Kasus AAL Bentuk Diskriminasi Hukum

AR
Oleh Agus Rahmat
Kamis 05 Januari 2012
share
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Kasus AAL, bocah 15 tahun yang harus dihadapkan di pengadilan akibat mencuri sandal, membuktikan adanya diskriminasi hukum.

Angggota Komisi III (hukum) DPR Eva Kusuma Sundari mengatakan bahwa hukum tidak memihak pada orang kecil. Sementara, orang-orang berduit bebas walau terkena masalah hukum.

"Tebang pilih. Nik wong cilik diplethet, wong sugih dienakkin (Kalau orang kecil ditekan, orang kaya dibikin enak, red)," ujar Eva saat dihubungi, Kamis (5/1/2012).

Politisi PDI Perjuangan tersebut mengaku prihatin karena kasus ini sudah sampai menjadi bahan internasional. "Sudah menjadi bahasan di internasional termasuk soal GKI Yasmin," katanya.

Menurutnya, susah untuk membenahi masalah semacam ini. Sebab, banyak pihak yang terlibat di dalamnya. "Ruwet. Intervensi parpol atau kekuasaan ke penegak hukum dan birokrasi. Jadi tiga kekuasaan yang terpisah dalam praktek saling terkontaminasi," jelasnya.

Dia menilai kasus ini juga menjadi bukti elite yang tidak berpihak dan tidak pernah bersentuhan dengan rakyat. "Demokrasi tidak jalan. Simbol-simbol saja. Kepentingan rakyat dikalahkan elite," katanya.

Masalah ini juga menjadi bukti lemahnya kepemimpinan ditubuh Polri. Baginya, jika dalam kepemimpinan Polri memiliki leadership yang bagus, maka tidak akan terjadi masalah seperti ini. Bahkan, jika kepemimpinan baik, maka bawahan juga akan ikut. [mvi]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA