Suara Berubah, KPUD Sumba Barat Daya Repot

AR
Oleh Agus Rahmat
Jumat 20 September 2013
share
(Foto:istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumba Barat Daya dibikin repot dengan hasil Pemilukada yang digelar pada 5 Agustus lalu.

Di satu sisi, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menguatkan keputusan KPU Sumba Barat Daya yang memenangkan pasangan Markus Dairo Talu-Ndara Tanggu Kaha.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraih suara terbanyak adalah pasangan Kornelius Kodi Mete-Daud Lende Umbu Moto

Akibat persoalan rumit ini, KPU salahsatu kabupaten hasil pemekaran di NTT itu pun melakukan konsultasi dengan KPU Pusat.

Ketua KPU Sumba Barat Daya, Yohanes Bili, mengaku butuh petunjuk KPU pusat karena ada temuan baru hasil penghitungan ulang di kepolisian yang ternyata merubah posisi perolehan suara.

"Karena ada proses pidana tentang penggelembungan suara, di kepolisian dilakukan penghitungan ulang kotak suara dari dua kecamatan. Hasilnya ada perubahan perolehan suara yang berpengaruh pada pasangan yang ditetapkan sebagai pemenang (Markus-Ndara). Ternyata peraih suara terbanyaknya adalah Kornelius-Daud," kata Yohanes, Jakarta, Jumat (20/9/2013).

Yohanes mengutarakan, pihaknya butuh payung hukum untuk mengubah komposisi perolehan suara pasangan calon berdasarkan hasil hitung ulang.

Dijelaskannya, hitung ulang di kepolisian dilakukan dalam rangka mengumpulkan bukti dugaan tindak pidana pemilu, terkait penggelembungan suara bagi pasangan Markus-Ndara dan pengurangan suara milik pasangan Kornelius-Daud.

"Kami sudah usulkan pasangan pemenang ke DPRD sesuai putusan MK. Tapi ini memang ada proses pidana yang berjalan. Dan ternyata dari penghitungan ulang ada perubahan tentang peraih suara terbanyak," katanya.

Dia menjelaskan, kotak suara dari dua kecamatan di Sumba Barat Daya, yakni Wawewa Tengah dan Wawewa Barat memang sempat dibawa ke MK untuk diajukan sebagai barang bukti.

Hanya saja, lanjutnya, MK memang tidak melakukan penghitungan ulang suara dari dua kecamatan itu. MK justru memutus sengketa Pemilukada Sumba Barat Daya pada 29 Agustus lalu.

Isi amar putusannya adalah menolak permohonan pasangan Kornelius-Daud, sekaligus menguatkan penetapan perolehan suara versi KPU.

Kini, Yohanes dan empat komisioner KPU Sumba Barat Daya lainnya juga sudah ditetapkan sebagai tersangka pidana Pemilu.
Karenanya ia berharap KPU pusat bisa memberi solusi atas polemik hasil Pemilukada di Sumba Barat Daya.

"Saya juga sudah diperiksa di polisi. Tapi soal hasil Pemilukada ini kami butuh petunjuk dari KPU pusat," tandasnya.

Sebelumnya, KPU Sumba Barat Daya menetapkan pasangan Markus-Ndara sebagai pemenang.

Namun, pasangan Kornelius-Daud yang tak terima dengan putusan KPU itu mengajukan gugatan ke MK. Selain itu, Kornelius juga melaporkan dugaan kecurangan yang dilakukan KPU Sumba Barat Daya dan sejumlah PPK karena merasa perolehan suaranya berkurang, sementara suara untuk Markus-Ndara justru bertambah.

MK dalam putusannya pada 29 Agustus 2013 itu, memang menguatkan keputusan KPU Sumba Barat Daya yang memenangkan pasangan Markus-Ndara.

Namun, penghitungan suara ulang yang dilakukan Polres Sumba Barat untuk menelusuri bukti penggelembungan suara bagi Markus-Ndara dan pengurangan suara bagi pasangan Kornelius-Daud justru menunjukkan hitungan yang berbeda dengan versi KPU.

Sebab, pasangan Kornelius-Daud justru unggul dengan 79.498 suara, sedangkan pasangan Markus-Ndara hanya meraih 67.831 suara.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA