Kelas Menengah Asia Siap Salip Barat

HS
Oleh Herdi Sahrasad
Selasa 23 April 2013
share
(Foto : ilustrasi)

INILAH.COM, Jakarta - Kelas menengah Asia diprediksi bakal terus bertambah dan bisa melampaui Barat. Benarkah? Beberapa indikasi memang mengarah ke sana.

Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, Universitas Nasional Singapura yaitu Kishore Mahbubani menyingkapkan bahwa pada 2012, orang kaya Asia berjumlah 500 juta orang, namun pada 2020 angka itu mencapai 1,75 miliar orang. Di India, pada 1990 nyaris tak seorang pun punya telepon genggam, namun pada 2020 diperkirakan 700-800 juta orang India memiliki telepon genggam (HP).

Kelas menengah Asia inilah yang tumbuh dengan kebutuhan konsumsi segala macam produk secara masif. Mereka bakal jadi kekuatan dinamis bagi modernisasi di kawasan, dan mungkin bakal melampaui pertumbuhan kelas menengah Eropa.

Benar bahwa warga Asia cenderung menganggap diri mereka lebih miskin dari situasi sebenarnya. Survei oleh Fidelity Worldwide Investment menyingkapkan, China "pernah lama menjadi negara miskin, sehingga beberapa warganya memiliki pola pikir konservatif yang ingin menjaga kekayaan mereka." Fakta ini bisa menyulitkan upaya Beijing mendongkrak konsumsi dalam negeri demi menggerakkan ekonomi.

Adapun jurang kekayaan di Asia akan melebar dalam 10 tahun ke depan. Namun, survei itu menemukan bahwa warga Asia umumnya optimistis menatap masa depan, dengan 90% responden percaya anak-anak mereka dapat meraih status kelas menengah atau atas berkat pendidikan yang baik dan kerja keras.

Akhir-akhir ini, kelas menengah Asia tumbuh pesat dan memicu gelombang konsumsi di kawasan ini. Menurut data Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB), hanya 21% warga Asia yang tercakup di kelas menengah tahun 1990. Pada 2008, angkanya melonjak menjadi 56%. ADB mendefinisikan kelas menengah sebagai warga dengan pemasukan antara $2-$20 (sekitar Rp 19.000 sampai Rp 190.000) per hari.

Responden dari dua kekuatan ekonomi terbesar Asia, India dan China, umumnya optimistis menatap masa depan. India tampaknya melihat pemasukan mereka akan meningkat dalam 10 tahun ke depan, dan anak-anak mereka akan hidup lebih layak. Warga China Daratan juga cenderung yakin akan naik kelas.

Warga Asia sebagian sulit mengambil keputusan investasi masa depan, sehingga mereka cenderung terlalu berhati-hati, atau malah terlalu berani mengambil risiko. Yang jelas, kelas menengah Asia akan lebih peduli pada pembangunan, kerjasama dan perdamaian, bukan perang, konflik atau pedang. [berbagai sumber]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA