Antisipasi Krisis Ekonomi

Pertemuan G20 Telurkan Rencana Aksi Los Cabos

MR
Oleh Mosi Retnani Fajarwati
Senin 27 Februari 2012
share
IST

INILAH.COM, Jakarta - Pertemuan menteri keuangan dan gubernur Bank Sentral dari 20 negara utama dunia (G20 FMCBG Meeting) menghasilkan Rencana Aksi Los Cabos (Los Cabos Action Plan), untuk memperkuat perekonomian.

Pertemuan diselenggarakan pada tanggal 25-26 Februari 2011 di Mexico City, Mexico. Agenda pertemuan dirancang untuk menindaklanjuti arahan kepala negara G20 yang akan bertemu di Cannes, Perancis, pada 3-4 Nopember 2011 untuk melakukan berbagai kebijakan terkoordinasi untuk terealisasinya pertumbuhan ekonomi yang kuat, berimbang, dan berdaya tahan di kalangan negara anggota G20.

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2012 berada dalam kisaran 3,3% dengan Eropa mencatat pertumbuhan ekonomi negatif. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang Asia diperkirakan sekitar 7,3%, dan mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yang didorong oleh penurunan pertumbuhan negara-negara utama di Asia seperti China dan India.

G20 menilai, berbagai penyebab dari belum berhasil keluarnya Eropa dari krisis diantaranya adalah lambatnya pengambil keputusan di Eropa dalam menangani penyelesaian krisis di beberapa negara Eropa pinggiran (pheripery) seperti Yunani, belum optimalnya konsolidasi fiskal dan reformasi struktural banyak negara Eropa yang menekankan pada penurunan defisit dan utang, dan belum memadainya dana penanganan krisis (European firewall) yang disediakan oleh Eropa untuk memberikan keamanan bagi para investor dan institusi keuangan untuk melakukan aktifitas ekonomi dan bisnis di kawasan Eropa.

"Untuk memperkuat kemampuan Eropa dalam menangani krisis dan menurunkan risiko keuangan kawasan, dari berbagai skenario kajian disimpulkan perlunya tambahan dana minimal sekitar US$1 triliun yang diharapkan separuhnya berasal dari kawasan Eropa dan sisanya dari IMF," papar keterangan tertulis di Jakarta, Senin (27/2/2012).

Terkait permintaan Eropa agar IMF memberikan dukungan pendanaan US$500 miliar, Indonesia dan sebagian besar negara-negara G20 berpendapat bahwa bantuan
IMF belum dinilai mendesak untuk diberikan mengingat Eropa masih memiliki kemampuan untuk menyediakan dana penyelesaian krisis kawasan termasuk perlunya Eropa melakukan reformasi struktural yang agresif.

Namun, Indonesia dan negara-negara G20 sepakat sumber keuangan IMF perlu ditingkatkan sebagai bagian dari dana penyelematan keuangan global (global financial safety net) untuk antisipasi dan penanganan krisis yang dialami para anggota IMF. FMCBG mendiskusikan berbagai opsi penambahan sumber keuangan IMF diantaranya implementasi kesepakatan kuota reformasi tahun 2010 yang diharapkan terealisasi pada tahun 2012 dan pinjaman bilateral negara anggota IMF.

FMCBG menyepakati peningkatan monitoring dan transparansi dari komitmen yang diberikan diantaranya di bidang fiskal, moneter, dan kebijakan pembangunan sebagai tindak lanjut dari G20 Cannes Summit. "Untuk meningkatkan efektifitas pencapaian tujuan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang kuat, berimbang dan berdaya tahan, FMCBG sepakat menyusun Rencana Aksi Los Cabos (Los Cabos Action Plan)," ungkap keterangan tersebut.

Untuk mengatasi terjadinya berbagai risiko sistemik baru termasuk menurunkan risiko keuangan yang ada, FMCBG menyepakati berbagai agenda reformasi regulasi keuangan seperti Basel II dan III, peningkatan regulasi dan pengawasan atas aktifitas shadow banking serta reformasi operasional pasar derivatif OTC (over the counter) sesuai komitmen kesepakatan waktu masing-masing negara G20, dan meminta Financial Stability Board (FSB) untuk memonitor implementasinya. FMCBG juga menerima rekomendasi FSB dalam pengaturan perusahaan pemberi peringkat (rating agency).

Dalam mengatasi volatilitas harga komoditas dan energi, FMCBG meminta berbagai lembaga multilateral terkait untuk menyampaikan rekomendasi dampak volatilitas harga terhadap pertumbuhan ekonomi dan menyediakan berbagai opsi yang dapat diambil oleh negara anggota untuk mengatasi volatilitas harga komoditas. Indonesia yang menjadi ketua bersama kelompok kerja komoditas dan energi mendorong negara-negara G20 untuk melakukan koordinasi kebijakan makro ekonomi dan pengawasan untuk tercapainya stabilitas harga komoditas dan pembatasan perdagangan spekulatif.

FMCBG juga menyepakati berbagai agenda kerjasama lainnya seperti agenda financial inclusion yang diantara dukungan G20 bagi program edukasi keuangan dan proteksi konsumen, dan peningkatan kerjasama untuk transparansi dan pertukaran informasi antar negara anggota diantaranya atas money laundering dan pembiayaan terorisme.

FMCBG juga mendiskusikan agenda green growth dan pembangunan berkelanjutan terhadap reformasi struktural, dan peranan managemen risiko bencana (disaster risk management) dalam antisipasi bencana dan mitigasi kerugian. FMCBG meminta lembaga multilateral terkait untuk melakukan kajian lebih lanjut, dan menyampaikan opsi rekomendasi implementasinya. FMCBG sepakat untuk melakukan pertemuan kedua di Washington, Amerika Serikat pada bulan April mendatang.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA