Bukan Pertama Merpati Diingkari Penyedia Pesawat

AM
Oleh Abdullah Mubarok
Senin 03 Desember 2012
share
Ilustrasi - inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Terdakwa kasus korupsi pengadaan pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA), Tony Sudjiarto, didudukkan sebagai saksi bagi mantan Dirut MNA, Hotasi Nababan yang juga menjadi terdakwa dalam perkara sama.

Tony dalam kesaksiannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (3/12/2012) mengungkapkan, sudah beberapa kali pesawat yang disewa MNA tak dikirim oleh pihak penyedia pesawat (lessor) dan security deposit selalu dikembalikan oleh lessor itu.

Menurut Tony, pada 2006 Direksi MNA di bawah Hotasi memang memutuskan penyewaan dua Boeing 737 atau yang dikenal dengan istilah Classic Family karena berbagai pertimbangan. "Semua direksi (lima orang,red) menginginkan pesawat itu. Mereka menginginkaan itu karena tipe pesawat itu lebih efisien untuk membantu kondisi perusahaan yang krisis," kata Tony.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Pangeran Napitupulu itu Tony juga mengatakan, Direksi MNA memang memiliki program untuk mengatasi krisis yang dialami perusahaan BUMN itu. "Ada tiga program, penambahan armada, SDM (pengurangan pegawai) dan penyelesaian hutang. Itu program strategis yang mutlak dilakukan manajemen," sambung Tony.

Menurutnya, pembayaran untuk hal-hal yang prioritas termasuk pengadaan pesawat juga diputuskan oleh direksi berlima. Karena sudah melalui berbagai pertimbangan, kata Tony, maka direksi MNA yakin uang USD 1 juta yang dikeluarkan sebagai security deposit bisa mengikat pihak Thirdthone Aircraft Leasing Group (TALG) selaku lessor. "Saya melihat tidak ada (direksi,red) yang ragu," tegasnya.

Pihak TALG ternyata ingkar janji dan dua unit pesawat yang security depositnya sudah dibayar tidak dikirim. Sebab, TALG tidak berhasil memenuhi kewajibannya kepada East Dover sesuai perjanjian jual-beli di antara keduanya.
Namun mantan General Manager Pengadaan Pesawat di MNA itu juga menegaskan, bukan baru sekali ini pesawat yang akan disewa MNA gagal dikirimkan.

Ia membeberkan ada 2 kasus gagal kirim pesawat di tahun 2006, di saat MNA sudah memiliki LOI dan telah mengirim Security Deposit. Kedua pihak lessor itu adalah Ansett Worldwide Aviation Services (AWAS) untuk pesawat B737-500 dan Malaysia Air System untuk pesawat B737-400. "Tapi uangnya dikembalikan beberapa saat kemudian," kata Tony.

"Dua minggu kemudian Board Director AWAS tidak berniat melanjutkan dengan Merpati karena kondisi keuangan Merpati, sehingga mengembalikan security deposit itu," ungkapnya.

Karenanya Tony menyebut Hotasi sempat kesal saat tahu TALG tak mengirim pesawat dan tak mau mengembalikan security deposite USD 1 juta. "Saya melihat Hotasi kesal dan mengirimkan surat ke BUMN untuk menunjukkan fakta yang ada," bebernya.

Dituturkannya pula, sebenarnya bukan hanya TALG saja perusahaan penyewaan pesawat (lessor) yang tak punya pesawat. Sebelumnya Merpati juga mendapat pesawat dari lessor yang bukan pemilik pesawat.

"Ada Futura Airlines di Spanyol, ada Montrose di AS, Singapore Technology, dan JetScape," ucap Tony di hadapan majelis yang diketuai Pangeran Napitupulu.

Diberitakan sebelumnya, JPU Kejagung mendakwa Hotasi dan Tony telah korupsi USD 1 juta terkait penyewaan dua unit pesawat dari TALG yang berbasis di Washington DC pada 2006.

Saat perjanjian dengan TALG diteken, Hotasi adalah Dirut, sementara Tony adalah manajer pengadaan pesawat. Keduanya diperkarakan karena Merpati telah mengeluarkan dana USD 1 juta namun TALG tak mengirimkan pesawat sesuai pesanan. Walaupun kemudian MNA memenangkan gugatan atas TALG di pengadilan Washington DC pada Juli 2007.[jat]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA