Obligasi Korporasi 2013 Masih Prospektif

AM
Oleh Agustina Melani
Minggu 03 Februari 2013
share
Ilustrasi - Ist

INILAH.COM, Jakarta - Penerbitan obligasi korporasi masih marak pada 2013, dengan total penerbitan diperkirakan dapat kembali mencapai Rp60 triliun, atau sama dengan pencapaian 2012.

Sisa penawaran umum obligasi berkelanjutan yang masih banyak dan obligasi jatuh tempo sekitar Rp23 triliun pada tahun depan turut mendorong penerbitan obligasi korporasi.

Analis PT NC Securities I Made Adi Saputra menuturkan ada beberapa faktor yang mendorong penerbitan obligasi korporasi marak pada 2013. Seperti obligasi jatuh tempo pada 2013 sekitar Rp23 triliun. Hal itu dapat mendorong perusahaan akan melakukan refinancing.

Kedua, beberapa obligasi korporasi yang menggunakan mekanisme penawaran umum berkelanjutan (PUB) cukup banyak dan harus diselesaikan dalam dua tahun.

"Perusahaan seperti Adira Finance, Astra Sedaya Finance mengeluarkan obligasi dengan mekanisme penawaran umum berkelanjutan yang harus diselesaikan dalam dua tahun. Kemungkinan perusahaan itu akan kembali menawarkan obligasi," kata Made saat dihubungi INILAH.COM.

Tidak jauh berbeda dengan analis Obligasi PT Sucorinvest Gani Ariawan yang memperkirakan maraknya penerbitan obligasi pada 2013. Hal itu dikarenakan imbal hasil surat utang negara (SUN) masih rendah sehingga mendorong biaya penerbitan obligasi korporasi lebih rendah. "Yield SUN masih rendah sehingga cost of fund obligasi korporasi akan rendah," ujarnya.

Ariawan mengatakan, emiten dari sektor keuangan seperti perbankan dan multifinance masih mendominasi untuk menerbitkan obligasi. Hal itu karena obligasi menjadi salah satu alternatif pendanaan untuk multifinance.

Adapun Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 50 emisi obligasi korporasi pada 2013. Sebelumnya BEI menargetkan penerbitan obligasi korporasi sekitar Rp40 triliun-Rp50 triliun pada 2012. Target penerbitan obligasi korporasi itu pun telah melebihi target.

Made menambahkan, investor asing juga masih tertarik dengan obligasi korporasi pada 2013. Hal ini karena imbal hasil obligasi korporasi lebih tinggi ketimbang imbal hasil surat utang negara (SUN). Selain karena peringkat utang Indonesia dinilai layak investasi.

Menurut Made, investor asing cenderung selektif untuk memilih obligasi korporasi."Investor asing cenderung memilih emiten yang cukup besar dan memiliki nama seperti grup Astra, BII, dan bank CIMB Niaga," tuturnya.

Selain itu, Made menambahkan, investor asing juga melihat likuiditas perdagangan obligasi di pasar sekunder. Dengan investor asing turut menambahkan investasi di obligasi korporasi turut menggerakan perdagangan obligasi korporasi di pasar sekunder.

Namun, investor diharapkan mencermati beberapa hal yang dapat mempengaruhi penerbitan obligasi. Pertama, kemungkinan ada kenaikan inflasi pada 2013 karena kenaikan tarif dasar listrik dan upah minimum provinsi (UMP) mendorong kenaikan harga barang. Kedua, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga dapat memberikan tekanan inflasi sehingga dapat mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengatakan, penerbitan obligasi akan kembali marak pada 2013. Rating utang Indonesia semakin baik dan kebutuhan perseroan untuk investasi mendorong penerbitan obligasi korporasi di masa mendatang.

Selain itu, potensi penerbitan obligasi korporasi masih begitu besar bila dibandingkan surat utang pemerintah. "Korporasi masih sedikit sekitar Rp200 triliun, sehingga potensinya masih besar," kata Hoesen. [ast]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA