Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 23)

IN
Oleh inilahcom
Minggu 06 September 2020
share
 

Prestasi dan kinerja Elang Saja sebagai wartawan kian melangit. Pujian dari pemimpin redaksi, pemimpin perusahaan, bahkan dari pemilik media, mengalir yang tidak dapat dihalangi dan dibendung lagi. Dalam tempo singkat, hanya dua bulan, berita-berita dan analisa yang ditulis Elang Saja mampu membuktikan kerja kerasnya dengan indikator bahwa oplah/tiras dari Koran Bongkar makin bertambah. Hal ini sudah pasti dapat mendongkrak pendapatan perusahaan dari pemasang iklan.

Pimpinan perusahaan dalam setiap rapat melaporkan bahwa masyarakat yang ingin berlangganan Koran Bongkar bertambah. Artinya, prosentase jumlah pelanggan baru meningkat. Pelanggan lama pun ada yang menambah jumlah korannya. Bahkan, pihak kementerian, lembaga pemerintah di seluruh Indonesia, kantor swasta, universitas, sekolah tingkat SMP dan SMA, pondok pesantren, hingga kantor kelurahan di daerah terus mengajukan untuk berlangganan.

"Saya minta pimpinan redaksi dan pimpinan perusahaan menyesuaikan jabatan Elang Saja dari wartawan magang, menjadi wartawan tetap. Artinya, dia sekarang sudah resmi menjadi karyawan di bidang keredaksian. Hak dan kewajibannya disesuaikan. Motor untuk operasional bisa diberikan dan dicicil hingga lunas dengan potong gaji sesuai peraturan," kata Rusli Atmaja pada rapat pagi di kantor Redaksi Koran Bongkar.

"Siap, Pak," kata pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan Koran Bongkar.

"Tolong panggil Elang," perintah Rusli Atmaja.

"Iya, Pak," jawab sekretaris redaksi dan mencari Elang Saja di ruang kerjanya. EIang Saja bertanya-tanya dalam hati ada apa sampai big boss meminta untuk ke ruang rapat.

"Assalamualaikum," Elang Saja masuk ke ruang rapat.

"Waalaikumussalam," jawab peserta rapat hampir bersamaan.

"Duduk, Lang," kata sekretaris redaksi.

"Makasi, Mba."

"Wah, Elang, kamu asalnya dari Betawi, ya," kata Rusli Atmaja.

"Nggak tau pasti, Pak. Saya sejak bayi digedein sama bapak dan ibu angkat Rojali dan Rohana yang ngomongnye pake bahasa Betawi melulu. Jadi udeh kebiasaan kalo saya ngomong seperti ini. Sebelumnya, saya diasuh sama orangtua angkat juga sama Ustadz Sahid," ungkap Elang Saja.

Peserta rapat tertawa kecil mendengar penjelasan Elang Saja.

"Jadi ada berapa orangtua angkat kamu?"

"Banyak, Pak. Yang saya tau dengan pasti, ya, yang tadi saya ngomongin. Satu lagi, Kiayi Haji Muhammad Ali Zulkarnaen, Pimpinan Pondok Pesantren Al Arif di Banten," ujarnya.

"Orangtua kandung kamu?" tanya Rusli Atmaja serius. Peserta rapat juga ingin mengetahui tentang Elang Saja yang cerdas dan penuh prestasi kinerjanya.

Elang Saja menunduk. Ia terdiam. Bungkam. Wajahnya meredup sejenak.

"Elang? Halo, Lang? Kalo kamu nggak bisa jawab, ya, nggak usah dijawab. Nggak apa-apa," Rusli Atmaja menetralisir suasana ketika melihat sikap wartawan kesayangannya ini.

"Siap, Pak. Sampe detik ini nggak tau siape ayah kandung saya. Para orangtua angkat saya juga sama sekali nggak tau. Makanye, mereka nggak pernah cerita sama saya mengenai ayah kandung saya. Gelap, Pak. Saya mau telusuri juga nggak tau dari mana memulainya. Hanya kepada Allah, saya selalu berdoa agar dipertemukan oleh ayah kandung saya," tutur Elang Saja.

Suasana rapat menjadi mengharu-biru.

"Kalo ibu kandung saya, udeh meninggal dunia. Makamnye ade di areal Pondok Pesantren Al Arif di Banten. Info dari orangtua angkat, setelah ibu saya melahirkan saya, beliau meninggal dunia," tambah Elang Saja dengan suara tercekat menahan rasa sedih mendalam menghunjam kalbu.

Para peserta rapat kembali dibuat menahan rasa sedih seperti apa yang dirasakan Elang Saja.

"Oke, oke. Kamu harus move on, Lang. Sekarang kita bahas yang hepi-hepi. Kamu diangkat menjadi wartawan tetap karena prestasi kerjamu. Selamat. Ke depan tunjukkan kinerja yang lebih bagus lagi. Oke!" kata Rusli Atmaja membuat suasana kembali ceria.

"Siap, Pak. Makasi atas kebaikan bapak, juga kepada atasan saya yang laen, dan manajemen. Saya emang udeh move on. Masa lalu adalah pengalaman buat saya untuk menjadi orang yang lebih baek lagi dan bermanfaat buat orang lain," jawab Elang Saja.

Tak disangka Rusli Atmaja bangkit dari duduk dan mendekati Elang Saja. Big boss itu merangkul erat. Peserta rapat mengikuti memberi selamat kepada Elang Saja.

"Sebelum menutup rapat, saya memberi tugas khsusus kepada Elang untuk dimasukkan dalam tim guna melakukan investigasi dugaan ada korupsi di suatu kementerian yang melibatkan oknum pejabat, pengusaha, dan perantara. Kasusnya diduga terjadi penggelembungan anggaran mega proyek yang mencapai triliunan rupiah," kata Rusli Atmaja.

"Siap, Pak," jawab Elang Saja semangat.

"Pemimpin redaksi buat tim investigasi ini. Elang saya minta jadi komandannya. Sedangkkan pemimpin perusahaan saya minta siapkan dana untuk operasional tim ini. Kerjakan sebaik-baiknya. Saya sendiri ikut mendukung dari belakang, dengan silent operation bersama pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Saya juga sudah membuka networking dengan pihak-pihak pejabat terkait yang memang berkompeten dan menjadi domain-nya. Hal ini untuk lebih memudahkan investigasi kita mengungkap mega korupsi tersebut," jelas Rusli Atmaja.

"Siap, Pak!" teriak peserta rapat serempak.

"Semoga Allah memudahkan, mendukung, dan melindungi kita. Karena ini niat dan upaya baik kita. Saya minta masing-masing di rumah untuk sholat Tahajjud. Bicara langsung kepada Allah mengenai rencana kita ini. Keutamaan sholat Tahajjud bagi yang mengerjakannya antara lain, Allah akan mengangkat derajatnya, mengangkat karir di tempat yang baik dan mulia. Allah juga akan memudahkan setiap awal aktifitasn kita. Membebaskan dari segala kesulitan, dan Allah akan langsung menolong hamba-Nya jika ada yang mengganggunya. Doa yang diucapkan disetiap sholat Tahajjud bagaikan anak panah yang tak akan pernah meleset pada sasarannya," tambah Rusli Atmaja sambil menutup rapat.

"Alhamdulillah. Siap, Pak!" semangat peserta rapat makin bertumbuh untuk mengungkap kasus mega korupsi yang menggerogoti uang rakyat.

Elang Saja mengucap bersyukur kepada Allah SWT ketika berada di ruang kerjanya. "Alhamdulillah, ya, Allah udeh ngemudahin semua urusan saya. Alhamdulillah saya mempunyai pemimpin yang selalu mengingat-MU dan amanah."

Rusli Atmaja sebagai pemilik perusahaan yang mengelola beberapa media juga meminta kepada karyawannya yang bertugas di pagi hari untuk mendirikan sholat Dhuha. Bahkan, ketika waktu sholat fardhu para karyawan melaksanakannya secara berjamaah di masjid yang dibangun di samping gedung utama kantor Koran Bongkar.

Manajemen perusahaan membuat divisi khusus yang mengurus masjid, sehingga aktifitas beribadah berjalan dengan baik. Apalagi, setiap sholat Jumat, masjid di sini penuh, para karyawan dari kantor lain yang bertetangga, juga memanfaatkannya. Masjid di lingkungan Koran Bongkar yang dibangun Rusli Atmaja, menjadi sangat berguna untuk keberlangsungan ibadah para jamaah.

Setelah sholat Dzhuhur berjamaah, Elang Saja membuka ponselnya dan melihat WA dari Widya Shema.

"Assalamualaikum. Elang apa kabar? Semoga sehat, ya. Hmh, udah makan siang apa belum? Kalo belum, yuk,barengan makan di resto Cinta yang baru dibuka di Kemang. Infonya menu andalannya enak-enak banget. Kalo oke, saya jemput. Posisi sekarang di mana?" itulah isi pesan WA Widya Shema.

"Siap, Bu Cantik. Kalo gitu, saya nunggu, ye, jemputannye. Sekarang saya di kantor," jawab WA Elang Saja. Hatinya gembira. Wajahnya berbinar. Ada rindu memang yang menempel di kalbu Elang Saja.

"Oke, saya langsung meluncur. Tunggu, ya," balas WA Widya Shema. Sama seperti suasana hati Elang Saja, begitu juga yang dialami Widya Shema. Ada rindu menempel di relung kalbu.

Ia mengarahkan mobil sport merahnya ke kantor Koran Bongkar untuk menjemput Elang Saja. Anak konglomerat yang kini juga berprofesi sebagai jurnalis Mata TV, ini ingin rasanya menerbangkan kendaraannya agar lebih cepat sampai di kantor pujaan hatinya.

Elang Saja sudah menunggu di halaman kantor Koran Bongkar ketika Widya Shema tiba. Mereka langsung menuju resto di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, itu yang jaraknya tidak terlalu jauh. Siang yang panas mengawal mereka ketempat tujuan.

"Gimana hari ini nggak ada tugas liputan? tanya Elang Saja ketika mereka duduk di tempat yang telah dipesan Widya Shema sebelumnya.

"Ada, tapi digantiin sama kawan yang ngeliput. Saya kan lagi ngeliput kamu sekarang," canda Widya Shema sambil memanggil pramusaji untuk mengambil kertas order yang berisi menu makanan dan minuman yang dipesannya.

"Bisa aje," Elang Saja tertawa lepas.

"Kamu juga belum ada tugas hari ini?"

"Ade tadi rapat, dikasi tugas," ujar Elang Saja.

"Wawancara pejabat?" selidik Widya Shema.

"Gitu, deh," Elang Saja tidak ingin menjelaskan karena ini tugas khusus berupa investigasi yang harus dirahasiakan.

"Ayo kita makan," kata Widya Shema setelah pesanan tersedia di depan mereka.

Mereka lantas asyik menikmati menu makan siang. Namun, di meja pojok resto, tiga orang lelaki sejak tadi memperhatikan Elang Saja dan Widya Shema yang menunjukkan kedekatan hubungan mereka. Orang lain yang melihat mereka pasti mengira mereka sepasang kekasih serasi. Yang laki ganteng, dan yang perempuannnya cantik.

Satu dari tiga orang yang mengawasi gerak-gerik Elang Saja dan Widya Shema, mengambil posel dan diam-diam memfoto. Elang Saja tidak mengetahui dirinya dalam bahaya. Anak buah Ray, pembunuh bayaran yang disewa Wacana Pradipta dan kawan-kawannya terus mengintai aktifitas Elang Saja.

Foto Elang Saja dan Wiidya Shema kemudian di-share. Namun, betapa kagetnya ketika foto tersebut diterima di ponsel Gomma. Ia langsung menelpon anak buah Ray.

"Jangan sekarang! Target kita itu lagi bersama anak saya. Kalian pantau saja terus.

Kalo target sudah sendiri, barulah kalian action," perintah Gomma sambil bingung dan resah melihat realita yang ada.

"Oke, Pak," kata anak buah Ray.

Di meja resto, Elang Saja dan Widya Shema kini saling bercanda setelah menghabiskan menu makanan. Rasa cinta diantara mereka makin mengental. Tak bisa dibendung lagi.

Butiran kasih sayang kian mengalir di relung kalbu. Dua insan ini seperti ingin mengungkapkan sesuatu hal yang terpedam jauh dari balik bilik hati yang terdalam. Tapi suara suci mereka tersekat.

"Elang, saya ingin lebih banyak lagi bersama, seperti saat ini," akhirnya suara Widya Shema menggelontor tak mampu dikendalikan lagi. Meski wajahnya memerah menahan perasaan malu, Widya Shema tetap tersenyum manis buat sang idolanya.

"Sama," ujar Elang Saja tanpa menatap gadis cantik yang kaya-raya ini.

"Apanya yang sama?" Widya Shema manja.

"Iye, sama, sama-sama seperti yang kamu ngomongin barusan," jawab Elang Saja sama-sama tersipu. Malu tapi mau. Mau tapi malu. Akhirnya dua-duanya mau.

"Lang, apa mau hubungan kita ini lebih serius lagi? Maksud saya, mulai sekarang kita jadian aja, ya," tanpa rasa risih lagi Widya Shema menyatakan cintanya kepada Elang Saja.

"Pacaran?"

"Iya, Lang. Kenapa?"

Elang Saja sebentar menatap Widya Shema yang wajahnya menunjukkan ingin hubungan ini tidak sekadar pertemanan. Namun, masuk ke jenjang pendekatan yang lebih dalam lagi, yakni pacaran, sebelum akhirnya ke pelaminan. Elang Saja menarik nafas cukup panjang. Dirinya berdoa mohon kepada Allah SWT untuk memberi petunjuk dari fakta yang ada di depannya. Sebenarnya Elang Saja ingin juga menyetujui ajakan Widya Shema untuk pacaran, tapi dalam komitmennya terhadap Allah SWT, cara pendekatan seperti ini sulit dijalankan. Apalagi ia mengetahui betul, dalam agama Islam tidak mengenal yang namanya pacaran. Yang ada hanya taaruf.

"Maapin saya, Wid. Kitanggak bisa pacaran. Saya udeh komitmen dengan Allah, juga janji dengan ayah angkat, Ustadz Sahid dan Kiayi Muhammad Ali Zulkarnaen, terutama dalam diri saya nggak ada istilah pacaran. Apalagi saya sekarang juga seorang ustadz. Tapi kita bisajalanin hubungan ini melalui taaruf," jelas Elang Saja.

Elang Saja menjelaskan kepada Widya Shema bahwa taaruf adalah kegiatan berkunjung ke rumah seseorang untuk berkenalan dengan penghuninya. Taaruf dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan dua keluarga. Taaruf dapat pula dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju untuk bersedia atau tidak untuk dillanjutkan ke pernikahan.

Mata Widya Shema berbinar. Plong. Lega rasanya. Kebahagiaan memancar secara otomatis, karena mendengar keterangan Elang Saja. Ada pintu hati yang dibuka oleh Elang Saja untuk menampung perasaan cinta membara dalam dirinya. Hanya istilah taaruf saja yang dikemukakan dambaan hatinya itu.

"Oke, Lang. Kita jalani aja proses taaruf itu. Saya setuju banget. Nanti saya akan biacarakan dengan orangtua di rumah. Besok mudah-mudah ada jawaban yang pasti untuk kita melangkah ke jalan taaruf. Saya bangga sama kamu yang selalu menyertakan Allah dalam setiap mengambil keputusan penting," puji Widya Shema.

"Deal. Makasi, ye, kamu mau ngikutin keinginan saya. Nanti saya juga mau kasi tau ayah angkat dan orang-orang terdekat saya," ujar Elang Saja.

"Oke, kita udah selesai makan, minum, juga telah memastikan hubungan kita berlanjut ke arah serius. Hari ini, siang ini menjadi saksi dalam sejarah hubungan kita. Saya antar kamu lagi ke kantor, ya," kata Wiidya Shema sambil ke kasir diikuti Elang Saja.

Sementara anak buah Ray tidak meneruskan tugasnya mengikuti mobil Widya Shema. Rencana eksekusi terhadap Elang Saja kembali ditunda, mengingat Widya Shema terus bersama targetnya.

Widya Shema menurunkan Elang Saja di depan Kantor Redaksi Koran Bongkar. Kemudian mengarahkan mobilnya ke salah satu kantor papanya di kawasan segi tiga emas Jakarta. Papa dan kakeknya memiliki sejumlah kantor yang mengelola bisnis macam-macam.

Widya Shema lega ketika melihat mamanya ada di kantor papanya. Kedua orangtuanya sedang santai menikmati talas Bogor goreng dan kopi hitam.

"Assalamualaikum," sapa Widya Shema mencium tangan papa dan mamanya. Orangtuanya merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap anaknya ini. Mereka saling pandang dan mengernyitkan alis.

"Wah, wah, wah, anak papa nggak seperti biasanya kali ini sopan," canda Gomma sambil mengecup dahi Widya Shema. Begitu pula mamanya, Sherly, cipika-cipiki dan mengelus wajah putri tunggalnya.

"Kok, nggak dijawab salam dari aku? Assalamualaikum," Widya Shema sengaja mengulang.

"Waalaikumussalam," hanya mamanya yang menjawab. Gomma masih bengong melihat sikap anaknya.

"Duduklah, Nak, ayo ada apa tiba-tiba kamu ke sini. Apa karena tau mama kamu ada di sini?" kata Gomma.

"Iya ada yang aku mau bicarakan. Kebetulan banget ada Mama di sini, jadi aku ngomongnya bisa sekalian aja."

"Oke, Mama dan papa mendengar. Menjadi pendengar yang baik," kata mamanya.

"Iya kamu bicara saja. Masalah kantor, tugas liputan kamu, atau soal pribadi?" tambah Gomma.

"Pribadi, Pa, Ma," pelan suara Widya Shema sambil menatap papa dan Mamanya.

"Yups. Silakan, Nak," ujar Gomma.

"Aku mau kenalin sama seseorang."

"Wah, ini kejutan. Ya, nggak, Ma? Papa dan Mama pasti senang. Siapa? Apa teman waktu kamu kuliah di AS? Anak siapa, pengusaha, menteri, dirut BUMN, pejabat lain, atau anak artis terkenal?" Gomma memberondong pertanyaan. Mamanya tersenyum senang mendengarnya.

"Anak dari keluarga biasa, sederhana. Ia lulusan dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir," kata Widya Shema semangat. Matanya berbinar. Suasana hatinya ceria.

"Hmh, seperti itu," jawab Gomma tidak bahagia mendengarnya. "Kok, bisa?" tambahnya sinis.

"Bisalah, Pa, Ma."

"Kawan-kawan kamu banyak sebenarnya, ya. Mulai dari anak menteri, pejabat lain, kolega bisnis Papa. Tapi, kok." Gomma enggan meneruskannya.

"Kepribadiannya baik, Pa, Ma. Ibadahnya rajin. Bertanggung jawab, perhatian, dan yang jelas orangnya ganteng, keren, gagah, Ma, Pa," kata Widya Shema kembali matanya berbinar. Ia bahagia mengungkapkan hal tersebut kepada orangtuanya.

"Papa sudah duga, orangnya ganteng, tampan, tapi lebih ganteng Papa kan?" tawa Gomma menghilangkan perasaan kecewa dengan pilihan anaknya itu. Sherly yang sejak tadi tidak banyak bicara, memang masih bertanya-tanya dalam hati melihat kemantapan anaknya yang tidak ragu lagi terhadap lelaki idamannya itu.

Sherly juga pernah mengenalkan Widya Shema dengan anak dari teman semasa di SMA yang kini menjadi pebisnis sukses dan memiliki sejumlah perusahaan perantara efek di Bursa Efek Indonesia dan bursa saham di Amerika Serikat. Namun, saat itu Widya Shema tidak ada reaksi apa-apa.

"Siapa namanya. Terus sekarang apa pekerjaannya. Apa pengangguran? Apa karena melihat kamu anak orang kaya, lalu dia mendekati kamu? Apa dan bagaimana, coba jelaskan alasan kamu memilih anak dari kalangan yang biasa-biasa saja itu? Apa tidak ada pilihan lain yang kamu bisa kemukakan kepada Papa, Mama, sehingga menyenangkan kami?" ketidaksukaan Gomma terhadap pilihan anaknya itu mulai kentara.

Widya Shema terkjejut bukan main bagai kesetrum ribuan watt arus listrik ke tubuhnya.

"Pa, jangan bicara begitu. Harta tidak menjadi jaminan dapat membahagiakan aku. Dia tidak seperti yang papa perkirakan. Sekarang dia sebagai wartawan dan ustadz terkenal yang lagi viral. Penghasilannya juga mulai meningkat, karena dia bekerja di media terbesar saat ini, Koran Bongkar yang memang jadi pesaing bisnis Papa di media. Tapi kannggak masalah. Bahkan lebih baik kalo dia jadi suami aku, bisa kita tarik untuk kerja di Mata TV," ungkap Widya Shema.

Gomma seperti bangun dari mimpi buruk panjangnya ketika mendengar penjelasan anaknya itu. Ia khawatir dan was-was dengan kriteria pria idaman anaknya tersebut sama seperti orang yang kini menjadi target untuk dibunuhnya, yakni Elang Saja.

"Namanya Elang Saja, Ma, Pa."

Gomma menunduk. Diam. Giginya menggemeretak menahan kecewa, kesal, dengan emosi kemarahan yang amat sangat, berbaur menjadi satu. Sedangkan Sherly diam, tapi wajahnya tidak menunjukkan kesal ataupun kecewa. Ia berupaya memahami pilihan anaknya.

Gomma terbayang wajah Wacana Pradipta, Papinya. Pasti juga terkejut jika mendengar keinginan Widya Shema yang merupakan cucu Wacana Pradipta, memilih Elang Saja sebagai pria idamannya.

Gomma pun masih menyimpan secara apik di benak dan kalbunya dengan pernyataan Papinya," Elang itu anak kamu Gomma. Tapi papi, mami, dan kamu kan nggak mau dengan kehadiran anak sial itu. Kita nggak mau punya keturunan dari seorang pembantu dan yang nggak jelas asal-usulnya."

Namun, saat itu pula Gomma mengatakan kepada Wacana Pradipta bahwa kebenaran soal Elang Saja anaknya harus melalui tes DNA. Gomma membantah ucapan Papinya.

"Pa, Ma, jangan diam aja, dong. Keluarga dari Elang mau silaturahmi ke sini. Tepatnnya mau melakukan taaruf, saling memperkenalkan keluarga kita dengan keluarga Elang. Tapi dia hanya memiliki orangtua angkat, karena kata Elang, kedua orangtua kandungnya sudah meninggal," tutur Widya Shema.

Gomma dan Sherly saling pandang tanpa suara. Gomma benar-benar tersudut di tempat yang tidak mengenakkan dirinya di suatu tempat terasing, dengan rencana anaknya tersebut. Namun, dasar Gomma memiliki kelicikan dan keegoisan yang di luar kewajaran orang normal. Ia sengaja mengulur waktu, agar Widya Shema tidak terlalu kecewa.

"Papa dan Mama nanti cari waktu yang tepat untuk rencana kamu. Papa juga harus memberitahu kepada kakek dan nenek kamu. Jadi Papa dan Mama nggak bisa pastikan sekarang soal itu," kata Gomma berpura-pura sebagai orangtua yang bijaksana.

"Iya, Nak, mama setuju saran Papa. Jadi jangan tergesa-gesa, ya," tambah Sherly dan mendekati Widya Shema, kemudian mencium kening, serta memeluk hangat putri tunggalnya.

"Terimakasih, Ma, Pa. Nanti aku bilang sama Elang, kalo Papa dan Mama lagi cara waktu yangpas untuk acara taaruf," Widya Shema senang dan membayangkan jika keluarga Elang Saja benar-benar silaturahim dengan keluarganya untuk saling berkenalan lebih dekat. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA