Novel Karya Isfendi Zulkarnaen

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 28)

IN
Oleh inilahcom
Jumat 11 September 2020
share
 

DUA bulan berselang, majelis hakim dalam persidangan terakhirnya memberi hukuman seumur hidup kepada Wacana Pradipta dan Gomma atas tindakan kriminal dan terbukti melakukan pembunuhan berencana, serta mega korupsi yang sangat merugikan rakyat dan negara. Media massa membuat berita utama mengenai vonis hakim tersebut.

Media massa membuat judul berita yang beragam antara lain, "Seorang Pengusaha Besar Terlibat Korupsi Triliunan Rupiah dan Aktor Intelektual Pembunuhan Sadis, Divonis Seumur Hidup", "Bapak dan Anak Konglomerat yang Korup Sekaligus Dalang Pembunuhan, Di Bui Seumur Hidup", "Koruptor Kelas Kakap dan Terlibat Pembunuhan Berencana, Di Penjara Seumur Hidup."

Disaat-saat menjalani kehidupan di penjara, terutama ketika malam hari, perasaan menyesal silih berganti menembus dinding kalbu Wacana Pradita juga Gomma. Seperti malam ini hujan lebat mengguyur Jakarta. Wacana Pradipta merenungi nasibnya, tanpa air mata lagi karena sudah terlalu sering dirinya menangis hampir setiap saat.

Mata dan pikirannya sedang menangkap perjalanan hidupnya yang berwarna-warni. Kehancuran emperium kerajaan bisnisnya, reputasinya yang terjun bebas ke jurang terdalam, harga dirinya yang selalu dibangga-banggakan berakhir babak-belur, hingga harta benda hasil korupsi ludes disita penegak hukum. Aset yang tersisa tidak seberapa banyak, yang kini diperbutkan oleh para istri sah dan istri sirinya.

Wacana Pradipta sudah tidak memperdulikan lagi semua hal tersebut. Ia pasrah menerima realitas kehidupannya yang porak-poranda dan menjadi debu. Hukuman sosial juga menerpa, karena para rekan bisnisnya di dalam negeri maupun di mancanegara, seolah membuang dirinya bersama Gomma ke tempat sampah. Benar-benar tidak berarti lagi. Namun, semuanya itu, kini menjadi beban hidup yang harus mereka jalani.

Hanya ada satu masalah yang hingga kini masih tersimpan apik di sanubari Wacana Pradipta. Ya, masalah Elang Saja! Dirinya masih ragu-ragu untuk menyadari perbuatan masa lalunya. Wacana Pradipta dalam hatinya masih betanya-tanya, apakah dalam diri Elag Saja mengalir dari benihnya, atau dari benih Gomma.

"Elang? Nama anak itu, begitu, ya? Oh, lengkapnya Elang Saja," tiba-tiba Wacana Pradipta menyebut Elang Saja.

Wacana Pradipta tercenung. Diam. Sepi dalam kamar tahanan, membuat pikirannya semakin mengingat masa lalu. Ketika Pelangi sebagai asisten rumah tangga baru beberapa hari bekerja di rumah Wacana Pradipta. Pelangi dibawa ibunya yang juga menjadi asisten rumah tangga di rumah mewah milik Wacana Pradipta.

Kecantikan, kemolekan Pelangi yang bertubuh sintal ini, membuat Wacana Pradipta menyimpan niat jelek. Pelangi, gadis desa yang masih usai 16 tahun, sangat sopan, tidak centil, tidakgenit atau bertingkah negatif. Malahan kecantikan wajahnya ditutupi oleh hijab yang dipakainya.

Malam itu, Wacana Pradipta keluar dari kamar tidurnya. Ia perlahan-lahan masuk ke kamar Pelangi yang memang disediakan satu kamar. Sementara ibunya Pelangi diberikan satu kamar lain. Di malam itulah, Wacana Pradipta dengan ancamannya, untuk pertamakali melampiaskan nafsu jahanamnya kepada Pelangi. Bahkan, perbuatan keji itu berulang-ulang. Pelangi tidak bisa berbuat apa-apa, karena ancaman mau dibunuh jika memberitahukan kepada siapa pun. Gadis desa yang cantik ini, sangat ketakutan hingga ia juga tidak mampu mengadukan hal ini kepada ibunya.

Parahnya, Gomma melakukan hal yang sama kepada Pelangi seperti dilakukan Wacana Pradipta. Ketidakberdayaan Pelangi terjadi karena juga ancaman Gomma yang serius akan membunuh, jika Pelangi mengungkapkan rahasia ini. Gomma menaburkan nafsu bejadnya berkali-kali hingga akhirnya Pelangi hamil. Itulah sejarah kelam masa lalu yang setiap saat berkelebat di mata dan pikiran Wacana Pradipta maupun di benak Gomma.

Info paling baru, Wacana Pradipta di dalam penjara, setiap hari secara tidak sadar selalu memanggil-manggil nama Elang Saja. Wacana Pradipta juga setiap hari mengeluhkkan kedua pahanya sampai diamputasi. Lengkaplah penderitaan Wacana Pradipta yang harus dijalaninya.

Di sisi lain, akhirnya Gomma dibebaskan demi hukum dan kemanusiaan, karena menderita penyakit lupa ingatan alias gila permanen. Itu sebabnya, pihak lembaga pemasyarakatan membawa Gomma ke rumah sakit jiwa. Sedangkan Sherly, istri Gomma, menggugat cerai dan Pengadilan Agama telah resmi memutuskannya.

Kabar lainnya adalah Yan Ganda bersama anak buahnya juga sudah ditangkap. Mereka divonis masing-masinng 20 tahun penjara. Mereka adalah "kaki tangan" Wacana Pradipta yang menewaskan Pelangi dan ibunya dengan cara sadis, yakni tabrak lari. Mereka juga yang membuat ayah angkat Elang Saja, Ustadz Sahid, menjadi kehilangan kedua pahanya akibat ditabrak lari pula. Mereka juga digunakan oleh Wacana Pradipta untuk melakukan percobaan pembunuhan terhadap Elang Saja sejak dari bayi.

Sementara perebutan harta-benda milik Wacana Pradipta maupun harta-benda Gomma oleh para istri sah dan beberapa istri sirinya, semakin memanas di pengadilan. Bahkan di luar pengadilan, pihak yang berseteru itu saling mengancam untuk membunuh. Ironi memang.

Di tengah kekisruhan yang melilit keluarga besar Wacana Pradipta dan Gomma, hal berbeda dialami Elang Saja. Kinerja Elang Saja semakin bersinar. Di bidang jurnalistik, karir Elang Saja melesat bak meteor menjulang ke langit.

Di panggung dakwah, Elang Saja juga cemerlang dan kian terkenal tidak saja di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Ustadz Ganteng itu banyak mendapat undangan dari luar negeri untuk ceramah dan menjadi pembicara seminar yang mensyiarkan Agama Islam.

Elang Saja selalu rendah hati dan tidak lupa diri setelah menerima kemudahan dan kesuksesan dari Allah SWT. Malahan bagi dirinya hal ini merupakan ujian berat yang harus dilakoni dengan bijak. Elang Saja mengikuti dengan ikhlas alur kehidupan yang diberikan Allah SWT, disertai upaya kerja keras yang maksimal. Ia berusaha menjalani hidup dengan kejujuran tanpa basa-basi, dan tanpa polesan kepalsuan. [Bersambung]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA