KH Muhammad Ali Zulkaranen di kamar Elang Saja.

"Iye, Pak Kiayi," jawab Elang Saja yang masih sibuk mengemas celana panjang dan kemeja putih untuk dimasukkan ke dalam ransel. "Doain, ye, Pak Kiayi, biar saya selalu dalam lindungan Allah dandimudahin semua urusan," jawab Elang Saja.

Attar Ahmad, kawan sekamar dan sudah menjadi sahabat, hanya memandangi Elang Saja yang segera berangkat ke Kairo, Mesir. Ia merasa berat berpisah, tapi di sisi lain bangga karena Elang Saja akan memperdalam ilmu di Al Azhar.

"Semoga kamu jadi ustadz yang mumpuni di bidang ilmunya dan terkenal seperti UAS (Ustadz Abdul Somad) dan UAH (Ustadz Hadi Hidayat). Hati-hati juga jangan pacaran terus, ya, karena saya perkirakan banyak cewek dari Indonesia dan mancanegara yang kuliah di sana pada naksir kamu. Kegantengan kamu, Lang, mampu memikat hati perempuan," kata Attar Ahmad sambil terseyum dan merangkul erat Elang Saja yang baru selesai menutup ranselnya.

"Makasi, doanye, Tar. Mudah-mudahan ente juga seperti itu. Jadi ustadz beken kayak Ustdaz Tengku Zulkarnanen. Kita juga bisa kayak Kiayi Haji Muhammad Ali Zulkarnaen yang ada di hadapan sekarang. Contoh yang paling deket sama santrinya, baik hati, sosialnya tinggi, juga ilmunya tinggi," tutur Elang Saja seraya melirik KH Muhammad Ali Zulkarnaen. Mereka tertawa bersama. Bahagia bersama. Ceria bersama. Kebersamaan itu memang sangat penting.

Elang Saja juga sudah memberitahukan jadwal keberangkatannya kepada Wina Faiz yang kini sudah berkeluarga dan hidup bersama suami tercinta di Australia. Hubungan persahabatan mereka terus mengalir dan sudah "mendeklarasikan" sebagai kakak-adik". Mereka masih menyimpan tugas yang belum selesai, yakni membongkar aksi kriminal kelompok bertopeng.

Wina Faiz masih menjadi aktivis di bidang sosial dan tetap menggunakan medsos dengan akun winafaiz official. Elang Saja juga setia memanfaatkan sarana dan prasarana itu sebagai tempat untuk menginformasikan berbagai peristiwa yang terjadi, terutama di sekitar dirinya.

Hari ini berganti hari lain, minggu bergulir ke minggu satunya, tidak terasa Elang Saja sudah menghabiskan waktu selama enam bulan. Ia mulai terbiasa dengan iklim, makanan, budaya, dan akrab dengan beberapa ruas jalan yang sering dilalui ketika pergi-pulang kuliah. Jarak kost dengan kampus tidak terlalu jauh, Elang Saja bisa berjalan kaki untuk menghemat ongkos.

Di sepertiga akhir malam, seperti biasa Elang Saja sholat Tahajjud. Udara Kairo di penghujung malam ini lebih panas dari biasanya. Ia tidak pernah meninggalkan sholat sunnah ini, sejak Rojali dan Rohana yang juga sebagai bapak ibu kandung angkatnya yang mengajarkan sholat ini di setiap dipenghujung malam.

Elang Saja terus ingat pesan dari Rojali dan Rohana yang mengatakan, "Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat Tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Allah SWT mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Hal itu ada di dalam Al Quran Surat Al-Isra 17, Ayat 79," begitu Rojali dan Rohana sering membacakan dan memperdengarkan kepada Elang Saja.

"Sholat Tahajjud-lah kamu, Lang. Allah menunggumu. Percayalah, kesedihanmu, kesulitanmu, kegelisahanmu, keinginanmu yang tinggi, sebanyak apa pun masalahmu, seberat apa pun lelahmu, akan terjawab di sepertiga malammu," ucapan ustadz terkenal yang sering didengar melalui siaran radio swasta itu, selalu disampaikan oleh Rojali dan Rohana kepada Elang Saja yang hingga kini masih terngiang di telinganya.

Usai sholat Tahajjud, ketika Elang Saja berdoa dilanjuti dengan wirid menjelang sholat Subuh, siluet yang sepotong-sepotong muncul lagi dan berkelebat di matanya. "Ya, Allah, maapin saya, ye. Ya, Allah, ini isyarat ape, ye?. Tolong jelasin. Saya butuh banget pertolongan-Mu, ya, Allah," pintanya.

Kemudian perasaannya tak karuan, gelisah, dan suasana batinnya seperti terbebani batu besar. Indra keenamnya muncul, dan mengisyaratkan agar tetap hati-hati dan waspada.

Pagi harinya, Elang Saja berjalan agak cepat karena harus ke perpustakaan lebih dulu sebelum kuliah. Belum jauh melangkah, seseorang memakai topi dan kacamata hitam berjalan cepat dari belakang, langsung menyenggol Elang Saja. Tubuhnya agak limbung, namun Elang Saja berupaya sekuat tenaga agar tidak jatuh.

Elang Saja refleks dengan gerakan cepat berbalik dan menatap wajah orang yang tidak dikenalnya. Orang tersebut dengan cepat meninju ke arah wajah Elang Saja. Namun, berbekal ilmu silat yang diajarkan di pesantren sebagai pelajaran ekstrakulikuler, dengan mudah Elang Saja menangkis serangan tersebut.

Elang Saja mengeluarkan gerakan jurus "Gagak Hitam" secepat kilat ke orang asing itu. Blas! Tubuh orang asing tersebut terpental. Elang Saja mendekati lagi untuk memanfaatkan jurus "Garuda Putih", tapi orang itu lari tunggang-langgang ke arah lapangan basket yang ada di sekitar perkelahian ini.

Elang Saja berhenti mengejar. Ia meneruskan langkahnya ke kampus, karena ingin cepat sampai ke perpustakaan untuk mencari materi dari tugas kuliah. Di jalan raya, mobilitas orang-orang dengan kepentingan masing-masing semakin terlihat.

Sementara itu, orang asing yang kena pukul jurus silat Elang Saja, berhenti berlari. Ia terengah-engah kecapean. "Bang saya kena pukul anak itu," kata orang tersebut menelpon, seperti melapor ke bosnya.

"Goblok! Jauh-jauh dari Jakarta ke Kairo cuma kena pukul anak kecil.Cemen, amat!" teriak orang yang dipanggil bos.

"Sekarang anak itu nggak kecil lagi. Badannya udah gede gitu, kekar lagi. Bang Yan kalo liat sendiri pasti bengong. Kitanya aja yang tambah tua kali, ya. Napas jadi ngos-ngosan."

Wacana Pradipta ternyata mengirim Yan Ganda bersama anak buahnya ke Kairo untuk menghabisi Elang Saja. Wacana Pradipta mengetahui keberadaan target yang ditujunya dengan melihat konten-konten Elang Saja di kanal winafaiz official. Hal ini membuat Wacana Pradipta sangat mudah melakukan rencana kriminalnya.

Seminggu kemudian, Yan Ganda dan anak buahnya kembali merencanakan aksinya. Mereka sudah menunggu Elang Saja. Mereka kembali berencana ingin menghabisi Elang Saja. Sejak pagi mereka siap siaga di sudut jalan yang biasa Elang Saja lewati menuju kampus. Mereka memakai topi, kacamata hitam, serta masker hitam sebagai penutup mulut dan hidung agar tidak diketahui Elang Saja atau orang di sekitar.

"Itu dia. Kita hajar sampe tuntas!" kata Yan Ganda.

"Siap, Bang."

Hari ini tak ada firasat apa-apa yang menggelayuti perasaan Elang Saja. Padahal bahaya sedang mengancam dirinya. Pas langkahnya sampai di tikungan jalan yang agak sepi, Yan Ganda dan anak buahnya langsung mengeluarkan pisau dan langsung mengarahkan ke perut serta dada Elang Saja.

Semua karena Allah SWT, secara refleks Elang Saja mengelak dan menarik tangan Yan Ganda, sedangkan tendangan kaki kanannya mengena dada anak buah Yan Ganda. Akibatnya, anak buah Yan Ganda tergeletak ke jalan dan berupaya bangkit sambil berlari terbirit-birit.

Elang Saja kemudian mengeluarkan jurus "Garuda Putih" untuk menghajar Yan Ganda yang masih ingin menikam dengan pisau tajam. Dalam beberapa detik, jurus tersebut membuat orang bayaran Wacana Pradipta itu jatuh ke jalan.

Elang Saja ingin mencopot masker dan kacamata yang dipakai si penyerang, tapi Yan Ganda lebih cepat bangun dan lari cepat menyusul anak buahnya. Lagi-lagi Elang Saja tidak berhasil mengetahui siapa penyerang tersebut. Ia pun tak mau mengejar. Selain ingin cepat ke kampus, ia juga perkirakan bisa lebih rumit urusannya jika sudah dilihat aparat keamanan setempat, mengingat di negeri orang yang mempunyai peraturan tersendiri.

Elang Saja semakin waspada sejak kejadian tersebut. Ia melaporkan kejadian ini kepada ayah angkatnya Ustadz Sahid dan KH Muhammad Ali Zulkarnaen, juga kepada Wina Faiz. Segera Wina Faiz menyimpan kejadian ini di-file datanya. Lantas ia menghubung-hubungkan dan mengkaitkan dengan aksi-aksi kriminal kelompok bertopeng sebelumnya.

Elang Saja menulis peristiwa tersebut sebagai berita yang dikirim ke Wina Faiz untuk diposting melalui kanal winafaiz official di medsos. Namun, ia belum bisa menyimpulkan pelaku kejadian yang menimpa dirinya itu dilakukan oleh kelompok bertopeng.

Kalender di kamar kost Elang Saja selembar demi selembar berganti. Sudah enam bulan tak ada lagi kejadian kriminal di jalan yang menimpanya. Akhir tahun pun sebentar lagi bergulir, menutup tirainya, dan membuka jalan kepada tahun baru yang segera hadir. Artinya, Elang Saja sudah setahun mengihirup udara kota Kairo, Mesir.

Lain kesibukan Elang Saja, beda pula dengan perkembangan Widya Shema yang kini sudah menjadi gadis cantik. Putri dari Gomma dan Sherly, ini usai lulus dari SMA memilih kuliah di luar negeri. Widya Shema sangat cepat menyelesaikan sekolah, karena kecerdasannya dengan mengikuti program akselerasi.

Widya Shema mengambil jurusan Sosial Politiik di universitas terkenal di Amerika Serikat (AS). Pertimbangan Gomma dan Sherly sebagai orangtua menyarankan kuliah di negeri Paman Sam, karena bagi mereka kampus itu sudah tidak asing lagi. Selain itu, Widya Shema lahir di AS, pernah pula sekolah tingkat pre-school, dan di sana Gomma memiliki rumah yang diurus oleh sepupunya.

Sementara itu, sahabat Widya Shema, Reva Izni, memilih kuliah di Jerman mengambil jurusan kedokteran. Anak tunggal Willy Heikal yang menjadi sahabat dan mitra bisnis Gomma, ini karena kepintarannya juga mengikuti program akselerasi dalam menyelesaikan SMA-nya. Sehingga dalam waktu cepat, ia mampu menamatkan pendidikan, sama seperi Widya Shema.

Sedangkan anak Wacana Pradita dari istri keduanya, Maya, yakni Gerry kini tumbuh menjadi remaja di Bandung. Gerry seumuran dengan Widya Shema. Namun, prilaku Gerry menjadi "liar" tidak terkendali. Selain kurang kasih sayang dari Wacana Pradipta karena jarang bertemu, Maya sebagai mamanya pun kurang memperhatikan perkembangan Gerry dalam pergaulannya.

Kawan-kawan gaulnya yang setiap malam menghabiskan malam di kafe, klub dugem, dan di jalanan, Gerry didulat menjadi bos geng motor dan mobil "Bro Koli". Geng motor dan mobil yang mayoritas anak-anak remaja dari kalangan jet set, ini selalu memamerkan motor dan mobil mewahnya. Jika mereka action, sudah pasti menguasai jalan-jalan protokol di sekitar kota Kembang tersebut.

Melihat perkembangan Gerry yang mengkhawatirkan, Wacana Pradipta meminta Maya dan Gerry untuk pindah ke Jakarta. Tujuannya agar dirinya dapat memantau perilaku anaknya itu. Untuk keperluan itu, Wacana Pradipta membeli sebuah rumah mewah di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA