Listrik Mahal,Bos Inalum Khawatir Smelter Bangkrut

IH
Oleh Indra Hendriana
Senin 08 Juli 2019
share
Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin menginginkan tarif listrik yang terjangkau atau murah. Demi mendukung hilirasi minerba yang lebih efisien.

Apalagi, kata dia, kegiatan hilirisasi pada sektor pertambangan mineral, fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) membutuhkan pasokan listrik yang besar. "Misal aluminium, kita butuh 14 ribu kilo Watt hour (kWh) per ton, copper smelter butuh 10 ribu kWh per ton, nikel butuh 4 ribu sampai 5 ribu kWh per ton," kata Budi dalam rapat dengar pendapat di Komisi VII DPR, Jakarta, Senin (8/7/2019).

Menurut mantan bankir Bank Mandiri, dengan tarif listrik murah, biaya operasional kegiatan hilirisasi mineral menjadi efisien. Sehingga harga mineral yang telah dimurnikan dari smelter dalam negeri bisa bersaing dengan produk smelter di pasar global. "Kalau energi strategisnya mahal atau tidak murah, kita tidak bisa kompetisi di dunia. Ini sudah terjadi di berbagai dunia itu tutup parbiknya (smelternya)," ujar mantan Stafsus Menteri BUMN Rini Soemarno ini.

Guna mendapat listrik dengan harga murah, ia berharap smelter mendapat pasokan listrik khusus dari pembangkit listrik yang Biaya Pokok Produksinya (BPP) rendah, yaitu Pembangit Listrik Tenaga Air (PLTA). "Indonesia punya potensi air, PLTA pembangkit listrik yang paling murah. Kami butuh dari dukungan pemerintah, potensi PLTA bisa dialokasikan untuk industri hlir minerba jadi global positioning jadi lebih murah," ujar dia. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA