Kasus PT Chevron

Saksi: Bachtiar Tak Terlibat Kasus Bioremediasi

AH
Oleh Anton Hartono
Jumat 20 September 2013
share
Bachtiar Abdul Fatah - (Foto : istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta kembali menggelar sidang kasus dugaan korupsi proyek bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) dengan terdakwa Bachtiar Abdul Fatah yang merupakan General Manager Sumatera Light South (SLS) PT CPI.

Dalam keterangan saksi, Damian Tice selaku Enginering Teknik Sipil PT Chevron Australia menyebutkan bahwa terdakwa tidak terlibat dalam proyek bioremediasi PT CPI di Kecamatan Minas, Kabupaten Minas, Siak, Riau.

"Tidak ada keterlibatan atau kesalahan Bachtiar Abdul Fatah dalam proyek bioremediasi dengan kontrak nomor 7861OK," kata Damian, Jumat (20/9/2013).

Menurutnya, Bachtiar tidak terlibat dalam proyek bioremediasi tersebut, lantaran terdakwa Bachtiar baru tiba di Indonesia dari Amerika Serikat pada 2009 silam. Dan pada saat itu, tender sudah selesai bahkan pemenangnya sudah ditetapkan.

"Pada saat itu dalam masa transisi, Bachtiar akan menjadi GM, tapi pada waktu itu, Yanto Sianipar masih menjadi GM," tukasnya.

Damian yang pernah bekerja di SLS PT CPI Riau, memiliki dua jabatan yakni pimpinan tim sipil dan operasi pada 2005-2007. Kemudian pada 2008-2009 sebagai manajer Divisi Infrastuktur Peralatan dan Servis.

Selama periode itu, dirinya membenarkan terdapat proyek bioremediasi alias pemulihan tanah yang terkena limbah minyak. Dan selaku tim manajer, ia memiliki tanggungjawab terhadap kegiatan lingkungan hidup termasuk pelaksanaan proyek bioremediasi.

PT CPI dapat melaksanakan proyek bioremediasi karena telah memiliki izin yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Lebih jauh Damian menerangkan, izin pelaksanaan bioremediasi yang dikontongi PT CPI berakhir pada Maret 2008, namun sebelum izin tersebut habis, pihak CPI telah mengurusnya ke KLH. Selama izin tersebut belum keluar, KLH memperbolehkan proses penormalan tanah tersebut dengan syarat, tanah yang dipulihkan adalah tanah yang telah berada di stock file. Kemudian, setelah izin diperpanjang, seluruh kegiatan penormalan tanah tersebut dilanjutkan kembali.

"Pekerjaan bioremediasi itu dilakukan sesuai dengan Kepmen 128 tahun 2003. Proyek ini mengikuti ketentuan Kepmen 128," tambahnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA