Asing Berminat, Emas Gunung Botak Jadi Rebutan

RR
Oleh ranto radjagukguk
Selasa 14 Juni 2016
share
Penambang emas Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kisruh pengelolaan tambang emas Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku makin panas. Masyarakat adat menduga asing bakal masuk dengan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Tokoh Adat dari Wilayah Petuanan Kayeli, Raja Wael Mansyur mengatakan, berdasarkan hasil penelitian, setiap 1 ton material yang ditambang di Gunung Botak, bisa menghasilkan 10 gram emas.

"Sehingga mengundang berbagai pihak terutama dari Australia, Cina, Korea, Inggris untuk melakukan survei. Mereka berharap bisa mengambil bagian dari usaha pertambangan nanti. Tentu bila diizinkan pemerintah," ujar Raja Wael di Jakarta, Senin (13/6/2016).

Sebagai informasi, warga setempat telah meminta pemerintah daerah untuk menetapkan tambang emas Gunung Botak menjadi wilayah pertambangan rakyat (WPR). Dengan penetapan status WPR, warga setempat bisa dengan leluasa menambang di Gunung Botak.

Diakui, sebelum memperoleh status WPR, warga setempat bisa sesuka hati melakukan kegiatan tambang. Namun, kegiatan itu melanggar hukum lantaran tidak ada izin ataupun persetujuan resmi.

Sejak 2013 pemerintah daerah telah menetapkan luas lahan 250 hektare di Gunung Batok menjadi WPR. Namun, warga setempat tak kunjung memperoleh akses untuk melakukan kegiatan tambang. "Namun sampai hari ini, tambang rakyat yang jadi idaman rakyat adat kabupaten Buru itu tidak pernah berjalan," tutur Raja Wael. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA