Lifting Minyak Turun

Pemerintah Disaranakan Genjot EBT

RR
Oleh Ranto Rajagukguk
Minggu 03 Februari 2013
share
Bahan Bakar Minyak (BBM) - inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta - Lifting minyak nasional yang terus turun setiap tahun, seharusnya membuat pemerintah sadar pentingnya mengalihkan sumber energi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Peralihan itu tiada lain ke sektor Energi Baru Terbarukan (EBT). Demikian disampaikan, Direktur Insitute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (3/2/2013).

"Secara umum jika pemerintah terkendala atas target lifting yang terus turun, harusnya mereka genjot EBT bukannya meributkan soal target lifting," ujar Enny.

Enny menambahkan, lifting minyak yang diproyeksikan 900 barel per hari (bph), tetap saja membuat Indonesia bergantung pada importasi komoditas tersebut. Imbasnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun tersedot untuk hal tersebut. "Belum lagi gelontoran dana subsidi yang dianggarkan pemerintah untuk BBM. Tentu, membuat daftar panjang inefisiensi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah," tutur Enny.

Karena itu, ketersedian energi perlu difokuskan kepada pengalihan sumber energi primer yang dipakai saat ini. Pemerintah perlu membuat program jangka pendek, ataupun jangka panjang agar permasalahan ketersedian energi tidak membebani anggaran, ataupun pasokan karena minimnya produksi.

"Kalau memang tidak ada eksploras atau pun minim eksploitas harus action dari sekarang. Ya kalau tidak kebergantungan impor juga tetap akan terjadi seiring meningkatnya kebutuhan di sektor energi bagi masyarakat," ucap Enny

Seperti diketahui, proyeksi Satuan Kerja Khusu Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terhadap lifting minyak tahun ini hanya mencapai 830 barel per hari (bph). Angka ini turun dari asumsi awal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 sebesar 900 bph.

Karena itu pihaknya bakal mengusulkan revisi lifting minyak tersebut sesuai dengan target SKK Migas lewat mekanisme Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menurutnya, target lifting sebesar 830 bph merupakan target realisits yang saat ini harus diterima oleh negara. [jin]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA