Ketika Pasar Saham Kian Tak Pasti

BA
Oleh Bastaman
Senin 21 Mei 2012
share
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan merosotnya nilai tukar rupiah pekan ini seolah memberi ketegasan, tahun ini tampaknya harus dijalani dengan ekstra kerja keras.

Pada Rabu (16/5) kemarin, rupiah diperdagangkan di level Rp 9.280 per dolar. Sedangkan indeks melemah 65,15 poin (1,61%) ke level 3.980,50. Terjadinya penjualan saham dan pemborongan mata uang dolar, menurut seorang pelaku pasar, dilakukan bukan hanya untuk mengamankan aset selama libur panjang. Tetapi untuk waktu cukup lama.

Itu sebabnya, nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini selalu berlangsung tipis. "Investor sekarang lebih merasa nyaman memegang cash dalam bentuk dolar," katanya.

Kalau pun masuk ke pasar, itu dilakukan sesekali dengan gaya hit and run. Ada pun yang dijadikan sasaran, tentu saja, saham-saham unggulan yang bisa memberikan gain pasti. Misalnya saham PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM). Seorang pialang yang sering mengamati saham BUMN ini bercerita bahwa selama ini TLKM berada cukup lama di rentang harga Rp8.000-8.300.

Jadi, kalau mau mengambil gain kecil-kecilan, manfaatkanlah rentang tersebut. Pada level harga yang terbentuk Rabu (16/5), yakni Rp7.900, TLKM termasuk saham unggulan yang direkomendasikan untuk dikoleksi. Soalnya, pekan depan, ada kemungkinan saham ini menguat hingga Rp300. Itu berarti dalam hitungan hari investor bisa mengantongi gain 3,8%. Lumayan, kan?

Betul, jika dihitung berdasarkan fundamental dan prospek usaha emiten, sejumlah saham unggulan saat ini sudah berada di area harga murah. Namun, dalam kondisi seperti sekarang, untuk merayap ke harga wajar pun bukan perkara mudah.

"Bisa-bisa duit kita bukannya beranak, tapi jadi kontet," kata seorang analis. Ketidakpastian dengan kecenderungan melemah ini, lanjutnya, masih akan terus berlangsung di pekan-pekan mendatang. Entah sampai kapan. [mdr]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA