Kominfo Apresiasi Derasnya Bisnis Start-Up

IH
Oleh Indra Hendriana
Selasa 09 April 2019
share
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Sampai 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menargetkan muncul 1.000 technopreneur atau start-up baru. Sehingga valuasi ekonomi digital bisa 22% dari PDB.

Naga-naganya, target ini bukanlah hal yang sulit. Lantaran, saat ini, begitu pesatnya pertumbuhan start-up di tanah air. Salah satunya Squline yang berhasil memecahkan rekor MURI atas peluncuran aplikasi kursus bahasa bernama Cakap.

Kepala Seksi Perencanaan Kreativitas TIK, Direktorat Pemberdayaan Informatika Kominfo, Sonny Hendrawan, mengatakan, pemerintah sangat memfasilitasi mereka melalui jejaring untuk terhubung dengan mentor, program dan juga akses pada pendanaan. "Di skala besarnya, pemerintah harus dapat mensinergikan inovasi-inovasi yang ada dengan para stakeholder di ekonomi digital," kata Sonny di Jakarta, Senin (8/4/2019).

Harapannya, dengan meningkatkan kecakapan digital para talenta muda melalui penggunaan teknologi, dapat menjawab kebutuhan pendidikan di semua lini. Sehingga, membangun bangsa bisa di mana saja dengan banyak cara, salah satunya dengan berdaya di dunia maya.

Adapun Cakap adalah kursus bahasa Jepang, Mandarin, Inggris, dan Bahasa Indonesia secara daring (online), sehingga pengguna dapat mengakses pelajaran bahasa asing tanpa terikat waktu dan tempat didukung oleh pengajar profesional.

Apalagi kemampuan berbahasa asing kini menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Terutama bagi mereka yang ingin mengembangkan karir dan pendidikan.
Padatnya aktivitas dan jarak ke tempat lembaga pelatihan bahasa yang tidak dekat, menjadikan e-learning sebagai salah satu solusi yang tepat untuk masalah ini. "Melihat fenomena tersebut, Squline hadir sebagai pelopor pembelajaran online di Indonesia," kata Tommy Yunus, CEO Cakap.

Sementara Maryanto, Kepala Bidang Pengendalian dan Penghargaan, Badan Pengembangan Bahasa & Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan, menguasai bahasa asing saat ini bernilai sangat strategis, secara tidak langsung akan membuka cakrawala dunia. "Tentu dengan tidak melupakan identitas Bahasa Indonesia dan tetap melestarikan Bahasa Daerah, karena hal tersebut yang membuat kita kaya budaya," kata dia. [ipe]




# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA