Menafsirkan Al-Quran Tanpa Ilmu, Hukumnya?

IN
Oleh inilahcom
Rabu 28 Oktober 2020
share
 

Menafsirkan al-Quranul-Karim dengan sekadar akal dan tanpa dilandasi oleh ilmu adalah perbuatan yang haram. Barangsiapa yang berkata tentang al-Quran dengan akalnya maka dia telah memaksakan sesuatu yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya dan tidak menapaki jalan yang telah diperintahkan untuknya.

Jika tafsirnya tersebut ternyata kebetulan benar, maka dia tetap telah melakukan kesalahan, karena dia tidak memasuki perkara tafsir ini dari pintunya. Maka, bagaimana lagi jika tafsirnya tersebut ternyata salah dan justru bertentangan dengan syariat?

Abu Bakr radhiyallahu anhu, orang yang paling mulia dari kalangan umat ini setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, berkata,

"Bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku berkata tentang Kitabullah sesuatu yang aku tidak tahu?"

Demikian pula Ibn Abbas radhiyallahu anhuma. Walaupun beliau adalah mufassir umat ini dan telah didoakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk bisa menguasai tafsir al-Quran, beliau tetap menahan diri untuk berkata sesuatu tentang al-Quran jika hal itu tidak dilandasi oleh ilmu. Ibn Abi Mulaikah rahimahullah berkata,

{ } : { } : : .

"Seseorang bertanya kepada Ibn Abbas tentang ayat, Satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun. Maka Ibn Abbas berkata kepadanya: Ada apa dengan ayat tersebut, Satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun? Orang tersebut berkata: Aku bertanya kepadamu agar kamu menjelaskan ayat tersebut kepadaku. Maka Ibn Abbas berkata: Ini adalah dua hari yang Allah sebutkan di Kitab-Nya, dan Allah lebih mengetahui tentang kedua hari tersebut. Dan aku benci untuk berkata tentang Kitabullah dengan sesuatu yang aku tidak tahu."

Baca Juga: Tafsir Ayat Tentang "Pohon Kurma"?

Adapun perkataan para salaf bahwa mereka tidak berbicara sama sekali tentang tafsir, maka yang dimaksud adalah perkataan yang tidak didasari oleh ilmu. Malik rahimahullah berkata,

: .

"Dari Yahya ibn Said, dari Said ibn al-Musayyib, bahwa jika beliau ditanya tentang tafsir sebuah ayat al-Quran, maka beliau menjawab: Sesungguhnya kami tidak berbicara apapun sama sekali mengenai al-Quran."

Ibn Syaudzab rahimahullah berkata,

: .

"Yazid ibn Abi Yazid berkata kepadaku: Kami bertanya kepada Said ibn al-Musayyib tentang halal dan haram, di mana beliau adalah orang yang paling berilmu. Akan tetapi ketika kami bertanya kepadanya tentang tafsir ayat al-Quran, maka beliau diam seolah tidak mendengar sama sekali."

Sikap Said ibn al-Musayyib rahimahullah ini adalah seolah-olah beliau tidak mau berbicara tentang al-Quran sama sekali secara mutlak. Akan tetapi, sebuah riwayat dari al-Laits rahimahullah menjelaskan sikap beliau dengan lebih utuh,

.

"Dari Yahya ibn Said, dari Said ibn al-Musayyib, bahwa beliau tidak berbicara apapun sama sekali kecuali tentang sesuatu yang telah diilmui dari al-Quran."

Hal ini sejalan dengan perintah syariat bagi kita untuk tidak menyembunyikan ilmu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala,

"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." [Surat Ali Imran: 187]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

.

"Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu kemudian dia menyembunyikannya, maka dia akan dikekang pada hari kiamat dengan tali kekang dari neraka." [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidziy]

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk bersikap pertengahan. Tidak boleh bagi kita untuk berbicara tentang al-Quran tanpa ilmu. Tetapi, jika kita sudah mengetahui ilmunya, maka tidak boleh bagi kita untuk menyembunyikannya. Wajib bagi kita untuk menyampaikan dan mendakwahkan ilmu tersebut, terlebih ketika umat sangat membutuhkannya di tengah banyaknya orang yang berani berbicara tentang tafsir dengan sekadar akalnya tanpa dilandasi oleh ilmu

Sumber: Muslim.or.id

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA