Demonstran Gelar Aksi Tidur di Depan Kantor ASEAN

RS
Oleh Renny Sundayani
Minggu 08 Mei 2011
share
Foto: Ist

INILAH.COM, Jakarta - Puluhan demonstran yang tergabung dalam Indonesian People's Action on ASEAN (IPA-A), menggelar aksi tidur di depan Kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta, Minggu (8/5/2011).

Aksi tidur di jalanan di depan kantor ASEAN, bertujuan untuk menentang, disusupinya proses integritas negara-negara peserta ASEAN, oleh negara-negara maju.

Selain aksi tidur dijalan,para demonstrans juga memegang huruf-huruf spanduk bertuliskan "No To Neolib in ASEAN", pada tiap-tiap peserta demo, dan berteriak-teriak No To Neolib in ASEAN.

Sementara, menurut, Juru Bicara IPA-A, Aan Anshari, meminta agar dalam proses integrasi diantara negara ASEAN, memberikan manfaat bagi kemajuan dan kemakmuran masing-masing negara anggota.

"KTT ASEAN, integrasi pasar, bahan mentah, buruh pekerja. Kami mengapresiasi ASEAN bila memajukan antar negara, faktanya tidak, rakyat ASEAN, Indonesia tak merasakan manfaat didirikannya ASEAN," ucapnya.

Ia menyebutkan, bahwa posisi strategis ASEAN, dengan segala keunggulannya membuat berbagai negara maju, tak hanya Amerika, memandang penting kawasan ini, sebagai perluasan politik dan ekonomi mereka.

Contoh seperti China, Menurut IPA-A, pasar ASEAN dipandang China sebagai pasar potensial dengan peluang investasi luar negeri mencapai USD 52,379.5 juta, dan transaksi perdagangan mencapai USD 1,404 miliar.

Berbagai kerjasama antara ASEAN, dengan negara-negara maju, dan kelompok negara-negara lainnya, juga dinilai IPA, telah merugikan negara-negara ASEAN itu sendiri.

IPA menyebut perjanjian-perjanjian itu diantaranya, US-ASEAN, CAFTA, NAFTA, Australian-ASEAN-New Zealand Free Trade Agreement dan Uni Europe ASEAN.

"Secara lebih khusus, Indonesia yang pertumbuhan ekonominya masih belum beranjak pasca krisis ekonomi hebat pada 2008 makin terpukur dengan adanya FTA. Kementerian Perindustrian RI (2011), merilis sedikitnya 228 perusahaan bangkrut sejak diberlakukannya CAFTA.

Gulung tikarnya berbagai perusahaan di Indonesia yang mungkin juga terjadi di negara anggota ASEAN lainnya tentu akan melahirkan PHK, dan menambah daftar penggangguran yang ada di negara-negara ASEAN," ucapnya. [mah]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA