Banjir Jakarta

Omzet Pedagang di Pasar Tanah Abang Anjlok

SB
Oleh Syafiq Basri
Rabu 23 Januari 2013
share
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Banjir tak hanya merepotkan masyarakat di pemukiman penduduk Jakarta, melainkan juga para pedagang. Beberapa pengusaha dan penjual pakaian jadi di Pusat Perdagangan Tanah Abang dan Thamrin City, misalnya, menjerit akibat anjloknya omzet mereka.

"Turunnya gak kira-kira; mungkin hanya sepuluh prosen dari pembelian pada hari biasa," kata Savira Alatas, salah seorang pedagang grosir pakaian jadi di Thamrin City.

Pemilik toko Etty Collection itu baru tiga hari membuka lagi kedua tokonya, setelah pekan lalu tutup selama empat hari akibat banjir. Menurut Savira, meski gedung bertingkat Thamrin City tidak tergenangi air, tetapi pusat perdagangan -- yang kini menjadi alternatif dan berlokasi dekat Tanah Abang -- itu dikepung air. Pada saat banjir besar pekan lalu itu, sejumlah kawasan di sekeliling Thamrin City dan Tanah Abang terkena banjir lumayan tinggi, termasuk yang terjadi di sekitar Bundaran HI dan Pejompongan.

"Biar pun kita kagak kebanjiran, tapi kita dikepung banjir," kata Savira, "Akibatnya konsumen dari luar kota pada takut datang belanja ke Jakarta; termasuk para pelanggan saya dan pedagang-pedagang lain di sini," tambah ibu muda yang sehari-hari mempekerjakan 10 tukang jahit itu.

Perkataan Vira itu dibenarkan para pedagang lain di situ, yang sebagiannya punya omset hingga puluhan atau ratusan juta rupiah sehari. Repotnya, menurut Savira, "Kalau begini terus bisa rugi nih..."

Penjualan turun drastis, sementara ia harus terus menggaji karyawannya. Tetapi Savira tidak tega untuk merumahkan para karyawan itu; lagi pula bahan baku yang harus dijahit menjadi pakaian jadi akan terbengkalai. Sehingga ia bisa makin rugi. Rata-rata penjahit Vira, yang bekerja di kontrakan di dekat rumah Vira, kawasan Jati Padang, Jakarta Selatan, menghasilkan 100 potong pakaian per hari, sehingga Vira bisa menghasilkan seribu potong pakaian dalam sehari.

Mantan pramugari Garuda itu sudah dua tahun membuka usahanya di Thamrin City. Sebelumnya ia juga punya toko di Blok B Tanah Abang dan di Pasar Grosir Cililitan, Jakarta Timur. "Tapi yang lain sudah saya tutup, karena tidak tertangani," katanya, "Lagi pula di Thamrin City ini lebih ramai, dan buka setiap hari, sedangkan kalau di Tanah Abang hanya sampai hari Sabtu."

Kini Vira khawatir, karena Senin kemarin, omsetnya hanya mencapai sekitar Rp1,5 juta. "Padahal biasanya Senin dan Kamis merupakan hari paling ramai," katanya. Pada hari Senin dan Kamis itu lazimnya omset dari satu tokonya bisa mencapai 15 juta rupiah atau lebih.

"Kalau Senin dan Kamis rata-rata bisa tiga kali lipat hari lainnya," kata sarjana akuntansi Universitas Trisakti itu. Hari Selasa (22 Januari) ini Vira absen dari toko, karena sangat sepi. "Saya manfaatkan hari yang longgar ini buat main bersama anak saya," kata ibu seorang anak ini lagi. [hid]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA