2013, Sektor Tambang Masih Melemah

AM
Oleh Agustina Melani
Minggu 06 Januari 2013
share
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Sektor saham pertambangan diprediksikan masih melemah pada 2013. Kelebihan persediaan dinilai mempengaruhi pergerakan sektor saham pertambangan.

Analis PT Panin Sekuritas Tbk Fajar Indra menuturkan, sektor saham pertambangan berpotensi melemah pada 2013. Hal itu didorong kelebihan pasokan. "Sektor pertambangan tergantung persediaan dan permintaan. Saat ini masih kelebihan persediaan apalagi ekspor Amerika Serikat yang besar. Harga batu bara diperkirakan sekitar US$95 pada 2013," ujar Fajar saat dihubungi INILAH.COM.

Lebih lanjut Fajar menuturkan, sektor pertambangan masih dipengaruhi kondisi perekonomian di China. Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat pada 2013. Selain itu, penyelesaian masalah ekonomi di Eropa masih belum jelas sehingga berdampak terhadap permintaan batu bara. Fajar pun menempatkan outlook netral untuk sektor sektor saham pertambangan pada 2013.

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT Universal Broker Satrio Utomo, harga komoditas belum ada tanda perbaikan. Hal itu didorong dari kondisi perekonomian China. Ia pun merekomendasikan hold untuk sektor saham pertambangan.

Sementara itu, Analis PT Mega Capital Arifin Hasudungan mengatakan, harga batu bara mulai cenderung naik dari kuartal keempat 2012 hingga kuartal pertama 2013. Namun permintaan batu bara belum sepulih seperti pada 2011."Kuartal pertama 2013 ada perbaikan harga baru bara sehingga memperbaiki kinerja saham. Pada kuartal kedua 2013 hingga akhir tahun sentimen positif relatif lebih sedikit karena faktor cuaca mempengaruhi sehingga ada potensi harga batu bara kembali turun," kata Arifin.

Arifin merekomendasikan saham batu bara seperti PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) untuk menjadi pilihan. Hal itu mengingat fundamental perusahaan batu bara itu relatif baik dibandingkan perusahaan batu bara lain.

Dalam riset PT Henan Putihrai, dampak dari implementasi fiscal cliff dalam jangka pendek, apabila terjadi deadlock positif akan menekan pertumbuhan ekonomi dunia terutama Amerika Serikat sehingga outlook sektor pertambangan baik untuk minyak, non-oil dan base mental masih berpotensi tertekan dalam setahun ke depan.

Sebaliknya, apabila deadlock dapat dihindari saham-saham tambang terutama batu bara dan base metal akan terlihat menarik di tengah pemulihan ekonomi China dan Amerika Serikat. Riset PT Henan Putihrai merekomendasikan saham pertambangan yang memiliki porsi penjualan domestik lebih besar jika dibandingkan porsi penjualan ekspor.

Direktur Utama PT Berau Coal Energy Tbk Roesan Roslani pernah mengatakan, harga penjualan batu bara perseroan tidak ada kenaikan signifikan pada 2013. Pihaknya pun melakukan diversifikasi penjualan batu bara dan efisiensi untuk mengantisipasi pelemahan harga batu bara.

Sementara itu, CEO PT Remax Capital Lucky Bayu Purnomo mengatakan, sektor pertambangan mengalami pelemahan terdalam di bursa saham Indonesia. Sektor saham pertambangan melemah 25,60% ke level per 14 Desember 2012. Lucky menilai, tingkat kepercayaan investor sudah mulai tipis karena volume penjualan dan pembelian yang minim. Kondisi ini pun diprediksikan akan berlanjut pada 2013. "Harga saham tambang di bawah rata-rata karena ada beberapa kasus emiten tambang yang menyelimuti sehingga memberikan tekanan ditambah harga batu bara melemah. Menurut Lucky, volume pembelian saham batu bara telah melemah sehingga mendorong pelaku pasar untuk menjual saham pertambangan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah tajam sepanjang 2012 mencapai 72,55% dari Rp2.150 pada 30 Desember 2011 menjadi Rp590 per saham pada 30 November 2012.[ast]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA