Kinerja Saham IPO pada Hari Pertama Perdagangan Perdana

Saham Perdana Cenderung Naik Sepanjang 2012

AM
Oleh Agustina Melani
Minggu 15 Juli 2012
share
Ist

INILAH.COM, Jakarta - Sejumlah emiten yang baru listing sepanjang 2012 ini relatif mencatatkan kenaikan harga saham pada penutupan hari pertama perdagangan saham perdananya dari harga saham perdana yang ditawarkan. Sentimen pasar dan likuiditas saham pun menjadi faktor pergerakan saham perdana.
Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada menuturkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham penawaran umum saham perdana/initial public offering (IPO) ada yang naik dan stagnan. Pertama, mood atau persepsi pelaku pasar terhadap saham tersebut. Ketika kondisi pasar sedang berfluktukatif maka sebenarnya pelaku pasar cenderung memilih saham-saham yang listing perdana. Hal itu dikarenakan pasar berasumsi saham-saham yang IPO memberikan keuntungan di hari pertama listing.
"Sisi lain mood investor mempengaruhi penilaian mereka terhadap saham tersebut dan industri di mana emiten tersebut berada seperti saham PT Global Teleshop Tbk (GLOB) yang tidak berubah harganya," tambah Reza, saat dihubungi INILAH.COM, akhir pekan ini.
Kedua, penilaian terhadap mahal dan murah. "Untuk saham-saham yang baru listing mungkin tidak dapat dikaitkan langsung dengan pengukuran PER karena akan bias nantinya. Walaupun pelaku pasar senang dengan pengukuran PER karena mudah dimengerti. Meski tidak langsung dinilai dengan PER, pelaku pasar akan membandingkan harganya dengan emiten sejenis," kata Reza.
Ketiga, penilaian terhadap masa depan perusahaan. Reza menuturkan, pelaku pasar pasti akan memiliki pertanyaan soal prospek emiten tersebut ke depan."Dalam kondisi seperti ini pelaku pasar pun sudah makin perhatian terhadap kondisi ekonomi yang ada dan kaitannya dengan saham. Karena nantinya berkaitan dengan kinerja perusahaan," ujar Reza.
Sementara itu, Kepala Riset PT Henan Putihrai Felix Sindhunata mengatakan, saham perdana kadang sulit diprediksi. Namun, saham perdana akan kembali ke fundamental dalam jangka panjang. Oleh karena itu, tinggal investor harus cerdik menganalisa kinerja, prospek industri, posisi emiten industri, dan yang terpenting likuiditas di pasar.
"Saham IPO tersebut tergantung kinerja, sentimen pasar secara umum, dan likuiditas dari emiten yang bersangkutan. Terkadang kalau kinerja baik tapi likuiditas rendah juga membuat saham tersebut stagnan," tutur Felix.
Reza mengatakan, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan pelaku pasar yang ingin mengincar saham-saham IPO antara lain Pertama, pelaku pasar dapat mencermati dari sisi fundamentalnya baik kondisi historis, maupun perbandingan dengan emiten lain dalam industri sejenis. Kedua, prospek emiten tersebut. Ketiga, tujuan penggunaan dana hasil penawaran umum saham perdana. Keempat, jumlah saham yang dilepas dan investor yang tertarik pada saham tersebut. Kelima, kemampuan penjamin emisi dalam membantu terjaganya harga saham yang diemisikan tersebut.
Berikut kinerja saham IPO sepanjang 2012:
1. Saham PT Minna Padi Investama Tbk (PADI) ditawarkan dengan harga perdana Rp395 per saham, dan ditutup di level harga Rp550 per saham pada penutupan perdagangan saham 9 Januari 2012.
2. Saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) ditawarkan dengan harga perdana Rp310 per saham, dan ditutup di level Rp325 per saham pada penutupan perdagangan saham 12 Januari 2012. Memang saat pembukaan harga saham TELE sempat ke level Rp350 per saham.
3. Saham PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) ditawarkan dengan harga perdana Rp610 per saham, dan ditutup ke level Rp910 per saham pada penutupan perdagangan saham 1 Februari 2012.
4. Saham PT Bekasi Fajar Industrial Est Tbk (BEST) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp170 per saham, dan ditutup ke level Rp355 per saham pada penutupan perdagangan saham 10 April 2012.
5. Saham PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp500 per saham, dan ditutup ke level Rp670 per saham pada penutupan perdagangan saham 7 Juni 2012.
6. Saham PT Trisula International Tbk (TRIS) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp300 per saham, dan ditutup ke level Rp320 per saham pada penutupan perdagangan saham 28 Juni 2012. Saham TRIS sempat dibuka ke level Rp400 per saham.
7. Saham PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp400 per saham, dan ditutup ke level Rp460 per saham pada penutupan perdagangan saham 5 Juli 2012.
8. Saham PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp1.900 per saham, dan ditutup ke level Rp2.125 per saham pada penutupan perdagangan saham 5 Juli 2012.
9. Saham PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp1.520 per saham, dan ditutup ke level Rp1.540 per saham pada penutupan perdagangan saham 9 Juli 2012.
10. Saham PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp210 per saham, dan ditutup ke level Rp315 per saham pada penutupan perdagangan saham 10 Juli 2012.
11. Saham PT Global Teleshop Tbk (GLOB) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp1.150 per saham, dan ditutup ke level Rp1.150 per saham pada penutupan perdagangan saham 10 Juli 2012. Saham GLOB sempat dibuka di level Rp1.250 per saham.
12. Saham PT Gading Development Tbk (GAMA) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp105 per saham, dan ditutup ke level Rp178 per saham pada penutupan perdagangan saham 11 Juli 2012.
13. Saham PT BPD Jawa Timur Tbk (BJTM) ditawarkan dengan harga saham perdana Rp430 per saham, dan ditutup ke level Rp440 per saham pada penutupan perdagangan saham 12 Juli 2012. Saham BJTM sempat dibuka ke level Rp470 per saham.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA