Sektor Komoditas, Berpotensi Tapi Harus Waspada

RA
Oleh Restu A. Putra
Senin 07 Januari 2013
share
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada - inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Saham sektor berbasis komoditas memang menarik untuk diburu. Namun jika sentimen negatif muncul di bursa saham, maka sektor ini akan terkena dampak pertama kali.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, mengatakan, pekan depan para pelaku pasar sebaiknya mewaspadai saham sektor komoditas.

Menurut Reza, selama dua pekan terakhir, saham sektor komoditas mengalami kebangkitan karena pelaku pasar melihat sinyal penyelesaian jurang fiskal AS. Namun, pascapenyelesaian fiscal cliff, pemerintah AS ternyata bakal menghadapi sejumlah persoalan keuangan.

"Mengingat saham sektor ini paling mudah terkena sentimen negatif, maka pekan depan ada potensi sektor ini akan terkoreksi," ujarnya saat dihubungi INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (5/1/2013).

Reza melihat bursa saham Eropa bergerak negatif setelah terindikasi adanya masalah pascatercapainya kesepakatan jurang fiskal, yaitu mengenai batas plafon utang AS. Bursa saham AS pun kemungkinan akan terpengaruh sentimen negatif tersebut.

Selain itu, ada pernyataan The Fed yang akan menghentikan program pembelian aset bulanan senilai US$85 miliar. Hal ini tentunya bakal mengguncang kepercayaan para pelaku pasar terhadap saham sektor berbasis komoditas.

Namun, Reza belum bisa mengungkapkan berapa besar kontribusi pelemahan sektor komoditas terhadap IHSG. "Saya masih harus melihat perkembangan sentimen negatif yang ada," ujar dia.

Ia menuturkan, pelaku pasar dua pekan terakhir sangat berharap pada tumbuhnya sektor berbasis komoditas. Apalagi dengan sentimen penyelesaian jurang fiskal, maka permintaan terhadap tambang maupun CPO menjadi tinggi.

"Pelaku pasar yang sempat negatif melihat fiscal cliff belum ada pemecahan, akhirnya berbalik menilai, akan ada kenaikan permintaan terhadap komoditas, terutama bahan bakar minyak, batu bara, lalu kegatan industri alami peningkatan, dan mendorong komoditas logam lainnya," ujarnya.

Tapi, imbuh Reza, dengan adanya masalah baru pascakesepakatan jurang fiskal, dikhawatirkan terjadi pembalikan pada pergerakan indeks saham sektor berbasis komoditas. "Bisa-bisa mereka malah melakukan aksi profit taking besar-besaran,"katanya.

Dengan kondisi seperti itu, Reza pun memperkirakan investor dan pelaku pasar akan kembali mengalihkan perburuannya pada saham-saham sektor konsumsi domestik seperti properti dan infrastruktur, jika sentimen negatif terjadi.

Sedangkan bagi investor yang tetap memilih sektor komoditas, disarankan untuk melakukan strategi trading,"Saat ini komoditas cocoknya ditradingkan, entah trading 2-3 hari atau one day trading, dan pastikan sentimen positif," ungkapnya.

Di sisi lain, analis Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo melihat pemodal masih akan melakukan perburuan saham-saham sektor komoditas tambang batu bara. Selain karena siklus Januari Effect yang tengah berlansung, harga batu bara Newcastle juga sudah sebulan penuh di atas US$90 per metric ton.

Dari sentimen domestik, Tommy melihat kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) akan membuat pelaku pasar berharap PLN bakal bisa membeli batu bara di harga yang lebih tinggi untuk tahun ini. "Sehingga dengan demikian terjadi pertumbuhan di sektor berbasis komoditas,"katanya.. [ast]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA