Polisi: Penyebar Video Hoax Ricuh di MK 4 Orang

MY
Oleh Muhammad Yusuf Agam
Senin 17 September 2018
share
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Polri merilis ulang penangkapan pelaku penyebar video hoax ricuh di Mahkamah Konstitusi (MK). Setelah menangkap SAA, masih ada 3 orang pelaku lainnya yang ikut ditangkap.

Direktur Tindak Pidana Cyber Bareskrim Polri Brigjen Rachmad Wibobo mengatakan sebelum penangkapan SAA, pihaknya menangkap seorang pria bernama GUN pada Sabtu (15/9) sekitar pukul 15.15. GUN disebut menyebarkan informasi hoax terkait kericuhan di MK melalui akun facebooknya bernama Wawan Gunawan.

"GUN diduga mendapat informasi tentang kerusuhan di MK dari grup Whatsapp 'BISMILLAH'. Grup itu disebut beranggotakan relawan Bakal Calon Presiden 2019 Prabowo Subianto," kata Rachmad dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/9/2018).

Rachmad mengatakan postingan GUN ini telah menyebar di akun facebooknya, dimana telah mendapat respon 312 komentar dan telah dibagikan ke lebih dari 5.400 kali. Setelah penangkapan GUN, polisi mengamankan SAA pada malam harinya.

Pada Minggu (16/9) sekitar pukul 02.27 WIB dinihari, polisi berhasil menciduk tersangka lainnya di Cianjur, Jawa Barat. Pelaku yang diciduk adalah YUS yang menyebar video hoax berkonten ricuh di MK melalui akun facebooknya bernama DOI.

"Karena telah menyiarkan berita bohong, tidak pasti atau berkelebihan tentang unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung MK, yang diperoleh tersangka dari FB Group 'Boikot Metro TV Karena Melakukan Pembodohan Publik', dengan jumlah member group sebanyak 115.072 akun," terang Rachmad.

Masih kata Rachmad, tersangka terakhir yang ditangkap adalah NUG, ditangkap pada Minggu (16/9) dinihari sekitar pukul 02.30 di Samarinda. Pemuda ini memposting video hoax berkonten ricuh di MK melalui akun facebooknya bernama Nugra Ze.

"Tersangka memperoleh video hoax ricuh di depan MK tanpa tau di lapangan dari grup Whatsapp KA KAMMI. Atas postingan tersangka telah dikomentari sebanyak 97 kali dan telah dibagikan ulang sebanyak 30 ribu kali," jelas Rachmad.

Video tersebut sempat beredar di media sosial hingga WhatsApp Group pada Jumat, 14 September lalu. Di hari yang sama Polri dan TNI melakukan simulasi pengamanan gedung MK menjelang Pemilu 2019.

Polri menyatakan video itu sengaja 'digoreng' guna memunculkan isu adanya kericuhan, padahal Polri sedang melakukan simulasi pengamanan jelang Pemilu 2019.

"Berkaitan dengan berita yang cukup banyak di medsos yang di MK itu hoax. Kegiatan tadi pagi itu pelaksanaan latihan gabungan Polri - TNI mengamankan gedung MK dan itu sangat kondusif," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo. [rok]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA