Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 25)

IN
Oleh inilahcom
Selasa 08 September 2020
share
 

Kiprah Gerry, anak kandung Wacana Pradipta hasil perkawinannya dengan Maya, istri keduanya, semakin tidak terkendali. Gerry kini menjadi pemuda keren dan banyak digandrungi kaum perempuan.

Ketua Geng Motor dan Mobil "Bro Koli" ini semakin "gila", jika mengendarai motor gede dan mobil sport mewah di jalanan, yang membuat kehidupannya tidak seimbang. Hobi ini banyak menyita waktunya. Hingga saat ini Gerry belum mampu menyelesaikan kuliahnya. Setiap malam, waktunya dihabiskan di jalanan, nongkrong di tempat-tempat hiburan malam, mabuk, dan membuat keonaran sehingga mengganggu masyarakat.

Gerry dengan aktivitasnya itu membuat namanya melambung bak meteor. Namun namanya ngetop yang negatif. Meski begitu, para milenial dalam pergaulannya selalu menyebut-nyebut nama Gerry. Bahkan, karena ketampanannya, seorang produser dan sutradara film pernah menawarkan Gerry untuk bermain film juga sinetron. Namun, Gerry menolak. Baginya hidup dengan gaya hedonis yang dijalaninya membuatnya bahagia. Soalnya, ia dengan mudah memperoleh materi dari orangtuanya yang konglomerat.

Gerry dengan gaya hidupnya yang santai ini, juga membuat Widya Shema ingin mewawancarai untuk dimuat di program acara "Hedon" di Mata TV. Widya Shema bersama kru, malam ini menyambangi lokasi balap liar yang diadakan Geng Motor dan Mobil Bro Koli.

Benar saja, trek-trekkan motor gede di jalanan yang sepi telah berlangsung satu jam lalu. Para petaruh menjadikan pembalap liar sebagai sarana taruhan yang bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan rupiah. Semakin malam, malah kian ramai. Seperti di arena balap kuda, para pembalap liar berperan sebagai joki. Jika sang petaruh menang, joki mendapatkan komisi. Ini sangat menggiurkan. Pihak penyelenggara balap liar pun memperoleh komisi dari petaruh yang menang.

Widya Shema mencari Gerry. Tampak Gerry sedang duduk di jokmotor gedenya sambil dikelilingi dua remaja cantik. Mereka bersorak memberikan dukungan kepada kawannya yang menajdi joki balap liar.

"Hai, Gerry, ya? Saya Widya dari Mata TV, mau minta waktu untuk wawancara," sapa Widya Shema.

Ia mengakui Gerry memang pantas dan layak menjadi idola para remaja putri, bahkan wanita dewasa lainnya. Wajahnya keren, ganteng pula, dan berkarakter sosok lelaki sejati.

"Mau apa lo, wawancara gue, heh? Gue bukan selebriti. Gue cuma pembalap liar, tau," gaya slengean Gerry meluncur dari mulutnya sambil mengembuskan asap rokok. Remaja putri yang mendampinginya tertawa keras, mencemooh kehadiran Widya Shema.

"Gue mau wawancara karenalo jadi pembalap liar. Masyarakat ingin tau juga apa, sih, enak dan nggak enaknya sebagai pembalap liar. Belum lagi sisi kehidupan lo yang cukup menarik, karena lo menghabiskan setiap malam di jalanan. Kan lo anak orang kaya. Apa lo nggak kasihan sama ortu (orang tua)?" kata Widya Shema.

Gerry terkesiap dengan ucapan jurnalis Mata TV ini. Apalagi setelah menatap agak lama wajah Widya Shema. Syurrr juga bagi Gerry dengan penampilan dan tubuh Widya Shema yang seksi. "Cantik banget ini wartawan. Kenapa gue jual mahal, lebih baik gue setuju aja untuk diwawancara," batinnya.

"Oke, oke, oke. Karena lo banyak ngomong, gue jadi tertarik juga buat diwawancara. Tapi jangan di sini, nggak enak, berisik, bising. Nggak terdengar jelas bicara kita, jadi nggak fokus. Bagaimana kalo di cafe langganan gue yang buka 24 jam nonstop?" usul Gerry.

"Siap."

"Sip kita cabut. Lo ikutin gue aja, ya. Kan lo bawa mobil sama kameramen," Gerry langsung membonceng dua remaja putri sekaligus menuju kafe di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Widya Shema mengikuti keinginan Gerry. Mereka meluncur menembus malam yang mulai luruh berudara sejuk ini.

Wawancara pun berlangsung dengan seru. Suasana keakraban mulai terbangun antara batin Widya Shema dan Gerry. Kameramen sejak tadi sudah merekam dari berbagai sudut pandang. Sebelumnya, kameramen juga sudah merekam aktivitas balap liar di jalanan.

Mereka saling memberi nomor HP usai wawancara. Widya Shema dalam kesempatan ini menawarkan kepada Gerry untuk menjadi host salah satu acara hiburan Mata TV. Widya Shema melihat kriteria menjadi host memenuhi dalam diri Gerry. Namun, Gerry belum menjawabnya.

"Oke, terimakasih, ya, Ger, udah kasi waktu untuk wawancara. Nanti lo bisa liat di acara Hedon minggu depan, jam satu siang," kata Widya Shema saat masuk mobilnya.

"Yups! Thanks juga, Wid. Nanti gue liat acara lo itu," jawab Gerry dengan tatapan bahagia penuh makna tersembunyi.

Hari berganti, berlalu, dan meninggalkan semua aktivitas yang telah berjalan. Semua menjadi kenangan. Suka tidak suka, sang waktu pasti menggilas siapapun tanpa ampun.

Baru tiga hari, Gerry sudah beberapa kali menelepon Widya Shema hanya sekedar basa-basi. Ada apa gerangan dengan Gerry? Anak jalanan itu dengan motor gedenya yang banyak dikeliling cewek-cewek cantik, kini seperti tersungkur di "pangkuan" hati Widya Shema. Hatinya luruh dan ingin menambatkan kasih sayangnya di pelabuhan cinta Wiidya Shema.

"Widya, apakah mau menjadi pacar gue?" kata Gerry suatu hari ketika senja gerimis yang jatuh di bulan Juni di salah satu resto di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

"Dasar si Gerry gelo, langsung to the point "nembak" aku," kata Widya Shema dalam hati.

Widya Shema benar-benar terperangah oleh pernyataan dan sikap Gerry yang nyeleneh itu. Dirinya tidak mengira Gerry secepat kilat mengungkapkan cinta. Mimpi apa semalam. Padahal sejak wawancara dengan Gerry, sikapnya biasa saja, tanpa ada ekspresi yang aneh.

"Karena kamu ngomongnya secara tiba-tiba, aku juga menjawabnya dengan cepat untuk menetralisir suasana. Aku sudah punya pacar, yang sebentar lagi mau dilamar. Jelas, Ger?" tegas Widya Shema.

"O, gitu?"

"Iyalah. Nanti aku telpon dia, ya, biar datang ke sini terus aku kenalin sama kamu," ujar Widya Shema kemudian mencari nomor HP Elang Saja.

"Cukup penjelasan lo. Jadi nggak usah jugalah nelpon pacar, lo. Tapi prinsip hidup gue, sebelum ada janur kuning melengkung di rumah lo, itu artinya lo masih bisa terima gue jadi pacar. Cara apapun gue terus berusaha buat merebut jantung dan hatilo dengan siraman cinta suci gue," tutur Gerry tertawa ngakak.

"Terserah, lo, itu, sih. Emang gue pikirin. Udah, ya, gue ada liputan lagi di Istana Merdeka jumpa pers dari Pak Presiden soal bantuan pemerintah kepada para petani," Widya Shema baru mau berdiri, namun Gerry memegang tangan kanan jurnalis cantik ini.

"Santai aja, Cantik," ujar Gerry dengan nada menahan nafsu yang membara.

"Lepasin tangan gue. Sopir gue udah nunggu, tuh. Jangan macem-macem sama gue, kalo lo nggak mau cari masalah. Bodyguard gue ada di mana-mana. Belom lagi kalo pacar gue marah. Kena jurus silatnya, baru lo tau rasa," kata Widya Shema kesal.

Gerry akhirnya melepas cekalannya dari tangan Widya Shema. Ia senyum sinis mendengar ancaman Widya Shema. "Tunggu tanggal mainnya, Wid. Nanti lo liat apa yang gue akan kerjakan. Gue kejar cinta gue sampailo terima. Pasti gue berhasil meraihcinta, lo," ujarnya dalam hati.

Widya Shema berlalu meninggalkan Gerry yang masih mengatur strategi di Kafe. Malahan, Gerry mengorder minuman keras sehingga nyaris memabukkan. Petugas kafe membangunkan Gerry yang tertidur di meja.

"Mas, bangun, sebentar lagi pelanggan kita banyak yang datang," ujar petugas kafe didampingi sekuriti.

"Bentar lagi. Gue nelpon kawan dulu, buat nganter gue pulang. Soalnya, kepala gue pusing banget, nggak bisa bawa motor," jawab Gerry dan berhasil menghubungi kawan-kawan geng Bro Koli.

"Iya gak apa-apa, tapi Mas pindah dulu duduknya. Ke dalam aja, jadi nggak ganggu tamu kita," tegas sekuriti kafe.

"Jangan bentak gue! Lo berani sama gue, hah!"

Sekuriti tanpa banyak bicara lagi langsung menarik tangan Gerry dan membawa ke ruang dalam. Antara setengah sadar dan mabuk, Gerry akhirnya mengikuti saja. Setengah jam kemudian, beberapa anak geng motor dan mobil itu sudah datang, siap mengantar Gerry ke basecamp mereka.

"Kenapa sampe lo bisa mabuk sendirian di kafe itu, bos?" tanya kawannya sesaat Gerry telah sadar total dari mabuknya.

Gerry lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya setelah Widya Shema mewawancarai. Hingga dirinya kepincut dan mengungkapkan cintanya kepada Widya Shema. Namun ditolak sehingga membuat Gerry sakit hati.

"Kalo gitu kita harus buat perhitungan sama si Widya dan pacarnya. Kalo lo ada ide cemerlang untuk mencari solusinya,ngomong aja. Entar gue kasi insentif menarik," kata Gerry di hadapan kawan-kawannya.

Mereka berembug, berdisikusi, dan saling menyampaikan ide agar cinta Gerry bisa diterima oleh Widya Shema, Apapun caranya, harus diwujudkan, kendati dengan kekerasan.

"Ide,lo keren banget, Chan. Ini duit buat, lo, sejuta," ujar Gerry mengeluarkan dari dompetnya. Chandra senyum menerima hadiah tersebut.

"Terimakasih, Bro."

"Kapan kita realisasikan rencana itu, ya?" pancing Gerry ingin mengetahui kesetiaan kawan-kawan geng Bro Koli.

"Malam minggu depan. Mulai hari ini kita pantau setiap aktivitas mereka," jawab Chandra.

"Mantap, Bro!" teriak Gerry.

Rencana mereka untuk menculik Widya Shema dan mencelakakan Elang Saja, tiba waktunya. Gerry dan kawan-kawan geng Bro Koli menguntit Widya Shema serta Elang Saja yang menuju Sukabumi, Jawa Barat.

Elang Saja memenuhi undangan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Furqon untuk tausiyah. Widya Shema memang ingin selalu menemani kekasihnya setiap ada undangan ceramah. Ia khawatir banyak wanita di luar sana yang ingin memiliki Ustadz Ganteng ini.

Elang Saja menaiki mobil sport Lamborghini warna putih milik Widya Shema. Tak asing bagi Widya Shema mengemudikan mobil mewah dan mahal itu. Ia sangat piawai menyetir sambil melewati mobil lain dengan kecepatan lumayan tinggi di jalan Tol Jagorawi. Untungnya, Elang Saja tidak memprotes kecepatan mobil yang ditumpanginya. Elang Saja pasrah dan mempercayai kehandalan Widya Shema.

Namun, tiba-tiba, ada mobil sport warna hitam dan merah melakukan zig zag di depan mobil Widya Shema. Sedan sport hitam dan merah menggiring agar Widya Shema menurunkan kecepatan dan menepi agar berhenti. Elang Saja memberi isyarat supaya Widya Shema mengikuti dua pengemudi mobil tersebut.

Gerry dan kawan-kawannya cepat turun dan menghampiri mobil Widya Shema. Suasana di jalan Tol Jagorawi siang ini agak sepi. Kondisi ini memungkinkan Gerry dan kawan-kawan lebih leluasa melampiaskan keinginan yang terpendam. Cinta ditolak, Gerry bertindak!

"Turun, lo. Ini pacarnya Widya, ya," teriak Gerry sinis ketika Elang Saja membuka jendela mobil.

"Ada apaan, nih?" ujar Elang Saja heran.

"Sayang, hati-hati, anak itu suka nekat," kata Widya Shema segera membuka pintu mobil mendekati Elang Saja yang sudah dilingkari kawan-kawan Gerry.

"Serang!" perintah Gerry.

Perkelahian pun tak dapat terhindarkan. Elang Saja yang masih belum sembuh dari luka di lengan atas kanannya akibat terserempet peluru, melayani juga aksi keroyokan Gerry bersama kawan-kawannya.

Sementara itu, Widya Shema hanya terdiam melhat dari pinggir jalan tol. Ia melihat perkelahian ini tidak seimbang. Apalagi Elang Saja masih merasakan sakit akibat tendangan Gerry mengenai ulu hatinya. Elang Saja terhuyung dan jatuh di pinggir jalan tol ini.

"Elang, awas di belakang kamu!" teriak Widya Shema sambil ketakutan jika Elang Saja menjadi korban keroyokan Gerry dan kawan-kawannya.

Allah SWT sekali lagi menolong Elang Saja yang sudah terjatuh. Sekonyong-konyong secara mendadak ada dua orang turun dari jeep mewah dan membantu menghajar Gerry dan kawan-kawannya.

Satu orang yang menolong, semakin bersemangat menghantam Gerry dan kawan-kawan dengan jurus karateka yang langsung menohok. "Hah, si Elang yang dikeroyok," ujar penolong itu dalam hati. Penolong yang satu lagi dengan jurus silat Cimande, membuat Gerry dan kawan-kawan tumbang dan berlarian ke mobil masing-masing.

Widya Shema lega melihat bantuan dari dua orang tersebut. Elang Saja juga tak menyangka Allah SWT kembali melindungi dirinya, yang menghadirkan dua penolong tersebut.

"Lang, kite ketemu di sini nggak sangka, ye," kata penolong itu sambil membantu mengangkat Elang Saja untuk berdiri.

"Alhamdulillah. Bang Kemat, ye? Makasi, ye, Bang," Elang Saja langsung merangkul Bang Kemat, preman baik hati yang mempunyai jaringan pertemanan di "dunia premanisme".

"Lo kenape sampe bisa dikeroyokin, Lang? Gue yakin lo nggak macem-macem, ye," tanya Bang Kemat yang pernah menolong Elang Saja bekerja membantu Kang Syam jualan rujak di areal gedung bioskop Metropole.

"Nggak tau, Bang. Saya mau ceramah di Sukabumi. Eh,iye kenalin ini Widya, Bang. Temen dekat."

"Temen ape temen..," canda Bang Kemat sambil menerima salaman Widya Shema.

Widya Shema tersenyum.

"Cakep banget pacar, lo," Bang Kemat tertawa terbahak. Kawan Bang Kemat hanya senyum-senyum melihatnya.

"Alhamdulillah. Bang Kemat bisa aje," Elang Saja tersipu sambil melirik Widya Shema.

"Eh,iye, nih, kenalin ini temen gue, Kang Boni, yang punya "Sukabumi" dan sekitarnya," Bang Kemat kembali bersenda-gurau.

"Boni."

"Elang Saja."

"Widya," kata Widya Shema mengulurkan tangan.

"Kebetulan banget. lo kan mau ke Sukabumi, ye. Kang Boni ini beken di Sukabumi, seprofesi sama gue. Die berpengaruh di wilayah Sukabumi dan sekitarnye. Nah, kalo lo ade ape-ape hubungi die aja. Entar nomor HP die, lo catat, ya," jelas Bang Kemat.

Kang Boni mesam-mesem, sambil membetulkan letak kacamata hitam gelapnya.

"Siap, Bang, makasi, ye," ujar Elang Saja dan mencatat nomor HP Kang Boni.

"O, iye, Lang tadi lo bilang mau ceramah? Emang lo udeh jadi ustadz?"

"Ye, gitu, deh, Bang."

"Bang Kematgak ikutin perkembangan berita di medsos, Lang. Makanya Bang Kemat gak tau lo udah jadi ustadz kondang yang ganteng," sindir Kang Boni dengan akses bicara anak gaul jaman now.

"Hebat. Cakep. Ye, udeh kalo gitu gue cabut duluan. Sampe ketemu lagi, Lang," Bang Kemat memeluk Elang Saja sambil berbisik," Ati-ati di jalan."

Suasana kembali normal. Elang Saja dan Widya Shema dengan mobilnya melanjutkan perjalanan ke Sukabumi.

Gerry dan kawan-kawan rupanya tidak kembali ke Jakarta. Mereka tetap melanjutkan ke Sukabumi, dan menunggu kedatangan mobil yang dikemudikan Widya Shema di seberang gerbang keluar tol Bogor.

"Itu dia!" Gerry menunjuk ke arah mobil Widya Shema yang baru saja membayar tol. "Oke kita siap-siap mengikutinya. Tapi jaga jarak, jangan sampe ketauan," kata Gerry kepada kawan-kawannya.

Tiba di Sukabumi, Gerry bersama kawan-kawannya menunggu selesai Elang Saja ceramah di salah satu masjid terbesar kota ini. Mereka memarkir kendaraan agak jauh dari lokasi masjid. Widya Shema ternyata juga memarkir mobilnnya agak jauh dari masjid, namun berseberangan jalan dengan mobil Gerry. Situasi di sekitar mobil tidak ramai, malahan cenderung sepi. Hanya di areal parkir halaman masjid tempat Elang Saja tausiyah, sangat ramai dipenuhi motor dan mobil.

Di dalam masjid, jamaah sudah meluber karena ingin melihat Ustadz "Ganteng" Elang Saja dari dekat. Selama ini mereka hanya melihat dari YouTube melalui postingan Wina Faiz dengan akun winafaiz official. Hingga saat ini kerja sama Elang Saja dengan Wina Faiz terus berjalan langgeng.

Gerry dan kawan-kawan sengaja berjalan-jalan sekadar mengusir rasa jenuh ketika menunggu Elag Saja keluar dari masjid. Ia melihat mobil Widya Shema yang terparkir di pojok jalan yang terlindung dari pohon beringin tua dengan dahan serta dedaunan lebat. Sehingga mobil Widya Shema nyaris tidak kelihatan dari jalan raya.

"Ini kesempatan gue. Kawan kita beraksi mumpung lagi sepi, yuk, kita kerjain mobilnya Widya," Gerry dan kawan-kawan mendekati sedan sport tersebut.

"Heh, ada orang di dalam, Ger. Itu kan target kita. Lagi tidur nyenyak kayaknya. Mesin mobilnya jalan terus, tuh," ujar kawannya Gerry.

"Iya. Yuk, kita bangunkan. Kita paksa dia buka pintu mobil. Terus kita bius, langsungmasukin ke mobil gue," kata Gerry yang disetujui oleh kawan-kawannya.

Proses eksekusi lancar dan berhasil. Widya Shema tanpa curiga apapun, membuka pintu ketika dari luar ada yang mengetuk-ngetuk jendela mobilnya. Tanpa kerja keras, Gerry langsung membekap wajah Widya Shema dengan saputangan yang sudah diberi obat bius.

"Cepat bawa ke mobil gue," perintah Gerry.

Mobil Widya Shema ditutup kembali, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Gerry dan kawan-kawan sudah tancap gas membawa Widya Shema yang pingsan. Mereka menjuju ke arah Bandung, Jawa Barat. Gerry girang berhasil menculik Widya Shema.

Di suatu tempat terpencil, di kawasan perbukitan bersuhu udara dingin, Widya Shema disekap oleh Gerry yang sudah menyiapkan lokasi ini bersama kawan-kawannya. Widya Shema langsung dimasukkan ke dalam kamar dan dikunci rapat dengan pengawalan ketat, baik di depan kamar, maupun di luar rumah oleh beberapa preman yang disewa Gerry.

"Cantik, maaf, ya, terpaksa gue buat lo nggak nyaman," kata Gerry setelah Widya Shema sadar. Gerry sengaja masuk ke dalam kamar untuk memberitahu agar Widya Shema tidak meremehkan eksistensi dirinya.

Widya Shema marah. Tapi tidak bisa apa-apa karena kedua tangannya diikat tali secara kuat di pinggir tempat tidur.

"Silakan kamu marah, Cantik. Itu hak lo. Karena gue sangat mencintai lo, jadigue nggak bakalan marah apapun yang lo katakan dengan sumpah-serapah itu," ujar Gerry sambil mengelus kedua pipi Widya Shema.

Widya Shema makin marah dengan kelakuan Gerry. Namun, apa daya, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Jangan macam-macam dan jangan sentuh gue lagi!" teriak Widya Shema mulai histeris.

"Hahaha. Silakan, Cantik. Sekarang cuma ada dua opsi. Kalo mau terima cinta gue, maka lo aman, dan gue lepaskan ikatan tali ini. Tapi kalo sebaliknya, ya, lo rasakan aja siksaan gue selanjutnya," ancam Gerry serius.

Widya Shema serta-merta meludah tanda kekesalannya memuncak. Ia kembali berteriak agar ada orang yang mendengar. Namun, kembali usahanya sia-sia. Tempat ini benar-benar jarang dilalui orang, mengingat di daerah tinggi dan hanya bangunan ini saja yang berdiri. Hanya angin senja yang semilir beriringan menjadi saksi bisu. Sore sebentar lagi masuk ke peraduannya, tugasnya bakal digantikan sang malam.

Di lain pihak, Elang Saja dibantu para pengurus DKM Masjid Al Furqon terus mencari keberadaan Widya Shema. Bahkan, Elang Saja sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Ia juga menelepon Kang Boni yang baru dikenalkan Bang Kemat.

"Kang Boni ade di mane?" tanya Elang Saja.

"Iyah, ada apa? Kalo Bang Kemat,mah, barusan saja sudah balik ke Jakarta. Ini Elang, ya?"

"Iye, Kang. Maap, saya mau minta tolong. Kawan saya diculik. Feeling saya diculik sama yang tadi cegat di jalan tol," ungkap Elang Saja.

"Waduh, si begundal itu tadi, ya. Nanti saya bantu cari. Saya hubungi teman-teman di sini dan sekitar Sukabumi. Tenang, yah, dan sabar. Doa aja atuh, Lang, ke gusti Allah," Kang Boni mencoba menenangkan Elang Saja.

"Makasi, ye, Kang?"

"Sami-sami."

Elang Saja juga memberitahu kepada Wina Faiz mengenai hal ini, dan mengirimkan kronologinya mulai dari pencegatan di jalan Tol Jagorawi hingga Widya Shema hilang. Elang Saja tak lupa menuliskan nama Gerry yang diduga sebagai otak pelaku penculikan Wdiya Shema. Wina Faiz langsung memposting kiriman Elang Saja melalui akun winafaiz official. Biasanya selalu menjadi viral karena tulisan Elang Saja sudah sangat dipercaya dan digandrungi netizen.

Selain itu, Elang Saja menghubungi Bang Kemat, karena kemungkinan besar Gerry membawa Widya Shema ke Jakarta. Ia pun mengirim berita ini ke redaktur rubrik kriminal Koran Bongkar.com (portal berita dari Koran Bongkar). Elang Saja sudah menghubungi semua akses yang dimiliki. Bahkan, ayah angkatnya, Ustadz Sahid dan KH Muhammad Ali Zulkarnaen diberitahu untuk mendoakan agar Widya Shema cepat diketahui keberadaannya.

Sementara itu, kabar penculikan Widya Shema sudah sampai ke Gomma dan Wacana Pradipta. Pemilik Mata TV ini, langsung menginstruksikan pemimpin redaksinya untuk mengekspos berita tersebut. Hampir semua media mainstream dan akun milik Wina Faiz membuat judul besar "Jurnalis Mata TV Diculik". Selain itu, judul yang bombastis di TV swasta dan berita-berita online muncul dengan menulis "Anak Konglomerat Diculik Sindikat Internasional", "Gengster Culik Cucu Pengusaha Besar", "Pacar Ustadz Ganteng Diculik", dan sebagainya.

Pihak berwajib di Sukabumi tak mau menjadi sorotan "miring" dari masyarakat, mengingat berita tersebut sudah tersebar dan diketahui masyarakkat luas. Sehingga pihak berwajib langsung merespon laporan Elang Saja, dengan membentuk tim khusus. Pihak berwajib yang sangat canggih juga sudah menggerakkan pasukannya melalui networking yang dimiliki.

"Pi, Pak Ray dan anak buahnya juga saya minta mencari Widya," kata Gomma kepada Wacana Pradipta melalui ponselnya.

"Bagus. Tapi yang Papi gak habis pikir untuk apa Widya bersama Elang, anak yang selalu membawa sial itu, jalan-jalan sampai ke Sukabumi?"

"Nggak tau, Pi. Tapi mobilnya nggak diambil penculik. Sekarang diamankan untuk dijadikan barang bukti di kantor pihak berwajib di Sukabumi. Karena Widya waktu diculik berada di mobil, kata anak sial itu, Pi," tutur Gomma. Anak sial yang disebut-sebut itu adalah Elang Saja.

Kabar Widya Shema belum ada yang mengetahui, ketika adzan Magrib berkumandang di langit Sukabumi. Elang Saja memasuki halaman masjid untuk mendirikan sholat Magrib berjamaah. Ia belum berniat kembali ke Jakarta. Ia sudah minta izin dengan Pemimpin Redaksi Koran Bongkar, yang malam ini seharusnya rapat evaluasi pencapaian hasil dari tim investigasi kasus mega korupsi.

Elang Saja ditemani dua pengurus DKM Al Furqon terus berkeliling Sukabumi. Mereka beristirahat di sebuah masjid ketika waktu sepertiga akhir malam jatuh di udara yang dingin ini. Selesai sholat Tahajjud bersama pengurus DKM Al Furqon, seperti biasa Elang Saja berdoa dan berdzikir.

"Ya, Allah, mohon petunjuk-Mu, di mana Widya disembunyikan Gerry. Tolong hamba-Mu ini, ya, Allah. Mudah-mudahan Widya dalam lindungan-Mu, ya, Allah, dan dalam keadaan sehat," khusyuk doa Elang Saja.

Pertolongan Allah SWT memang teramat dekat bagi hamba-Nya yang selalu meminta bantuan kepada-Nya. Elang Saja merasakan sesuatu berupa siluet yang bermain-main di matanya, seperti memberi isyarat yang menggambarkan ada suatu jalan menuju perbukitan. Elang Saja menarik nafas panjang dan terus berdoa, ditingkahi oleh bayangan yang wara-wiri di matanya dan semakin jelas bahwa itu gambaran jalan menuju perbukiktan.

"Alhamdulillah. Semoga ini jadi petunjuk dari-Mu, ya, Allah," batin Elang Saja berbisik. Ia segera mengambil pulpen dan notes kecilnya. Ia berupaya menerjemahkan siluet tersebut kedalam goresan lukisan.

Elang Saja kembali menelepon Kang Boni dan ingin menemuinya. Ia cepat bergerak setelah Kang Boni memberitahu posisinya.

"Ini Kang coba liat. Tau gak jalan ini kira-kira di mana?" kata Elang Saja ketika sampai di tempat Kang Boni.

Kang Boni memperhatikan dengan seksama, dan memanggil dua anak buahnya juga untuk melihat sketsa lukisan yang dibuat Elang Saja.

"Ini,mah, jalan yang ada di Bandung atuh," kata anak buak Kang Boni yang berasal dari Ciwidey, Bandung.

"Jadi tau?"

"Iyalah, jalan itu dulu tempat saya main perang-perangan waktu masih kecil," ujarnya yakin sekali.

"Ayolah kalo gitu kita ke sana. Lang, naik mobil saya aja," kata Kang Boni.

"Makasi, Kang," Elang Saja berbinar matanya dan berharap menemukan tempat penyekapan Widya Shema.

"Berangkaaaaattt!" teriak anak buah Kang Boni sambil menstarter mobil Kang Boni menuju Bandung.

Tanpa aral melintang, mereka sudah memasuki jalan seperti sktetsa yang dibuat Elang Saja. Malam hening dan udara yang fresh menyelimuti mereka. Mobil Kang Boni berhenti setelah bertemu jalan buntu. Hanya ada jalan setapak yang menurut anak buah Kang Boni ada beberapa rumah di sebelah barat, dan agak menanjak jalannya.

Mereka mengendap-ngendap ketika mendekati satu rumah yang cukup besar, namun kondisinya kumuh. Elang Saja melihat ada dua orang berjaga di halaman rumah. Dua orang lagi berjaga di depan pintu masuk. Elang Saja optimis di dalam rumah tua itu ada Widya Shema. Kang Boni lantas mengatur siasat dengan dua anak buahnya.

"Kalian berdua langsung serang secara tiba-tiba dua orang yang di halaman rumah itu. Serangan mendadak bisa membuat mereka tidak konsentrasi. Langsung hajar sampe pingsan. Saya dan Elang menghajar dua orang lagi yang jaga di depan pintu masuk itu. Siap?" kata Kang Boni perlahan.

Serbuan itu berlangsung mulus tanpa perlawanan yang berarti. Kang Boni dan dua anak buahnya ternyata menguasai ilmu silat dan karate yang mumpuni. Elang Saja juga mengeluarkan jurus silat andalannya. Dampaknya sekali gebrakkan, empat penjaga rumah terkapar pingsan.

Dari kamar belakang, suara pilu dan kesakitan terdengar lirih. Elang Saja ingin cepat melompat ke kamar tersebut, namun disambut pukulan yang ternyata dari anak buah Gerry sedang berkumpul di satu ruangan khusus. Perkelahian sengit tak terhindarkan. Kang Boni dan dua anak buahnya juga diserang anak buah Gerry.

"Lang cepat masuk kamar itu. Cecunguk-cecunguk ini biarkan saya dan kawan-kawan yang hajar," teriak Kang Boni.

Elang Saja langsung mengangguk, dan mendobrak pintu kamar. Ia terhenyak melhat Gerry sedang menodongkan pistol di kepala Widya Shema.

"Lo, maju selangkah lagi, gue nggak segan-segan menarik pelatuk pistol ini di kepala pacar, lo!" kata Gerry sambil tertawa lebar.

Ironis memang. Andai Elang Saja, Widya Shema, dan Gerry mengetahui siapa sebenarnya asal-usul diri masing-masing, barangkali adegan nyata ini tidak akan terjadi. Andai mengetahui siapa sebenarnya orangtua mereka, barangkali menangis bersama. Andai mengetahui mereka titisan darah dari keturunan yang sama, barangkali hanya ada sesak di dada dan sesal berkepanjangan. Ya, andaikata dan barangkali. Hanya dua kata yang bisa saling terucap pedih. Namun, Allah SWT mempertemukan mereka ditengah situasi yang tidak kondusif di malam yang dingin ini, dan belum mengungkapkan siapa sebenarnya mereka. Allah SWT maha mengetahui terhadap hamba-hamba-Nya.

Elang Saja berhenti di depan pintu kamar. Gerry memanfaatkan situasi ini dengan membawa Widya Shema. Gerry masih menodongkan pistol ke kepala Widya Shema. Di ruang tengah, Gerry melihat semua kawannya tergeletak, pingsan, akibat jurus silat dan karate Kang Boni dan anak buahnya.

Kang Boni melihat kondisi yang tidak menguntungkan ini, lalu memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya untuk berlagak pingsan juga. Tanpa Gerry tahu, karena ruang tengah ini hanya satu lampu menyala, maka siasat berpura-pura pingsan berhasil dilakukan anak buah Kang Boni.

Gerry terus melangkah ingin ke luar rumah, namun kecepatan kaki kanan anak buah Kang Boni menghantam kaki kiri Gerry. Alhasil, Widya Shema terlepas dari gengaman Gerry. Ia mendadak tak bisa memegang pistolnya, karena badannya limbung dan jatuh ke lantai kotor. Pistol Gerry terpental.

Elang Saja dan Kang Boni segera menghampiri Gerry. Kang Boni kemudian mencekal leher Gerry. Elang Saja membuka ikatan tali di tangan Widya Shema. Tangis Widya Shema seketika pecah di dada Elang Saja.

"Udeh jangan nangis, Sayang. Alhamdulillah, kamu selamat. Terimakasih sama Allah yang ngelindungi kita," kata Elang Saja menenangkan Widya Shema.

Dari kejauhan dan semakin mendekat, raungan sirene mobil dari pihak berwajib semakin keras berbunyi. Dua mobil berhenti di depan rumah tempat penyekapan Widya Shema. Kehadiran pihak berwajib ini rupanya dihubungi oleh salah satu anak buah Kang Boni.

Pihak berwajib bertindak cepat dengan memborgol Gerry dan kawan-kawannya. Ternyata, Gerry selama ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), menjadi target pihak berwajib. Ia diduga sebagai bandar narkoba di wilayah Bandung dan sekitarnya, ketika Gerry masih tinggal di kota kembang itu. Pihak berwajib langsung membawa Gerry dan kawan-kawannya ke kantor pihak berwajib terdekat dari TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Elang Saja, Widya Shema, Kang Boni dan anak buahnya segera masuk ke mobil menuju Jakarta. Mereka tidak menyangka Gerry selama tinggal di Bandung sebagai bandar narkoba.

Elang Saja langsung membuat berita dari peristiwa penyelamatan Widya Shema yang dramatis dan mencekam. Ia mengirim berita ke redaksi koranbongkar.com (media online-nya) dan Koran Bongkar yang media cetaknya. Dari dua media tersebut, redaksi TV dan jaringan radio yang satu grup dengan Koran Bongkar, juga menayangkan dan menyiarkannya.

Pagi harinya, Gomma bersama istrinya, Sherly, juga Wacana Pradipta sudah di kantor. Mereka berbicara serius sambil menikmati kopi dan roti pilhan yang selama ini menjadi favorit keluarga. Melati Warni, maminya Gomma, belakangan datangnya. Mereka hadir dalam rangka membahas peristiwa penculikan Widya Shema.

"Widya sudah ditemukan dan sedang menuju ke sini, Pi, Mi," kata Gomma memberi info kepada orangtuanya.

"Iya, Pi, Mi. Widya juga kondisinya sehat," timpal Sherly yang sebelumnya resah, khawatir putrinya dianiaya para penculik.

"Bagus, pihak berwajib cepat sekali menemukan lokasi penyekapan cucuku," ujar Wacana Padipta dan istrinya hampir bersamaan.

"Pihak berwajib yang membawa para penculik itu, setelah dilumpuhkan oleh beberapa orang yang menolong," jelas Gomma.

"Jadi siapa yang menolong Widya?" Wacana Pradipta kaget.

"Iya siapa yang jadi dewa penolong cucuku," tambah Maminya Gomma.

"Elang dan kawannya. Sebentar lagi mereka datang mengantar Widya," kata Gomma sambil membaca berita pagi dari koranbongkar.com melalui ponselnya.

"Anak sial itu lagi?" kesal Wacana Pradipta.

"Aku juga nggak tau, Pi," Gomma asyik membaca berita kriminal lagi. "Pelaku utama penculikan Widya ternyata juga bandar narkoba, Pi, Mi."

"Walaaaah, untung cucu kita cepat ditemukan dan dalam keadaan selamat, ya, Pi," Maminya Gomma melirik Wacana Pradipta.

"Judul beritanya, Penculik Jurnallis Mata TV Ditangkap di Bandung. Judul berita yang lain, Bandar Narkoba Penculik Wartawan TV Ditangkap," Gomma membacakan beberapa judul berita kepada Papi dan Maminya.

"Pelaku utamanya siapa?"

"Diberita itu namanya hanya ditulis inisial aja, Pi. Gry, nama aktor intelektual si penculik itu sekaligus bandar narkobanya," jawab Gomma.

"Assalamualaikum. Pagi, Pa, Ma, nenek, kakek," tiba-tiba suara Widya Shema mengagetkan mereka, ketika masuk ke ruangan tamu di kantor papa dan kakeknya itu.

"Anakku, kamu nggak kenapa-kenapa kan," ujar Sherly memeluk erat Widya Shema yang menangis tersedu-sedu. Ia menciumi putrinya dengan kasih sayang, sambil melirik seorang pemuda gagah dan ganteng. "Pasti ini Elang," batinnya.

"Alhamdulillah, Ma."

"Cucuku, besok-besok kalo pergi atau tugas kantor, kamu harus lebih hati-hati lagi," kata neneknya, Melati Warni, yang juga memeluk Widya Shema.

"Iya, Nek," jawab Widya Shema kemudian mendekati Gomma dan Wacana Pradipta. Tangis haru bercampur bahagia karena luput dari sekapan para penculik. Widya Shema merasakan hangat dekapan kedua orang yang juga dicintainya.

Gomma dan Wacana Pradipta menatap pemuda yang mengantarkan Widya Shema. "Berani benar anak ini, masuk ke sini," ujar Gomma dalam hati. Begitu pun batin Wacana Pradipta, "Anak sial ini besar juga nyalinya. Berani mengantarkan cucuku."

"Pa, Ma, Nek, Kek, ini Elang yang menyelamatkan aku," Widya Shema dengan bangga dan senang akhirnya bisa memperkenalkan Elang Saja secara langsung kepada keluarga intinya.

"Saya Elang. Elang Saja," ujar Elang Saja tersenyum dan mencium tangan kedua orangtua dan kakek-nenek Widya Shema. Hanya saja Gomma, Wacana Pradipta, dan Melati Warni yang setengah hati menerima salam dari Elang Saja.

"Anak ini sekarang sudah dewasa benar-benar mirip Pelangi. Waktu masih jualan rujak beberapa tahun lalu, wajah anak ini belum persis dengan Pelangi.Nggak heran kalo Elang Saja tumbuh menjadi pemuda ganteng," batin Gomma bergemuruh dalam diam. Lantas wajah cantik dan seksi Pelangi otomatis menari-nari di matanya.

Gomma teringat masa lalu dengan kelakuan bejatnya terhadap Pelangi yang ia perkosa berkali-kali dan mengakibatkan asisten rumah tangga di rumahnya itu hamil. Seperti film yang diputar dari awal hingga akhir, bayangan tersebut tak hilang. Kalbu Gomma resah, deg-deg plas, denyut jantungnya memacu cepat. Buru-buru ia mengendalikan perasaannya. Ia dengan sekuat tenaga berupaya keras menghilangkan semua bayangan yang melilit perasaannya.

Hal serupa menghantui perasaan Wacana Pradipta. Ia secepat kilat menepis pengakuan dari hati kecilnya. Ternyata tidak segampang itu menghilangkan bayangan Pelangi. "Ganteng anak sial ini. Tinggi badannya seperti Gomma dan aku," Wacana Pradipta juga mengakui fakta sosok Elang Saja yang dilihatnya dari dekat.

"Wah, wah, wah, anak si Pelangi ini memang ganteng, keren, gagah," neneknya Widya Shema akhirnya mengakui juga ketampanan Elang Saja, tapi itu hanya dalam hatinya. "Bisa jadi teman kencan aku, nih," bisik hatinya.

Namun, mereka tak akan mengungkapkan rahasia besar ini sampai kapan pun. Mereka tidak menginkankan ada keturunan dari Pelangi, yang hanya asisten rumah tangga, dan tidak jelas asal-usulnya.

Widya Shema melihat situasi dan kondisi yang kurang kondusif bagi Elang Saja, mencoba bercerita pengalaman pahit selama dalam penyekapan. Widya Shema juga mengungkapkan latar belakang Gerry menculik dirinya.

"Karena aku tolak cintanya, akhirnya Gerry bersama kawan-kawannya menghadang kami di jalan tol. Setelah nggak berhasil, mereka baru menculik aku di dalam mobil. Semua ini kesalahan aku, karena Elang sudah mengajak aku masuk ke masjid sekalian mendengarkan tausiyahnya. Tapi kepala aku lagi pusing sedikit, jadinya nunggu Elang di mobil. Di situlah kesempatan Gerry dan kawan-kawannya menculik aku. Salahnya aku lagi, parkir mobil agak jauh dari halaman masjid. Jadi Gerry leluasa menculik, karena jalan raya memang agak sepi waktu itu," tutur Widya Shema mendetail.

"Siapa Gerry itu? Papa ingin tau kenapa sampai dendam seperti itu kepada kamu. Kalo begitu Papa mau ke Bandung, menanyakan lebih lanjut sama pihak berwajib mengenai Gerry. Apalagi dia bandar narkoba seperti Papa baca di berita online. Katanya si Gerry anak pengusaha besar, anak konglomerat. Kok, jadi bandar narkoba?" gemas Gomma.

Lain ekspresi Gomma, beda pula dengan Wacana Pradipta dan istrinya.

"Hah, anak konglomerat? Gerry namanya? Hmm..," Mamanya Gomma berhenti bicaranya melihat isyarat mata Wacana Pradipta.

"Papi minta kamu tak perlu ke Bandung hanya ingin sekedar tahu siapa itu pelaku utamanya yang juga bandar narkoba. Buang waktu dan energi. Kamu banyak urusan bisnis yang mesti dikerjakan di sini. Siang nanti, kita mau menemui pejabat dan investor asing untuk proyek power plant di Papua," Wacana Pradita cepat-cepat mengalihkan perhatian.

Ia khawatir dengan Gomma jika mengetahui siapa orangtua dari Gerry sebenarnya. Sejak tadi, wajah Wacana Pradipta sangat pucat ketika menyimak penjelasan Gomma bahwa pelaku utama penculikan adalah Gerry sekaligus bandar narkoba. Wacana Pradipta menahan amarah yang amat sangat kepada Gerry, yang memang diakui kurang perhatian darinya. Maya, istri keduanya, yang merupakan Maminya Gerry, membayang di kepalanya. Ia ingin melampiaskan kekesalannya kepada Maya yang dinilai tidak bertanggung jawab dengan pertumbuhan dan pergaulan Gerry.

"Iya, Pi. Aku lupa siang ini adameeting sama Pak Kus dan Mister Brown," jawab Gomma mengurungkan niatnya ke Bandung untuk menyelidiki asal-usul keluarga Gerry.

Wacana Pradipta lega.

"Mobil kamu yang masih menjadi barang bukti, nanti Papa minta pengacara yang mengurusnya. Jadi kamu nggak perlu ke sana lagi," tambah Gomma kepada Widya Shema. Mobil mewah Lamborghini Widya Shema masih berada di halaman kantor pihak berwajib.

"Iya, Pa," jawab Widya Shema.

"Kalo emang sangat diperlukan, saya bersedia ke Bandung untuk mengetahui siape sebenarnya Gerry dan sepak terjangnya di bisnis narkoba itu. Kebetulan saya punya kenalan, salah satu aparat yang benar-benar tau seluk-beluk peredaran narkoba di kota itu, Om," kata Elang Saja menawarkan diri.

Wacana Pradipta akhirnya tidak mampu mengendalikan amarahnya mendengar ucapan Elang Saja. "Terimakasih. Tapi saya rasa Anda sudah cukup mengantarkan cucu saya ke sini. Selebihnya, ini urusan internal keluarga kami. Jadi, Anda tak usah repot-repot cari muka kepada kami. Silakan, pintu keluar kan Anda tahu, ya. Itu di samping belakang Anda, pintunya masih terbuka. Silakan keluar!" tegas Wacana Pradipta memerah mukanya menahan emosi yang meledak-ledak.

Elang Saja diam. Menunduk. Ia sesaat melirik Widya Shema memberi isyarat ingin meninggalkan ruangan ini.

"Kakek jangan bicara seperti itu dong. Elang cuma menawarkan, karena mendengar kesibukan Papa yang padat. Begitu juga kakek kan sibuk dengan bisnis. Jadi nggak salah kalo Elang mau bantu kita," kata Widya Shema.

"Maapin saya, Pak. Kalo gitu permisi saya pulang dulu. Assalamualaikum," ujar Elang Saja keluar dengan tanda tanya besar di dalam hatinya. "Aneh kakeknya Widya, kok, marahbanget? Ape urusannye sama gue? Ketemu aje baru sekarang. Ape salah gue?" gumam Elang Saja, tentu dalam hati.

"Widya, nggak perlu mengantar kawan kamu itu. Kamu di sini saja. Tetap duduk disamping Mama kamu!" perintah Gomma ketika Widya Shema baru dua langkah ingin mengantar Elang Saja.

"Kamu nggak usah nganter, Wid. Nggak ape-ape. Kang Boni dan kawannya juga udeh lama nunggu. Kasian mereka. Kamu jangan lupa sholat wajib lima waktu dan Tahajjud," ujar Elang Saja tetap senyum, meski dirinya diperlakukan seperti orang membuang kotoran di jalan.

"Siap komandan. Makasi, ya, Lang. Kamu harus ekstra hati-hati sekarang. Salam buat Kang Boni dan kawannya," kata Widya Shema sambil melepaskan senyum manis kepada Elang Saja, kendati hatinya dilumuri keprihatinan amat dalam. Elang Saja tersenyum. Ia melihat ada sisa canda dari Widya Shema.

Elanga Saja kemudian teringat ucapan ayah angkatnya, Ustadz Sahid, "Kesombongan adalah salah satu penghalang untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Hanya dengan mengingat Allah SWT, hati menjadi tenteram. Sesungguhnya pertolongan Allah SWT itu sangat dekat bagi hamba-Nya yang selalu berdoa meminta bantuan."

Ayah angkat Elang Saja yang lain, KH Muhammad Ali Zulkarnaen, Pimpinan Pondok Pesanten Al Arif, juga selalu berpesan, "Jika ada ada kata-kata yang melukai hatimu, menunduklah dan biarkan ia melewatimu. Jangan dimasukkan ke dalam hati agar tidak lelah hatimu. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kamu harus kuat dan jadi pemenang."

"Makasi, ya, Allah. Alhamdulillah. Makasi para ayah angkat yang udeh banyak berjasa, hati gue tenang," ujarnya setelah mengingat pesan tersebut. Elang Saja melangkah mantap ketika meninggalkan keluarga inti Widya Shema di suatu ruangan kantor mewah milik pengusaha besar tersebut. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA