Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 26)

IN
Oleh inilahcom
Rabu 09 September 2020
share
 

"Mas bagaimana dengan nasib anak kita, Gerry? Mas sudah tau kan sekarang Gerry ditangkap pihak berwajib di Bandung. Tolong Mas, kan, banyak kawan Mas yang bisa meringankan Gerry," parau suara Maya, istri kedua Wacana Pradipta, memohon kepada suaminya melalui ponsel.

"Saya nggak mau menolong secara langsung, May. Nanti saya pilih pengacara handal. May, kamu segera ke Bandung temui Gerry. Bilang sama dia, jangan menyebut-nyebut nama saya. Karena kalo masyarakat tau Gerry anak saya, nanti nama saya menjadi negatif dan berdampak kepada bisnis saya," tegas Wacana Pradipta.

"Iya, Mas," jawab Maya.

"Kalau sampai nama saya disebut sebagai Papinya Gerry, berarti kamu tidak mampu membujuk anakmu itu. Akibatnya kamu harus tahu, saya akan menceraikan kamu. Titik. Paham, May?" ancam Wacana Pradipta.

"Iya, Mas," jawab Maya tanpa protes.

Maya sadar sebagai istri kedua memang harus menurut saja untuk mengamankan perekonomian pribadi. Ia membayangkan jika Wacana Pradipta menceraikan dirinya, bukan mustahil dirinya kembali menjadi orang biasa tanpa harta melimpah. Belum lagi masalah warisan, pasti tidak akan memperolehnya jika suaminya menginginkan berpisah. Maya berhitung dengan cerdas dampak negatifnya itu.

"Oke, May, saya lagi mau meeting. Sekarang saja kamu berangkat ke Bandung, nanti pengacara menyusul. Tadi saya sudah telpon Pak Santo," kata Wacana Pradipta menutup ponselnya.

Hari ini sungguh berat bagi Wacana Pradipta, istrinya, dan Gomma menghadapi sosok Elang Saja yang hadir di hati Widya Shema. Ditambah dengan kasus Gerry yang juga sama berat dan pusingnya, khusus bagi Wacana Pradipta. Bahkan, belakangan, bisnisnya yang selama ini lancar mulai tersendat.

Proyek baru yang akan digarap juga mendapatkan kendala. Contohnya, lokasi kebakaran di perumahan padat penduduk, terganjal dengan penyelidikan pihak berwajib. Rencananya semula, usai rumah penduduk itu dibumihanguskan, perusahaan Wacana Pradipta lebih mudah memindahkan penduduk ke tempat lain dengan uang ganti yang murah. Semua itu, menurut Wacana Pradipta dan Gomma, gara-gara berita dan analisa Elang Saja yang dimuat di Koran Bongkar.

Belum lagi mega proyek wisata yang masih jauh dari keberhasilan, karena pesaing sudah mencium ada aroma "korupsi" dilakukan Wacana Pradipta dengan oknum petugas tender. Dan beberapa proyek di bidang energi, kini mengalami hal serupa.

Di bisnis ekspor-impor sejumlah komoditi, Wacana Pradipta juga mengakui usahanya tergerus dengan fluktuasi mata uang dolar Amerika Serikat yang tidak stabil. Di sektorentertainment nyaris "kembang-kempis" dan pelan-pelan sudah mengurangi keuntungan akibat manajemen kurang profesional mengelolanya.

Hanya yang masih menguntungkan adalah bisnis hiburan malam dengan memfasilitasi tempat kasino di luar negeri. Wacana Pradipta langsung meng-handle bisnis "hitam" ini bersama koleganya yang berpengaruh dari Las Vegas, AS. Ia sengaja tidak mengikutsertakan Gomma di bisnis tersebut, mengingat bisnis esek-esek dan judi ini berisiko tinggi.

Sementara itu, soal ganjal-mengganjal dan kasak-kusuk agar setiap proyek dimenangkan perusahaannya, Wacana Pradipta sangat piawai memang. Namun, di tengah kondisi sejumlah bisnisnya yang berkinerja tiddak maksimal, Wacana Pradipta memprediksi pesaing yang selalu kalah dalam tender mulai berani buka suara.

Kendati demikian, ada Ray bersama anak buahnya yang siap menutup mulut para pebisnis yang selalu jadi pecundang. Sehingga para pesaing Wacana Pradipta berpikir 100 kali untuk melaporkan kepada lembaga anti rasuah atau ke pihak lain yang berkompeten. Ray bersama anak buahnya memang menjadi "palang-pintu" terakhir bagi Wacana Prdaipta untuk menyingkirkan pesaingnya, para pengusaha yang tidak suka dengan dirinya.

Meski begitu, untuk menghabisi Elang Saja, "kaki-tangan" yang merupakan andalan Wacana Pradipta itu hingga kini belum mampu direalisasikan. Ray dan anak buahnya memang hampir putus asa menghadapi Elang Saja yang selalu selamat dari setiap eksekusinya.

"Pak Ray, kali ini jangan gagal lagi, ya," kata Wacana Pradipta ketika bertemu di suatu tempat prestisius di hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

"Ya, Pak. Saya janji besok semuanya sudah beres. Bapak nanti tinggal lihat diberita aja, ada mayat pemuda tergeletak di jalanan," mantap suara Ray meyakinkan Wacana Pradipta dan Gomma yang duduk berhadapan.

Dari ketinggian lantai 30, tampak malam penuh semburat cahaya lampu menerangi Jakarta yang tak pernah tidur. Gemerlap cahaya bulan dan bintang-gemintang pun menggantung, memayungi, menambah cantik kota Betawi di balik hutan betonnya.

Keesokan harinya, pukul 8 pagi pas, Elang Saja sudah berada di salah satu gedung bergengsi dan prestisius di jantung kota Jakarta yang sering digunakan untuk tempat pertemuan, seminar atau konferensi tingkat inernasonal.

Elang Saja mendapat tugas dari redaktur ekonomi Koran Bongkar untuk meliput konferensi ekonomi global yang dihadiri para ekonom dari mancanegara. Wacana Pradipta dan Gomma juga hadir mengikuti acara ini, sekaligus untuk melobi pengusaha mancanegara yang mau diajak kerja sama untuk investasi di Indonesia.

Wiidya Shema juga mendapat tugas yang sama dari redaksi Mata TV. Momen ini menjadi sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi Elang Saja dan Widya Shema untuk bertemu dalam tugas liputan. Mereka bersaing dengan wartawan lain, bahkan jurnalis asing banyak yang meliput kegiatan besar ini setiap setahun sekali.

Menteri keuangan membuka acara tersebut. Hampir satu jam menteri keuangan memaparkan kondisi perekonomian global yang harus terus diwaspadai pebisnis. Soalnya, persaingan perdagangan internasional juga semakin ketat. Dengan demikian, pelaku usaha mesti jeli melihat ceruk dan peluang baru dalam rangka meningkatkan kinerjanya.

Kalangan wartawan media cetak, online, radio, fotografer, jurnalis TV, dan kameraman seperti biasa mengerumuni sumber berita setelah acara pembukaan. Para wartawan mewawancarai menteri keuangan setelah resmi membuka konferensi ini, untuk menanyakan dampak dari ekonomi global dan isu-isu lain berkaitan perkembangan yang cepat di bidang teknologi informasi.

Widya Shema tampak sedang bertanya dengan menteri keuangan, sedangkan wartawan lain menyimak, mencatat, dan merekam penjelasan dari pejabat penting itu. Sedangkan Elang Saja justru mencari seseorang diantara ratusan pengusaha lokal maupun asing yang menjadi peserta konferensi. Sementara itu, Wacana Pradipta dan Gomma meninggalkan gedung itu, setelah menteri keuangan membuka secara resmi acara tersebut.

Tak begitu lama, Elang Saja sudah menemukan sumber berita yang dicari. Ia sangat bersemangat menjalani tugas yang diberikan langsung dari Big Boss-nya, Rusli Atmaja, terkait investigasi kasus mega korupsi yang akan diungkap Koran Bongkar.

John Simon, pengusaha Amerika Serikat (AS), yang ditemui Elang Saja, sangat antusias setelah mendapat penjelasan latar belakang wawancara ini. Bahkan, John Simon mengajak Elang Saja untuk wawancaranya di kamar hotel yang disewanya. Hal ini untuk menjaga kerahasiaan, karena masalahnya top secret, sangat rahasia.

Mereka melangkah dengan hati-hati keluar dari ruang konferensi, agar tidak ada orang yang melhat. Sekitar 10 menit perjalanan, mereka sampai di kamar hotel. John Simon mengungkapkan apa adanya mengenai sejumlah proyek di dalam dan luar negeri yang dikerjakan perusahaan Wacana Pradipta dan Gomma berserta kolega lain.

John Simon mengetahui semua trik-trik jahat dan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) yang dilakukan Wacana Pradipta. Perusahaan multinasional milik John Simon pernah bekerjasama dengan Wacana Pradipta. Tapi dalam perjalanan bisnis, Wacana Pradipta mengecewakan John Simon. Wacana Pradipta ingin berbisnis dengan cara-cara ilegal dan kriminal.

John Simon juga mengungkapkan mega proyek yang penuh intrik dan aroma korupsi yang telah dikerjakan Wacana Pradipta. Info John Simon ini, sangat berarti bagi Elang Saja, karena cocok dengan yang sedang dilakukan investigasi oleh Koran Bongkar. Bahkan, John Simon mengungkapkan pula ada satu perusahaan Wacana Pradipta melakoni bisnis terlarang, narkoba, sebagai produsen sabu, dan sejenisnya di luar negeri. Elang Saja bergidik buku romanya mendengar seluruh info dari John Simon.

Elang Saja benar-benar tidak menyangka Wacana Pradipta yang diketahui adalah kakek dari Widya Shema, bahkan Gomma yang merupakan ayahnya Widya Shema, melakukan pekerjaan hina dan merusak masyarakat, khususnya para generasi milenial dengan sebaran narkoba.

Elang Saja minta waktu agar John Simon tidak segera kembali ke gedung konferensi, karena ingin membuat tulisan dari hasil wawanacara ini, dan segera mengirimkannya ke pemimpin redaksi Koran Bongkar. Cukup satu jam, Elang Saja sudah bisa mengirim data-data tersebut ke kantornya.

Kemudian John Simon meminta kepada Elang Saja untuk tidak bersamaan keluar dari kamar hotel, untuk mengantisipasi kemungkinan ada yang mengetahui pertemuan ini. Elang Saja lebih dulu keluar, dan menuju gedung konferensi lagi untuk melanjutkan tugas meliput.

Setengah jam kemudian, John Simon ingin keluar dari kamar hotel. Namun ketika pintu kamar baru dibuka setengah, tiga orang dari luar langsung mendorong John Simon. Pengusaha asal AS ini diminta duduk di pinggir tempat tidur dan tidak melakukan tindakan yang aneh-aneh. Tiga orang itu memakai helm dengan tangan masing-masing memegang pistol.

"Anda bisa bicara dengan bahasa Indonesia?" kata salah satu tamu tak diundang tersebut.

"Iya," jawab John Simon gemetar.

"Anda sudah banyak bicara dengan pemuda tadi, tentang bisnis Anda bersama Pak Wacana. Jangan berbohong, karena kami sudah menyadap pembicaraan Anda bersama anak muda itu," bentaknya.

"Iya, saya tidak mau berbohong."

"Bagus Anda gentelement. Siapa anak muda tadi?"

"Namanya saya tidak tahu. Dia jurnalis. Saya diminta untuk wawancara, ya, saya setuju," jawab John Simon polos.

Di tengah ketakutan yang mendalam, John Simon langsung teringat wajah istrinya, Neneng Salma, perempuan asal Cianjur, Jawa Barat, yang baru tiga tahun dinikahi. Kemudian wajah bayi laki-laki juga berkelebat di matanya. Anaknya yang baru seminggu lahir dari rahim Neneng Salma. John Simon seorang duda dengan tiga anak di AS, ketika hijrah ke Jakarta. Ia mualaf, baru saja masuk Islam waktu menikah dengan perempuan cantik dari Cianjur itu.

"Anda sudah mencemarkan nama baik bos kami, dengan wartawan lagi Anda bicaranya. Ini hadiah untuk Anda," dua tamu tak diundang yang sejak tadi diam memperhatikan, dengan cepat menyarangkan pukulannya berkali-kali.

John Simon berteriak kesakitan dengan mulut ditutup lakban.

"Satu lagi ini hadiah dari Bos Wacana untuk Anda yang nyinyir," kata tiga tamu tak diundang itu kompak. Mereka secara bergantian memuntahkan peluru dari pistol yang telah diredam, sehingga suara letusan tidak terdengar sama sekali, apalagi dari luar.

Tiga pelaku segera keluar dari kamar setelah melakukan eksekusi terhadap John Simon. Mereka sengaja meninggalkan John Simon begitu saja yang kini terbujur kaku dengan bersimbah darah.

Sementara itu, Elang Saja senang bukan main karena berhasil mendapatkan data-data dan fakta mengenai dugaan mega korupsi yang tenyata dilakukan Wacana Pradipta, Gomma, dan relasi bisnisnya dengan melibatkan oknum pejabat publik.

"Sayang, kamu dari mana aja. Nggak keliatan," sapa Widya Shema menghampiri Elang Saja yang baru masuk lagi ke lobi gedung konferensi.

"Tadi ada keperluan dikit. Udeh banyak sumber berita yang kamu wawancara. Banyak sumber berita di sini kan," senyum Elang Saja menyejukkan perasaan Widya Shema.

"Udah dong. Tadi doorstop menteri keuangan, wartawan lain juga ikut wawancara. Terus wawancara sama pengusaha nasional dan luar negeri. Juga pejabat setingkat dirjen (direktur jenderal) di beberapa kementerian. Banyak berita hari ini. Alhamdulillah," kata Widya Shema sambil memegangi lengan kanan Elang Saja dengan manja sekali. Doorstop adalah salah satu cara wartawan melakukan wawancara secara mendadak atau mencegat sumber berita di suatu tempat.

"Tumbenan, nih, kamu megangin lengan saya sampe lama dan kenceng begini.Ade ape, sih? Kangen terus, ye. Rindu berat, ye," canda Elang Saja.

"Iya, aku kangen terus. Hari ini maunya ingin bersama kamu, Sayang," ujar Widya Shema.

"Sayang, aku mau pergi jauh sekali" suaranya sengaja tidak dilanjutkan.

"Hah, kemane, Sayang? Mau liputan ke luar negeri tugas dari kantor? Ape pengen keliling dunia sama-sama orangtua kamu, Sayang?" lagi-lagi canda Elang Saja menyenangkan dan menyejukkan hati Widya Shema.

Widya Shema tidak menjawab. Ia hanya memandangi wajah Elang Saja. Ia hanya berharap momentum saat ini tidak cepat berlalu. Ia hanya ingin kebersamaan ini menjadi sesuatu yang bermakna. Ia ingin Elang Saja melamar dirinya. Ia hanya ingin cepat dinikahi dengan lelaki di hadapannya ini. Ia hanya ingin kedua orangtuanya menyetujui hubungannya dengan Elang Saja.

Tak terasa menjelang sholat Magrib, mereka masih meliput acara di gedung konferensi ini. Elang Saja segera mengajak Widya Shema ke tempat sholat yang disediakan panitia konferensi.

"Sayang, kalo udah nggak ada lagi liputan, kita makan malam dulu, ya, sebelum kamu ke kantor. Saya maju ngajak kamu makan di warteg di daerah Tebet. Menunya banyak pilihan dan enak banget. Banyak artis dan orang terkenal lain juga suka makan di warteg tersebut," kata Widya Shema setelah sholat Magrib berjamaah dengan peserta konferensi lainnya.

Elang Saja mengangguk sambil jalan berdampingan dengan Widya Shema menuju areal parkir mobil. Malam baru saja mulai bertugas menggantikan mitra kerjanya, sore hari yang sudah tenggelam ke peraduannya.

Widya Shema terkejut secara mendadak ketika langkahnya hampir mendekati mobilnya. Ia melihat dua orang mengacungkan pistol di balik mobil yang juga parkir. Mobil dua orang tak dikenal itu berada di seberang mobil Widya Shema. Ia dengan jelas melihat kedua orang itu memakai helm dan mengarahkan pistolnya ke Elang Saja yang menjadi target. Elang Saja tidak mengetahui sama sekali bahaya sedang mengancamnya.

Widya Shema serta-merta berbalik ke depan Elang Saja yang masih berdiri ingin membuka pintu kiri mobil. Ia ingin mendorong tubuh Elang Saja ke belakang agar terhindar dari ancaman pistol dua orang tersebut. Elang Saja merasa aneh karena dengan cepat dan tiba-tiba Widya Shema sudah berada di depannya.

Blassstsemburan peluru tak terbendung lagi menghantam Widya Shema. Dua pelaku itu juga mengarahkan lagi pistolnya dan menembak Elang Saja, namun meleset karena hanya mengenai kaki kanan Elang Saja yang sedang menolong Widya Shema terjatuh dengan bersimbah darah.

Suasana gaduh mendadak terjadi dan sekuriti yang sebenarnya banyak berjaga di setiap sudut, terutama di dalam gedung, langsung menolong Widya Shema dan Elang Saja. Sementara lima sekuriti dan tiga aparat dari pihak berwajib berhasil meringkus dua pelaku penembakan. Mereka mencegat dengan peralatan jalan yang biasanya dijadikan pembatas areal parkir, sehingga mobil pelaku penembakan tidak bisa keluar dari kawasan ini.

Pelaku penembakan akhirnya tidak dapat ke mana-mana. Kedua pelaku sempat menembak secara sembarangan ke arah sekuriti dan pihak berwajib. Tembakan tidak mengenai siapa pun. Sekuriti dan pihak berwajib membalas tembakan yang memecahkan kaca depan mobil pelaku. Situasi ini membuat pelaku terdesak dan akhirnya menyerah, setelah melihat banyak sekuriti dan aparat lain mengepung mobil pelaku.

Kondisi ini tidak mengganggu peserta konferensi, karena di dalam gedung belum diinformasikan adanya kasus penembakan. Pihak keamanan pun ekstra ketat menjaga suasana di dalam gedung konferensi. Hanya para wartawan dalam dan luar negeri dari media cetak, online, radio, fotografer, jurnalis TV, serta kameraman menghambur ke luar gedung menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Widya Shema dan Elang Saja sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan ambulans yang memang tersedia untuk kepentingan pelaksanaan konferensi. Para awak media hanya melihat dan mengambil foto dan merekam mobil ambulans yang cepat dikemudikan sopir.

Para awak media kemudian mendekati sekuriti dan pihak berwajib sedang memborgol pelaku penembakan. Pihak berwajib dengan sigap dan gerak cepat memasukkan pelaku penembakan ke dalam mobil khusus, dan dibawa untuk diinterogasi.

Media online danbreaking news dari beberapa TV sudah mengekspos peristiwa penembakan tersebut. Konten berita hampir senada dengan menulis judul antara lain, "Dua Wartawan Peliput Konferensi Ekonomi Global Ditembak", "Petugas Ringkus Penembak Dua Jurnalis", "Dua Wartawan Luka Parah Ditembak", Kondisi Dua Wartawan Kritis akibat Luka Tembak".

Tepat pukul 9 malam, pihak berwajib memberikan keterangan kepada media massa ikhwal penembakan yang terjadi beberapa jam lalu. Berita besar ini menjadi pusat perhatian masyarakat, karena bersamaan dengan konferensi ekonomi global yang banyak dihadiri orang penting dari dalam dan luar negeri.

"Selamat malam rekan-rekan media," kata kepala humas dari pihak berwajib.

"Malam, Ndan. Siap Komandan!" jawab para wartawan.

Kepala humas dari pihak berwajib menjelaskan kronologi peristiwa penembakan tersebut secara rinci berdasarkan keterangan saksi mata di TKP. Petugas yang berwajib di TKP dibantu sekuriti gedung konferensi cepat dan sigap berhasil membekuk dua pelaku penembakan.

"Tapi kami turut berduka-cita yang mendalam, karena satu jurnalis dari Mata TV, yakni Widya Shema tidak tertolong. Petugas dan saksi mata juga kawannya yang ikut membawa korban di ambulans menyatakan Widya Shema menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju rumah sakit," jelasnya.

"Maaf, Ndan, kawannya bagaimana?"

"Alhamdulillah, kawannya selamat dan dalam kondisi baik, sadar, sehingga bisa dimintai keterangannya. Dia hanya luka tembak di paha kanan, tertembus peluru, kini masih dalam perawatan intensif. Namanya Elang Saja, wartawan dari Koran Bongkar. Dia sekarang terkenal juga dengan sebutan Ustadz Ganteng," tutur kepala humas.

"Tindak lanjutnya bagaimana?" tanya wartawan dari Koran Bongkar, kawan sekantor Elang Saja.

"Apa motif dibelakangnya sehingga terjadi penembakan, Ndan." tanya wartawan lain.

"Orangtua korban apa sudah dihubungi?" selidik jurnalis Mata TV, kawan sekantor Widya Shema yang juga menyelak bertanya.

"Sabar, sabar, sabar, rekan-rekan wartawan. Sekarang saya menjelaskan data dan fakta yang baru kami peroleh. Karena kejadiannya juga baru sekitar satu jam lebih. Kami terus mendalami latar belakang peristiwa ini. Perkembangan selanjutnya, pasti kami beritahukan kepada rekan-rekan media. Sedangkan orangtua Widya Shema, sudah kami hubungi, tapi belum lengkap. Artinya, baru pihak ibunya yang kami temui. Ayahnya sampai saat ini belum bisa kami hubungi," jelas kepala humas itu lagi.

Tiba-tiba seorang petugas lain membawa secarik kertas dan menyodorkan kepada kepala humas tesebut untuk minta dibacakakan agar informasi ini disampaikan pula kepada media massa.

"Rekan-rekan media. Ini ada info lagi, apakah ada kaitan dengan penembakan dua wartawan tadi atau tidak, kami belum tahu. Tapi info ini patut diketahui pers."

"Apa itu, Komandan?" teriak rekan-rekan media serempak.

"Petugas hotel menemukan seorang pengusaha asing tewas di kamar hotel tempat ia menginap. Namanya John Simon. Peristiwanya diperkirakan sebelum penembakan terhadap dua wartawan tersebut terjadi. Petugas kami sudah mencari info di lapangan bahwa yang bersangkutan adalah peserta konferensi ekonomi global yang diselenggarakan di gedung konferensi. Penembakan dua wartawan itu kan terjadi di area parkiran gedung tersebut. Nah, apakah ini ada benang merahnya, kami belum bisa simpulkan. Jadi, kami akan selidiki lagi lebih dalam. Nanti akan kami beritahu selanjutnya kepada rekan media," ungkap kepala humas. [Bersambung;

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA