Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 24)

IN
Oleh inilahcom
Senin 07 September 2020
share
 

"Apa?" suara Wacana Pradipta sangat keras mendengar info dari Gomma mengenai perkembangan dan rencana cucunya, Widya Shema.

"Iya, Pi. Aku jadi panik, bagaimana harus mengambil keputusan," kata Gomma ketika berdiskusi di lobi hotel bintang lima di Bali.

Keberadaan mereka di Bali dalam rangka menggolkan proyek pengembangan wiasata dengan melobi oknum pejabat. Sambil menunggu oknum pejabat tersebut dan pengusaha asing lainnya itu, Wacana Pradipta dan Gomma membahas keinginan Widya Shema untuk berhubungan lebih serius lagi dengan Elang Saja.

"Keputusan Papi sudah bulat, tetap harus kita habisi dia. Papi nggak sudi melihat anak sial itu. Apalagi mau meminang cucu Papi. Langkahi dulu mayat Papi!" tegas Wacana Pradipta.

"Iya, Pi. Sekarang saja kita sudah banyak dirugikan dengan pemberitaan oleh anak itu. Kasus kebakaran contohnya, Pi, sekarang pihak berwajib sudah mulai melakukan penyelidikan dan sedang mencari pelaku pembakarnya. Ini akibat dari tulisan si Elang yang menganalisis kebakaran itu yang disebut sengaja dibakar oleh tiga orang," tutur Gomma.

"Proyek pembangunan apartemen kita di lokasi kebaran itu hingga kini jadi terkatung-katung. Pihak berwajib akan menyelidiki secara tuntas. Tapi tenang saja, kasus kebakaran itu akan menguap dengan sendirinya. Apalagi saksi dan bukti-bukti di lapangan nggak ada yang kuat," kata Wacana Pradipta sambil menyeruput kopinya.

"Nanti aku hubungi lagi Pak Ray, bagaimana dengan rencana selanjutnya. Ini harus cepat mereka lakukan. Ya, nggak, Pi?"

Wacana Pradita mengangguk.

"Lebih cepat memang lebih baik," ujarnya.

"Oke, Pi. Eh, itu mereka sudah datang, Pi," kata Gomma menunjuk ke depan. Wacana Pradipta dan Gomma langsung berdiri menyambut oknum pejabat dan pengusaha asing tersebut. Mereka saling bersalaman, dan say hello, sambil masing-masing melepas senyuman. Senja di Bali memayungi pertemuan kongkalikong mereka yang berniat busuk. Mereka ingin memperkaya pribadi melalui proyek pemerintah yang sedang mengembangkan wisata dan menarik turis mancanegara lebih banyak lagi.

Di Jakarta, Ray dan anak buahnya sedang menguntit aktivitas Elang Saja. Malam sekitar pukul 21.30-an, Elang Saja sedang melaksanakan tugas investigasi untuk membongkar dan mengungkap dugaan kasus mega korupsi senilai trilunan rupiah.

Elang Saja baru selesai mewawancarai Artala Dimon, Direktur Utama PT Aodaz Sakti Mas, saksi atas dugaan kasus korupsi mega proyek tersebut. Artala Dimon adalah pengusaha yang kalah bersaing dengan perusahaan Wacana Pradipta dalam tender proyek itu. Namun, dirinya mencium ada aroma tak sedap dalam proses tender tersebut. Panitia tender melakukan kerja sama dengan perusahaan yang menjadi pemenang tender mega proyek itu.

Elang Saja selain memperoleh hasil wawancara yang bisa menguatkan analisa berita maupun tulisannya, juga mendapat bukti-bukti konkret dari Artala Dimon mengenai proses tender yang tidak lazim tersebut.

Di jalanan yang mulai sepi, Elang Saja menghentikan motornya dan menepi di dekat pohon mahoni. Ia menerima telepon dari Widya Shema.

"Halo, ade ape, Sayang?" sapa Elang Saja romantis.

"Kamu di mana, Yang. Kayaknya lagi di jalan, ya. Berisik suara motor kamu," kata Widya Shema di dalam kamar tidurnya.

"Iye, habis wawancara," jelasnya.

"Oke, hati-hati. Besok jadi, ya, kita ketemuan di PIM."

"Pondok Indah Mal? Siap, Yayangku," canda Elang Saja.

Ia kembali memacu motornya. Di suatu tikungan di bilangan Jakarta Barat, tiga motormemepet motor Elang Saja. Jalan di sekitar itu sepi. Elang Saja terpental dari motor, tapi secara refleks mampu berdiri dengan cepat. Ia membuka helm, dan tiga orang yang memepet langsung menghunjamkan pukulan ke dirinya.

"Bismillahirohmanirohim. Allahu Akbar!" pekik Elang Saja sambil mundur beberapa langkah mengatur strategi. Jurus silat Garuda Putih segera dikeluarkan karena merasa terdesak. Biasanya jurus tersebut dikeluarkan setelah jurus Gagak Hitam. Namun, dalam kondisi seperti ini, terpaksa jurus pamungkas Garuda Putih dimainkannya.

Dampak jurus Garuda Putih memang dahsyat. Tiga orang penyerang itu roboh. Elang Saja tetap siap dan waspada dengan matanya yang tiba-tiba nanar dan melihat situasi si penyerang. Tiga orang penyerang bangkit kembali, dan kali ini masing-masing mengeluarkan pisau belati.

"Ya, Allahlindungilah hamba," ujar Elang Saja dalam hati,

Tiga orang itu serempak menyerang dan mengarahkan senjata tajamnya. Elang Saja mampu berkelit dan mencoba membalas dengan sodokan dari jurus Garuda Putih. Satu orang tersungkur kena tendangan Elang Saja. Dua orang lagi kembali mengayunkan pisau belati ke arah perut dan wajah Elang Saja.

Elang Saja akhirnya mengeluarkan jurus Gagak Hitam sebagai variasi pukulan-pukulan yang merepotkan penyerang. Dua orang penyerang limbung karena bagian perut masing-masing kena pukulan dari Elang Saja. Jatuh terpental ke arah motor mereka. Elang Saja segera mendekati, namun tiga penyerang itu buru-buru naik motor dan menstarternya kemudian menjauh.

Elang Saja menarik nafas lega. Ia mengira tiga penyerang terus meninggalkan dirinya. Tapi tidak disangka dan tak dinyana, satu penyerang berbalik mendekati Elang Saja sambil meletuskan pistol dengan sembarangan. Penyerang itu kemudian tancap gas mengikuti kawannya yang sudah menjauh. Penyerang itu tidak mengetahui hasil tembakannya, satu peluru menyerempet lengan atas kanan Elang Saja.

"Aduh!" Elang Saja meringis menahan perih. Ia melihat ada darah keluar menyerap di kaosnya. Ia secepatnya naik motor dan mencari klinik atau rumah sakit terdekat. Ia melihat plang bersinar lampu bertuliskan RS Bintang, dan memasukkan motornya ke halaman rumah sakit untuk minta pertolongan pertama.

Sekuriti segera membawa Elang Saja ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Tak lama seorang dokter jaga malam menghampiri. Dokter wanita cantik itu dan Elang Saja sama-sama kaget ketika saling pandang.

"Pak Ustadz Ganteng? Kenapa lengannya?" sapa dokter itu. Asisten dokter dan seorang perawat bengong melihat dan mendengar sebutan tersebut.

"Reva? Bu dokter Reva?" Elang Saja balik tanya.

Mereka tersenyum. Reva Izni segera meminta kepada asisten dan perawat untuk mengambil beberapa alat medis. Elang Saja segera diperiksa dan ditangani dengan penuh perhatian dari Reva Izni.

"Lukanya memang nggak parah, sepertinya hanya kena serempet benda tajam. Darah juga nggak keluar lagi, sudah dibalut rapih sama perawat. Tapi kamu jangan langsung pulang. Pagi aja pulangnya, karena saya mau lihat kondisi Pak Ustadz Gangteng. Istirahat dulu di sini. Hitung-hitung temani saya tugas malam," canda Reva Izni.

Elang Saja mengangguk. Ia tidak mampu menolak saran Reva Izni sebagai dokter yang mengetahui lebih banyak soal kesehatan.

"Oke, Bu dokter cantik," ujar Elang Saja mengimbangi candaan Reva Izni.

"Widya sudah dihubungi apa belum Pak Ustadz Ganteng?"

"Belom Bu dokter."

"Kalo gitu saya yang hubungi dia. Mudah-mudahan belum tidur," kata Reva Izni.

"Makasih."

Setelah Widya Shema mendapat info dari sahabatnya itu, tanpa buang waktu ia berganti pakaian. Kemudian ke garasi menstarter mobil. Sekuriti menghampiri Widya Shema.

"Non, mau ke mana malam-malam begini? Nanti saya bangunin Pak Oto aja, biar dia yang nyetir."

"Nggak usah, Pak."

"Jangan Non, nanti saya yang dimarahin tuan Gomma. Apalagi tuan dan nyonya lagi di luar kota, kalo ada apa-apa, saya yang dipecat. Bagaimana? Kasihan anak istri, nanti saya dipecat dan jadi pengangguran."

"Ya, sudah. Cepat bilang ke Pak Oto. Jangan pake lama."

"Siap, Non."

Widya Shema diantar Pak Oto dan dikawal sama sekuriti tadi. Perjalanan aman, lancar, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah sampai di RS Bintang. Di ruang IGD, Reva Izni sudah menunggu kedatangan Widya Shema, sahabatnya. Mereka cipika-cipiki sambil melangkah ke tempat Elang Saja yang sedang terbaring.

"Hai, Sayang. Kamu kenapa sampe seperti ini? Berantem?" sapa Widya Shema.

Elang Saja tersenyum dan melirik Widya Shema. Reva Izni memperhatikan sahabatnya yang sedang jatuh cinta. Mereka sepertinya tidak mungkin terpisahkan, kecuali maut yang membenturkan ke jurang paling dalam.

"Tadi abis wawancara sama sumber berita, terus pulang. Di jalan ade tiga orang yang mepet motor. Saya kepental. Selanjutnya, saya pertahankan diri, karena mereka lebih dulu nyerang, mau mukul," jelas Elang Saja.

Ia kemudian menceritakan secara detail kronologi kejadiannya. Hingga akhirnya dirinya mencari pertolongan ke RS Bintang. Widya Shema dan Reva Izni serius mendengarkannya.

"Apa ada kaitannya dengan sumber berita kamu itu?" kata Widya Shema.

"Nggak tau juga. Bisa aje, sih, mereka nggak suka saya wawancara sama sumber berita itu," ujar Elang Saja. "Tapi saya jelas ngeliat wajah ketiga penyerang itu. Selain senjata tajam, mereka membawa pistol," tambah Elang Saja.

"Ya, udah lain kali kamu mesti hati-hati," ujar Widya Shema. "Besok pagi saya ke sini lagi, jemput kamu, Sayang."

"Nggak usah, Sayang. Saya kan naek motor."

"Motor kamu nanti dianter sama sopir saya. Bereskan! Masalah buat kamu, Sayang?" ledek Widya Shema manja.

"Ye, udeh kalo gitu. Besok pagi saya nunggu kamu," jawab Elang Saja.

Sekitar pukul 2 malam, Widya Shema pamit sama Reva Izni dan Elang Saja, kembali ke rumah.

"Hati-hati, Sayang, jam-jam segini di jalan rawan kriminal," kata Elang Saja.

"Iya, Wid, rawan banget," tambah Reva Izni mengantar sahabatnya sampai di pintu keluar IGD.

Malam makin larut. Sebentar lagi waktu sepertiga akhir malam datang dan Elang Saja ingin mendirikan sholat sunnah Tahajjud. Reva Izni sudah menyiapkan sajadah dan kain sarung untuk keperluan tersebut. Di sebelah ruang dokter jaga memang disediakan musolah kecil untuk kebutuhan para medis mendirikan sholat fardhu maupun sholat sunnah.

Allah SWT kembali melindungi Elang Saja dari marabahaya. Ujian demi ujian justru semakin menumbuhkan dan menguatkan ketakwaan dirinya kepada Allah SWT. Elang Saja hanya bersandar kepada Allah SWT, yang maha segala-galanya. La Haula Wala Quwwata Illa Billahi Aliyyil Azhim (Tiada daya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah SWT yang maha tinggi lagi maha agung).

"La Ilaha Illallah, tiada tuhan selain Allah. Ini dzikir yang terbaik, Lang. Jadi di mana saja, kapan saja, sebaiknya kamu berdzikir untuk mengingat Allah. Karena dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram," itulah yang selalu disampaikan oleh para orangtua angkat Elang Saja. Pesan tersebut melekat di kalbu Elang Saja.

Usai mendirikan sholat sunnah Tahajud, Elang Saja masih menyempatkan membaca Al Quran dalam ukuran kecil yang selalu dibawa. Ia sebelumnya berdoa, berdzikir, dan wirid, kemudian membaca Al Quran, sambil menunggu kumandang adzan Subuh.

D luar, bintang-gemintang masih menaburi langit, indah mempesona. Meski cahaya rembulan mulai memudar, namun harmonisasi keindahan ciptaan Allah SWT, itu sangat memanjakan mata memandang.

Elang Saja terus tadarusan, membaca Al Quran secara khusyuk dengan suara pelan, karena berada di ruang IGD RS Bintang. Reva Izni yang sesekali melewati tempat Elang Saja, tersenyum bangga melihatnya. Ada rasa kagum mendalam yang menjalar di denyut nadinya. Dirinya tidak menampik dan langsung membuka hati, jika ada kehadiran lelaki seperti sosok Elang Saja. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA