Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 21)

IN
Oleh inilahcom
Jumat 04 September 2020
share
 

WARNA langit sama di muka bumi. Namun, jalan hidup manusia pasti berbeda satu sama lain. Elang Saja berhasil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Al Azhar. Ia merasakan banyak kenangan yang tercecer selama kuliah. Suka-duka menjadi satu, membuat dirinya semakin dewasa, matang, dan lebih memahami arti kehidupan yang hakiki.

Ada sepotong cerita tertinggal di Kairo, Mesir, ketika seorang gadis dari Turki yang satu kampus dengan Elang Saja, menyatakan perasaan cintanya. Elang Saja dengan halus menolaknya, karena ketika itu ingin memprioritaskan kuliah. Gadis Turki itu kini menjadi sahabat. Hal serupa terjadi pada seorang gadis dari India yang juga satu kampus di Al Azhar. Banyak lagi gadis-gadis dari berbagai negara, bahkan seorang gadis dari Bekasi, Jawa Barat, yang satu kuliah, kini mereka menjadi sahabat Elang Saja.

Tiba di Tanah Air, Elang Saja langsung menuju rumah ayah angkatnya, Ustadz Sahid. Ia melepas kangen dengan orang-orang terdekat yang pernah menolong, membantu, dan membesarkan dirinya.

"Pak, Bu, Alhamdulillah cita-cita Elang udeh tercapai. Makasi banget, ye, udeh bantu Elang sampe kayak sekarang ini. Pengorbanan bapak dan ibu banyak bener, Elang belom tentu bisa ngebales seluruhnya. Apalagi sampe bapak sekarang seperti ini kondisinye, hanya duduk di kursi roda. Semoga Allah yang ngebales kebaikan bapak dan ibu," kata Elang Saja sambil menangis di hadapan orangtua angkatnya.

"Ayo lupakan semua itu. Karena sudah kewajiban bapak dan ibu untuk melindungi kamu, Lang. Kaki bapak diamputasi ini sudah takdir dan nasib yang harus bapak jalani. Bapak ikhlas menerima ketentuan dari Allah. Ibumu juga ikhlas dengan kondisi bapak sekarang," jawab Ustad Sahid.

Elang Saja langsung memeluk lagi orangtua angkatnya, menangis, menahan haru, dan bertekad ingin membalas jasa mereka. Akhirnya, tangisan Ustadz Sahid dan istrinya pecah juga. Mereka bertiga menangis. Tapi kali ini ada tangisan bahagia, mengingat Elang Saja sudah berhasil lulus dari Universitas Al Azhar, Kairo Mesir.

"Pak, minggu depan Elang harus ke pesantren Al Arif. Pak Kiayi udeh ngejadwalin Elang mengajar. Pas kebetulan tahun ajaran baru dimulai hari Senin. Elang mau balas jasa Pak Kiayi dengan mengajar di pesantrennye. Elang mau mengabdi di tempat yang pernah Elang ngedapetin ilmu. Kan gini-gini anak bapak ibu sekarang ini alumni pesantren Al Arif," tutur Elang Saja membuat suasana gembira.

"Bagus tekad kamu, Lang. Bapak sangat mendukung keinginan kamu membantu Pak Kiayi. Mudah-mudahan pesantren Pak Kiayi semakin maju dan berkembang dengan menghasilkan santri-santri yang berkualitas," Ustadz Sahid melirik istrinya yang tersenyum bangga mendengarnya.

"Iya, Nak. Ibu juga merestui semua keinginan kamu," ujar istri Pak Ustadz. "Kamu sekarang sudah dewasa. Berapa Lang usiamu, 22 tahun, ya. Harus semakin mawas diri, bijaksana, jujur, tidak sombong, berbaik sangka dengan orang lain. Yang utama dan sangat penting dalam hidup ini menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sholat fardhu dan sunnah jangan sampai dilupakan," pesan ibu angkatnya.

"Iye, Bu. Elang inget semua pesen bapak, ibu, dan siapa aje yang pernah berjasa kepada Elang. Kepada siapapun yang memberikan nasehat positif buat Elang, akan Elang pegang teguh," jawabnya.

Semangat, Lang! Yeahhh, Elang Saja kini berpredikat Ustadz Elang Saja, LC.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Arif, KH Muhammad Ali Zulkarnaen, memanggil Elang dengan "Ustadz Ganteng". Mendengar sebutan itu, Elang Saja tersenyum. Dirinya tidak bisa menolak panggilan dari KH Muhammad Ali Zullkarnaen.

Siapa yang nggak setuju dengan ide dari KH Muhammad Ali Zulkarnaen, itu jika melihat sosok Elang Saja yang makin dewasa kian bertambah tampan, ganteng, dan gagah. Memiliki tubuh atletis dan bugar membuat semua mata, khususnya kaum hawa, berdecak kagum dengan ciptaan Allah SWT yang satu ini. Elang Saja mampu membikin para remaja dan emak-emak Galfok (Gagal Fokus) atau Salfok (Salah Fokus).

Linierdengan sang waktu, Elang Saja sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan pendidikan di Pesantren Al Arif. Tujuh bulan lamanya, ia mengabdi sebagai pengajar bagi para santri. Disela-sela kesibukannya, Elang Saja menyempatkan menulis artikel tentang permasalahan yang sedang banyak dibicarakan orang.

Gaya dan penyampaian artikelnya mudah dicerna dan isi materinya langsung melekat di hati pembaca. Analisanya kritis, tajam, tapi bijaksana. Sehingga bagi yang terkena "sindirannya", baik pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, publik figur, dan lainnya tidak marah. Malahan, mereka yang kena sindiran artikel Elang Saja, bisamesem-mesem. Akhirnya mereka justru menyadari dan mau memperbaiki kekurangannya.

Bahkan, prakiraannya yang menggunakan analisa, masuk akal secara realitas terhadap sesuatu persoalan yang menjadi pusat perhatian masyarakat, dijadikan rujukan berarti untuk mengungkap permasalahan tersebut. Sejumlah pihak terkait, selalu membaca tulisan Elang Saja untuk digunakan dalam menyelidiki kasus yang sedang ditangani berbagai pihak. Seperti yang terjadi pada kasus politik, ekonomi, agama, sosial-budaya, olahraga, korupsi, pembunuhan, dan kriminal lainnya.

Wina Faiz sangat bangga, senang, dan berbahagia melihat tulisan Elang Saja. Ia terus memposting melalui winafaiz official, kemudian menjadi viral, yang tentunya menambah pundi-pundinya. Sumber pemasukan antara lain dari sistem endorse, yakni bentuk kerja sama antara satu pihak dengan pihak lain dalam mempromosikan produk tertentu, sehingga kedua pihak memperoleh keuntungan.

Endorseseperti itu semakin ramai di Instagram, tweeter, facebook, dan akun media sosial (medsos) lainnya. Setelah Elang Saja menulis secara profesional, Wina Faiz berbagi rata dari keuntungan yang diraih melalui medsos tersebut.

"Lang ada salah satu media mau merekrut kamu untuk posisi wartawan profesional dengan imbalan gaji besar," kata Wina Faiz melalui ponselnya ketika Elang Saja ingin mengajarkan ilmu silat sebagai kegiatan ekskul bagi para santri.

"Makasi infonye, Kak. Saya pikirin dulu tawaran dari media itu. Menarik, sih, jadi wartawan. Tapi waktunya itu, saya kan sekarang ngajar," jawab Elang Saja. "Kakak dan keluarga sehat-sehat, ye, di sono," tambahnya.

"Alhamdulillah, sehat, Lang. Sebentar lagi kami sekeluarga balik ke Jakarta. Tugas suami kakak udah selesai di sini," kata Wina Faiz yang kini sudah memiliki putra tercinta berusia enam bulan.

"Alhamdulillah. Saya seneng banget denger-nya. Kita bisa sering ketemu lagi untuk ngebahas PR yang belum terselesaikan," ujar Elang Saja. PR yang dimaksud adalah pekerjaan rumah untuk membongkar secara tuntas aksi kriminal kelompok bertopeng yang telah dan terus ingin menghacurkan keluarga dan dirinya.

"Siap komandan! Harus kita bongkar sampai ke akar-akarnya, Lang!" teriak Wina Faiz sambil tertawa. "Kita harus optimis berhasil, Lang," ujarnya lagi.

"Oke Kak, saya mau ngajar silat dulu, nih. Santri yang mau latihan udeh siap, tuh," kata Elang Saja.

"Oke, selamat bertugas Pak Ustadz," seloroh Wina Faiz.

Elang Saja tertawa. Wina Faiz menutup ponselnya. Pagi menjelang siang yang bahagia mewarnai hati mereka. Elang Saja mulai merasakan suhu udara di Banten terasa panas, sedangkan di Australia, Wina Faiz merasakan hawa sejuk. Wilayah di Indonesia memang masih ditingkahi musim kemarau panjang.

Tawaran kerja sebagai jurnalis di salah satu koran terkemuka, menjadi renungan Elang Saja. Usai melatih ilmu silat kepada para santri, ia menghitung-hitung plus-minusnya. Namun, bagaimana harus menyampaikan keinginan itu kepada KH Muhammad Ali Zulkarnaen, jika memilih kerja sebagai wartawan.

"Ini menarik. Berdakwah sambil jadi wartawan. Kan tugasnye sama juga ngasih informasi kepada masyarakat. Tapi ape boleh,ye, sama bosnya yang punya koran itu?Ye, jadi ustadz juga dan jadi jurnalis?" kata Elang Saja dalam hati sambil duduk di pojok gedung serbaguna pondok pesantren.

Pikirannya berputar-putar. Namun, getaran jiwa Elang Saja semakin kuat ingin berbakti juga kepada bangsa dan negara melalui profesi wartawan. Begitu pula, bidang dakwah tidak akan ditinggalkan, karena jauh-jauh dari Mesir menuntut ilmu pada jurusan tersebut dan penuh perjuangan meraih cita-citanya.

"Sholat Istikharoh. Mohon petunjuk dari Allah," ujarnya semangat.

Sholat Istikharoh adalah sholat sunnah untuk meminta petunjuk dan keberkahan dari Allah SWT. Disunnahkan bagi setiap muslim untuk melakukan dua rakaat sholat Istikharoh ketika ingin menentukan sesuatu. Terutama saat bimbang atau ragu dalam menentukan pilihan.

Seminggu berlalu, berdasarkan perasaan dan isyarat hasil sholat Istikharoh, Elang Saja sudah mantap mengambil keputusan untuk menerima tawaran dari koran terkemuka sebagai wartawan. Ia ingin ke kantor redaksi koran itu sebelum minta izin kepada KH Muhammad Ali Zulkarnaen.

"Jadi kamu yang namanya Elang?" kata Pemimpin Redaksi Koran Bongkar ketika Elang Saja dipanggil untuk wawancara.

"Bener, Pak. Lengkapnye Elang Saja."

"Jangan panggil, Pak. Di kantor ini saya biasa dipanggil Bang Najim. Oke?"

"Siap Bang Najim," jawab Elang Saja tersenyum karena lucu bahasa tubuh Bang Najim saat bicara.

"Saya sering baca artikel ataupun info seperti berita dan laporan melalui video yang kamu posting di winafaiz official yang di-share di You Tube, Instagram, Facebook, Twiteer dan selalu viral juga menjadi treding topic. Bagus. Hebat kamu! Bahkan, artikel dan berita kamu, selalu kami kutip untuk dimuat di Koran Bongkar. Karena menarik dan ada solusi dari setiap artikel kamu," tutur Bang Najim.

"Alhamdulillah. Semua itu karena Allah, Bang."

"Lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Keren, Lang," Bang Najim mengacungkan jempol kanannya. "Tapi bagaimana kamu nanti membagi waktu, sebagai ustadz yang mengajar di pondok pesantren, kemudian berdakwah, dan nanti jadi wartawan pula," tambahnya sambil menatap Elang Saja.

Elang Saja diam. Matanya menatap balik ke Bang Najim. Batin Bang Najim seperti tertusuk ketika membalas lagi tatapan Elang Saja.

"Begitulah Bang, ape saya diperbolehkan bisa ngejalanin tugas sebagai ustadz buat berdakwah, juga jadi wartawan. Kalo sebagai pengajar di pesantren nanti saya ngundurin diri. Soal waktu bisa saya atur sendiri. Kapan waktu berdakwah dan kapan bertugas jadi wartawan," jawab Elang Saja.

"Kalau begitu, saya diskusikan dulu dengan pemilik koran ini. Nanti saya hubungi kamu lagi. Sekarang cukup wawancaranya" ujar Bang Najim.

"Siap, Bang!" Elang Saja menyalami Bang Najim dan meninggalkan Kantor Redaksi Koran Bongkar.

Sementara Bang Najim menelpon pemilik Koran Bongkar. Ia menyampaikan permohonan Elang Saja. "Bagaimana Pak, apa permohonan anak muda yang potensial itu kita terima?"

"Ya, kita kabulkan saja. Apalagi kita yang menawarkan untuk bergabung. Saya setuju. Besok dia sudah bisa kerja. Lebih cepat, lebih baik," jawab Rusli Atmaja, big boss Koran Bongkar.

"Oke, terimakasih, Pak."

"Soal sellery, apa dia setuju?"

"Setuju, Pak. Dia nggak masalahkan. Gaji yang kita ajukan juga lebih besar dari wartawan lain."

"Nanti kita lihat kinerjanya. Kalau prestasinya seperti yang kita harapkan, akan saya pertimbangkan untuk menaikkan lagi gajinya. Kebijakan ini untuk mengatasi persaingan ketat di bisnis media massa, yang kalau kita salah strategi, maka hancurlah Koran Bongkar ini," tutur Rusli Atmaja.

"Oke, Pak," jawab Bang Najim semangat.

Rusli Atmaja, konglomerat di bisnis media yang "bertangan dingin" ini, memang sangat jeli melihat peluang dan tantangan. Ia merekrut Elang Saja menjadi jurnalis Koran Bongkar, tidak asal saja. Tapi sudah ia perhitungkan secara matang. Naluri kewartawanan dan jiwa pebinisnya selalu terasah. Dirinya optimis kehadiran Elang Saja mampu mendongkrak tiras Koran Bongkar dan dapat mempertahankan eksistensi sebagai koran terkemuka.

PT Galang Pers Indonesia yang dikomandoi Rusli Atmaja "merajai" bisnis media massa di sini. Dari keuntungan Koran Bongkar, Rusli Atmaja mengembangkan usahanya. Kini ia memiliki lima media online (temasuk Koran Bongkar.com), tiga stasiun TV, jaringan radio swasta, dan empat TV channel. Semua itu untuk memenangi persaingan sangat ketat di era digital yang terus berubah dan berkembang cepat.

Dampak kehadiran era digital memang telah menggerus kehidupan media mainstream. Sejumlah media cetak yang tidak dikelola secara profesional, langsung nyungsep, tumbang, dan berakhir dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan dan para wartawannya.

Kini media online seperti jamur di musim penghujan bermunculan, saling bersaing dalam menginformasikan dan menyajikan berita kepada masyarakat. Namun, sang waktu juga nanti menjadi "algojo", media online mana yang mampu berkembag dan tumbang.

Beriringan dengan sang waktu, Elang Saja resmi menjadi wartawan Koran Bongkar. Hari pertama kerja, Bambang sebagai Redaktur Kota menugaskan Elang Saja dan fotografer untuk meliput kebakaran di kawasan padat penduduk di Jakarta Pusat.

Redaktur Kota bertugas menjaga "gawang" untuk rubrikasi di halaman korannya. Redaktur Kota bertanggung jawab terhadap peristiwa yang terjadi di wilayah satu kota, yang harus dimuatnya sebagi informasi kepada pembacanya (masyarakat). Biasanya seorang redaktur membawahi beberapa wartawan sebagai anak buahnya untuk mencari berita yang terjadi.

"Bismillahirrahmanirrohim. Ya, Allah bantu saya ngejalanin tugas ini," kata Elang Saja dalam hati.

"Pake motor kantor, Lang, biar cepat sampe TKP (lokasi kebaran). Nanti kalah sama wartawan dari media lain," kata Bambang.

"Siap, Mas, makasi, ye," jawab Elang Saja. Ia memboncengi fotografer dan mengarahkan motornya ke tempat kejadian kebakaran.

Apa yang dikatakan redaktur kota itu memang benar adanya. Elang Saja sudah terlambat. Banyak wartawan dari berbagai media, termasuk jurnalis TV, sudah sibuk mewawancara nara sumber, sedangkan para kameramen dan fotografer mengambil gambar atau foto-foto kebakaran tersebut.

Elang Saja langsung mengeluarkan hand phone (HP)-nya untuk mencatat apa yang dilihat dan dirasakannya. Kemudian ia berupaya mencari dan berhasil menemukan Komandan Regu dari petugas Pemadam Kebakaran. Elang Saja langsung mewawancarainya.

Tak Cuma itu, Elang Saja dengan sigap melihat seorang nenek tua sedang duduk di pojok pagar besi. Nenek itu menangis, meratapi rumahnya yang ludes terbakar. Elang Saja mengangkat tubuh nenek itu agar berdiri dan memeluknya dengan hati tulus. Si nenek menengadah melihat wajah Elang Saja yang teduh dan mengayomi. Namun, ia semakin pecah tangisnya di bahu Elang Saja yang kokoh.

"Sabar, sabar, sabar, Nek. Semua iniudeh kehendak Allah. Pastiade hikmahnye dari kejadian ini," kata Elang Saja. "Nenek bisa tinggal di tempat orangtua saya untuk sementara. Tapi nenek diem di sini dulu, ye. Saya masih mau kerja lagi," tambah Elang Saja.

Si nenek mengangguk. Elang Saja segera kembali mendekati lokasi kebakaran. Ia mencari jika ada Ketua RT, Ketua RW, tokoh masyarakat, dan saksi mata lainnya dari peristiwa kebakaran yang diperkirakan menghanguskan ratusan rumah.

Elang Saja berhasil menemukan dan mewawancarai nara sumber tersebut untuk menggali secara tuntas kajadian ini. Isi HP-nya penuh dengan hasil wawancara dari berbagai sumber.

Namun, ketika ia masuk ke gang sempit yang disebut-sebut nara sumber sebagai awal kejadian munculnnya api dari rumah kecil, Elang Saja dilarang petugas pemadam kebakaran untuk terus mendekatinya. Soalnya, api masih berkobar besar dampak dari hembusan angin kencang. Langkah Elang Saja terhenti. Tapi matanya berbinar dan seolah-olah menangkap kelebatan tiga bayangan hitam sedang membawa sesuatu dan membakar rumah kecil tersebut. Ia mengucek-ngucek mata berkali-kali, dan tiga bayangan hitam itu semakin jelas lari menjauh selesai membakar rumah tersebut.

"Astagfirullah. Ya, Allah. Ape bener yang itu terjadi, tolong bantu saya untuk mengungkap dibalik kebakaran yang banyak nyengsarain penduduk di sini," kata Elang Saja dalam hati.

Elang Saja kembali menemukan si nenek, setelah menganggap liputannya sudah cukup untuk membuat berita. Si nenek memang sedang menunggu kedatangan Elang Saja. Ia tersenyum di tengah kesedihannya ketika melihat anak muda itu mendekati.

"Ayo, Nek, ke rumah saya," ajak Elang Saja sambil mengangkat dan menuntun si nenek ke jalan raya untuk mencari bajaj.

"Mas, bawa motor kantor,ye. Saya mau nganter nenek ini dulu ke rumah," kata Elang Saja kepada fotografernya.

"Oke, Lang."

Elang Saja sudah membawa si nenek ke rumah orangtuanya, Ustadz Sahid, untuk

mengungsi sementara sebelum pemerintah setempat memberikan bantuan. Elang Saja tidak mengetahui sejak awal kedatangan hingga selesai liputannya dan membawa seorang nenek, ada sepasang mata indah selalu memperhatikan dengan serius.

Gerak-gerik dan cara Elang Saja meliput kejadian kebakaran, menjadi catatan tersendiri di benak dan lubuk hati pemilik mata indah tersebut. Ia merasa pernah melihat Elang Saja. Ia menghela napas, dan akhirnya ingat beberapa tahun lalu ketemu Elang Saja di restoran yang berada di lingkungan gedung bioskop Metropole. Ketika itu papanya sedang memarahi Elang Saja yang diduga mengambil HP papanya.

"Mas, itu tadi kawannya?" tanya si mata indah.

"Iya. Ada apa, ya," kata fotografer, kawannya Elang Saja, sebelum menstarter motornya.

"Ah, nggak apa-apa. Salam aja. Bilang dari Widya Shema. Saya salut lihat cara liputannya dan sosialnya tinggi, menolong itu nenek," jelasnya. "Saya dari Mata TV. Ini kartu nama saya," tambahnya.

"Oke nanti saya sampaikan," jawab fotografer dan menyimpan kartu nama tersebut di kantong jaketnya.

Widya Shema, anak tunggal Gomma, ternyata setelah lulus kuliah dari universitas top di Amerika Serikat, kini menjadi jurnalis Mata TV. Pekerjaan ini baru ia lakoni, seperti halnya Elang Saja yang menjadi wartawan media cetak Koran Bongkar. Pemilik dari dua perusahaan yang begerak di bidang informasi, ini memang saling bersaing ketat dan mengeluarkan strategi jitu untuk keluar menjadi pemenang. Pemegang saham mayoritas Mata TV adalah Gomma, sisanya dimiliki Willy Faiz yang melalui bendera PT Bulan Media.

Persaingan bisnis di sektor pertelevisian saat ini memang semakin panas dalam meraih perhatian pemirsa dan menggaet pemasang iklan. Rusli Atmaja dan Gomma menabuh genderang perang di tengah melesatnya era digital saat ini.

Sementara itu, rapat redaksi di Koran Bongkar jam lima sore sudah berlangsung seru. Masing-masing redaktur, mulai dari bidang ekonomi, politik, agama, sosial budaya, perkotaan, kriminal, nusantara, dan luar negeri, mengajukan berita paling menarik untuk dijadikan head line (HL) atau berita utama yang akan disajikan esok hari kepada pembaca.

"Redaktur-redaktur lain sudah mengajukan berita yang diunggulkan.Terakhir dari redaktur kota, apa berita yang menarik hari ini?" tanya Bang Najim, pemimpin redaksi, yang memimpin rapat redaksi setiap sore.

"Peristiwa kebakaran, Bang," jawabnya. "Beritanya dibuat sama Elang, wartawan baru itu. Bagus banget ia buatnya lengkap dan komprehensif. Ditambah lagi sama foto-foto dari fotografer si Bowo, yang bisa menguatkan karakter berita kebakaran tersebut," tutur Bambang.

"Terus ada lagi nggak tulisan yang human interest untuk pendukungnya, yang bisa kita jadikan sebagai pendamping HL dari berita itu?" kejar Bang Najim.

"Ada, Bang. Elang buat tulisan tentang seorang nenek yang tinggal sendirian dan rumahnya ludes terbakar. Bahkan, nenek itu sekarang ditampung sama Elang di rumahnya," jelas redaktur kota.

"Wah, keren." Bang Najim acungkan dua jempol.

"Satu lagi, Bang. Si Elang buat tulisan semacam opini mengenai kejadian kebarakan itu dengan judul "Siapa Dalang Di Balik Kebakaran?" Saya sudah baca dan edit. Hasilnya tulisan si Elang selain bagus, menarik untuk orang membaca, juga bisa dijadikan rujukan sebagai dasar penyelidikan bagi aparat berwajib yang menangani peristiwa kebakaran ini," kata redkatur kota itu lagi meyakinkan pemimpin redaksi bahwa berita tersebut bisa dijadikan HL dan layak jual. Bahkan, bisa meningkatkan oplah Koran Bongkar.

"Setuju. Kita putuskan dalam rapat sore ini, berita kebakaran jadi HL untuk edisi besok. Tulisan opini yang dibuat Elang, kita masukkan ke dalam Rubik Editorial," tegas Bang Najim.

Rubrik Editorial merupakan tulisan bergengsi dan terpenting dari sebuah penerbitan koran. Biasanya rubrik editorial dibuat oleh pempinpin redaksi atau wartawan senior yang berpengalaman.

Rubrik tersebut semacam tajuk rencana atau editorial, yang merupakan opini resmi dari suatu penerbitan media terhadap peristiwa yang terjadi dan menyedot perhatian masyarakat. Tulisan itu biasanya dibuat secara mendalam berdasarkan fakta di lapangan dan opini si penulis untuk menjelaskan secara utuh kepada masyarakat atau pembaca.

Bang Najim baru saja menutup rapat redaksi sore, ponselnya berbunyi. Segera ia menerimanya karena big boss yang menelpon. Tapi dirinya bertanya-tanya dalam hati, aneh tidak biasanya pemilik Koran Bongkar menelepon, padahal hasil rapat sudah dilaporkan dan disetujui.

"Siap, Pak. Ada apa, ya?" kata Bang Najim. Sebagai pemimpin redaksi memang harus loyal kepada bos media.

"Wartawan baru itu harus muncul besok di semua TV yang kita punya, setelah Koran Bongkar memberitakan dan memuat kejadian kebakaran itu. Wartawan baru itu diwawancara sebagai nara sumber soal kebakaran tersebut. Ekspos analisa wartawan baru itu. Jadi penyajiannya seperti wawancara saja," perintah Rusli Atmaja.

"Ini strategi untuk hantam progam berita Mata TV. Biar mereka tau, saat ini mereka itu semakin tertinggal jauh dari kita. Kalo TV-TV lain tidak perlu kita khawatirkan lagi, sudah enam bulan lalu mereka salut dan angkat topi sama tim redaksi kita," tambahnya.

"Siap, Pak," jawab Bang Najim, Pemimpin Redaksi Koran Bongkar ini memang paling dekat dengan Rusli Atmaja, konglomerat grup media Koran Bongkar.

Bang Najim langsung menghubungi kawan-kawannya yang membawahi keredaksian di tiga TV dan empat TV channel, grup media Koran Bongkar, untuk melaksanakan keinginan Rusli Atmaja. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA