Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 27)

IN
Oleh inilahcom
Kamis 10 September 2020
share
 

KELUARGA besar, karyawan dari sejumlah perusahaan yang dikelola Gomma dan Wacana Padipta, teman-teman dari kalangan pers, tampak mengantar prosesi pemakaman jenazah Widya Shema. Namun, Gomma, Papanya Widya Shema, Wacana Pradipa serta Melati Warni, kakek-neneknya Widya Shema, tidak kelihatan dalam rombongan pengantar ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Tangerang Selatan. Hanya Sherly, Mamanya Widya Shema, masih terisak mengiringi kepergian putri tunggalnya.

Di sisi lain, Elang Saja masih berada di rumah sakit yang kini ditemani Reva Izni, sahabatnya yang juga kawan dekat Widya Shema. Reva Izni memang tidak ikut mengantar jenazah Widya Shema. Ia tidak kuat melihat sahabatnya yang akan dimasukkan ke dalam liang lahat, tempat peristirahatan yang terakhir. Lebih baik dirinya tidak ikut ke pemakaman daripada nanti jatuh pingsan, sehingga merepotkan pengantar lain.

Di rumah sakit tempat Elang Saja dirawat, penjagaan selain dari sekuriti setempat juga diperkuat oleh tim aparat penegak hukum lainnya. Mengingat kasus ini menjadi sorotan masyarakat luas, bahkan beritanya sudah menyebar ke luar negeri. Apalagi peristiwanya di tengah-tengah pelaksanaan konferensi ekonomi global yang dihadiri pengusaha asing dan lokal terkenal. Bahkan, salah satu peserta yang juga pengusaha asal Amerika Serikat, ada yang terbunuh di kamar hotelnya. Dua wartawan juga menjadi korban penembakan, salah satunya tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Ustadz Sahid dan KH Muhammad Ali Zulkarnaen, kedua ayah angkat Elang Saja, serta Wina Faiz, sahabatnya, datang ke rumah sakit. Mereka mengunjungi Elang Saja yang masih terbaring. Namun, kondisinya terus berangsur pulih dan sudah banyak memberikan informasi penting yang diperlukan pihak berwajib. Selain penjelasan kronologi penembakan dirinya dan Wiidya Shema, Elang Saja juga mengungkapkan hasil wawancaranya dengan John Simon yang juga tewas ditembak orang tidak dikenal.

"Ini sahabat saya, namanya Reva Izni, seorang dokter yang rajin ibadah," kata Elang Saja memperkenalkan Reva Izni. Dokter muda itu mengembangkan senyum kepada orang-orang terdekat Elang Saja, sambil mencium tangan.

"Ya, Allah, sembuhkanlah anakku sehingga kembali sehat dan dapat melakukan aktivitasnya," ujar Ustadz Sahid yang diamini oleh KH Muhammad Ali Zulkarnanen, Wina Faiz, dan Reva Izni.

"Aamiin yaa robbal aalamiin. Makasi, ye, doanya," kata Elang Saja.

"Lang, peristiwa penembakan kamu dan almarhumah Widya, juga pengusaha AS, John Simon sudah viral di akun yang kita kelola bersama," kata Wina Faiz.

"Ya, Allah, makasi, ye, Kak, infonye," jawab Elang Saja

"Koran Bongkar yang terbit hari ini, selain memuat berita utamanya peristiwa penembakan, juga secara lengkap mengekspos di halaman pertamanya berupa laporan investigasi mega korupsi yang melibatkan pengusaha terkenal Wacana Pradipta beserta anaknya, Gomma, dan kroni-kroni lainnya baik oknum di pemerintahan maupun di pihak swasta. Tulisan kamu paling banyak mendominasi dalam laporan investigasi tersebut. Bahkan, banjir komentar di koranbongkar.com yang menyatakan salut kepada kamu, karena hasil wawancara dengan John Simon dimuat juga, beberapa jam sebelum tewas ditembak di kamar hotel tempatnya menginap," jelas Wina Faiz agar Elang Saja selalu update mengetahui kondisi terakhir.

"Ya, Allah, alhamdulillah. Semua ini karena pertolongan dan perlindungan-Mu, ya, Allah," kata Elang Saja.

"Laporan investigasi itu sangat membantu penyelidikan pihak berwajib untuk mengungkap kasus besar ini, Lang," tambah Wina Faiz.

Ruang rawat Elang Saja, secara tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan big boss Rusli Atmaja, pemilik Koran Bongkar, para petinggi dan kawan-kawan dari kantor yang sengaja besuk tanpa diketahui Elang Saja.

"Bagaimana kondisi kamu sekarang, Lang? Sehat-sehat, ya," sapa Rusli Atmaja mewakili yang lain. Semua senyum dan memberi acungan jempol kanan kepada Elang Saja.

"Alhamdulillah. Sehat dan udeh baekan dikit, Pak. Makasi udeh sempetin ngejenguk saya," Elang Saja tersenyum sambil menatap satu per satu atasannya serta teman sejawatnya.

"Koran Bongkar mendapat apresiasi dari para petinggi negeri ini, Lang. Laporan investigasi mega korupsi terungkap. Masyarakat juga berterimakasih karena Koran Bongkar mampu mengungkap kasus besar korupsi yang sudah lama berlangsung. Begitu juga laporan penembakan kamu dan kekasih kamu, almarhumah Widya Shema, paling lengkap dan detail dimuat di Koran Bongkar," tutur Rusli Atmaja.

"Makasi, ye, Pak Rusli, infonye. Makasi juga buat Bang Najim yang selama ini membimbing dan ngarahin saya. Juga untuk temen-temen, makasi banyak atas kerja sama yang kompak dan solid selama ini," kata Elang Saja sambil sedikit meringis menahan sakit di paha kanannya. Reva Izni buru-buru memegang dan mengeceknya. Ia masih khawatir terhadap luka tembak tersebut. Atasan dan kawan-kawan sekantor Elang Saja mendadak mengalihkan perhatiannya kepada Reva Izni.

"Hm siapakah gerangan gadis cantik itu, Lang?" canda Bang Najim, Pemimpin Redaksi Koran Bongkar disambut derai tawa gembira dari yang lain.

"Oh, ini sahabat saya. Namanya Reva Izni, seorang dokter. Yang itu ayah angkat saya, Ustazd Sahid dan Pak Kiayi Muhammad Ali Zulkarnaen," jelas Elang Saja memperkenalkan.

"Sebelum kami kembali ke kantor, saya mau beri hadiah kepada kamu. Mana hadiah yang sudah kita siapkan," kata Rusli Atmaja melirik kepada Pemimpin Perusahaan Koran Bongkar.

Elang Saja melongo. Kebesaran dan pertolongan Allah SWT apalagi yang akan diperolehnya.

"Hadiahnya adalah Surat Keputusan pengangkatan kamu sebagai Redaktur Pelaksana Koran Bongkar, juga Redaktur Pelaksana koranbongkar.com. Kamu juga masuk dalam jajaran dewan redaksi di networking media kita lainnya, yakni di sejumlah TV berskala nasional, TV channel, serta jaringan radio yang kita miliki di pelosok daerah. Atas jabatan tersebut, otomatis gaji disesuaikan dan memperoleh fasilitas kendaraan operasional berupa mobil lengkap dengan sopirnya, dan tentunya perumahan yang representatif," jelas Rusli Atmaja.

"Ape itu nggak berlebihan? Ape saya udeh layak menempati jabatan baru itu, Pak?"

"Sangat layak dan saya sudah rapatkan dengan dewan direksi serta komisaris lain untuk pengangkatan jabatan itu, Lang. Terimalah," ujarnya.

"Ya, Allah. Alhamdulillah. Makasi, ye, Pak Rusli dan semuanye." jawab Elag Saja.

"Alhamdulillah. Selamat, ya, Lang," teriak kawan-kawan sejawatnya serentak. Ruang rawat ini semakin ramai dan diliputi kegembiraan. Kameramen dan fotografer terus mengabadikan momen ini.

"Siang ini juga kamu pindah kamar di ruang perawatan VIP. Jangan kamu tolak, ya. Ini insentif dari perusahaan. Saya sudah perintahkan pemimpin perusahaan untuk mengurusnya. Oke, Lang? Oke Pak Ustadz Ganteng" gurau Rusli Atmaja.

Semua yang hadir tertawa gembira. Semua menyambut suka-cita ini. Semua senang menyaksikan apresiasi yang diberikan kepada kinerja Elang Saja yang hampir merenggut nyawanya ketika menjalankan tugas kantor. Semua hepi.

"Ya, Allah. Alhammdulillah. Makasi lagi, ye, Pak Rusli dan semuanya," jawab Elang Saja.

Ruang rawat kembali sepi, setelah kedua ayah angkatnya, Ustadz Sahid dan KH Muhamad Ali Zulkarnaen, juga Wina Faiz, serta pimpinan dan teman-teman sejawat pulang. Hanya Reva Izni belum beranjak dari sisi Elang Saja.

"Kamu nggak kerja, Reva?" tanya Elang Saja setelah berpindah kamar VIP.

"Kebetulan lagi cuti seminggu. Biarkan saya menjaga kamu, ya. Para dokter di sini kebetulan juga banyak yang saya kenal. Malahan ada beberapa yang satu almamater," Reva Izni menatap dengan pandangan kasih sayang.

"O, gitu. Tapi kamu kan dari pagi, entar capek. Udeh istirahat aja manfaatin waktu cutinya," ujar Elang Saja. "Di sini ada suster yang tugas ngejagain pasien."

"Biarin saya nemenin kamu. Nanti kalo ada suster yang naksir kamu bagaimana?"

Elang Saja tersenyum, meski masih dalam suasana duka, sepeninggal Widya Shema. Suasana sepi lagi. Usai sholat Dzuhur di atas tempat tidur, sebelumnya Elang Saja melakukan tayamum untuk berwudhu. Setelah itu, ia makan siang. Reva Izini dengan senang hati menyuapi Elang Saja yang belum bisa duduk karena paha kanannya masih terasa sakit.

"Reva, saya mau tidur dulu, ye. Mata ngantuk banget," kata Elang Saja.

Reva Izni mengangguk. Elang Saja mulai tertidur. Kini sepi benar-benar menggelayut di batin Reva Izni. Ruang VIP yang luas, menambah terasa banget kesendirian Reva Izni.

"Saya akan jaga kamu, Lang. Sampai kapan pun, meski sekarang kamu pasti belum bisa melupakan Widya Shema, saya bersedia menunggu cintamu. Saya berharap kamu dapat mengisi kekosongan di hati aku ini," kata Reva Izni dalam hati.

Reva Izni sambil berdzikir, terus memandangi Elang Saja. Dirinya mengakui sejak pertamakali melihat Elang Saja, sebenanya sudah jatuh hati. Namun, suasana cintanya itu disimpan secara apik di kalbu paling dalam. Soalnya ketika itu, Elang Saja dan Widya Shema sudah menyatakan untuk melakukan taaruf. Artinya, dirinya tidak ingin mengusik kebahagiaan dua sahabatnya itu. Tapi kini, cintanya bersemi kembali dengan Elang Saja, setelah Widya Shema meninggal dunia.

Setelah seminggu berlalu dari peristiwa penembakan Elang Saja, Widya Shema, dan John Simon, pihak berwajib kembali membuat rilis terbaru dengan mengundang insan media. Para wartawan cetak, online, radio, jurnalis TV, fotografer, dan kameramen TV, sejak pukul 9 pagi sudah memenuhi ruangan jumpa pers. Pihak Humas baru memulai pukul 11 siang, mengingat para petinggi dari pihak berwajib melakukan rapat khusus dengan tim yang menangani kasus penembakan.

Pihak Humas dari aparat yang berwajib menjelaskan, dari pengembangan penyelidikan dua pelaku penembakan yang tertangkap dan kini berstatus tersangka. Mereka mengungkapkan mendapat order dari Ray, pemilik organisasi ilegal yang siap menyediakan jasa sebagai pembunuh bayaran. Ray juga memiliki networking di Asia yang profesional dan terkenal sadis setiap menjalankan aksinya. Di Jakarta, Ray memiliki personil dalam jumlah lumayan banyak.

"Dari pengakuan dan penjelasan dua pelaku, petugas kami bergerak cepat ke Singapura dan berhasil menggerebek Ray di kamar hotel bersama empat anak buahnya. Petugas kami dibantu aparat hukum setempat berhasil meringkus Ray dan anak buahnya," jelas kepala humas dari pihak berwajib.

"Ada kontak senjata apa nggak, Pak," sela satu wartawan.

"Ya, terjadi kontak senjata. Petugas kami lebih cerdas dan profesional, sehingga selamat semua. Dari mereka, ada dua orang tewas. Sedangkan Ray dan dua anak buahnya yang lain, luka parah."

"Tembak-menembak terjadi di dalam atau di luar kamar?" timpal wartawan asing yang sudah fasih bicara bahasa Indonesia.

"Saat penggerebekan, berarti di depan kamar hotel sudah terjadi kontak senjata. Ketika petugas kami mengetuk pintu kamar, dari dalam Ray serta anak buahnya sudah melepaskan tembakan. Tapi, sekali lagi petugas kami sudah mengantisipasinya, sehingga mereka dengan mudah dapat diatasi dan dibekuk," jelasnya.

"Ray serta dua anak buahnya yang luka parah, apa langsung dibawa ke Jakarta?" tanya wartawan dari radio terkenal.

"Benar. Tapi setelah tiba di rumah sakit, Ray dan satu anak buahnya meninggal dunia. Jadi satu lagi anak buahnya yang masih hidup dengan luka para. Saat ini masih dirawat di rumah sakit," jawab kepala humas itu.

"Siapa dalang di balik aksi semua ini, Pak?"

"Sabar, sabar, sabar. Kami terus menyelidiki lebih lanjut. Kabar terbaru, ada tiga orang sudah kita laporkan ke pihak Imigrasi dan Kementerian Luar Negeri untuk minta bantuannya sesuai kapasitas masing-masing. Karena ketiga orang tersebut kami ketehaui sudah di luar negeri. Kami juga sudah bekerjasama dengan pihak Interpol," ungkapnya.

"Bisa beritahu inisial dari nama ketiga orang tersebut?" tanya wartawan lain.

"Tadi saya bilang sabar. Setiap ada perkembangan baru, kita ketemu lagi di ruangan ini. Oke, kalau nggak ada yang bertanya lagi, saya tutup jumpa pers ini. Terimakasih atas kerjasamanya," kepala humas menutup acara ini.

Aparat penegak hukum terus memburu aktor utama dari peristiwa penembakan yang terjadi. Sementara itu, Lembaga Anti Rasuah juga sedang memburu dua pengusaha terkenal bersama kroninya yang diduga melakukan mega korupsi dari berbagai proyek yang bekerjasama dengan oknum pejabat publik, serta beberapa perantara yang selalu berperan memuluskan mega proyek bernilai puluhan triliun rupiah.

Perburuan dari dua lembaga penegak hukum tersebut ternyata sama. Mereka mengarah kepada Wacana Pradipta, Melati Warni (istri Wacana Pradipa), dan Gomma (anak Wacana Pradipta-Melati Warni) untuk kasus penembakan. Sedangkan untuk kasus mega korupsi juga mengerucut ke nama Wacana Pradipta, Gomma, tiga koleganya, dan lima oknum pejabat publik.

Beberapa hari sebelum terjadi penembakan, Maminya Goma, Melati Warni, ternyata sudah meninggalkan Indonesia menuju Paris, Perancis, untuk berlibur. Dengan demikian, ketika penembakan yang menewaskan Widaya Shema, cucunya itu, dirinya tidak berada di Jakarta.

Melati Warni hanya diberitahu melalui telepon oleh Wacana Pradipta dan Gomma. Tertangkapnya dua pelaku penembakan, juga membuat Melati Warni semakin enggan kembali ke rumah, meski cucunya yang menjadi korban.

Melati Warni mempunyai feeling pihak berwajib akan meminta keterangan terkait kasus penembakan tersebut. Soalnya, dirinya mengetahui dan bagian dari perencana penembakan bersama Wacana Pradipta dan Gomma untuk membunuh Elang Saja. Sejatinya, rencana penembakan hanya ditujukan kepada Elang Saja. Tapi malahan Widya Shema yang menjadi korban penembakan hingga tewas.

Gomma baru tiba beberapa jam di Paris, Perancis, setelah berpindah tempat dari satu negara ke negara lain dalam pesembunyiannya. Ia merasa kesepian sendiri, sehingga ingin menyusul Maminya yang sudah berada di negeri mode itu.

Namun, perasaan kecewa, kesal, kaget, mau marah-marah tidak bisa, ketika melihat situasi dan kondisi di apartemen mewah Maminya. Gomma melihat banyak pihak berwajib setempat dan penghuni apartemen berkerumum di depan kamar yang ditempat Melati Warni. Petugas medis dan ambulans sedang memasukkan dua kantong jenazah ke dalam mobil yang kemudian dibawa ke rumah sakit.

Gomma dengan perasaan was-was mencoba mencari tahu kepada petugas keamanan apartemen. Pihak sekuriti menjelaskan ada seorang wanita paruh baya dan anak muda tewas di kamarnya. Diperkirakan sudah tiga hari, kedua orang tersebut tidak bernyawa lagi.

Gomma kemudian mencari info lagi ke pihak pengelola apartemen yang menjelaskan, mayat perempuan paruh baya itu bernama Melati Warni. Sedangkan mayat pemuda yang bersama Melati Warni, diduga gigolo. Dugaan tersebut berdasarkan barang bukti yang ditemukan di dalam kamar, keduanya tanpa busana, ada bercak sperma di atas sprei, tiga alat kontrasepsi semacam kondom, dua kotak kondom yang masih utuh, serta tiga botol minuman beralkohol berkualitas tinggi yang habis diminum.

Gomma lemas mendengar keterangan tersebut. Air matanya baru kali ini menetes tak mampu ditahan. Gomma sangat terpukul batinya. Wajahnya pucat. Ia berupaya bertahan agar tidak jatuh pingsan. Seluruh urat syarafnya menegang, pikirannya kacau dan galau melilit kepalanya.

Tewasnya Widya Shema, anak kesayangnnya, juga masih mengharu-biru. Kini melihat kenyatan Maminya, tewas bersama teman kencannya, seorang pemuda. Sementara Wacana Pradipta, Papinya, tidak diketahui karena masing-masing bersembunyi agar bebas dari kejaran aparat penegak hukum.

Gomma dengan sangat terpaksa meninggalkan apartemen milik orangtunya itu. Ia mengambil keputusan untuk tidak mengurus jenazah Maminya, karena khawatir ada petugas penegak hukum dari Indonesia mengetahui keberadaannya.

Langkah Gomma gontai menuju taksi di parkiran apartemen untu minta diantar ke salah satu hotel mewah di kawasan wisata yang terkenal di Paris. Ditengah situasi dan kondisi saat ini, ia hanya ditemani oleh musim dingin yang menusuk tulang. Gomma kini hanya ditemani kesedihan dan kepedihan yang tiada akhir. Stres berat merasuki diri Gomma.

Ketika malam datang menyapanya, Gomma masih berdiri di depan jendela kamar hotel. Ia membuka pelan-pelan hingga terbuka lebar. Dirinya sudah tidak mampu lagi melihat dan menikmati keindahan malam di jantung kota Paris, dari lantai 40 hotel berkelas ini.

Dari hari ke hari, Gomma hanya mengurung diri, tidak berani keluar hotel. Ia takut aparat penegak hukum dari Indonesia menangkap dirinya. Ia hanya berani sebentar turun ke lobi atau resto yang disediakan hotel. Setelah itu, ia cepat-cepat kembali ke kamar hotel. Gomma juga putus asa karena tidak bisa menghubungi relasi yang selama ini bekerjasama. Ketika ia menghubungi melalui ponselnya, kawan-kawan bisnisnya tidak ada yang merespon. Soalnya, mereka mengetahui Gomma saat ini sedang menjadi burunon Interpol.

Benar saja, ketika senja baru mulai turun memayungi kota Paris, kamar Gomma diketuk pelayan. Gomma mengintip dari pintu kamar, memang pelayan hotel yang datang. Tapi ia merasa aneh, karena tidak meminta jasa pelayanan hotel, justru datang.

Gomma akhirnya membuka pintu perlahan, dan bersamaan dengan itu, tiga petugas Interpol segera masuk. Gomma hanya pasrah ketika tangannya diborgol petugas. Tak berapa lama, aparat penegak hukum dari Indonesia, masuk ke kamar Gomma. Mereka langsung menggelandang Gomma, dan memasukkan ke mobil menuju bandara untuk diterbangkan ke Indonesia.

Sementara itu, pelarian Wacana Pradipta belum terlacak. Ia ternyata berada di Jepang, sudah empat hari sembunyi di rumah istri ketiganya, Mayumi Otada, yang dikarunia satu anak laki-laki dan satu perempuan. Kedua anak yang berusia empat tahun dan lima tahun, itu tumbuh sehat dengan wajah campuran Indonesia-Jepang. Anak yang pria berwajah ganteng, dan yang perempuan berparas cantik.

Mayumi Otada tidak curiga sama sekali mengenai kaburnya Wacana Pradipta dari Indonesia karena terlibat sejumlah kasus korupsi dan kriminal. Wajah polosnya tampak dari pelayanan yang diberikan kepada suaminya yang sudah enam bulan baru datang lagi ke Jepang.

Sebelum sampai di Jepang, Wacana Pradipta meninggalkan Tanah air, setelah beberapa jam pihak aparat berwajib mengungkapkan bahwa dua pelaku penembakan sudah ditangkap.

Wacana Pradipta berangkat dari Manado menuju Singapura, sebelum ada pencekalan terhadap dirinya. Ketika sedang melihat lahan yang luas untuk disulap menjadi kawasan industri, ia mendapat info dari Ray bahwa anak buahnya ditangkap aparat berwajib setelah eksekusi penembakan.

Dari Singapura ia berpindah ke London, ke China, dan akhirnya ke Jepang. Wacana Pradipta bersama Gomma memang sudah merencanakan skenario ini, jika anak buah Ray tertangkap dalam aksinya, maka mereka akan pergi ke luar negeri. Bahkan, sudah berniat lebih jauh lagi dengan melakukan face out (operasi wajah) agar tidak dikenali petugas.

Pagi hari, sekitar pukul 6.30-an waktu Jepang, suasana di rumah Wacana Pradipta di negeri sakura, itu masih diselimuti embun tebal. Hawa dingin menjadi alasan bagi dirinya untuk bermalas-malasan bersama Mayumi Otada serta dua anaknya yang masihimut-imut.

Wacana Pradipta sudah berencana akan pergi ke Swiss nanti malam, setelah tiga hari di Jepang. Wacana sudah bilang kepada Mayumi Otada, wanita Jepang yang setia menjadi istrinya. Bagi Mayumi Otada kondisi seperti ini tidak asing lagi. Berbulan-bulan baru dikunjungi Wacana Pradipta.

Wacana Pradipta dan Mayumi Otada masih asyik berdiskusi sambil bercanda, bermanja, dan saling menumpahkan rasa kangen. Namun, mereka tidak menyadari, di luar rumah, tiga orang aparat penegak hukum dari Indonesia dibantu aparat berwajib dari Jepang serta sekuriti setempat siap menggerebek dan menangkap Wacana Pradipta sebagai "buronan kakap" yang sedang dicari-cari.

Para petugas itu mengetuk pintu rumah dengan sapaan ala Jepang yang terkenal sangat sopan santun. Wacana Pradipta mencurigai ada sesuatu yang tidak kondusif di luar rumah. Ia bangkit dari tempat tidur dan meminta Mayumi Otada tidak keluar dari kamar. Sementara kedua anak mereka masih tidur di kamar sebelah.

Wacana Pradipta pelan-pelan keluar kamar sambil memegang pistol. Ia mengintip ke tirai jendela, kemudian menutup kembali. Ia mundur dan mengarah ke pintu belakang rumah. Baginya situasi ini tidak kondusif. Wacana Pradipta mengambil keputusan untuk kabur. Ia berlari cepat.

Strategi sejumlah aparat penegak hukum yang berbagi tugas, berhasil memergoki Wacana Pradipta yang sudah berlari dari pintu belakang rumah. Saling kejar pun tejadi seru. Petugas memberi peringatan dengan meletuskan pistol ke atas. Wacana Pradipta tidak menghiraukannya. Bahkan, ia menembak ke arah aparat penegak hukum. Petugas kembali meletuskan pistol ke atas hingga tiga kali sebagai tanda peringatan terakkhir. Namun, Wacana Pradipta tetap fokus berlari kencang. Ia tetap tidak peduli dengan kondisi pisiknya yang sudah mulai menua. Hanya nafasnya saja yang mulai terengah-engah.

Akhirnya aparat penegak hukum terpaksa mengarahkan tembakannya ke Wacana Pradipta. Pistol dari dua petugas itu bersarang di paha kiri dan kanan Wacana Pradipta. Tubuhnya terjerembab, jatuh, dengan darah keluar. Wacana Pradipta mengerang kesakitan.

Petugas segera menghampiri Wacana Pradipta sekaligus memborgol. Petugas medis yang memang disertakan dalam penangkapan ini, memasukkan Wacana Pradipta ke mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

Keesokan harinya, Wacana Pradipta diterbangkan ke Indonesia bersama aparat penegak hukum. Wacana Pradipta hanya ditolong secara medis seadanya, mengingat dirinya harus segera dibawa pulang ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.

Kasus penembakan yang ironisnya menewaskan cucunya sendiri, Widya Shema dan mantan kolega bisnisnya, John Simon, pengusaha asal AS, serta kasus mega korupsi, sudah siap menanti, menjerat dan membawa Wacana Pradipta ke hotel prodeo. Ia bisa terancam dengan hukuman penjara dalam waktu lama, bahkan mungkin hukuman seumur hidup. Pasal-pasal pidana yang berlapis sudah melingkari dirinya.

Selain bakal menjalani proses hukum, penderitaan Wacana Pradipta juga bertambah lengkap dengan diamputasi kedua paha kanan-kirinya. Dokter terpaksa mengambil tindakan tersebut, mengingat tulang kedua paha Wacana Pradipta remuk ketika diterjang timah panas aparat penegak hukum. Jika tidak diamputasi akan membahayakan Wacana Pradipta. Bisa menimbulkan pembusukan dan berdampak negatif kepada tubuhnya yang lain.

Wacana Pradipta kini hanya bisa merenungi nasibnya. Ia menghuni kamar penjara di kawasan Jakarta Timur sebagai tahanan yang dititipkan sementara selama proses hukum berjalan. Nasib serupa juga menimpa Gomma yang dalam keadaan stres berat, labil, dan mengarah ke penyakit gangguan jiwa. Ia menempati kamar berbeda, tapi di lembaga pemasyarakatan yang sama dengan Wacana Pradipta.

Ironisnya pula, Wacana Pradipta dan Gomma tidak mampu menyewa pengacara beken yang profesional, karena semua harta bendanya habis disita aparat penegak hukum.

Maya, istri kedua yang tinggal di Jakarta, dan Mayumi Otada, istri ketiga di Jepang, sudah tidak mau peduli lagi dengan Wacana Pradipta. Mereka malahan sekarang sedang membuat strategi untuk memperhitungan hak-haknya dari aset Wacana Pradita yang tersisa, setelah disita petugas negara.

Bahkan, Maya enggan untuk menjenguk Wacana Pradipta. Ia lebih fokus mengurus Gerry, anaknya yang telah divonis hakim dengan hukuman 20 tahun hidup di penjara. Ia diganjar karena kasus penculikan terhadap Widya Shema dan bandar narkoba.

Maya dan Mayumi Otada melalui pengacara masing-masing mengajukan hak-haknya ke pengadilan agama untuk memperoleh sisa harta-benda dari Wacana Pradipta. Belakangan dikabarkan pula, tiga orang istri siri lain Wacana Pradipta juga meminta uang kompensasi dari bagian harta benda Wacana Pradipta. Mereka memang menyadari tidak bisa sepenuhnya untuk mendapatkan hak tersebut, karena statusnya kawin siri.

Sedangkan di pihak istri Gomma, Sherly, tidak terlalu mempermasalahkan soal harta benda suaminya. Sherly adalah anak konglomerat di bisnis properti, sehingga sejak kecil sudah menikmati harta yang melimpah. Hanya, tiba-tiba dua orang wanita muda, datang menemui Sherly yang mengaku istri siri dari Gomma. Dari dua istri siri itu melahirkan anak masing-masing dua orang yang masih kecil. Hal ini sangat menampar dan membuat kesedihan bagi Sherly, yang ternyata Gomma menghianati cinta sucinya selama ini.

Sementara itu, Elang Saja tidak mengetahui sesungguhnya juga berhak atas harta benda dari keluarga kaya-raya tersebut. Kabut rahasia asal-usulnya hingga kini masih terbenam di dasar laut paling dalam. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA