Indef: Mata Uang Garuda Dipermainkan Perang Dagang

MF
Oleh M Fadil Djailani
Sabtu 30 Maret 2019
share
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Alotnya perudingan perdagangan antara Amerika Serikat (AS)-China, berdampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira menilai, apabila negosiasi perang dagang AS dengan China melunak maka investor kembali melirik negara emerging markets. Data Bloomberg Jumat (29/3/2019), nilai tukar (kurs) rupiah ditutup Rp14.243 per US$. Sementara dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah terdepresiasi 0,07% menjadi Rp14.244 per US$.

Dalam neglosiasi, AS terkesan kuat melunak. Kebijakan tarif produk asal China diberikan relaksasi, padahal sebelumnya naik. Sementara China membuka lebih lebar investasi dari perusahaan AS, termasuk perbankan yang selama ini diproteksi.

"Sinyal positif melunaknya perang dagang membuat investor kembali masuk ke emerging market, net buy hari ini di bursa saham positif mencapai Rp 832 miliar," kata Bhima.

Di sisi lain, obligasi AS berdampak negatif terhadap kurs rupiah. Investor global terus mencermati kurva yield dari treasury bills, atau surat utang AS. Ketika mereka menarik dana besar di Indonesia untuk investasi di AS, rupiah langsung rontok. "Ada kekhawatiran resesi AS segera terjadi, seiring The Fed yang dovish," tutur Bhima.

Ia menambahkan dalam posisi jangka pendek, rupiah akan menguat diuntungkan dari pindahnya dana asing AS dan eropa ke indonesia. Pekan depan, mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp14.200-Rp14.250 per US$. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA