Ketika Mimpi BNI Menjauh

BA
Oleh Bastaman
Selasa 28 Februari 2012
share
IST

INILAH.COM, Jakarta - Mimpi PT Bank Negara Indonesia (BNI) membeli PT Bahana Securities dan PT Danareksa agaknya sulit diwujudkan.

Soalnya, pekan lalu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan obligasi rekapitalisasi tidak bisa dipergunakan untuk membeli Bahana atau Danareksa. Padahal, sebelumnya, Menteri BUMN (waktu itu dijabat Mustafa Abubakar) memberi restu kepada BNI untuk mengambilalih dua perusahaan sekuritas tersebut.

Seperti diketahui, Danareksa dan Bahana Securities memiliki utang kepada BNI dan sejumlah bank pemerintah. Utang itu, yang konon jumlahnya mencapai Rp1,4 triliun, terjadi saat kedua perusahaan sekuritas tersebut harus menyerap 30% saham Garuda Indonesia yang tidak terserap pasar. Makanya, tawaran BNI untuk mengakuisisi kedua perusashaan tadi dilangsung disetujui Kementrian BUMN. "Sekarang kami masih menunggu izin dari Menteri Keuangan," kata Gatot M. Suwondo, Direktur Utama BNI.

Namun, ya itu tadi, mimpi BNI untuk memiliki Bahana atau Danareksa sulit terwujud. Menurut Agus, ada beberapa tahapan yang harus dilalui BNI untuk mengakuisisi Bahana atau Danareksa. Salah satunya adalah harus melalui program privatisasi.

Jadi, terlebih dahulu mesti mendapat restu DPR. Pembelian dengan obligasi rekap juga bukan perkara gampang. Soalnya, Menteri Keuangan sudah mengisyaratkan bahwa kalau BNI mau masuk ke Bahana, mesti membayar dengan tunai. Artinya, BNI harus menjual obligasi rekap.

Harapan BNI untuk mengakuisisi Bahana atau Danareksa semakin memudar, setelah seorang pejabat di Kementrian Keuangan menyatakan bahwa modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) Bahana kini sudah sehat.

Dalam bahasa lain, perusahaan penjamin itu tak perlu lagi suntikan dana segar. "MKBD Bahana kini sudah Rp lebih dari Rp350 miliar," kata si pejabat tadi. Itu berarti sudah jauh lebih besar ketimbang sebelum IPO Garuda. [mdr]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA