Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 22)

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 05 September 2020
share
 

"GILA! Apa-apan koran ini mengekspos secara besar-besaran berita kebakaran dan dilengkapi dengan penyajian editorialnya yang menggiring opini negatif kepada masyarakat. Analisanya sembarangan dan ngaco," Wacama Pradipta kesal setelah membaca head lines Koran Bongkar dan melemparnya ke lantai.

"Ada apa, Pi. Masih pagi, kok, sudah marah-marah," kata istrinya. Maminya Gomma ini baru saja semalam tiba di rumah, setelah selama satu bulan keliling Eropa dan Amerika Serikat urusan bisnis berlian, di luar bisnis Wacana Pradipta dan Gomma. Kepergian bersama kolega bisnisnya itu sekaligus wisata.

Wacana Pradipta tidak mendengarkan ucapan istrinya. Malahan ia menyetel TV swasta yang sedang menayangkan wawancara dengan Elang Saja bersama seorang nenek. Entah ini hanya kebetulan saja atau Wacana Pradipta yang ingin mencari informasi lagi soal kebakaran. TV yang khusus menayangkan berita tersebut adalah milik Rusli Atmaja dibawah bendera grup media Koran Bongkar.

Ia benar-benar kaget, seperti petir menyambar wajahnya di siang bolong. Wajah Elang Saja di-closeup ketika menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi di perkampungan padat penduduk kemarin, kemungkinan besar sengaja dibakar oleh tiga orang misterius.

Newsreader(pembaca berita TV), itu juga menanyakan kepada seorang nenek yang dibawa Elang Saja sebagai saksi, karena secara jelas melhat sosok tiga orang yang diduga membakar sebuah rumah yang berakibat ratusan penduduk kehilangan tempat tinggal.

"Jadi awalnya rumah nenek yang dibakar? Apa nenek jelas melihat orang yang membakar rumah nenek?" selidik newsreader, wanita muda berwajah cantik.

"Iye, malam itu nenek mau sholat Tahajjud. Mau ambil wudhu, terus ade suare orang kayak lagi nyiram dari luar. Nenek intip dari jendela depan, eh, bener ade tiga orang yang nyiram bensin. Bau bensinnya kecium dari dalam rumah. Nggak lama rumah nenekudeh kebakar. Buru-buru nenekkeluar rumah, terus tereak minta tolong," tutur nenek berusia 70 tahun ini yang tinggal sendirian di rumahnya. Ia masih lancar menceritakan kejadian peristiwa tersebut.

"Untung ibu cepat keluar rumah, ya," kata newsreader.

"Alhamdulillah," jawab si nenek.

"Dari fakta itu barangkali kamu, Lang, dalam tulisan di editorial Koran Bongkar hari ini bisa menyimpulkan bahwa kebakaran itu memang sengaja dibakar oleh tiga orang misterius?" tanya newsreader beralih ke Elang Saja.

"Iye, dan isyarat yang saya rasakan melalui mata, ade tiga sosok hitam berkelebat menuju sebuah rumah dengan membawa tiga dirijen, kemudian nyiramin ke sebuah rumah. Saya baru tau rumah tersebut adalah rumah nenek ini, setelah saya wawancara nenek ini di lokasi kebakaran dan di rumah saya. Karena nenek ini sekarang tinggal sementara di rumah orangtua saya," jelas Elang Saja.

Blep! Wacana Pradipta mematikan TV tersebut dengan menahan gejolak emosi kemarahan yang menggelegak. Ia mengutuk dalam hati, kok, anak itu muncul lagi dalam keadaan sehat. Bahkan, kini menjadi wartawan Koran Bongkar yang menulis berita kebakaran. Rasa kesalnya makin memuncak. Ia segera mengambil HP dan menelpon Gomma.

"Gomma, pagi ini jam 10 kita rapat mendadak. Bahas kebakaran yang terjadi kemarin. Komisaris dan direksi PT Cinta Properti, juga kolega kita dari PT Cuka Lagon diundang semua," perintah Wacana Pradipta.

"Oke, Pi," jawab Gomma. Ia segera mengirim undangan rapat melalui WA. Tak lama ponsel Gomma menerima jawaban WA dari para koleganya yang menyatakan siap untuk hadir rapat.

Gomma baru saja menutup ponselnya, Widya Shema memberi info Koran Bongkar menjadikan berita kebakaran sebagai head line di halaman depan. Ia juga memberitahu papanya dalam editorial Koran Bongkar yang menganalisa dugaan kebakaran itu disengaja demi kepentingan bisnis semata.

"Judulnya aja sudah menyindir dan meminta aparat hukum segera menyelidiki dan mengungkap siapa dalang di balik kebakaran? Papa udah baca apa belum," kata Widya Shema.

"Belum. Oke terimakasih infonya, Nak," ujar Gomma sambil menarik nafas kesal dan kecewa, karena mendengar Koran Bongkar membuat berita kebakaran seperti yang dikatakan Widya Shema. Gomma bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi.

Tepat jam 10, pagi rapat di lantai 36, lantai paling atas, di gedung milik Wacana Pradipta di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, berlangsung serius. Wacana Pradipta memimpin rapat dadakan ini.

"Pemberitaan yang diekspos Koran Bongkar beserta analisanya sangat membahayakan rencana proyek kita. Bapak-bapak sudah baca Koran Bongkar kan mengenai berita tersebut?" suara Wacana Pradipta membuka rapat.

"Saya khawatir pihak aparat hukum segera bertindak dengan menyelidiki dugaan yang ditulis wartawan Koran Bongkar ada tiga orang membakar perumahan yang bakal jadi proyek kita itu," tambahnya.

Para undangan rapat masih diam. Mereka sedang memikirkan solusi terbaik dampak pemberitaan tersebut. Gomma mencoba mengungkapkan pendapatnya dengan melaporkan Koran Bongkar kepada yang berwajib.

"Saran saya kita tak usah melaporkan, karena kita bisa ketahuan bahwa ada kepentingan di dalamnya," kata seorang komisaris.

"Kalau pihak berwajib menyelidiki kebakaran ini, bagaimana?" sergah Wacana Pradipta.

"Saya rasa sulit. Karena tak ada bukti kuat. Hanya dugaan si wartawan saja, juga keterangan si nenek tua itu bahwa ada tiga pelaku yang membakar. Si nenek tua itu belum tentu dipercaya pihak berwajib, mengingat usianya juga sudah tua. Bisa saja si nenek itu hanya mengarang dan khalayan, karena panik melihat api yang mulai membakar rumahnya," tutur salah seorang direktur dari kolega Wacana Pradipta.

"Kalau begitu apa yang harus dilakukan agar proyek kita di lokasi kebakaran tersebut tetap berjalan lancar?" pancing Gomma.

Semua diam, hanya saling pandang. Namun, bisikan setan sangat kuat meracuni jalan pikiran mereka.

"Bagaimana kita habisi saja si wartawan yang menulis berita itu, termasuk si nenek tua yang menjadi saksi karena melihat ada yang membakar rumahnya. Kalau dua orang itu sudah kita bereskan, proyek bisa lancar karena pihak berwajib tidak akan melakukan penyelidikan. Pihak berwajib nanti bisa menyimpulkan kebakaran itu akibat korstleting listrik," kata Wacana Pradipta.

Wacana Pradipta memang begitu kuat hatinya untuk "menghabisi" Elang Saja. Apa yang merasuki kalbu dan pikirannya hingga niat jahatnya terus dikobarkan. Belum padam. Demi gengsikah?

"Setuju!" ternyata ide dan saran Wacana Pradipta secara aklamasi disetujui para undangan rapat.

"Kita harus cari orang profesional untuk menghilangkan jejak. Jangan sampai nanti kita terseret ke penjara kalo mereka tidak becus kerjanya. Orang yang kemarin kita beri order utuk membakar perumahan tersebut, sebaiknya jangan dipakai lagi. Tidak profesional," usul direktur lain.

"Benar. Nah, untuk order yang sekarang berapapun dana yang dibutuhkan, kita sharing saja soal pembayarannya," ujar komisaris lain.

"Oke kita alokasikan saja 500 juta, bagaimana bapak-bapak. Dana sebesar itu tidak besar, jika dibandingkan dengan keuntungan dari mega proyek yang akan kita peroleh," tambahnya.

Wacana Pradipta, Gomma, dan para undangan rapat sepakat mengalokasikan dana sebesar itu sebagaifee "orang bayaran" untuk membunuh Elang Saja serta si nenek. Usai makan siang, mereka bubar dan kembali dengan kesibukan bisnis masing-masing.

Gomma berbisik kepada Papinya dan menyarankan agar Yan Ganda serta anak buahnya tidak perlu dimanfaatkan lagi jasanya. Soalnya, selama ini Gomma menilai Yan Ganda dan anak buahnya tidak profesional. Sejak awal diberikan tugas hingga job terakhir membakar rumah penduduk, tidak berhasil secara baik. Karena si nenek melihat ada tiga orang membakar rumahnya dengan sengaja.

"Iya, Nak," kata Wacana Pradipta.

"Oke, Pi. Yang Ganda sekarang mulai menua, tenaga mulai berkurang, tapi badannya saja yang makin gemuk dan perut buncit," ujar Gomma sambil tertawa kecil. Wacana Pradipta hanya tersenyum kecil.

Malam hari Wacana Pradipta menghubungi Ray, seseorang yang berpengaruh dan profesional untuk urusan kriminal tingkat tinggi. Ibarat sambal, ya, level 10, paling pedas. Seperti itulah gambaran sosok Ray dalam "dunia hitam", yang super ditakuti para preman baik di Jakarta, kota-kota besar lainnya, hingga ke kawasan ASEAN. Ray memiliki networking luas dan terorganisasi dengan gangster di luar negeri.

Tak tanggung-tanggung memang rencana Wacana Pradipta untuk menghilangkan, terutama nayawa Elang Saja. Hatinya sudah hitam. Tanpa ada perasaan prikemanusiaan, niatnya itu harus terealisasi. Apapun jalannya pasti ditempuh, demi sebuah gengsi, kehormatan, tahta, harta, dan wanita. Pecinta dunia ini di-istidraj oleh Allah SWT. "Penyakit hati" Wacana Pradipta ini menular ke istri dan anaknya.

Seorang ustadz pernah menyampaikan, apabila Anda melihat Allah SWT memberikan kenikmatan dunia kepada seseorang hamba berupa rejeki melimpah, kesenangan hidup, kesehatan yang terus-menerus, panjang umur dan sebagainya, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat dan semakin jauh dengan Allah SWT, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah SWT. Bisa jadi itulah yang akan semakin mendekatkan mereka dengan azab-Nya.

Sabtu pagi nan indah menaungi Pondok Pesantren Al Arif di Banten. KH Muhammad Ali Zulkarnaen, pemimpin pondok pesantren ini, mengubungi Elang Saja melalui ponselnya.

Meski Elang Saja sekarang tinggal di rumah orangtua angkatnya, Ustadz Sahid, di Kayumanis, Matraman, Jakarta Timur, sejak menjadi wartawan Koran Bongkar, tapi ia masih tetap mengajar hanya dua kali dalam seminggu di pondok pesantren tersebut.

"Assalamualaikum. Lang, jangan lupa hari minggu ceramah di Bogor," kata KH Muhammad Ali Zulkarnaen melalui ponselnya.

"Waalaikumsalam, Pak Kiayi. Makasi diingetin."

"Temanya mengenai waspadai bahaya narkoba, generasi milineal harus selalu berpikir positif dan produktif," tambah Pak Kiayi.

"Siap, Pak Kiayi. Mudah-mudahan satu jam sebelum acara, sayaudeh sampe di lokasi," kata Elang Saja.

Seperti itulah waktu yang Elang Saja sudah sepakati bersama KH Muhammad Ali Zulkarnaen juga dengan Pemimpin Redaksi Koran Bongkar, Bang Najim. Jika Elang Saja berdakwah dijadwalkan setiap hari minggu. Hari lainnya untuk bekerja sebagai wartawan Koran Bongkar.

Ketenaran Elang Saja dengan panggilan Ustadz Ganteng semakin "mewabah" di ruang hati para perempuan, terutama remaja. Tapi di kalangan emak-emak, Ustadz Ganteng ini juga memang mampu menyedot perhatian. Akibatnya, di mana Elang Saja berdakwah, para penggemar berduyun-duyun berdatangan.

Mereka mendapat dua keuntungan, bisa memperoleh ilmu agama, dan melihat kegantengan Elang Saja secara dekat. Tak heran pula mereka datang sejak pagi hari, sedangkan Elang Saja mendapat giliran tausiyah biasanya terakhir. Ini strategi panitia agar jamaah yang hadir dapat mengikuti seluruh rangkaian acara religi yang diselenggarakan.

Fenomena Ustasdz Ganteng ini pun masuk daftar materi yang akan dibahas dalam rapat redaksi Mata TV. Sosok Ustadz Ganteng akan diprioritaskan untuk program acara "Yang Lagi In" di Mata TV. Itu sebabnya, perlu dirapatkan untuk menentukan siapa jurnalis dan kameramen yang bertugas meliput secara mendalam dengan penyajian yanghuman interest.

"Untuk liputan sosok Ustadz Ganteng, saya siap ditugaskan," kata Wiidya Shema semangat.

"Saya siap bantu Wiidya," kata Inez, kameramen wanita yang dimiliki Mata TV. Alumnus Fakultas Broadcasting dari salah satu universitas di Amerika Serikat, itu juga antusias untuk meng-close up wajah Ustadz Ganteng dengan kameranya . Meski agak tomboy, Inez tetap cantik sebagai wanita muda yang energik.

"Ya, sudah kalo gitu, kalian saya tugaskan," kata Pemimpin Redaksi Mata TV. Apalagi Widya Shema adalah anak dari pemilik perusahaan TV ini, Gomma. Tentu saja pemimpin redaksi tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyetujui keinginan anak bosnya.

Gomma memang mendidik Widya Shema bekerja dari mulai bawah, kendati perusahaan TV ini miliknya. Hal ini agar Widya Shema menimba ilmu lebih dulu di lapangan sebagai jurnalis TV. Setelah matang dan berpengalaman, Gomma akan melepas jabatannya kepada Widya Shema sebagai penerus.

"Minggu besok ada ceramahUstadz Ganteng di Bogor. Saya sudah jadwalkan untuk meliput," ujar Widya Shema. Matanya mengerling kepada Inez yang menganggukkan kepala tanda setuju.

"Divisi umum tolong siapkan sopir dan mobil kantor, ya, untuk kepentingan liputan Widya dan Inez," perintah pemimpin redaksi.

Widya Shema sudah tidak sabar menunggu pagi hari. Ia merasakan malam minggu terasa sangat lama berubah menjadi pagi. Ia ingin cepat-cepat menemui Ustadz Ganteng alias Elang Saja/ Secara diam-diam dirinya telah mengagumi Elang Saja. Bahkan, sejak pertama kali melihat Elang Saja yang masih membantu jualan rujak di pelataran parkir gedung bioskop Metropole, bunga-bunga kekaguman Widya Shema sudah bermekaran.

Di tempat tidur mewah, di kamar berukuran cukup luas, dan udara AC yang dingin, Widya Shema belum mampu memejamkan mata. Ia bangun dan mengambil ponsel dan menelpon Reva Izni, sahabatnya yang juga baru menyelesaikan kuliah kedokteran di salah satu universitas di Jerman.

"Malam, Bu Dokter," sapa Widya Shema dengan candaan khasnya.

"Hai, belum tidur udah malam gini," sahut Reva Izni.

"Iya, nih, nggak bisa tidur. Pingin cepet-cepet pagi aja. Padahal besok pagi gue ada liputan di Bogor."

"Wah, enak, ya, kalo jadi jurnalis kerja sekalian jalan-jalan. Ikut dong," canda Reva Izni.

"Eh, beneran, lo, mau ikut? Gue mau wawancara si Ustadz Ganteng, Elang Saja. Sekaligus mau minta waktu lagi buat wawancara khusus di tempat dia mengajar sebagai ustadz di pondok pesantrennya," ungkap Widya Shema penuh semangat dan ceria.

"Hai, lo, kayaknya happy banget kalo cerita mengenai Elang. Jangan-jangan lo udah naksir berat, nih," ujar Reva Izni.

"Ha,ha,ha, kalo iya memang salah?" Widya tertawa terbahak. Reva Izni menyambut dengan tak kalah ceria. Mereka tertawa bersama. Malam minggu yang dilewati dengan kesendirian di rumah masing-masing serasa begitu bahagia.

"Jadi, lo, mau ikut gue? tanya Wdiya Shema lagi.

"Siap Bu Jurnalis.Gue mau ikut. Jemput gue, ya, Wid."

"Siap Bu Dokter. Jam tujuh pagi, lo, harusudah rapih. Gue nggak pake nunggu lama, ya."

"Oke, siap!" kata Reva Izni. "Yuk, ah, tidur.Nggak kerasa udah jam satu malem."

"Oke, mimpi indah, ya," jawab Widya Shema.

Malam minggu mengguyur dua sahabat itu. Mungkin mereka sama-sama sedang bermimpi bertemu pangeran cinta. Mungkin mereka sama-sama sedang mengagumi pemuda tampan. Mungkin mereka sama-sama sedang menangis karena sang pangeran cinta yang didambakan berpindah ke hati perempuan lain. Mungkin mereka sama-sama sedang bertengkar memperebutkan hanya satu pangeran cinta. Mungkin, barangkali, mereka menyadari semuanya hanya ilusi dan halusinasi. Mungkin

Bogor masih pagi di minggu cerah nan ceria . Masyarakat banyak yang berolahraga berjalan kaki mengelilingi trotoar jalan di luar Kebun Raya Bogor. Kota hujan yang kini mempunyai sebutan baru kota seribu angkot, ini sangat nyaman, aman, tenang, dan sejuk. Pertumbuhan hotel pun semakin marak, seiring meningkatnya arus turis lokal maupun mancanegara ke wilayah ini.

Di sudut kota Bogor, kesibukan panitia acara Tablig Akbar yang akan menampilkan lima ustadz kondang, nampak semakin kentara karena mengejar waktu. Matahari mulai menghangatkan wajah kota. Sebentar lagi acara segera dimulai. Sementara masyarakat terus berdatangan secara bertahap. Lapangan yang menjadi arena Tablig Akbar disulap menjadi panggung megah. Panitia juga menyediakan tempat bagi pedagang kecil di pinggiran lapangan tersebut.

Elang Saja dan empat ustadz senior yang sudahmalang-melintang dan berpengalaman berdakwah juga telah hadir. Para wartawan media cetak, radio, online, serta jurnalis TV pun siap untuk mengekspos acara ini. Tak terkecuali Widya Shema, Inez, dan kru Mata TV lainnya sudah siap sejak pagi. Bahkan, Inez setengah jam lalu telah memainkan kameranya merekam aktivitas di sini.

Sementara Reva Izni yang ikut hanya memperhatikan orang sekeliling yang hadir. Widya Shema mengajak sahabatnya untuk mendekat ke arah bangku para ustadz yang disediakan panitia.

"Assalamualaikum, Pak Ustadz Ganteng," sapa Widya Shema, menyelinap di tengah-tengah kesibukan panitia, menemukan Elang Saja. Hati Widya Shema bergetar hebat saat bertatapan dengan Elang Saja. Gemuruh perasaannya menjadi tidak menentu. Degub jantungnya kian berlari cepat.

Reva Izni ternyata juga mengalami hal serupa. Ia mengalami persis seperti yang terjadi pada diri Widya Shema. Mereka mengakui ketampanan, kegagahan, kegantengan, dengan tubuh atletis dengan aura berwibawa, ada semua di Elang Saja. Kedua sahabat itu kemudian sama-sama menarik nafas dan saling pandang.

"Waalaikumsalam," jawab Elang Saja tersenyum.

Bukan hanya perasaan Widya Shema yang bergetar, jantung Elang Saja juga berdetak lebih cepat begitu menatap gadis cantik ini. Entah apa yang terjadi diantara mereka.

"Pak Ustadz, saya dari Mata TV, mau wawancara sebentar sebelum acara mulai. Boleh?" kata Widya.

"Boleh dong. Tapi jangan lama, soalnya sebentar lagi giliran saya ceramah," kembali Elang Saja menatap Widya Shema sambil melirik ke Reva Izni. Wawancara berlangsung memang hanya 10 menit. Bagi Widya Shema, hal ini sudah lumayan buat awal materi program acara di Mata TV.

"Pak Ustasdz kapan mengajar di pesantren? Saya juga mau liput kegiatan Pak Ustadz sebagai tambahan wawancara tadi yang singkat banget," jelas Widya Shema yang berharap Elang Saja menyetujui.

"Bisa Sabtu depan, gimane?"

"Terimakasih Pak Usatadz. O, iya, kartu nama saya sudah disampailkan apa belum sama kawannya yang fotografer waktu liputan kebakaran itu. Kalo belum, ini kartu nama saya," Widya Shema menyodorkan kepada Elang Saja.

"Kartu nama itu udeh saya terima," ujar Elang Saja. "Tapi nggak ape, deh, kartu nama kamu ini saya terima lagi. Lebih bagus kan kartu yang dikasi secara langsung sama pemiliknya," candanya.

Widya Shema tersipu. Ia merasa tersanjung. Sedangkan Reva Izni hanya diam mendengarnya.

"Pak Ustadz Ganteng naman aslinya kan Elang Saja, yang juga wartawan Koran Bongkar, kan?" canda Widya Shema kembali memunculkan suasana akrab dengan candaannya. "Saya sebenarnya nge-fans sama kamu, tapi sekaligus sebagai pesaing. Karena kita sama-sama jurnalis yang haus mencari berita buat media masing-masing."

"Iye, ye. Nggak ape-ape, deh bersaing juga jadi sehatkan pikiran. Udeh, ye, waktu ceramah sekarang," ujar Elang Saja kemudian berjalan menuju panggung besar yang disediakan panitia.

Widya Shema dan Reva Izni memandangi punggung Elang Saja yang melangkah ke panggung. Di atas panggung, tampak Ustadz Ganteng itu menyapa para jamaah yang sudah tidak sabar melihat secara dekat sosok Elang Saja.

"Assalamualaikum. Ibu-ibu, bapak-bapak, kakak-kakak, adik-adik semua,ape kabar," kata Elang Saja yang disambut tepuk tangan dan riuh-rendahnya suara gegap-gempita menggema di udara Bogor.

Udara Bogor terus merambat panas seiring waktu bergulir. Di antara kerumunan para jamaah yang memadati acara Tablig Akbar, ada empat orang berkacamata hitam pekat sedang kasak-kusuk. Pandangan mereka seperti para jamaah tertuju pada Elang Saja.

"Pak Ray, jangan eksekusi di sini sekarang. Timing-nya kurang pas. Ada anak saya dan kawan-kawannya," bisiknya.

"Siap, Pak Gomma," jawab Ray, pembunuh bayaran yang disewa Wacana Pradipta dan kawan-kawan.

Dua anak buah Ray, kembali memasukkan senapan kecil di dalam saku jaket kulit hitamnya. Mereka sebenarnya sudah siap untuk menembak Elang Saja dalam jarak dekat, agar target mencapai sasaran.

Gomma mendampingi para pembunuh bayaran yang akan menghabisi nyawa Elang Saja. Namun, niat tersebut diurungkan setelah melihat Widya Shema, Reva Izni, juga kameramen Inez yang berada di depan panggung acara.

Gomma menyadari kehadirannya di sini memiliki risiko tinggi, karena memandu rencana pembunuhan ini. Namun, ia hilangkan risiko tersebut untuk menyaksikan langsung bagaimana Elang Saja mengerang kesakitan akibat peluru tajam. Tapi semua itu hanya rencana manusia. Allah SWT yang lebih berkuasa. Gomma menunda prosesi kejam yang akan dilakukan kepada Elang Saja.

Allah SWT melindungi Elang Saja dari orang-orang yang ingin berbuat kejahatan. Elang Saja mengakhiri ceramahnya dengan sukses. Para jamaah, anak-anak ABG, berhamburan ke atas pentas untuk menyalami Ustadz Ganteng Elang Saja dan berfoto selfi secara bergantian.

Allah SWT menghadirkan Widya Shema, Reva Izni, dan Inez ke acara tersebut ternyata untuk menghindarkan Elang Saja dari musibah besar. Itulah fakta yang nyata bahwa rencana manusia, apalagi rencana jahat, belum tentu sesuai harapan dan cita-cita manusia.

"Kita tunggu saja, Pak Ray. Target kita itu pulangnya menggunakan apa. Di tengah perjalanan aja, ya, kita habisi dia. Bagaimana?" saran Gomma yang sudah keluar dari kerumunan para jamaah.

"Boleh juga. Anak buah saya nanti coba cari tau, target kita pulangnya jam berapa, ke arah mana, dan menggunakan kendaraan apa. Setelah itu, terus kita ikuti. Eksekusi kita liat waktu yang tepat. Kalo dia menggunakan motor, lebih mudah. Kita buat seolah terjadi tabrakkan tunggal di jalan. Kalo dia naik mobil, kita tabrakkan saja atau kitapepet dan suruh dia keluar. Setelah itu, dor! Finish. Selesai hidupnya. Hahaha," Ray tertawa kecil di samping Gomma.

Gomma mengangguk. Ia mengacungkan jempol kanannya. Ray menyuruh seorang anak buahnya untuk bertanya kepada panitia. Anak buahnya yang satu lagi terus mengikuti gerakan Elang Saja.

"Pak Ustadz Ganteng selamat, ya. CeramahAnda bagus banget. Keren dan langsung masuk ke hati apa yang Pak Ustadz Ganteng sampaikan. Terutama kepada para milenial, karena gaya dan cara ceramah Pak Ustdaz Ganteng gaul bener," Widya Shema memuji habis ustadz yang menjadi idolanya.

"Beneran Pak Ustadz Ganteng apa yang dikatakan Widya. Mantap!" timpal Reva Izni.

Sementara itu, Inez dengan kameranya sejak tadi terus meng-close up wajah Elang Saja. Mereka terus mengikuti langkah Elang Saja menuju kursi yang disediakan khusus untuk para penceramah.

"Pak Ustadz Ganteng nanti pulang naik apa?" Widya Shema berbisik ketika jalan berdampingan dengan Elang Saja.

"Mau naik taksi online. Tadi ke sini juga naik itu," jawab Elang Saja sambil mengusap wajahnya dengan saputangan.

"Jangan nolak, ya, nanti pulang barengan saya dan kawan-kawan aja. Oke," desak Widya Shema.

"Siap, Bu Wartawan. Makasi, ye, sebelumnye," Elang Saja kembali melepas senyuman teramat manis yang dimiliki.

Widya Shema, Reva Izni, dan Inez gemas melihat senyuman itu, yang bisa membuat mereka pingsan. Mereka mengakui senyuman Elang Saja jarang ditemui dari kaum lelaki lain. Hasrat cinta dari ketiga wanita muda ini bergejolak serasa ingin memiliki Elang Saja seutuhnya. Nah, jika ini terjadi, cinta segi empat bakalan terwujud, antara mereka yang memperebutkan Elang Saja.

Sejam kemudian, sopir yang mengemudikan mobil dinas Mata TV, sudah membawa Widya Shema dan kawan-kawan serta Elang Saja menuju Jakarta melalui jalan tol Jagorawi. Mereka justru semakin akrab terlihat dari obrolan dan candaan khas anak muda yang gaul. Di dalam mobil suasana ramai, dan mereka saling tukar nomor HP.

Di sisi lain, Gomma, Ray, dan anak buahnya kesal melihat Elang Saja pulang bersama Widya Shema dan kawan-kawan. Mereka tidak jadi menjalankan aksi keduanya. Gatot alias gagal total.

"Target kita bersama anak saya di mobil. Kita gagal hari ini. Kita kembali saja," ajak Gomma sambil kaki kananya menendang-nendang angin melepaskan rasa kesal yang amat sangat.

Allah SWT kembali melindungi Elang Saja. Pertolongan Allah SWT memang begitu dekat dengan hamba-Nya. Sementara angin di siang bolong menyertai laju mobil yang Elang Saja tumpangi. Awan putih penghias langit biru seolah ikut mengantar mereka menuju Jakarta. Ada sebaris cinta mulai bersemi di musim kemarau panjang ini. Meski kemarau mengeluarkan udara panas, namun cinta suci yang meleleh mampu menyejukkan sepasang hati anak manusia itu. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA