Stimulus BoJ & Kinerja Emiten Dongkrak Pasar

AM
Oleh Ahmad Munjin
Selasa 30 Oktober 2012
share
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta IHSG kembali cetak rekor 4.366,856 meskipun rupiah masih stagnan. Pasar merespons positif stimulus Bank of Japan (BoJ) dan kinclongnya rilis kinerja emiten.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, rupiah sempat melemah ke 9.630 per dolar AS seiring memburuknya kekhawatiran pasar terhadap efek dari badai Sandy terhadap perekonomian AS. Badai Sandy menghamtam wilayah krusial di AS yakni kota-kota besar termasuk New York yang jadi pusat finansial dan Washington DC yang menjadi pusat pemerintahan.

Menurutnya, pasar cemas seberapa lama badai tersebut akan mengganggu aktivitas sektor keuangan AS dan aktivitas pemerintahan negara adidaya itu. Pasar juga khawatir badai Sandy akan berubah menjadi badai Katrina seperti yang terjadi pada 2005. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.630 dengan level terkuat 9.610 dari posisi pembukaan 9.610 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (30/10/2012).

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (30/10/2012) ditutup stagnan di level 9.610/9.620 per dolar AS.

Selain itu, lanjutnya, sentimen pasar juga masih didominasi kekhawatiran pasar terhadap krisis utang Eropa. Memang tidak banyak perkembangan mengenai Eropa. "Tapi, investor masih tetap khawatir dengan kondisi di zona euro terutama dengan ketidakpastian kapan Yunani akan mendapatkan dana bailout berikutnya," ujar dia.

Pasar juga khawatir bahwa Spanyol akan menunda permintaan untuk bailout tambahan. "Tapi, pelemahan rupiah masih bisa diredam seiring Bank of Japan (BoJ) yang kembali memberikan stimulus moneter dan memberikan efek positif untuk bursa saham di Asia dan rupiah pun cukup terbantu," papar Firman.

BoJ kembali menggulirkan tambahan stimulus berupa pembelian obligasi senilai 11 triliun yen menjadi 91 triliun yen. "Padahal, BoJ sebelumnya hanya diprediksi menambah stimulus senilai 10 tirliun," tuturnya.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Pelemahan dolar AS juga dipicu oleh aksi profit taking setelah menguat dalam 7 pekan terakhir. Indeks dolar AS melemah ke 80,018 dari sebelumnya 80,232. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan running melemah ke US$1,2940 dari sebelumnya US$1,2902 per euro," imbuh Firman.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) Selasa (30/10/2012) sebesar 33,233 poin (0,77%) ke level 4.364,598 dipicu oleh antispasi positif dari pasar atas laporan keuangan emiten untuk kuartal III-2012. "Ini karena beberapa emiten yang sudah merilis kinerjanya cukup positif," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (30/10/2012).

Lebih jauh dia menjelaskan, beberapa emiten perbankan, infrastruktur, property dan consumer goods telah menunjukkan kinerja keungan yang kinclong. "Hanya sektor pertambangan yang justru mengalami penurunan," timpal dia.

Selain faktor kinerja emiten, lanjut dia, pasar melakukan aksi beli untuk memanfaatkan momentum jelang berakhirnya bulan Oktober 2012 di mana pasar akan segera memasuki bulan November. "Artinya, pasar punya waktu dua bulan untuk memasuki tahun 2013," timpal dia.

Pasar juga, lanjutnya, sudah berekspektasi positif atas inflasi Oktober 2012 yang akan dirlis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (1/11/2012). "Itulah faktor-faktor yang mendorong penguatan indeks hari ini," imbuhnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA