Pasar Kembali Cemaskan Tapering The Fed

AM
Oleh Ahmad Munjin
Jumat 20 September 2013
share
(Foto:inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar kembali cemaskan tapering The Fed setelah data penjualan rumah dan manufaktur AS menunjukkan angka yang positif.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, positifnya data penjualan rumah dan indeks manufaktur AS yang dirilis semalam membuat pasar kembali cemas dengan potensi pengurangan stimulus The Fed sebelum penutupan tahun 2013.

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (20/9/2013) ditutup melemah 78 poin (0,69%) ke posisi 11.355/11.370 dari posisi kemarin 10.277/10.290.

Kondisi tersebut, kata dia, berhasil meningkatkan performa dolar AS dan jadi tekanan negatif bagi rupiah. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 11.390 setelah mencapai level terkuatnya 11.270 dari posisi pembukaan 11.275 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (20/9/2013).

Penjualan rumah AS naik dari 539 juta menjadi 548 juta unit dan indeks manufaktur Philadelphia naik dari 9,3 menjadi 22,3. Begitu juga dengan data klaim pengangguran AS.

Meski angkanya mengalami kenaikan, tapi masih lebih baik dibandingkan prediksi jadi 309 ribu atau lebih rendah dari prediksi 330 ribu meski lebih tinggi dibandingkan rilis sebelumnya 294 ribu.

Apalagi, pada data sebelumnya, terdapat dua negara bagian yang tidak melaporkan klaim penganggurannya sehingga belum tentu juga angkanya benar-benar lebih rendah dari yang sekarang.

"Dari eksternal, pasar juga masih waspada jelang pemilu Jerman akhir pekan ini, Minggu (22/9/2013) dan juga dimulainya proses negosiasi batas utang AS," ucapnya.

Pelemahan rupiah juga akibat penguatan kemarin yang terjadi terlalu drastis. "Ini mendorong pasar untuk profit taking," ucapnya.

Alhasil, rupiah melemah meski dolar AS juga melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa).

Indeks dolar AS melemah ke 80,33 dari sebelumnya 80,372. "Terhadap euro, ditransaksikan melemah ke US$1,3532 dari sebelumnya US$1,3529 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, support dari IHSG, sebenarnya masih agak jauh di bawah yakni di level 4.575. Tapi, IHSG gagal ditutup setidaknya di atas level psikologis 4.600.

Pada perdagangan Jumat (20/9/2013), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 86,91 poin (1,86%) ke posisi 4.583,828. Intraday terendah 4.576,32 dan tertinggi 4.669,721.

Problemnya, kata dia, saham PT Astra International (ASII.JK), PT Bank Mandiri (BMRI.JK), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI.JK) yang merupakan tiga saham big caps utama, sudah terlalu jauh di bawah support pertamanya.

Sementara itu, Hang Seng Index (HSI) hari ini libur. Strait Times, masih 1-2 poin di atas support 3.241. Dari sisi ini, bursa regional sebenarnya terlihat masih relatif netral. "So, sore hari ini, saya memutuskan untuk exit posisi," ucapnya.

Dia mengaku beraksi cut loss dengan kerugian yang relatif kecil. "Ada sih, antri-antri di harga bawah. Tapi, karena IHSG tidak ditutup di bawah 4.500, sepertinya antrian saya sulit untuk bisa dapat," tuturnya.

Untuk sementara Satrio mengingikan posisi cash terlebh dahulu. Dia ingin menunggu di harga bawah. "Moga-moga masih dikasih IHSG di bawah 4500 sekali-dua kali lagi," imbuhnya.[jin]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA