Awas Pemutarbalikan Fakta di Kisruh Marunda

IN
Oleh inilahcom
Selasa 27 Agustus 2019
share
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Karya Citra Nusantara (KCN) sebagai pengelola Pelabuhan Marunda membantah segala tudingan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) terkait nilai investasi PT Karya Tehnik Utama (KTU) hanya Rp588 miliar.

"Apa yang dikatakan PT KBN bahwa invesatsi PT KTU di PT KCN, tidak sampai triliunan, melainkan hanya Rp588 miliar adalah pembohongan publik. Karena, nilai Rp588 miliar adalah nilai dermaga Pier 1 yang saat itu masih dalam tahap pembangunan 30 persen," papar Kuasa Hukum KCN, Juniver Girsang kepada media di Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Juniver menyatakan, nilai Rp588 miliar itu telah disepakati antara KBN bersama KTU, sebagai nilai yang menjadi dasar perhitungan pembagian komposisi saham di KCN. Sebagai acuan apabila KBN berniat meningkatkan porsi sahamnya menjadi 50%. "Jadi angka Rp 588 miliar itu bukan nilai seluruh investasi PT KTU untuk membangun keseluruhan pembangunan dermaga Pier 1,2, dan 3," tegas Juniver.

Dia menjelaskan, pada 2012, KTU melakukan pembangunan Pier 1 yang porsinya 30%. Selanjutnya, KBN meminta porsi sahamnya di KCN ditingkatkan menjadi 50,5%. Namun pihak KTU menolak lantaran tidak mau ada uang negara masuk ke dalam perusahaan. Selain itu, proyeknya belum selesai dan tidak ingin nantinya dipolitisasi, seolah-olah KTU hanya menjadi broker.

Dalam hal ini, KTN perlu nama baik demi menjaga kepercayaan dari perbankan dan KBN merubah seluruh konsep perjanjian yang telah disepakati 8 tahun sebelumnya. Akibat penolakan ini, KBN menutup gerbang masuk KCN dengan mobil damkar. seketika itu, operasional berhenti 5 bulan. Ditekan dengan penutupan, Pada 2014, KTU menyetujui untuk merubah komposisi saham KCN yakni 50% KTU dan 50% KBN. Kesepakatan ini dituangkan dalam Addendum III perjanjian kerja sama.

"Sebagai dasar perhitungan untuk dapat menentukan nilai setoran modal yang harus dilakukan PT KBN atas peningkatan porsi saham itu, maka disepakati bahwa nilai investasi yang telah dikeluarkan PT KTU untuk membangun 30% dermaga Pier 1 adalah Rp 588 miliar," tegasnya.

Sementara, Direktur Utama KCN, Widodo Setiadi menjelaskan, pada 2014, KTU menyetujui untuk merubah komposisi saham KCN dalam Addendum III Perjanjian Kerja Sama. Di mana, jaksa pengacara negara turut berperan sebagai mediator dalam perubahan perjanjian kerja sama antara KBN dengan KTU itu.

Alhasil, terjadilah perubahan komposisi saham KCN menjadi masing-masing 50 % untuk KBN dan 50% untuk KTU. "Konsep dalam Addendum III itu, PT KBN harus turut menyetor modal dan dapat terjadi delusi jika salah satu pihak tidak melakukan setoran modal. Pada saat itu, Kesepakatan para pihak secara B to B (Bisnis To Bisnis) atas nilai pembangunan dermaga Pier I yang masih 30% adalah sebesar Rp588 miliar, yang kemudian dibagi menjadi dua yakni masing-masing 50%," urai Widodo.

Dengan demikian, maka kedua pihak masing-masing wajib menyetorkan modal sebesar RP 294.117.647.058,- ke dalam PT KCN. "Ternyata kemudian PT KBN mengajukan permohonan untuk menyetorkan modal sebesar 35% yaitu Rp 205.885.337.058, karena pihak KBN menilai bibir pantai sepanjang 1.700 M sebesar 15 % yakni Rp 88.235.310.000," tutur Widodo.

Bukan cuma itu, menurut Widodo, PT KBN juga mengajukan penundaan setoran modal, di mana PT KTU memberikan kelonggaran waktu selama 15 bulan hingga 20 Desember 2015. "Hingga akhir batas waktu penyetoran modal, ternyata PT KBN tidak menyetor sisa modal yang wajib disetor. Dengan demikian PT KBN dinyatakan wanprestasi dalam memenuhi isi perjanjian Addendum III tersebut," pungkas Widodo.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA