Soliditas Golkar Semu atau Nyata?

RF
Oleh R Ferdian Andi R
Jumat 11 Mei 2012
share
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Pertemuan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung diklaim menjadi simbol soliditas internal Golkar. Benarkah demikian?

Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie mengatakan, di tubuh partai yang ia pimpin tidak ada perpecahan internal terkait pencapresan dirinya. "Saat ini sudah tak ada perpecahan suara di tubuh Partai Golkar," kata Aburizal seusai memberikan ceramah motivasi pelajar di Sekolah Cakrabuana, di Depok, Jawa Barat, Jumat (11/5/2012)

Ia juga menyebutkan hubungan dirinya dengan Akbar Tandjung tidak ada masalah. Menurutnya, masing-masing pihak sudah menjalankan kewenangannya. Hubungan antar keduanya juga sudah membaik. "Tak ada perpecahan suara di tubuh Partai Golkar," tegasnya.

Hanya saja, Ical menyebutkan jika di internal Partai Golkar terdapat perbedaan, akan diselesaikan setelah penyelenggaraan Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnassus) yang akan digelar Juni mendatang.

Debat terbuka Ical dan Akbar Tandjung mencuat ke publik terkait rencana penetapan capres dari Partai Golkar pada Rapimnassus Juni mendatang. Ical bersikukuh, dalam Rapimnassus itu diagendakan penetapan Capres dari Partai Golkar. Sementara Akbar berpendapat Rapimnas lebih baik membicarakan mekanisem pencapresan, bukan penetapan capres.

Sebelumnya, Anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar Mahadi Sinambela mengungkapkan dalam pertemuan konsultasi DPP Partai Golkar dan Wantim Partai Golkar memang terjadi perbedaan pandangan antara Aburizal Bakrie dan Akbar Tandjung. "Pasti terjadi perbedaan pandangan antara Ical dan Akbar. Tapi bagaimana mempertemukan keduanya," ujar Mahadi.

Dia menyebutkan dalam pertemuan tersebut terdapat titik temu antara DPP Partai Golkar dan Dewan Pertimbangan Partai Golkar. "Titik temunya, kedua belah pihak sama-sama membuat Partai Golkar menang dan presiden dari Partai Golkar," kata Mahadi.

Hanya saja, kata Mahadi, pelaksanaan Pemilu Presiden masih lama sekitar 2,5 tahun lagi. Ical, kata Mahadi, harus mempersiapkan secara serius dan tetap melihat survei. "Masih banyak persiapan. Termasuk sejauhmana dukungan publik ke Ical," kata Mahadi.

Dia juga menyebutkan, dalam pertemuan tersebut juga menyarankan untuk mempertimbangkan posisi DPD II Partai Golkar. "Mereka (DPP PG) menyebutkan melibatkan DPD II. Nanti kita lihat prosesnya, apa betul dukungan riil? Poin kita, Partai Golkar agar benar-benar siap," tegas Mahadi.

Lebih lanjut Mahadi menyebutkan usulan 33 DPD I Partai Golkar dianggap sebagai mekanisme untuk mengajukan capres. Bagi Mahadi, sejak era reformasi, mekanisme pencapresan di Partai Golkar selalu trial and error. "Akbar Tandjung lewat konvensi, JK lewat ketok palu melalui podium, dan Ical melalui usul 33 DPD I," papar bekas Menteri Pemuda dan Olahraga era Presiden Gus Dur ini.

Mahadi menyebutkan pihaknya menginginkan agar partai fokus dalam pemilu legislatif baru memikirkan pemilu presiden, sedangkan DPP Partai Golkar menginginkan Pileg dan Pilpres menjadi satu kesatuan. "Ya kita coba saja, apakah bagus atau tidak. Sistem ini belum ada kepastian," tegas Mahadi.

Soliditas Partai Golkar terkait pencapresan Ical ini memang masih misterius. Karena tak dimungkiri sejumlah kader Partai Golkar juga memiliki ambisi dan potensi untuk maju dalam Pemilu Presiden 2014 mendatang. Masih 2,5 tahun pelaksanaan pemilu 2014, dinamika politik masih berpotensi terjadi. [mdr]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA