Pasar Terangkat Sentimen China, India, & Yunani

AM
Oleh Ahmad Munjin
Senin 03 Desember 2012
share
inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta IHSG dan rupiah kompak mendarat di zona hijau. Pasar terangkat oleh sentimen positif dari data manufaktur China dan India serta optimisme buy back obligasi Yunani.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah lebih didorong oleh euforia China dan Yunani. Data yang dirilis dari China Sabtu (1/12/2012) pekan lalu dan tadi pagi cukup positif. Data tersebut memberikan isyarat membaiknya aktivitas ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

"Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.590 dengan level terlemah 9.610 dari posisi pembukaan 9.590 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (3/11/2012).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (3/11/2012) ditutup menguat tipis 5 poin (0,05%) ke posisi 9.600/9.605 dari posisi akhir pekan lalu 9.605/9.610.

Indeks Manufaktur China versi pemerintah dirilis akhir pekan lalu di level 50,6 dari publikasi sebelumnya 50,2. Begitu juga dengan indeks manufaktur versi HSBC yang dirilis tadi pagi yang naik ke 50,5 dari sebelumnya 50,4.

Lalu, indeks non-manufaktur China versi pemerintah juga membaik jadi 55,6 dari sebelumnya 55,5 sehingga cukup positif sentimennya ke pasar.

Di lain pihak, lanjut dia, pasar juga mendapat sentimen positif setelah Uni Eropa menyepakati proposal yang diajukan Yunani atas program buy back obligasinya yang cukup menarik bagi investor. "Aksi buy back ini dilihat pasar akan cukup bagi Yunani untuk mencapai target pemangkasan rasio utangnya," tandas Firman.

Lebih jauh Firman menjelaskan, kisaran harga yang ditawarkan Yunani dinilai Firman cukup menarik. Yunani akan menggunakan mekanisme lelang untuk program buy back-nya dengan harga minimum 30,2% hingga 38,1% dari nilai nominal obligasi dan maksimum 32,2% hingga 40,1%. "Harga ini cukup menarik jika melihat dari kisaran perdagangan obligasi Yunani di kisaran 25,15% hingga 34,41% dari nilai nominal obligasi," papar dia.

Target dari zona euro, lanjut dia, Yunani bisa mengurangi utang sebesar 20 miliar euro hingga 40 miliar euro. "Jadi, dengan buy back itu seharusnya bisa mencapai target. Masalahnya, tinggal bagaimana tingkat partisipasi pasar," timpal dia.

Apalagi, kata dia, mengingat pemerintah Athena telah mendorong agar perbankan Yunani ikut serta dalam program buy back tersebut. "Sebab, mayoritas pemegang obligasi Yunani adalah perbankan Yunani sendiri," timpalnya.

Namun demikian, penguatan rupiah teredam oleh kembali memburuknya kinerja neraca perdagangan Indonesia yang turun jadi minus US$1,54 miliar dari prediksi surplus US$650 juta dari sebelumnya plus US$550 juta. Begitu juga dengan ekspor Indonesia yang masih minus, -7,61% untuk Oktober 2012 dari sebelumnya -9,35%. "Di sisi lain, impor naik signifikan sebesar 10,82% dari sebelumnya 1,19%," papar dia.

Di sisi lain, rendahnya inflasi Indonesia di level 0,07% untuk November 2012 akan mengurangi urgensi dari Bank Indonesia untuk mengetatkan kebijakan moneternya. "BI mungkin tidak akan mengubah kebijakan moneternya pada pertemuan pekan depan sehingga mengurangi penguatan rupiah," tutur Firman.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 79,96 dari sebelumnya 80,23. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan running melemah ke US$1,3039 dari sebelumnya US$1,3003 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Purwoko Sartono, Research Analyst dari PT Panin Sekuritas mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup menguat sebesar 26,303 poin (0,62%) ke 4.302,444 setelah sepanjang perdagangan bergerak sangat volatile. "Kami melihat kenaikan indeks didorong oleh data produksi manufaktur China yang menguat," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (3/12/2012).

Kenaikan ini, lanjutnya, dipandang sebagai sinyal akan recovery ekonomi di Asia Timur. "Selain itu, rendahnya angka inflasi November juga menjadi katalis positif bagi IHSG," tandas dia.

Disisi lain, Purwoko melihat, pergerakan indeks masih dibatasi oleh sikap tunggu investor akan pembicaraan budget di AS. "Isu fiscal cliff (jurang fiskal) AS juga tampaknya masih akan menjadi fokus investor untuk beberapa waktu mendatang," ujar dia.

Pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, penguatan indeks awal pekan ini dipicu oleh investor asing yang mulai realistis. Akibatnya, kata dia, IHSG tidak mudah untuk diturunkan paksa kembali. Asing justru mencatatkan net buy sebesar Rp417,2 miliar.

Secara fundamental, lanjutnya, indeks mendapat dukungan positif dari data ekonomi Asia yang semakin kuat. Terutama setelah India's manufacturing output pada November meningkat pada laju tercepat dalam lima bulan. "Kondisi ini menandakan ekspor India mencatat pertumbuhan yang kuat dan membuka peluang bagi bank sentral untuk terus menahan diri dari pelonggaran kebijakan moneter sebagaimana ditunjukkan sebuah survei," ujar dia.

India Manufacturing Purchasing Managers' Index versi HSBC dirilis di level 53,7 pada November 2012, atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya di level 52,9. "Angka di atas 50 menunjukkan level ekspansi," timpal dia. Karena itu, dia menegaskan tidak ada indikasi market yang terlalu mengkhawatirkan dan pemodal tinggal menunggu maksimalisasi keuntungan.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA