Jalani Hidup dengan Keyakinan akan Indahnya Takdir

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Rabu 16 September 2020
share
 

TIDAK satupun manusia yang mampu menentukan secara persis jalan hidupnya, apa dan bagaimana kisah yang harus dijalaninya. Oleh karena itu, banyak sekali yang terjadi dalam hidup ini yang tidak sesuai dengan harapan diri. Ini membuktikan bahwa ada Dzat Yang Mahahadir dan Mahakuasa yang menetapkan dan mengatur semuanya. Ketundukan kepadaNya dan sikap ridla akan ketentuanNya adalah jalan tercepat dan terbaik menuju jalan hidup terbaik.

Sering kesedihan dan kegalauan hadir dalam hidup kita. Sesuatu yang tak diharap ternyata hadir, sementara yang diharap akan membahagiakan malah pergi menjauh. Apakah marah, mengeluh dan mengamuk adalah jalan keluar? Rupanya bukan. Mau marah kepada siapa dan mau mengeluh kepada siapa? Hal ini justru semakin membuat runyam masalah. Lalu apa yang harus kita lakukan? Menarik kalau kita cermati dawuh sang guru hati tentang hal ini.

Sang guru hati pernah berkata: "Anakku, yang terjadi padamu itu adalah yang terbaik untukmu walau kamu tak suka akan hal yang terjadi itu." Kalimatnya pendek, namun panjang uraiannya. Masuk akal jika akal kita tak tertutupi awan gelap nafsu dan ketamakan. Kata guru hati, jika kita meyakini hal ini dan menjadikannya sebagai prinsip hidup, maka kita akan termasuk orang yang baik sangka kepada Allah yang pada gilirannya akan pasti ditolong dan dibahagiakan oleh Allah.

Di lain waktu dan di lain tempat guru hati menyatakan hal yang sama dalam kalimat yang relatif berbeda. Sambil menganyam tikar untuk para tamu yang hadir ke gubuk beliau, beliau tersenyum dan berkata: "Kita setiap waktu harus menganyam hati kita bagai tikar ini agar hati kita bisa tertata indah dan bisa bermanfaat. Anakku, menganyam hati itu adalah dengan istiqamah mengaji dan mengkaji, lalu berdzikir dan berdoa. Mengapa harus istiqamah? Hidup ini penuh ujian. Kalau kamu istiqamah dalam kebaikan, yakinlah bahwa ujian yang kamu tak suka justru itulah yang biasanya mengantarkanmu menuju bahagia."

Saya tersentak kaget dan kagum dengan kalimat indah itu. Saya tak berkomentar, air mata menetes mengingat diri ini terlalu sering ptotes akan takdir Allah. Guru hati mendekat dan merangkul saya sambil berbisik: "....." Bisikannya, maaf, belum bisa saya share saat ini. Lalu, beliau meminta saya memijat pundak dan kaki beliau. Saya senang dan menyambutnya dengan bahagia kehormatan melayani beliau. Bisakah kita mengamalkan dua kalimat di atas? Salam, AIM, Sang murid yang haus ilmu dan hikmah. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA